Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Kembali Jatuh Sakit



DOOOORRR


"KYAAAAA" teriak Ita, seraya menutup kedua telinganya menggunakan kedua telapak tangannya dan berjongkok.


Tanpa Ita tau, di dunia nyata. Syahid dalam keadaan panik. Syahid tersadar dari kesibukannya, saat mendengar Ita berteriak. Namun matanya tetap dalam keadaan tertutup, ia pun mencampakkan tab nya.


"Sayang, hei... bangunlah. Apa yang terjadi?" Syahid bangun dari duduknya dan mendekati Ita, ia pun menepuk pelan pipi Ita.


Karena mendengar suara teriakan Ita dan juga melihat Syahid yang panik, para pengunjung memperhatikan mereka berdua.


"Tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya manager toko kue tersebut, dia mengenal siapa Syahid dan juga Ita.


"Bibi, tolong bantu pinjamkan aku mobil dan bawakan pesanan ku ke dalam mobil. Syahid akan membawanya pulang." jawab Syahid cemas


Manager itu pun mengangguk, ia meminta anak buahnya untuk membawakan pesanan ke dalam mobil miliknya. Manager itu juga, mengantar Syahid ke mobil dan membantunya membukakan pintu mobil. Syahid merebahkan tubuh Ita dengan pelan ke jok sebelahnya.


"Terima kasih bibi, saya titip motor. Nanti ada orangku yang mengambil dan mengantarkan mobil bibi." ucap Syahid


"Tentu sama-sama, hati-hati mengendarai mobilnya. Jangan kebutan, yang penting kalian sampai rumah dengan selamat." jawab sang manager


Syahid mengangguk dan berpamitan, ia pun segera masuk ke dalam mobil. Syahid melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ingin mengebut. Namun, ia ingat dengan ucapan bibi manager tadi.


Sesekali Syahid menoleh pada Ita, terlihat wajah Ita yang gelisah. Syahid menggenggam tangan Ita, menggunakan tangan kirinya dengan perasaan cemas.


Kembali ke alam bawah sadar Ita


DOOORR


Kembali terdengar suara tembakan, Ita menguatkan dirinya untuk berdiri dari jongkoknya karena terkejut tadi. Ia memberanikan diri, untuk melangkah naik. Ia ingin tau, suara apa itu? Bukankah itu suara senapan?


Dengan tubuh bergetar karena takut, melihat hal yang tidak ingin ia lihat. Tangannya yang jelas terlihat bergetar, meraba dinding untuk menopang tubuhnya yang mulai lemas.


Perlahan namun pasti, kini Ita sudah ada di lantai dua. Di sana terdapat beberapa kamar, ada ceceran darah di lantai dari kamar pertama ke kamar kedua dan lanjut ke kamar ketiga.


"Ya Allah, apa yang terjadi? Aku takut untuk melihatnya, tapi mungkin ini adalah petunjuk darimu." Mau tak mau, Ita tetap melanjutkan langkahnya.


DEG


Saat Ita ada di depan pintu kamar pertama, tubuhnya terkulai lemas. Ia pun jatuh terduduk di atas lantai, Ita bisa melihat dengan jelas. Bila di atas ranjang, ada satu tubuh yang di pastikan sudah tidak bernyawa lagi. Tubuh itu dalam keadaan tengkurap, dengan punggung yang mengeluarkan darah. Dia adalah seorang wanita dewasa yang ada di dalam foto, alias istri dari pemilik rumah.


Ita mencoba untuk bangun, saat ia mendengar ada suara tangisan anak kecil.


"Ya Allah, jangan jangan jadikan anak itu korban juga." do'a nya dengan meneteskan air mata


Saat Ita ada di depan pintu kedua, ia lagi-lagi di buat terkejut. Karena kali ini adalah anak kedua dari pemilik rumah ini, tubuhnya sama sudah tak bernyawa. Tubuhnya yang kini terkulai lemas, terduduk di kuris belajar. Dan kepalanya dia atas meja belajar, dengan kedua tangan yang ada di samping kiri dan kanan kepalanya.


"Hiks, kenapa? Ada apa ini sebenarnya? Siapa orang yang tega melakukan hal ini?" gumamnya, dengan perasaan berdebar dan takut, Ita tetap melanjutkan langkahnya ke kamar ketiga. Ita semakin mempercepat langkahnya, kala dimana ia mendengar semakin nyaring tangisan sang batita.


Pas ia sampai di depan pintu kamar...


DOOORR


"KYAAAAAA" teriaknya, Ita melihat seseorang menembak anak ketiga dari pemilik rumah itu di depan matanya sendiri.


