
"Bagaimana kondisi pasien dok?" tanya Syahid
"Pasien mengalami serangan jantung ringan, sepertinya ia mendapatkan kabar yang mengejutkan. Tapi, semua aman terkendali. Biarkan beliau istrirahat, dan usahakan untuk menjaga emosinya." jawb sang dokter
Syahid, Sahin dan pak Sarif mengangguk.
"Terima kasih dok" ucap Sahin, dokter itu pun tersenyum dan mengangguk.
Saat mereka akan duduk, terdengar suara sepatu berlarian di lorong.
"Gimana kondisi pak Mun, bee?" tanya Ita cemas
"Alhamdulillah, beliau sekarang sudah baik-baik saja. Tadi beliau mengalami serangan jantung ringan, memang apa yang sudah membuatnya terkejut?" jawab Syahid seraya bertanya, ia menuntun Ita untuk duduk di kursi tuggu.
Ita kembali menceritakan apa yang sudah terjadi tadi, dan Ita juga cerita apa yang akan di lakukannya bersama yang lain.
"Aku akan ikut bersama denganmu, kita kesana sama-sama." ucap Syahid
"Terus yang jaga pak Mun siapa?" tanya Ita
"Bisa sama pak Sarif, kita minta alamatnya aja pak Sarif." jawab Syahid, Ita dan yang lain mengangguk setuju.
.
.
"Bener di sinikan alamatnya?" tanya Axel
Yups, Axel dan Zef menyusul mereka. Saat Kira dan Maya menjawab panggilan mereka, bila mereka ada di rumah sakit. Belum selesai menjelaskan, baik Axel ataupun Zef langsung menutup panggilan mereka dan menyusul ke rumah sakit.
Sesampainya mereka di sana, wajah panik berubah lega. Saat tau bukan para tunangannya yang mendapat perawatan, Maya dan Kira pun menjelaskan. Tanpa mau di bantah, akhirnya mereka pun ikut. Begitu juga dengan Dena, Sahin menghubunginya agar menyusul ke rumah sakit melalui chat.
Mana mau dia sendirian, sedangkan saudaranya yang lain ada pasangan. Agatha dan Lia hanya bisa saling lirik dan mendengus kesal, bisa-bisanya mereka jadi obat nyamuk 4 pasangan di sekitarnya. Apa-apaan??
"Kayanya bener, coba tanya sama ibu-ibu itu." jawab Kira
'Kita udah mau demo aja ini, kaya mau gerebek pasangan mesum aja.' bisik Agatha
'Bukan gerebek ini mah, minta pak RT buat lengser dari jabatan.' jawab Dena ikut berbisik
Mereka berdua pun terkikik, karena ucapan mereka sendiri.
"Permisi bu, maaf boleh saya ganggu waktunya?" tanya Sahin pada ibu-ibu yang sedang berkumpul.
"Boleh, ada apa ya?" tanya ibu tersebut menatap satu per satu wajah Sahin dan yang lainnya, begitu juga dengan ibu-ibu yang lainnya. Di jam segini, memang jamnya ibu-ibu berkumpul dan merumpi.
"Kalian yang mau demo kompor baru itu kan ya." celetuk ibu yang satunya, Agatha dan Dena langsung melipat bibirnya menahan tawa.
Sedangkan yang lainnya tersenyum kikuk.
"Tukang kompor Tha" ucap Lia pelan, menahan tawanya.
"Njirr... kurang ganteng gimana ini para pria dan kurang cantik gimana kita para gadis, di bilang mau demo kompor dong." celetuk Ajeng pelan
"Kayanya gara-gara liat muka lo Tha, udah kaya tungku.." jawab Dena tertawa, menular pada yang lainnya
"S*alan, cantik gini di bilang kaya tungku. Coba lu liat lagi muka gue dengan jelas, pahamkan?"
"Bangeeeet, muka lo sekarang berubah kaya cetrekan kompor gas." jawab Dena dengan wajah tanpa dosanya
"BUAHAHAHA" tawa mereka pun pecah, kecuali Ita, Syahid dan Sahin. Mereka masih bisa menahan tawanya.
"Aduh, maaf. Saya salah ya, saya kira kalian yang mau demo kompor." ucap ibu itu tidak enak, namun mereka juga tak ayal ikut tertawa mendengar candaan Dena.
