Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Perpisahan



"Saya rasa, ini merupakan waktu untuk kalian bertemu dengan Lucky untuk terakhir kalinya. Apakah kalian sudah siap?" tanya Sahin


Lukas, ayah dari Bastian sudah di beritahu perihal kelebihan double twin.


"Apa Lucky ada di sini?" tanya Bastian dengan suara bergetar


"Ya" jawab Kira singkat, tak lama ia pun menundukkan kepalanya. Karena melihat Lucky yang saat ini, tengah memeluk Bastian dari belakang. Kira kembali terisak, ia menutup mulut menggunakan punggung tangannya. Axel mendekati Kira dan memeluknya dari samping, Kira langsung berbalik dan memeluk kekasihnya.


"Tenanglah, bukankah maksud kalian di sini untuk membantu mempertemukan temanmu dengan keluarganya." ucap Axel pelan, seraya mengusap sayang kepala Kira. Axel dan Zefran juga bisa melihat keberadaan Lucky, setelah mendengar ceritanya dari Sahin. Axel dan Zefran juga merasakan, rasa kagum pada hubungan keduanya.


Lukas merangkul bahu Berlian dan Berlian menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, lelah... itu yang ia rasakan.


.


.


"Baiklah kita mulai" ucap Syahid


Seperti biasa, mereka akan duduk berkumpul di lantai.


'Bas' panggil Lucky dengan tersenyum, orang pertama yang ingin ia temui adalah Bastian. Orang yang sudah dengan sabarnya, menghadapi dirinya yang masih kekanak-kanakan.


Bastian yang di panggil, menatap Lucky yang sedang duduk di hadapannya. Tak lama Bastian menundukkan kepalanya, ia mengangkat kedua tangannya dan menutup wajahnya. Ia Bastian pun terisak menangis, ia tak percaya. Bila ia akan melihat adiknya lagi, walau kini dalam wujud roh.


'Bas, maafkan aku. Karena aku harus pergi lebih dulu, maafkan aku Bas.' ucap Lucky yang ikut terisak, ia mendekatkan dirinya pada Bastian dan memeluk tubuhnya. Tubuh Bastian pun langsung bergetar, tangisannya langsung pecah. Bastian membalas pelukan itu, pelukan terakhir, pelukan yang takkan pernah ia dapatkan lagi dari adiknya.


Berlian pun langsung memeluk tubuh sang suami, ia menangis di dalam pelukan Lukas. Begitu juga dengan Lukas yang meneteskan air matanya, walau bagaimana pun. Ia ikut merawat Lucky, rasa sayangnya pada Lucky sama dengan rasa sayang dirinya pada sang putra.


"Aku... aku tidak tau lagi harus berkata apa, aku menyayangimu Luck." ucap Bastian, di sela tangisannya, Lucky mengangguk


'Kau pun pasti tau bagaimana perasaanku, terima kasih karena sudah mau menerimaku sebagai adikmu. Terima kasih karena sudah menyayangi dan menjagaku selama ini, teruslah berbahagia. Jangan lupakan aku, dan.. jagalah ibu' ucap Lucky


Mereka pun melerai pelukannya


"Aku takkan pernah melupakanmu, kamu akan selalu ada di hatiku. Kamu satu-satunya adikku, adik yang paling aku sayangi." ucap Bastian tersenyum, setelah mendapat nasihat dari sang ayah. Bastian kini bisa melepaskan Lucky, karena ia juga ingin Lucky berjalan lebih ringan saat meninggalkan dirinya.


Lucky tersenyum, sekali lagi ia memeluk Bastian.


'Ibu....' Berlian melepaskan pelukan Lukas dan menatap putra adiknya, yang sudah ia anggap putranya sendiri.


"Putra ibu, ibu rindu nak" Berlian memeluk Lucky dengan erat, begitu juga dengan Lucky.


'Terima kasih ibu, sesuai dengan namamu. Ibu adalah berlian bagi Lucky, wanita hebat yang tulus merawat dan menyayangiku. Lucky sangat mencintaimu ibu, ibu harus sehat. Jangan terus memikirkan kepergian Lucky, sebentar lagi Lucky akan berkumpul dengan kedua orang tua Lucky bukan? Berhenti menangis ya bu, ibu tidak boleh sakit. Kalau sakit, nanti Lucky sedih.' Berlian mengangguk


"Pergilah dengan tenang nak, ibu ikhlas." ucap Berlian hampir tak bersuara, karena ia menangis terus hari ini.