"SIAPA KAMU? KENAPA KAMU TEGA MEMB*NUH MEREKA?" teriak Ita, namun nihil. Karena apa pun yang di ucapkan , takkan terdengar oleh pelaku penembakan tersebut.


Dan karena pelakunya membelakangi Ita, sehingga Ita tidak bisa melihat wajah pelaku.


"TIDAAAAKKKK" Ita terbangun dengan nafas terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat. Lagi, suhu tubuh Ita kembali demam.


"Sayang, hei. Tenanglah, kamu sudah aman." ucap Syahid seraya memeluk tubuh Ita, ia mencoba menenangkan Ita dengan mengusap sayang kepalanya. Seolah tuli, Ita terus menangis dalam dekapan tersebut.


Mendekap tubuh Ita, seperti sedang memeluk besi yang di panaskan. Syahid menghembuskan nafasnya pelan, lalu ia menatap sang oma.


Yumi yang melihat kekhawatiran itu, ikut menghembuskan nafasnya dan melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua. Yumi memegang tubuh Ita, ia terkejut karena suhu tubuhnya kembali naik.


"Sebaiknya kita turunkan dulu suhu tubuhnya, ini berbahaya untuk Ita." titah Yumi


Yumi melangkah keluar, meminta Sahin mengambil es satu ember dan membawanya ke kamar mandi Ita.


"Apa teh Ita kembali panas, seperti malam itu oma?" tanya Kira khawatir


"Iya sayang, tolong hubungi dokter ya. Oma mau membuat obat herbal untuk tetehmu." titah Yumi


Iren yang mendengar kabar adiknya, langsung masuk rumah dan berlari ke kamar Ita.


"Ita, sayang" panggil Iren dengan nada khawatirnya


Ita yang sudah kembali berbaring dan sedang di kompres oleh Syahid, tak mendengar panggilan Iren. Wajah Ita benar-benar merah, seperti terbakar saking panasnya.


"Kenapa Ita bisa seperti ini Hid?" tanya Iren, sembari melangkahkan kakinya ke ranjang.


Syahid pun menceritakan kejadiannya, dari mulai ia masuk kafe. Sampai itu berteriak, namun tak sadarkan diri.


"Apa Ita akan terus seperti ini, oma? Bila seandainya ia di beri penglihatan kejadian besar, apa Ita akan selalu drop?" tanya Za pada Yumi yang baru saja masuk, di ikuti oleh Sahin yang membawa es.


"Tolong masukkan ke dalam bathub, sayang!!" titah Yumi, Sahin mengangguk


"Mungkin hanya kejadian yang sangat mengerikan, buktinya saat kemarin ia melihat apa yang akan terjadi pada kedua orang tua temannya. Dia baik-baik saja, masih bisa mengontrol dirinya. Itu artinya, kejadian kali ini tidak beda jauh dengan kebakaran yang sudah terjadi." jawab Yumi menghembuskan nafasnya kasar


"Bila di lihat dari yang sudah pernah terjadi, waktu kita hanya ada 3 hari sebelum kejadian itu benar-benar terjadi." lanjut Syahid


Yumi mengangguk setuju, itu artinya waktu mereka tidak banyak. Tapi kondisi Ita, belum bisa di ajak diskusi.


"Sudah oma" ucap Sahin


"Bawa Ita ke kamar mandi dan masukkan ke dalam bathub." titahnya pada Syahid, tanpa di suruh 2x. Syahid langsung mengangkat tubuh Ita, padahal sebenarnya kulit yang bersentuhan dengan Ita terasa perih.


Iren menangis melihat kondisi Ita, ibu dan bibinya sengaja tidak di beri tahu. Karena tak mau membuat, kondisi sang ibu kembali drop. Baru kemarin ibunya pulang dari rumah sakit, karena jantungnya kembali kambuh.


Yumi, Iren, Kira dan Maya ikut masuk ke kamar mandi. Begitu Ita di masukkan ke dalam air, keluar asap dari tubuhnya.


"Astaghfirullah, Ta. Kenapa kamu bisa jadi begini?" Iren kembali meneteskan air matanya, Za mengajaknya keluar.


Sembari menangis, Iren menyiapkan baju ganti untuk Ita. Ia juga mengganti seprai dan juga sarung bantal, karena kotor terkena keringat Ita.


"Tenanglah sayang, ini efek dari kelebihan yang Allah berikan pada Ita. Itu hanya sementara, karena ia belum terbiasa." ucap Za pada Iren


...****************...


Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...