
"Apa Bumi sudah di beritahu pak?" tanya Ita
"Ah iya, dia harus tau bila kakaknya sudah di temukan. Bu, tolong kirim pesan pada Bumi. Agar saat pulang Rima, mereka berdua nyusul ke rumah sakit." jawab Pak Mun, sembari meminta sang istri mengirimkan pesan pada Bumi.
Ini masih jam sekolah, pastinya Bumi sedang fokus dengan pelajarannya. Dan si bungsu Rima, ternyata sejak kemarin sore memang sudah merengek ingin menemui sang ayah.
.
.
Syahid mengantarkan Ita ke kampus, Agatha bersama dengan Lia.
"Sepulang kuliah, ke rumah dulu ya. Kira bilang akan memanggil terapis spa langganan para wanita Zandra ke rumah, ajak temanmu juga. Kita semua butuh istirahat, nanti bila sudah lebih baik baru balik lagi ke rumah sakit." ucap Syahid sebelum sang kekasih turun dari mobil
"Kamu benar bee, tubuh ku terasa sakit semua. Nanti aku akan bilang pada Agatha dan Lia, agar mereka meminta ijin lagi untuk menginap di kediaman Zandra." jawab Ita, seraya memijat lehernya sendiri dan menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.
Syahid mengangkat tangannya dan mengusap
sayang kepala Ita, Ita tersenyum menerima perlakuan manis tersebut.
Ingin Syahid meminta Ita untuk tidak kuliah hari ini, tapi Ita tetap tidak akan menurutinya. Tak apalah, hanya 2 jam ini
"Ya sudah aku turun ya, Agatha dan Lia sudah menunggu." pamit Ita, Syahid mengangguk dan menyuruh Ita untuk pulang bareng Agatha dan Lia.
.
.
"Langsung pulang?" tanya Agatha, perkuliahan sudah selesai.
"Iya, kita ke kediaman Zandra. Semua sudah siap, kita 'me time' hari ini. Para terapis sudah menunggu di rumah, kalian sudah bilang kan kalo akan menginap lagi malam ini?" Agatha dan Lia mengangguk serempak dengan semangat
.
.
Dua hari berlalu, Nurma masih belum sadarkan diri. Setelah di cek keseluruhan, ternyata memang ada luka di organ bagian dalam miliknya. Ginjal Nurma pecah yang sebelah, sehingga ia harus melalui operasi pengangkatan salah satu ginjalnya. Kini Nurma hanya memiliki satu ginjal, dan dokter juga menerangkan pada orang tua Nurma mengenai hidup sehat dengan memiliki satu ginjal.
Orang tua mana yang tidak terpukul, mendengar kabar buruk ini.
Bumi benar-benar marah bukan main, ingin rasanya mengobrak-abrik apapun yang ada di depannya. Hari ini, merupakan sidang putusan untuk Sanjaya. Dia di jatuhi hukuman berlapis, penculikan, penyekapan dan penganiayaan.
Karena bukti sudah sangat memberatkan dirinya, sehingga pihak pengadilan tak membutuhkan waktu lama untuk memvonisnya. Sanjaya juga di pecat secara tidak hormat, dari satuan kepolisian.
Sanjaya terjerat pasal 333 KUHP, dimana ia akan mendapatkan hukuman selama 9 tahun penjara. Karena telah membuat korban mengalami luka berat dan masih belum sadarkan diri sampai saat ini. Demi apapun Bumi tidak terima hukuman yang hanya sebentar tersebut, kondisi kakaknya benar-benar mengkhawatirkan. Karena pada akhirnya, dokter menyatakan bila sang kakak koma.
Pak Mun sempat menghajarnya saat Sanjaya hendak di bawa kembali ke sel, polisi itu adalah polisi yang sempat adu debat dengannya. Polisi yang mengatakan putrinya wanita tidak benar, tapi ternyata dia yang
menyembunyikan putrinya. Ia tak menyangka pelaku penculikan putrinya, ternyata ada di dekatnya saat itu. Seandainya ia tau, sudah pasti pak Mun menghabisi Sanjaya saat pertemuan itu.
Seandainya saat itu Yanto tidak melerai, sudah di pastikan Sanjaya habis di tangan pak Mun. Kekuatan seorang ayah yang sakit hati, bisa berkali-kali lipat dari biasanya. Apalagi kemarahan orang sabar, lebih menakutkan daripada melihat seseorang yang sangat mudah marah.
Begitu juga dengan oknum yang telah memasukkan Sanjaya, ia langsung di pecat secara tidak hormat dan tidak mendapatkan apapun. Karena perbuatannya, sudah sangat mencoreng nama baik kepolisian.
"Tenang saja, saat ia terbebas nanti, orang-orang Zandra akan membawanya ke pulau tengah laut. Dan di dalam sel, ia pun pasti akan mendapatkan hukuman dari para narapidana yang lainnya." ucap Syahid menenangkan Bumi
"Dok, saya ingin menemui pasien. Bisakah?" tanya Kira
"Tentu saja nona muda, hanya di ijinkan 2 orang saja yang masuk." jawab dokter yang bertanggung jawab atas Nurma
"Biar aku yang menemanimu" ucap Sahin, Kira mengangguk
Mereka berdua masuk, tentunya harus benar-benar steril dan menggunakan baju khusus.
