Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Ada apa dengan Ita dan Kira?



"Tak ada yang bisa kita curigai sama sekali, bila hanya melihat luar rumahnya saja. Semua tampak biasa saja, bahkan banyak tanaman di teras rumahnya" sambung Maya


Syahid mengangguk, ia melerai pelukan Ita. Ternyata Ita sudah tertidur, mungkin karena rasa lelah terlalu banyak menangis dan juga merasakan takut yang teramat sangat. Ia merasa nyaman, saat berada di pelukan Syahid.


"May, tolong turunkan sandaran kursi Ita." titah Syahid, Maya pun langsung melakukan hal tersebut.


Syahid lalu merebahkan tubuh Ita, dan menyesuaikan posisi Ita agar nyaman.


"Teh Ita tertidur?" tanya Sahin, Syahid hanya mengangguk. Maya bisa menebak, bila ini ada hubungannya dengan perilaku Kira.


"Sebaiknya kita ke Rumah Sakit terlebih dahulu, kasian Rama ingin bertemu dengan ibunya." ucap Maya


"Hid, apa kita sebaiknya membawa teh Ita ke psikiater?" tanya Kira, Syahid terdiam. Namun tak lama ia mengangguk, menyetujui saran Kira.


Syahid menjalankan mobilnya kembali, dan memutar arah ke rumah sakit.


.


.


"Den, kamu tidak menghubungi calon imam mu?" tanya Rio


"Sudah, dia bilang bila mereka juga sedang di jalan ke rumah sakit." jawab Dena


"Ya sudah kalo gitu, kita juga berangkat sekarang saja." ajak Xelo


"Iya, mumpung guru ada rapat dan meliburkan jam pelajaran tambahan juga hari ini." ucap Dika menyetujui usul Xelo


"Tapikan, kita tidak di perbolehkan untuk pulang. Buktinya kita malah di beri tugas, dan harus selesai hari ini juga." sela Agatha kesal, mana banyak lagi. Mendingan guru masuk daripada seperti ini, tidak kira-kira bila sudah memberi tugas.


"Gampang itu mah, Den hubungi Sahin coba. Minta tolong padanya, agar menghubungi pak Sugeng dan memintak ijin untuk kita agar bisa datang ke rumah sakit." ucap Miko


"Wahh.. nepotisme ni bocah, ga beres. Tapi gue setuju, buru Den." ucap Rio


Yang langsung mendapatkan sorakan dan lemparan kertas yang di buat bulatan oleh teman-temannya.


"Nyampah lu pada, kalo duit gue pungutin." ucap Rio kesal


"Dih, mau lo. Sebelum lo yang mungutin, gue duluan pasti" ucap Santo


Dena menggelengkan kepalanya, ia pun kembali mengeluarkan ponsel dan menghubungi kekasihnya.


"Assalamu'alaikum yang" salam Dena, ia pun me loudspeaker ponselnya.


Dika langsung menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, agar teman-teman sekelasnya diam.


'Wa'alaikum salam, kenapa beib? Kalian jadi ke rumah sakit?' tanya Sahin


"Jadi, pengennya kita berangkat sekarang, karena guru pada rapat. Tapi, kita tidak di ijinkan keluar kelas apalagi keluar sekolah. Bahkan kita di beri tugas banyak banget" jawab Dena mengeluh


'Ck, paham ini mah.' ucap Sahin di sebrang sana, Dena tertawa mendengarnya


'Baiklah, aku akan meminta ijin pada pak Sugeng. Tapi, tugas kalian besok harus sudah selesai dan di kumpulkan.' titah Sahin


"SIAP 86, KOMANDAN" teriak Dika dan teman sekelas lainnya serempak


Sahin menggelengkan kepalanya, ia pun pamit untuk menyudahi panggilan tersebut. Lalu Sahin menghubungi pak Sugeng, ia mengatakan tujuan dan alasannya. Walau keberatan, tapi pak Sugeng akhirnya menyetujui. Denagn syarat, bila mereka harus keluar dengan satu per satu. Jangan keluar secara serentak, karena itu bisa membuat kecemburuan pada murid lainnya. Dika dan yang lainnya mengangguk setuju, satu per satu mereka keluar dari kelas.


.


.


tok tok


Pintu di bukakan oleh tantenya Raka, ia pun tersenyum saat melihat siapa yang datang.


"Anteeee" teriak Rama sembari merentangkan tangannya ke depan, minta di gendong. Tante Raka mengambil Rama dari gendongan Sahin, Rama pun bergerak kegirangan. Tantenya Raka, mempersilahkan Sahin dan yang lain untuk masuk.


