
Saat tiba di Vila, Rahmat benar-benar seperti orang linglung. Dia menatap ke sekeliling ruangan. Seolah tengah waspada, takut akan ada makhluk yang mengikutinya selama ini.
"Ayo masuk" ajak Reksa, ia pun merangkul bahu Rahmat agar melangkahkan kakinya semakin ke dalam. Dengan perlahan, Rahmat melangkahkan kakinya ke dalam.
"Apa sebaiknya bawa dia untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya? Dia seperti sudah beberapa hari, tidak membersihkan tubuhnya." saran Lia sembari menyembunyikan tubuhnya di belakang Bastian, Lia merasa ngeri dengan kondisi Rahmat. Bukan merendahkan, namun traumanya masih ada dan itu pada orang baru.
Reksa setuju, ia pun mengajak Axel dan Zef. Untuk membantunya membawa Rahmat ke dalam kamar, mereka berdua pun mengiyakan.
"Kalau begitu, kami juga hendak membersihkan tubuh kami." ucap Dania, para gadis pun naik ke lantai dua dan masuk ke kamar masing-masing. Begitu juga dengan para pria, mereka juga memilih untuk masuk ke dalam kamar mereka.
.
Setelah 30 menitan, Syahid dan Sahin yang selesai membersihkan tubuh dan mengganti pakaian. Mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar mereka, Rio tengah berbaring di atas ranjang.
"Siapa pria itu?" tanya Rio ingin tau, ia memiringkan tubuhnya menghadap Syahid dan Sahin.
"Dia orang yang bertabrakan dengan Kira, dan awalnya kami tidak tau apa-apa. Sampai Ita dan Kira menyentuh tangannya, dan merasakan ada yang tidak beres. Kami membawanya untuk berbicara, awalnya ia seperti orang linglung dan ketakutan. Namun tak lama, ia pun bercerita, bahwa ia kehilangan kedua sahabatnya di sebuah bangunan rumah sakit yang sudah tak terpakai lagi." jawab Syahid
Sahin dan Syahid tiba-tiba merasakan ada aura asing masuk ke dalam villa, mereka saling bertatapan. Dan tiba-tiba...
"HUWAAAAAAA"
DEG
Syahid dan Sahin langsung bangun dari duduknya dan berlari keluar kamar, Rio yang tidak paham langsung bangun dari ranjang dan menyusul keduanya. Namun ia yakin, bila ini berhubungan dengan hal di luar nurul.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar tempat Reksa membawa Rahmat, saat mereka masuk. Mereka terkejut, karena kondisi Rahmat yang tengah melayang dengan kedua tangannya di rentangkan ke samping kanan kirinya. Tubuhnya membelakangi mereka, kepala Rahmat menunduk.
Reksa, Zefran dan Axel tengah berdiri di depan tubuh Rahmat, mereka menoleh ke belakang saat pintu terbuka.
"Mundur" ucap twin prince serentak
Ketiga pria itu pun langsung melakukan apa yang di titah twin prince, kini mereka berenam, tidak... namun semua penghuni vila tengah berdiri di belakang Syahid dan Sahin. Reksa dan ketiga temannya tercengang, mereka baru pertama kali melihat hal ini, termasuk Arumi. Berbeda dengan teman-teman double twin, namun tetap saja merasa ngeri bila harus di hadapkan lagi dengan hal ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Kira
"Kami juga tidak tau, kejadian sangat cepat. Ada bayangan yang masuk lewat jendela, dan bayangan itu masuk ke dalam tubuh Rahmat. Tiba-tiba ia pun berteriak dan seperti itu." jawab Axel
"Apa maumu?" tanya Sahin
Terlihat bila Rahmat menegakkan kepalanya, ia melakukan peregangan. Dengan tubuh yang masih melayang, kepalanya berputar 180° ke belakang.
KRETEK KRETEK
Kini wajahnya, menghadap mereka semua. Tetapi, tubuhnya masih membelakangi mereka. Dengan senyum menyeringai dan kedua bola mata yang menghitam keseluruhannya.
