
"Apa kalian mau paman antar kembali ke rumah sakit?" tanya Yanto
"Tidak usah paman, kami akan kembali dengan cara yang sama." jawab Syahid
"Baiklah kalau begitu paman akan kembali ke kantor polisi, seharusnya kamu ikut paman ke kantor polisi. Karena kamu yang sudah membuatnya seperti itu, tapi biar paman yang urus." ucap Yanto, Kira tersenyum.
"Terimakasih paman, sebenarnya Kira belum puas. Tapi Syahid menghentikannya, tapi,,, ya sudahlah, itu juga sudah membuat Kira bisa mengurangi rasa kesal Kira." ucap Kira seraya mengangkat tangan dan menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya hampir rapat.
Yanto menggelengkan kepalanya, dari pertama ia kenal dengan Alice. Dan sampai sekarang, ia masih sangat nyaman dengan mereka semua.
Mereka pun berpisah, double twin kembali ke rumah sakit dengan cara teleportasi.
.
.
"Jadi sekarang, bagaimana kondisimu?" tanya Dika pada Raka yang sudah bangun
"Badanku benar-benar berasa remuk bro, seperti telah di pukuli oleh masa." jawab Raka, seraya memijat dan menggerakkan lehernya.
"Apa kamu lupa dengan apa yang terjadi semalam?" tanya Rio
"Memang semalam terjadi apa?" tanya Raka bingung
Ia hanya ingat, terakhir setelah ia pulang dari sekolah. Ia masuk kamar, membersihkan diri, lalu berbaring seperti biasanya. Setelah itu, ia tidak ingat apa-apa.
"Apa semalam aku makan malam? Kenapa aku tidak ingat, bila bergabung dengan keluargaku?" tanya Raka, membuat semua temannya tercengang.
"Di antara semua ingatanmu, kenapa kamu lebih mementingkan makan malam?" tanya Dena
"Kamu makan-makanan bergizi, ada daging, sayur, buah, proteinnya juga, terakhir paku." celetuk Miko
"Itu mah bukan 4 sehat 5 sempurna lagi namanya." ucap Xelo
"Apaan Xel?" tanya Ica
"4 sehat, 5 sekarat, 6 tahlilan." pecahlah tawa mereka, termasuk dengan Salma dan Ita. Sedangkan Rama, kebingungan namun tak lama ia pun tertawa.
"Ade kenapa tertawa?" tanya Salma
"Inda tau ante, Lama tuma ikut tawa-tawa." jawabnya polos, sehingga membuat yang lain kembali tertawa.
"Gemes banget sih kamu" ucap Dena, seraya mencubit pipi bakpao Rama
"Danan tubit-tubit, kata ibu nati pipina Lama temakin betal." ucap Rama kesal
Dena pun terlikik geli mendengar jawaban Rama
"Aku pamit ke ruangan Bastian ya, semoga ia sudah bangun. Ada yang ingin aku bicarakan." pamit Ita
"Aku ikut teh" ucap Dena
"Iya, kami di sini sebentar, nanti kami menyusul ke sana." ucap yang lainnya, Ita dan Dena mengangguk. Setelah berpamitan dengan Salma, mereka berdua pun keluar dari kamar perawatan Raka.
.
.
"Teh, apa sekarang teteh baik-baik saja?" tanya Dena, Ita menoleh dan mengangguk
"Syukurlah" ucap Dena seraya menghembuskan nafas lega
"Kenapa?" tanya Ita
"Tidak kenapa-kenapa? Hanya saja aku ingat saat Maya dan Kira bercerita saat suhu tubuh teteh panas yang benar-benar panas, sampai oma Yumi memasukkan teteh ke dalam bathub yang berisi es. Itu pasti sangat dingin, wuuhh" jawab Dena seraya mengusap kedua lengannya.
"Dan aku juga melihat, seberapa khawatirnya Syahid pada teteh. Bahkan ia langsung melesat pulang, begitu bel berbunyi." lanjut Dena, Ita tersenyum haru mendengarnya
Ya, itulah Syahid. Ia akan sangat berlebihan padanya, tapi ia menyukainya.
"Iya, sedang apa dia di situ? Tunggu, apa ia sudah bangun dari komanya? Kenapa ia tidak masuk ke dalam dan menemui Bastian?" tanya Ita
Dena dan Ita langsung mempercepat langkahnya, saat ia hendak bertanya pada Lucky. Ia mendengar suara tangisan di kamar Bastian, terdengar bila ia menyalahkan dirinya sendiri.
