
Dika dan Xelo keluar, mereka berniat mengajak Reksa dan Ajeng untuk bersiap shalat berjamaah.
"Ajeng, kak... bentar lagi adzan, ayo masuk. Bahaya, takutnya si Ajeng kambuh." ucap Dika, suasana mellow berubah menjadi mengesalkan. Ajeng menatap tajam Dika, Reksa tertawa mendengar Dika dan melihat reaksi Ajeng.
"Lu kata gue kuyang, bisa kambuh lewat maghrib. Bisa-bisa gue jait juga mulut lo, Dik." jawab Ajeng
"Tuh ngaku sendiri dia mah, kalo dia sejenis demit selama ini. Gue mah cuma mau bilang, kambuh cantiknya." ucap Dika
"PRETTT" celetuk Xelo, mereka pun tertawa
Saat akan masuk, terdengar suara motor masuk halaman villa. Mereka berempat pun berhenti, menunggu orang tersebut turun. Dika yang melihat bila orang tersebut adalah seorang wanita, ia terkesima. Xelo, Ajeng dan Reksa saling tatap dan tersenyum, mereka memilih diam.
"Assalamu'alaikum" salam Arumi
"Wa'alaikum salam" jawab mereka serentak
"Ini benar villa kakek Regan?" tanya Arumi
"Iya benar neng, neng nyari aa?" tanya Dika, Ajeng kelepasan terbahak. Rasanya geli, mendengar Dika bicara seperti itu.
Dika langsung menatap Ajeng dengan tajam, ia tidak bisa mengeluarkan tingkah absurd nya saat ini. Arumi pun menunduk salah tingkah, di depannya berdiri 3 pria tampan dan juga 1 perempuan cantik. Padahal Arumi sendiri manis, kulitnya memang tidak putih, tapi juga tidak hitam. Wajahnya ayu, memilki lesung di kedua pipinya bila tersenyum.
"Saya di suruh abah, buat kasiin ini ke a Reksa. Abah ga bisa kesini, karena kakinya sakit kalau di pake jalan." ucap Arumi yang masih menundukkan kepalanya
"Apa sudah di bawa berobat?" tanya Reksa, Arumi menegakkan kepalanya dan menatap Reksa juga Ajeng yang di sebelahnya. Melihat Ajeng tersenyum, Arumi pun ikut tersenyum. Ia yakin bila pria itu adalah cucu dari pemilik villa ini, karena terlihat mirip. Dan gadis di sebelah Reksa adalah kekasihnya, karena melihat Reksa yang menggandeng tangan Ajeng.
"Belum a, mudah-mudahan nanti malam sakitnya mereda. Ambu udah kasih abah obat tadi." jawab Arumi menggelengkan kepalanya
"Ada no ponsel ga neng?" tanya Dika, Arumi mengalihkan tatapannya dan menatap bingung Dika. Begitu juga dengan Ajeng dan yang lainnya
'GERCEP SI CEBONG TEH' bisik Ajeng pada sang kekasih, ehhh... benarkan kekasih? cieee
Reksa hampir tertawa mendengar ucapan Ajeng, begitu juga Xelo yang ikut mendengarnya.
"Buat apa a?" tanya Arumi
"Ehhh... kenalan dulu dong, saya Dika. Kamu bisa hubungi kami, bila seandainya ada apa-apa dengan abah kamu." jawab Dika
"Saya Arumi, anak abah Ceper." ucap Arumi
"Saya Reksa dan kekasih saya Ajeng, pria di sebelah Dika itu Xelo." ucap Reksa, Xelo dan Dika tentu saja terkejut. Kekasih? Mereka berdua menatap Ajeng dengan tatapan mengejek, Ajeng pun memukul bahu mereka berdua sampai mengaduh.
"Mau-maunya bang Reksa sama badut ancol, galak juga." gerutu Dika
PLAK
Lagi-lagi Ajeng memukul Dika, Dika kembali meringis.
"Sayang, jangan kasar." tegur Reksa
BLUSH
"Si anjir, malu-malu. Nggak pantes lu malu-malu Jeng, sumpah. Geli gue liatnya, biasanya juga malu-maluin." ucap Dika yang langsung berlari ke belakang Arumi, Arumi tersenyum melihat interaksi di depannya.