Semua orang terkejut, hampir saja mereka memekik berteriak. Gerakan kepala yang memutar itu, terjadi secara slow motion. Dania, Soraya, Lia, dan Agatha bahkan langsung tak sadarkan diri.
BRUGH
'Aku? Apa urusanmu menanyakan siapa aku? Yang hari kamu ketahui adalah Aku menginginkan anak ini, ia harus ikut aku menemui teman-temannya. hihihihi'
"Kenapa dia harus ikut denganmu?" tanya Maya
Mendengar pertanyaan Maya, sosok itu memutarkan kedua bola matanya. Tak lama, ia pun tertawa melengking memenuhi ruangan tersebut. Sampai orang-orang di ruangan itu, harus menutup kedua telinga mereka.
'HIHIHIHIHIHIHIHIHI..... ' sosok yang merasuki Rahmat menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, ia kemudian menyeringai.
'Karena mereka sudah berani masuk dan mengganggu wilayah kami, dan mereka juga sudah menantang kami. Itu artinya, mereka sudah siap bertemu dengan kami. Tapi, baru juga aku menampakkan diri. Mereka sudah lari ketakutan, aku hanya berhasil menangkap kedua sahabatnya. Dan sekarang, aku ingin pria ini.'
"Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan, untuk kamu bisa membawa dia. Kembalikan kedua teman-temannya, dan aku jamin kamu akan kami lepaskan" ucap Kira, sosok itu kembali tersenyum.
'Kenapa aku harus menuruti kalian? Memang kalian siapa? Justru kalian yang harusnya jangan ikut campur, aku hanya menginginkan anak ini. Dia harus menyusul kedua temannya, yang kini tengah di ambang kematian. HIHIHIHIHI'
'Mereka harus menjadi bagian dari kami, karena sudah mengganggu ketenangan kami. Kemarin saja mereka sangat berani menantang kami, kenapa kalian harus menghalangiku membawa pria ini??'
Sosok yang merasuki Rahmat tersentak kaget dan langsung terdiam, saat ia merasakan aura kuat menekan nya. Ia langsung menatap tajam pada Syahid, ya... aura itu keluar dari tubuh Syahid.
'Tidak bisa di biarkan, rupanya kalian bukan orang-orang biasa. Aku tidak mau semua sia-sia, aku harus membunuh kalian. Dan kurasa itu jauh lebih baik, karena aku juga bisa membawa jiwa kalian. AAAAAAAAAA'
PRANG
PRANG
Banyak benda yang terbuat dari kaca terpecah, seperti terjadi angin ****** beliung di dalam kamar tersebut. Semua benda melayang dan berputar, mengikuti arus angin.
"SEBAIKNYA PARA WANITA KELUAR!!" teriak Sahin, ia tak mau malah pikiran mereka nanti akan bercabang. Antara melindungi dan melawan sosok itu.
Dena, Ica, Regatha, Ajeng dan Arumi memundurkan langkah mereka. Begitu mereka berlima keluar, pintu langsung tertutup keras dengan sendirinya.
BRUAK
"Astaghfirullah" ucap mereka serempak
"Sebaiknya kita menolong yang tidak sadarkan diri" ucap Ica setelah sadarkan diri
Dengan tubuh yang masih bergetar dan juga rasa takut yang menguasai mereka, mereka melangkahkan kaki mereka mendekati ke empat gadis yang tidak sadarkan diri.
"Ada minyak kayu putih?" tanya Dena
"Aku selalu membawanya di tas, tapi aku takut untuk mengambilnya." jawab Regatha dengan wajah yang masih belum percaya bila ia akan menyaksikan semua ini.
Kerasukan? Kekuatan yang dimiliki oleh double twin? Semuanya serasa mimpi, terlalu mengejutkan. Bukan hanya Regatha, Ajeng dan Arumi ajuga baru pertama melihatnya.
"Ayo, Rum antar ke atas kak." tawar Arumi, mereka berdua bergegas ke kamar.