"Ya" Kira mendekatkan dirinya pada ranjang, dimana ada Nurma terbaring tak sadarkan diri dengan banyak kabel terpasang di tubuhnya. Hanya bunyi monitor yang memenuhi ruangan tersebut, Kira memegang salah satu tangan Nurma yang terbebas infus dan memejamkan matanya.
SYUUUUTTT
"Ini.... bukankah ini jalan menuju daerah rumah Nurma?" ucap Kira, ia melihat ke sekeliling
Di sampingnya ternyata ada Nurma yang tengah bersembunyi, membuatnya berjingkat kaget.
"Kaget gue" Kira mengusap dadanya pelan, kini ia ada di balik tembok sebuah bangunan. Sesekali Nurma mencondongkan tubuhnya sedikit, seolah tengah mengintip di balik tembok. Kira melangkahkan kakinya ke depan Nurma dan membelakangi Nurma, penasaran dengan apa yang tengah di intip Nurma. Sampai membuat wajah Nurma sepucat itu
"Siapa yang di lihat Nurma? Tidak ada siapa-siapa kok" ucap Kira, saat ia berbalik. Kira terkejut, karena kini Nurma berada dalam kuasa seseorang dengan mulut Nurma yang di tutup oleh telapak tangan yang memeluk Nurma dari belakang, agar ia tak berteriak.
"Jangan berteriak, atau aku akan membunuh ayahmu." ucap pria itu, yang tak lain adalah Sanjaya. Air mata Nurma mengalir, ia sangat takut.
"B*jingan" ucap Kira seraya akan melangkah kan kakinya mendekati Nurma, namun...
Syuuutt
Kira kembali tertarik ke suatu tempat
"Ini di luar kontrakan si b*jingan itu kan?" Kira memutarkan tubuhnya untuk melihat ke sekeliling, dadanya terlihat naik turun karena marah. Tak jauh dari kontrakan itu ada sekumpulan anak muda sedang nongkrong. Terlihat mereka menyapa Sanjaya, yang baru tiba dengan menarik sebuah koper besar.
"Malam pak" sapa seseorang, yang tak lain adalah Usep
"Selamat malam" jawab Sanjaya seraya meneruskan langkahnya, ia melewati Kira dan membuka pintunya. Tatapan Kira benar-benar penuh angkara murka, namun ia tak bisa melakukan apapun.
Syuuutt
Kira kembali tertarik, kini ia ada di depan rak buku yang setelah Sanjaya memutar pajangan. rak tersebut terbuka, sesuai dengan yang di ceritakan oleh teman Usep saat itu. Kira mengikuti langkah Sanjaya, mereka menuruni tangga memutar dan
KLIK
Ruangan gelap itu, kini terang benderang. Kira menutup mulutnya, karena terkejut. Ternyata ruangan ini tak beda jauh dengan di atas tadi, Sanjaya melepaskan koper besar itu dan dengan perlahan meletakkannya di lantai.
SREEEEETTTT
Resleting koper terbuka
"Astaghfirullah, NURMA" teriak Kira terkejut
Pria itu mengangkat tubuh Nurma yang belum sadarkan diri, ia membawanya ke satu ruangan lain.
"B*JINGAN, KAMU BENAR-BENAR JAHAT SANJAYA" teriak Kira yang tak terima, tubuh Nurma di masukkan ke dalam koper.
"KYAAAA.... LEPAS, LEPASKAN" Kira yang mendengar teriakan itu, langsung berlari ke kamar tersebut.
Nurma yang sudah sadarkan diri, memberontak dan me;melepaskan diri dari Sanjaya.
"DASAR BR*NGSEK, APA MAUMU HAH?! AKU SUDAH MENOLAKMU, AKU TIDAK MAU MENJADI ISTRI SIMPANANMU B*JINGAN" teriak Nurma
Nurma berniat melarikan diri, namun saat tubuhnya berbalik dan hendak mencapai pintu. Tangan Sanjaya terangkat dan menjambak rambut Nurma dengan sangat keras.
"AAAAAAA" teriak Nurma kesakitan, kedua tangan Nurma mencoba melepaskan tangan Sanjaya.
"Mau kemana kamu hah? Jangan harap kamu bisa pergi dari sini!! Susah payah aku mengikuti mu selama ini, agar aku bisa membawamu ke rumah kita sayang." ucap Sanjaya dengan mata nyalangnya, ia tak terima sejak tadi Nurma mengatainya br*ngsek dan juga b*jingan.
"Kamu akan tetap disini, sampai kita menikah" bisik Sanjaya tepat di samping telinga Nurma, membuat tubuh gadis itu merinding bukan main.
...****************...
...Happy Reading allπππ...