
"ABAAAAAAANG" teriak Anin, yang membuat semua perhatian orang-orang yang sedang berbicara tertuju padanya. Untung pembicaraan mengenai lamaran telah selesai, hanya tinggal membicarakan keseriusan dan akan menikah kapan.
"Ya Allah ABYYYYY" Kira benar-benar bisa di buat darah tinggi. oleh keponakannya yang satu ini. Aby yang di teriaki oleh dua wanita cerewet, hanya memutar malas bola matanya.
"Apa lagi? Apa yang salah denganku onty?" tanya Aby dengan wajah tanpa dosanya.
"Kamu.... AAARRGGHHHT" Kira sudah tidak tau lagi mau berbicara apa pada ponakannya yang satu ini, ia bingung bagaimana bisa abangnya yang dingin bisa memiliki putra segesrek ini. Masih terdengar isakan tangis Anin, Kira kini menggendong keponakannya itu. Sedangkan anggota 10 kembara kembar Zandra, hanya diam menyaksikan.
Antara ingin tertawa, tapi takut Anin semakin menangis keras.
Apa yang di buat Aby? Entah dapat darimana, Aby membawa dus besar yang tubuhnya pun muat bila masuk ke sana. Ia menyeretnya dari arah belakang, saudaranya yang lain hanya diam melihat Aby menyeret dus itu. Mereka yakin, jiwa jail Aby sedang meronta-ronta ingin keluar saat ini. Dan mereka penasaran, siapa korbannya saat ini.
Dan ternyata korbannya saat ini, adalah Anin yang tengah duduk anteng bermain stiker miliknya. Tidak, sepertinya aku salah. Anin memang selalu menjadi korban kejahilan sang abang, di bandingkan saudaranya yang lain. Ke delapan saudaranya sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh Aby, di dus sudah ada beberapa bantal. Aby memposisikan berdiri dus itu dan terbuka ke arah Anin yang membelakangi dus tersebut.
Setelah di rasa posisi dus itu sudah pas, Aby melangkah ke depan Anin. Dengan membawa tikus mainan, ia berdiri di depan Anin dengan menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.
"Apa lagi yang sedang kamu lencanakan?" tanya Anin dengan tatapan sinis pada sang abang, Aby tersenyum
"Kamu benal-benal menculigakan, apa yang kamu sembunyikan?" tanya Anin lagi
"Tak ada" jawab Aby singkat, dengan wajah polosnya
"Pemhobong... maksudku pembohong, awas saja kalo kamu macam-macam" ucap Anin dengan wajah galaknya
"Aku tidak akan macam-macam, tapi hanya satu macam." jawab Aby seraya melemparkan tikus mainan tersebut, sontak Anin yang terkejut dan juga takut. Ia langsung berdiri dan memundurkan langkahnya, sesuai perkiraan Aby. Anin jatuh ke belakang dan masuk ke dalam dus, sampai ia dan dus itu terjatuh.
"ABAAAAAAAAAANG"
Dan saat itulah Kira datang, lalu mengambil Anin ke dalam gendongan dengan hati kesal bukan main.
"Ya Allah.. Ya Allah.." ucap Sherina dengan memijat pelipisnya, ia tak habis pikir dengan tingkah Aby. Yang jailnya sudah kebangetan, bahkan ia membaca tulisan itu di dus.
...'DI JUAL OBRAL/ TUKER TAMBAH'
...
Sedangkan yang lainnya, sebisa mungkin menahan tawa mereka. Ada kesal, iba, dan juga lucu.
Tangisan Anin semakin keras, saat ia membaca tulisan di dus.
"HUWAAAAAA..... ABANG JAHAT, ANIN TIDAK MAU DI JUAL!! ABANG AJA YANG DI JUAL!!!" teriaknya, Yumi, Kay, dan Sherina hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal.
Sri? Dia memilih untuk menjauh, karena tak kuat menahan tawanya
Sedangkan yang lainnya, masih diam menyaksikan dan menahan tawanya.
"Aby, apa tidak bisa sehari saja kamu tidak membuat ulah?" tanya sang bunda pasrah, ia benar-benar lelah.
"Baiklah, nanti Aby akan menguranginya. Menjadi seminggu 2 kali, atau 3 kali?" jawab Aby dengan santainya. Yang lain melongo, mendengar jawaban Aby.
Sherina yang mendengarnya, menggeram dalam hati dan terus beristighfar. Sherina mengambil Anin dari aisan Kira, ia pun pergi tanpa mengucapkan apapun. Aby yang melihatnya, langsung merasakan sakit di dadanya.