"Ini salah Bas bu, Bastian yang mengajak Lucky ke sana. Seandainya Bastian tidak mengajaknya ke sana, ia pasti masih ada dan berkumpul bersamaku saat ini." ucap Bastian, Dena dan Ita yang di pintu di buat bingung. Mereka menoleh ke samping dan menatap Lucky, Lucky yang terdiam dan menunduk.
"Kenapa kamu tidak masuk? Apa kamu tidak mendengar bila Bastian terus menyalahkan dirinya sendiri?" tanya Ita, Lucky hanya menjawab dengan gelengan kepala
"Ada apa denganmu? Kena..."
"LUCKY GAK MUNGKIN MENINGGALKAN AKU UNTUK SELAMANYA BU, INI SALAHKU!!!!" teriak Bastian
DEG
Dena dan Ita kembali menatap Lucky, bila di perhatikan. Memang ada yang berbeda dengan Lucky, ia terlihat pucat dan... tubuhnya terlihat agak samar. Dena langsung menurunkan pandangannya, ia langsung membulatkan kedua matanya.
"Ka kakinya... kakimu" ucap Dena tergagap seraya bolak-balik melihat wajah dan kaki Lucky.
"Ka kamu, apakah kamu sudah..." Ita meneteskan air matanya, saat ia mendapat jawaban anggukan kepala dari Lucky
BRUGH
Tubuh Ita langsung merosot ke bawah, air matanya tak bisa tertahankan lagi. Ia menangis, ia pun sama menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya ia paham arti dari mimpi dan sakitnya saat itu, ini semua pasti tidak akan terjadi.
"Teh... teteh bangun teh, kenapa teteh menangis?" tanya Dena panik, seraya ikut mensejajarkan tubuhnya.
"Hiks, seandainya aku paham dengan maksud dari mimpiku. Lucky pasti masih hidup dan Bastian tidak akan terluka seperti ini. Penghuni rusun juga, mereka tidak akan pergi selama-lamanya." ucap Ita
"Teh, ini bukan salah teteh. Semua sudah takdir teh, bukankah teteh sendiri tau. Bila kita tidak akan bisa merubah ketentuan yang sudah di tetapkan Allah, maksud Allah memberikan kelebihan ini adalah untuk teteh agar bisa membantu orang ke depannya. Bukan maksud menyalahkan teteh, coba teteh ingat lagi. Seandainya teteh masih belum paham dengan semua tanda yang Allah berikan, apakah teteh bisa memberitahukan apa yang akan terjadi pada kedua orang tua Raka?" ucap Dena prihatin
"Jangan pernah katakan seandainya, karena ini sudah menjadi takdir Allah. Setiap apa yang Dia kehendaki, pasti akan terjadi." ucap Syahid yang baru saja muncul, ia langsung menarik Ita ke dalam pelukannya.
"Hiks,, tapi Lucky..."
"Bukankah kematian seseorang, sudah termasuk ke dalam takdir Allah. Kematian merupakan rahasia Illahi, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa di sini. Karena kita juga akan mengalaminya, suatu saat nanti." potong Sahin, Dena tersenyum dan langsung bangun. Ia berhambur memeluk kekasihnya, sehari tidak bertemu rasanya sangat rindu.
"Hei hei... belum muhrim." ucap Kira, Dena langsung melepas pelukannya dan memanyunkan bibirnya.
"Bilang saja iri, karena babangmu tidak ada di sini." ucap Dena kesal
"Tuh tau, makanya ga boleh peluk-peluk di depan kami." jawab Maya, Sahin menggelengkan kepalanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Syahid
Lucky menatap Syahid, lalu mengalihkan tatapannya ke pintu.
'Aku hanya ingin mengatakan pada Bas, bila ini bukan salahnya. Aku ingin ia berhenti menyalahkan dirinya sendiri, ini bukan salahnya. Aku juga ikut andil dalam kematianku, karena aku yang tidak mengikuti perkataannya saat ia menyuruhku untuk tidak menegur pria itu.' jawab Lucky, Dena, Maya dan Kira meneteskan air matanya.
Lucky, teman sekelasnya telah tiada. Anak paling pecicilan di kelas dan anak yang paling ceria di antara mereka semua.
'Kini, ia terus menyalahkan dirinya sendiri, apa kalian bisa membantuku?' lanjutnya
ceklek
"Ahhh... kalian pasti ingin menjenguk putra ibu ya? Maaf dokter baru saja memberikan obat penenang, jadi ia baru saja memejamkan matanya." ucap ibunya Bastian dengan suara serak, saat ia membuka pintu hendak mengantarkan dokter keluar.
Ita dan Syahid bangun, Ita dan para perempuan lainnya menghapus air mata mereka.
Dokter pun menganggukkan kepalanya saat melihat double twin, dan di balas dengan hal yang sama.
...****************...
...Happy Reading allπππ
...