'Ayah...' Lukas tersenyum, ia pun memeluk Lucky


"Ayah ikhlas nak, semoga Allah mempermudah jalanmu menuju Jannah. Kita pasti akan berkumpul kembali, entah kapan." ucap sang ayang


'Terima kasih ayah, karena ayah mau menerima Lucky sebagai putramu.' ucap Lucky


"Kamu memang putraku, putra keduaku, adik Bastian." jawab Lukas, Lucky mengangguk


'Aku ucapkan terima kasih pada kalian, terima kasih karena kalian memberikan kesempatan untukku bertemu dan berpamitan dengan keluargaku. Terima kasih, aku titip Bastian. Walau dia tidak beda jauh denganku, tapi sebenarnya dia adalah pria yang sangat rapuh.' Syahid dan yang lain mengangguk, Lucky kembali berbalik menatap keluarganya


'Terima kasih, aku menyayangi kalian semua. Jaga kesehatan, Selamat tinggal'


Lambat laun, bayangan Lucky pun menghilang.


.


.


Bahkan di bangku Lucky, masih terdapat banyak bunga dari teman-temannya.


"Haaaahh.... rasanya baru kemarin Lucky berbuat konyol di depan sana" ucap Ica menghembuskan nafas panjang, ia menatap ke depan kelasnya.


Ada bayangan di mana, Lucky sedang melakukan konser dadakan di depan sana. Ia yang naik ke atas meja guru dan bernyanyi, seraya memegang sapu. Tak lama guru datang, terkejut melihat mejanya yang di jadikan panggung dadakan oleh Lucky.


'LUCKYYYYY' teriak sang guru


'ASTOGE, IYA PAK. SAYA TURUN!!' teriak Lucky seraya melompat turun


Tawa teman sekelasnya pecah, karena Lucky tersandung dan jatuh saat akan berjalan ke bangkunya.


"Sudah sudah... dia sudah tenang di sana, jangan sampai Bastian mendengarnya." tegur Rio, ia tau Bastian masih merasakan sedih yang teramat dalam. Bukan hanya Rio, semua teman sekelasnya menyadari hal tersebut.


"Hujannya deres banget wak, udah mau jam pulang lagi." keluh Ajeng


"Hooh bener... eh, kita ujanan yuk" ajak Dena semangat, lagian udah pulang juga kan


"Nanti sakit yang" tegur Sahin


"Positif thinking" Dena berbicara seraya berlari keluar, saat di pintu ia berpapasan dengan Bastian. Dena langsung menariknya, agar ikut keluar. Bastian yang bingung, hanya mengikuti langkah Dena. Sahin yang melihatnya, langsung bangun. Ia tak terima melihat sang kekasih memegang tangan pria lain.


Maya, Kira pun ikut bangun dan berlari. Di susul temannya yang lain, Ita mengikuti tanpa berniat untuk hujan-hujanan.


"LU APA-APAAN DEN?" teriak Bastian, karena hujan yang cukup deras. Kini mereka ada di bawah guyuran hujan


Dena menatap Bastian dan tersenyum, lalu ia pun melepaskan tangan Bastian dan merentangkan tangannya. Dena menengadahkan wajahnya ke atas langit, membiarkan air hujan membasahi dirinya.


"GUE TANYA, LU NGAPAIN NYERET GUE HUJANAN. HAH?!" teriak Bastian lagi, Dena menghentikan kegiatannya dan kembali menatap Bastian.


"Menangislah, mereka tidak akan melihatnya. Karena air matamu, tersamarkan oleh air hujan ini. Aku tau, kamu sedang tidak baik-baik saja." ucap Dena


DEG


Bastian terdiam dan menunduk, tak lama ia menengadahkan wajahnya. Seperti yang di lakukan Dena, air matanya mengalir.


Dena menghembuskan nafasnya pelan, air matanya juga ikut menetes. Lalu ia berlari ke tengah lapangan, menikmati hujan yang turun. Berputar, bermain dan melompat-lompat. Tak lama teman sekelasnya pun menyusul, mereka ikut bermain di bawah guyuran hujan.


Sahin berlari, menghampiri Dena. Ia menarik tangan Dena, dan membawanya ke pelukan. Sahin menegur Dena, Dena menengadahkan kepalanya dengan tatapan tajam.


Terjadilah kericuhan dari teman sekelasnya, mereka menendang air dengan sengaja ke arah Dena dan Sahin.


"JANGAN MESRA-MESRAAN DI MARI WOY!!"


"JAGA PERASAAN GUE YANG JOMBLO INI!!!


"SIKAAAATTT"


Terjadi aksi kejar-kejaran, Ita dan Syahid yang hanya menonton. Tertawa melihatnya, mereka tak sangka Sahin akan bertingkah sekonyol itu.


Maya dan Kira juga ikut hujanan, mereka menikmati suasana ini. Sore yang penuh kenangan, Bastian pun akhirnya bisa tertawa lepas, melihat kekonyolan teman sekelasnya.


"Terima kasih" gumamnya pelan, seraya tersenyum menatap teman sekelasnya.


LIFE GOES ON, RIGHT?


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...