"Nah loh, nanti kamu yang bakalan di jual sama bunda" celetuk Maya, Aby langsung menatap sinis Maya.
Semua orang menghembuskan nafasnya kasar, anak ajaib memang.
"Maafkan cicit ku, kalian jadi melihat hal seperti ini." ucap Aarav, tiga keluarga yang akan menjadi besannya itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Itu sangat menghibur, justru anda akan merasa rindu nanti. Bila mereka sudah besar, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi." jawab Chris, ayah Axel.
"Kamu benar, aku juga selalu merindukan masa kecil putraku. Tingkahnya mirip dengan Zefran, ia sama seperti cicitmu tuan." sambung Zergan, ayah Zefran.
"Panggil aku opa, bukankah kita akan menjadi satu keluarga." ucap Aarav, dan di balas senyuman serta anggukan oleh Chris dan Zergan.
Para pria memilih untuk berpindah tempat ke luar villa, untuk berbicara urusan lelaki.
.
.
tok tok
"Bunda" panggil Aby pelan, seraya membuka pintunya pelan. Ia pun melangkahkan kaki kecilnya, masuk ke dalam kamar dan menghampiri Sherina yang membelakangi pintu. Yang tengah berbaring di samping Anin , seraya menepuk-nepuk pantat Anin pelan. Sherina membiarkan sang putra mendekatinya, tanpa mau menoleh dan menjawab.
Sherina merasakan bila ranjang bergerak, namun ia masih enggan untuk membalikan tubuhnya.
"Bunda, bunda marah?" tanya Aby dengan suara bergetar, Aby memeluk Sherina dari belakang.
Sumpah demi apapun, Sherina merasa teriris hatinya, mendengar sang putra hendak menangis. Sherina menghentikan kegiatannya menepuk Anin, ia membalikan tubuhnya dan membalas pelukan sang putra. Bila di pikir, justru ini adalah momen yang akan ia ingat lagi nanti. Di saat anak-anaknya tumbuh besar, hal ini hanya akan menjadi kenangan. Dan ia pun akan kehilangan waktu berharganya kelak, karena belum tentu anak-anaknya mempunyai waktu untuknya.
"Maafkan Aby bunda, hiks" Sherina mengangguk, ia mengusap punggung dan mencium puncak kepala Aby berkali-kali.
"Tidak, bunda yang minta maaf karena sudah marah pada Aby." jawab Sherina pelan
"Tidak, bunda marah karena kesal dengan tingkah Aby. Aby akui, Aby memang nakal." ucap Aby seraya mengeratkan pelukannya.
Entahlah, Aby juga tidak tau. Semenjak mendengar kata-kata Meriam kemarin, ia ingin membuat kenangan yang banyak. Agar isa menjadi cerita, saat ia besar nanti. Namun ternyata, caranya yang salah.
"Aby bukan nakal, anak-anak bunda tidak ada yang nakal. Kamu hanya terlalu aktif, jangan selalu menjahili adikmu. Aby bilang, pusing bila mendengar Anin berteriak. Tapi, kenapa kamu selalu menjahilinya dan membuatnya menangis?" tanya Sherina, ia melerai pelukannya dan menatap Aby.
"Aby, hanya ingin membuat kenangan sebanyak-banyaknya. Nanti, bila sudah besar. Aby pasti akan merindukan Anin, yang cerewet dan juga cengeng." jawab Aby dengan wajah kesalnya, Sherina tertawa mendengar alasan sang putra.
"Kamu benar, bila kalian besar nanti. Pasti kalian akan sibuk dengan urusan kalian masing-masing, dan mungkin jarang memiliki waktu untuk menemani bunda." jawab Sherina sendu, Aby menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah sang ibu.
Melihat air mata lolos dari mata sang ibu, membuat Aby merasa ingin ikut menangis.
"Bunda jangan menangis, akan Aby usahakan untuk selalu bisa menemani bunda. Aby sayang bunda..." ucap Aby, ia pun memeluk erat tubuh Sherina. Sherina mengusap punggung Aby, sampai terdengar suara dengkuran halus.
Sherina tersenyum, ia mencium lama kening Aby. Lalu, ia pun berbalik dan melakukan hal yang sama pada Anin. Tak lama, ia pun menyusul kedua anaknya ke alam mimpi.
...****************...
...Happy Reading all๐๐๐...
Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐ฅฐ๐ฅฐ