"Waduuhh... seneng banget ponakan tante, ade di sana seneng?" tanya Salma sang tante, adik dari Adam ayah Raka.


"Teneng ante, di tana Lama banak temenna. Danten-danten tama tantik-tantik, tata na temuana baik tama Lama." jawab Ram senang


"Udah tau aja yang mana yang ganteng sama yang cantik, ihh... adek genit." ucap Salma lagi, Ita dan twin princess tersenyum.


"Bagaiman kondisi Raka, tan?" tanya Syahid, melihat Raka yang terlelap


"Alhamdulillah sudah lebih baik, saat bangun ia mengeluh sakit seluruh badannya. Kaya habis di pukulin warga sekampung katanya" jawab Salma terkekeh


"Bagaimana tidak sakit, dia melakukan akrobat kemarin malam." sambung Maya ikut tertawa dan di ikuti yang lainnya.


"Kemarin kita belum memperkenalkan diri dengan benar, kenalkan saya Salma. Tantenya Raka dan juga adik dari ayahnya Raka." ucap Salma seraya mengulurkan tangan kanannya, Maya dan yang lainnya menerima uluran tang tersebut dan memperkenalkan mereka masing-masing.


DEG


Saat bersalaman dengan Salma, Kira dan Ita langsung terdiam. Dan hal itu, tentunya di sadari oleh Syahid dan Sahin.


"Ayah Raka bernama Adam dan ibu Raka bernama Safa" lanjut Salma


"Lalu paman Adam dan tante Safa kemana tan?" tanya Maya


"Mereka pulang terlebih dahulu, untuk mengambil baju ganti." jawab Salma, ia lalu menghembuskan nafas pelan


"Sekali lagi, tante ucapkan banyak-banyak terimakasih pada kalian. Karena kalian, Raka bisa terbebas dari hal yang mengerikan kemarin. Sebenarnya beberapa hari ini, tante juga merasa gelagat Raka sangat aneh. Ia sering terbangun tengah malam, ia sering mencari makanan. Dan malam terakhir sebelum kejadian yang semalam, itu yang paling membingungkan. Karena ia kekeh bilang, bila tante memasakkan ia mi. Padahal tante baru bangun, setelahnya ia malah berlari masuk ke kamar." ucap Salma


"Sama-sama tan, selama kami mampu. Kami pasti akan bantu" ucap Sahin


"Dan, tante juga ucapkan banyak terimaksih atas perawatan yang kami dapatkan di rumah sakit ini. Belum lagi dengan kondisi rumah, yang kini sudah kembali seperti semula." ucap Salma lagi


"Sudah tak usah di pikirkan tan, kami ikhlas. Jadi tidak usah kita bahas lagi, masalah yang telah lalu." ucap Maya, Salma tersenyum haru


"Anteee, tenapa kakak Laka bulum banun-banun?" tanya Rama


"Kakak Raka cape sayang, nanti kalo udah ga cape pasti bangun" jawab Salma, seraya menggesekkan hidungnya ke hidung Rama


"Unda tama yayah temana?" tanya Rama lagi


"Bunda sama ayah sedang pulang dulu ke rumah sebentar sayang, ambil baju ganti." jawab Salma lagi, Rama meminta turun dari pangkuan Salma.


"Kamu kenapa Ra, teteh juga?" tanya Maya, Kira dan Ita yang sedang melamun pun tersadar.


"Hah? Apa May?" tanya mereka berdua


"Kalian kenapa? Ada yang kalian pikirkan?" tanya Syahid, bukannya menjawab. Kira malah mengalihkan tatapannya pada Salma, sehingga membuanya bingung. Ita menatap Kira, apa Kira juga merasakan hal yang sama atau ada yang lain?


"Tante? Apa tante sudah menikah?" tanya Kira, Salma mengerutkan dahinya bingung. Namun, ia tetap menjawab pertanyaan tersebut.


"Sudah, tetapi sedang dalam proses perceraian." jawab Salma santai


"Ah, ma maaf tante. Maafkan Kira, bila sudah menyinggung perasaan tante." ucapnya seraya menundukkan kepalanya, sekelebat ia memang melihat ad bayangan lelaki. Tetapi tidak terlalu jelas, yang membuatnya heran ia seperti mengenal pria itu. Tapi dimana ia pernah melihat pria itu? Sayangnya, bayangan wajah pria itu tidak jelas.


Sedangkan Ita, ia merasakan bila akan terjadi hal yang membahayakan. Apa dan pada siapa?


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...