"Nggak apa-apa bu, kami mau bertanya alamat ini. Rumahnya pak Mun" ucap Syahid sopan
"Oalah pak Mun... itu rumahnya masuk gang itu, lewatin 3 rumah. Nah rumahnya pak Mun, yang cet warna kuning." jawab ibu itu
"Oh iya bu, terima kasih" ucap Ita
"Tapi, maaf kalo boleh tau. Ada apa ya akang teteh ini cari rumah pak Mun, kayanya pak Mun belum pulang." tanya ibu lainnya
"Innalillahi wa innalillahi raji'un" ucap ibu-ibu yang berjumlah 4 orang itu serentak
"Terus gimana kabarnya sekarang?" tanya ibu 1
"Alhamdulillah bu, sudah lebih baik. Namun masih harus mendapatkan perawatan lebih intensif, faktor kelelahan juga nampaknya." jawab Ita lembut
"Mungkin kelelahan nyari putrinya, yang udah beberapa hari ini gak pulang." ucap ibu 2
"Bisa jadi bu, saya mah takut kalo Nurma jadi korban kejahatan orang tidak bertanggung jawab." ibu 3
"Iya, apalagi Nurma itu kan anaknya pendiam dan ga neko-neko ya." ibu 4
"Ya udah, hayu atuh kita anter juga ke sana. Saya takut Nirmala terkejut mendapat kabar ini, sudah mah khawatir masalah putrinya." tawar ibu 2
"Oh, boleh bu. Terima kasih sebelumnya." ucap Syahid sedikit menundukkan kepalanya
Ke empat ibu-ibu itu pun berjalan di depan dan di ikuti Syahid dan yang lainnya.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka pun tiba di depan rumah pak Mun yang sederhana namun asri. Cukup besar, karena ini merupakan rumah warisan dari orang tua pak Mun. Hanya oini warisan satu-satunya, karena yang lainya sudah di jual untuk membayar hutang kedua orang tuanya.
tok tok tok
"Assalamu'alaikum Nir" salam ibu 1
tok tok tok
"NIR" teriak ibu 2
ceklek
"Wa'alaikum salam.. eh bu Sur, bu Rita, Diah sama bu Leli. Ada apa ya? Ko bawa rombongan gini? Kan saya udah bilang ga akan ikutan demo kompor" jawab Nirmala istri, yang bingung dengan banyaknya orang yang datang.
Agatha, Lia dan Dena hanya bisa menundukkan kepalanya karena menahana tawa. Lagi-lagi di anggap sales kompor, apa ga ada yang bagusan dikit?
"Ishh... bukan itu Nir, ini ada yang nyariin kamu." ucap bu Sur
"Nyari saya, ada apa ya? Ko sampe rombongan gini?" tanya Nirmala takut-takut
"Anu Nir... kang, teh sok mangga masuk. Suruh masuk dulu Nir, ga enak sama tamu." ucap Diah
"Ah, iya silahkan masuk. Maaf nggak ada sofa, duduknya lesehan ya." ucap Nirmala
Mereka bersepuluh pun masuk ke dalam, di ikuti oleh ke empat ibu-ibu tadi. Ruang tamu yang cukup lias, hanya saja tidak ada sofa dan meja.
"Tidak apa-apa bu, kami duduk dimana aja juga bisa." jawab Zef sopan
Nirmala tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia berlalu ke dapur. Hendak membuatkan minum, Diah dan bu Leli mengikutinya. Berniat untuk membantu Nirmala, saat akan ke dapur. Mereka berpapasan dengan Bumi, anak kedua pak Mun dan Nirmala.
"Loh, ada apa ini bu? pada mau kemana?" tanya Bumi
"Mau ke dapur, di depan ada tamu." jawab sang ibu
"Tamu? Nyari siapa bu?" tanya Bumi lagi
"Kamu ini banyak nanya, sana ke depan aja. Ibu sama bibi mau bikin minum dulu" jawab Diah, mereka melanjutkan langkahnya
Bumi yang bingung pun akhirnya melilih untuk ke depan, saat samoai di depan. Ia terkejut, ternyata tamunya adalah alumni di sekolahnya. Cucu dari pemilik sekolah, tempatnya mengenyam pendidikan. Dan Bumi juga sangat mengidolakan twin prince, ada apa gerangan mereka sampai datang ke kediamannya.
"A Syahid, A Sahin, Teh..." panggil Bumi sedikit menundukkan kepalanya sedikit, seraya menghampiri mereka
"Loh...
...****************...
...Happy Reading all๐๐๐...
Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐ฅฐ๐ฅฐ