"Huuu... ambil kesempatan dalam kesempitan lo." ucap Ajeng
"Namanya juga usaha, ya neng ya. Mau nggak jadi pacar aa." jawab Dika
BLUSH
Kini wajah Arumi yang memerah, baru juga bertemu sudah main tembak aja ni laki. Arumi menyadarkan diri, mana mau orang kota dengan gadis desa sepertinya. Pasti cuma candaan, Arumi segera memberikan 2 kantong keresek itu pada Ajeng. Bersamaan dengan adzan maghrib berkumandang.
Perkenalan mereka terasa menyenangkan, Reksa juga tidak merasa risih pada Arumi. Gadis ini berbeda dengan yang satunya, begitu juga dengan twin prince. Mereka yakin, bila Arumi memang gadis yang baik dan juga lurus. Arumi yang pendiam, bisa cepat akrab dengan para gadis di villa ini. Bahkan ia juga ikut membantu memasak untuk makan malam, canda tawa terdengar di dapur.
Reksa menghubungi mang Ceper, memberi tahunya bila Arumi masih di villa. Dan nanti pulangnya akan di antar oleh salah satu temannya, mang Ceper diminta untuk tidak khawatir. Karena teman-temannya, tidak ada yang kurang ajar pada perempuan. Mang Ceper akhirnya mengijinkan, Reksa juga berpesan bila sakit kakinya makin parah. Untuk segera menghubunginya, agar bisa langsung di bawa ke rumah sakit.
.
.
Waktu berlalu, ini adalah hari ke tujuh mereka ada di Bandung. Akhirnya mereka akan pergi ke luar, rencananya mereka akan pesta kuliner hari ini.
Sampai hari ini, Ria juga belum mengetahui bila yang mengisi Villa itu adalah Reksa. Arumi yang diminta diam oleh abah Ceper dan juga Reksa, menyanggupinya. Hari ini Arumi diminta untuk menjadi tour guide rombongan Reksa, untung di sekolah Arumi sedang ada acara di sekolah khusus kelas 3. Sehingga ia menyetujui hal tersebut, dan sekarang Arumi sudah ada di vila milik Reksa.
"Sekarang kita kemana?" tanya Kira semangat
"Kita kulineran ke paskal food market dulu, gimana?" jawab Arumi balik bertanya
"Kita mah kan ga tau daerah sini Rum, pokonya bawa kami ke tempat kuliner untuk beberapa hari ke depan." jawab Dena
"Emangnya di paskal food market, banyak jajanan Rum?" tanya Soraya
"Banyak teh, ada lebih dari 100 menu. Harganya mulai dari 25 ribu, atau mau yang di pinggiran kota juga banyak. Malah lebih terjangkau" jawab Arumi
"Gampang lah, masih seminggu lagi kita di sini. Cukup buat berkeliling mencari tempat kuliner sama oleh-oleh tentunya." ucap Agatha
"Kuy.... berangkuy." mereka naik mobil Van, mobil yang mereka gunakan untuk datang ke Bandung.
.
.
"Gilaaa... rame banget ini. Mau kemana dulu kita?" Dika takjub
"Bebas, mencar aja. Nanti kalo udah puas kita kumpul di sini lagi, pada bawa ponsel juga kan." jawab Reksa, mereka setuju. Dika langsung menarik tangan Arumi pelan, Arumi hanya menunduk tersenyum.
Kira, Axel, Ita dan Syahid memilih jalan bersama. Maya, Zef, Dena dan Sahin juga berkelompok. Ita tidak terlalu khawatir meninggalkan Ajeng, karena kini ada Reksa yang menjaganya.
"Mau beli apa?" tanya Kira
"Ke sana yuk, kayanya enak." jawab Ita, mereka semua menikmati kuliner di sana. Saat akan kembali, tak sengaja ada yang menabrak Kira. Sehingga membuat Kira terjatuh, karena Kira sedang tidak memegang tangan kekasihnya.
"Aduh..."
"KIRA/ SAYANG" karena Kira yang sedang asyik dengan makanannya, berada di belakang.
"Ma maaf, kamu ga papa kan?" ucap yang menabrak, ia pun mengulurkan tangannya berbarengan dengan Kira. Membuat tanga Kira, Ita dan si penabrak saling bersentuhan.
DEG
Kira dan Ita membulatkan kedua matanya, mereka langsung menatap wajah si penabrak.
...****************...
Nah loh, apa ada? π€£π€£
...Happy Reading allππππ...