
'Apa yang akan kamu lakukan bang?' tanya Sahin dalam hati, kini mereka tengah ada dalam kelas.
'Aku akan melihat, berani sampai mana mereka. Berani sedikit saja menyentuh gadisku, maka mereka sudah siap bertemu dengan sewa kehancuran. Keluarganya takkan selamat dari kehancuran, mudah bagiku mendapatkan bukti tindak asusila wanita itu. Begitu juga dengan pria itu, ia akan hancur di tanganku, aku akan memberikan dia pelajaran terlebih dahulu sebelum aku melemparkan ia ke dalam jeruji keluarga Zandra.' jawab Syahid dengan menggebu-gebu
CTAK
Pulpen yang ia pegang, sampai patah di buatnya. Karena saking erat, ia menggenggam pulpen tersebut. Sahin hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, ia pun pasti akan melakukan hal yang sama. Apabila ada yang berani berniat jahat pada gadisnya, ia akan membuat orang-orang itu menyesal telah berurusan dengannya.
.
.
"Lu ga balik?" tanya Bastian pada Ajeng, kini mereka tengah duduk di taman.
"Nggak, gue ada janji mau ke mall sama para gadis. Nah lu, ngapa kagak balik? Nungguin apa lo? Jangan bilang lo nungguin si Lia, hayoh ngaku." wajah Bastian langsung memerah
"Ka kamu bicara apa?" tawa Ajeng pun pecah, melihat kegugupan Bastian.
"Anak TK juga tau, kalo lu suka ma si Lia, Basokaaaaaa. Mata lu sering curi-curi mangga tetangga kan, ma si Lia. Jelas banget" celetuk Ajeng setelah ia selesai tertawa, Bastian yang tadinya merona malu. Langsung berubah kesal wajahnya
"Lu bisa ga kalo ngomong, jangan suka ngaco. Nama gue Bastian, bukan Basoka. Lagian, mana ada gue curi-curi mangga tetangga, yang ada curi-curi pandang." ceplos Bastian
"Tuhkaaaaannn... gue bilang juga apa? Lu kalo suka bilang mas, jangan nunggu ada yang ngembat. Kejang-kejang ntar lu, karena ga terima." Bastian yang sadar dengan ucapannya, kembali wajahnya memerah.
'Si*lan, dia menjebak gue. Ini mulut juga kagak bisa di ajak kerjasama banget' ucapnya dalam hati, seraya menatap tajam pada Ajeng yang kembali menertawai dirinya. Bastian langsung menarik rumput yang di dekat kakinya, ia memasukkan rumput itu pada mulutnya Ajeng
"Apbrrruuutt... puh puh, huek... BASTIAAAANNN" Bastian menutup kedua telinganya, Ajeng melepeh-lepeh rumput yang ada di mulutnya, ia langsung mengambil air minral yang ada di botol yang selalu ia bawa-bawa. Ajeng pun melakukan kumur-kumur, untuk membersihkan mulutnya.
"Lu, bener-bener br*ngsek ya." Ajeng memukuli Bastian menggunakan botolnya, bukannya kesakitan ia malah tertawa karena wajah Ajeng yang memerah.
"Sori sori, ya lu yang duluan ngetawain gue." ucap Bastian seraya menahan tubuhnya dari pukulan itu, menggunakan tas miliknya.
"Bundo kutuok kau jadian sama Lia"
"Aamiin ya Allah, kabulkan lah kutukannya hari ini juga." ucap Bastian dengan menengadahkan kedua tangannya ke atas, lalu mengusap wajahnya.
"Ck" Ajeng berdecak kesal
"Bantuin gue Jeng, gue pengen nyatain suka ma Lia. Tapi gue ga tau caranya" pinta Bastian
"Lu nanya ke gue, seolah gue udah mahir banget ya sama yang begituan. Itu mah sama artinya, lu lagi ngehina gue secara halus Malih. pan lu tau sendiri, gue aja masih jomblo. Belum ada yang nembak gue sampe sekarang, gimana caranya gue bantuin lu? Lu bener-bener bikin gue sakit hati bas, penghinaan lo ngena banget ke ginjal gue." jelas Ajeng panjang lebar
Antar kesal dan lucu, mendengar penjelasan Ajeng
"Kalo saran gue lu kenalan dulu...
PLAK
"Lu bisa serius nggak sih Jeng? Kurang kenal gimana gue ma dia, kita sekelas selama 3 tahun. Nah lu juga tau, kita sekelas juga bukan?" Bastian benar-benar kesal, lama-lama ia punya penyakit darah tinggi ini.
"O iya ya, hehehe... gue lupa Bas, ih lu mah marah-marah mulu. Emosian, nanti lama-lama lu struk Bas" jawab Ajeng terkekeh
"Iya iya, lu coba pendekatan sama Lia. Lu ikut kita ke mall, nanti gue tinggalin lu ma Lia. Gunakan kesempatan itu buat bicara, pelan-pelan jangan asal seruduk nyatain cinta. Buat Lia nyaman dulu, berada di dekat lu." ucap Ajeng serius
"Bisa serius juga ternyata lu" ucap Bastian mengangguk-anggukkan kepalanya, Ajeng langsung memasang wajah jutek
"Iya iya, gue ikut dan gue bakalan ikutin saran lo. Tapi, apa Lia nya bakalan mau nanti di tinggal ma gue? Yang lain gimana kalo nanya-nanya?"
"Gampang, urusan gue itu mah"
"Asiaaappp... tengkuy Ajeng" ucap Bastian ,seraya mengacak rambut Ajeng yang di ikat
"Si anjirrrr, BASTIAN RAMBUT GUE" teriak Ajeng tidak terima, Bastian pun pergi meninggalkan Ajeng yang sibuk membenahi rambutnya kembali.
"Haishhh... emang rese tu bocah. Tapi syukurlah, sekarang dia bisa bertingkah seperti biasa setelah di tinggal oleh Lucky. Walau gue yakin, belum sepenuhnya luka itu sembuh." ucap Ajeng, seraya kembali mengikat rambutnya
Tanpa Ajeng sadari, ada yang memperhatikan dirinya yang sedang bercengkrama dengan Bastian dari jauh. Ia menghela nafasnya pelan, dengan menatap nanar pada Ajeng.
"Apa itu kekasihnya? Huft..." Dia pun pergi, berniat untuk kembali pulang.
.
.
"Kita lakukan rencana kita hari ini Dam, aku dengar mereka akan ke mall. Kita awasi pergerakan mereka, di saat perempuan itu sendiri. Maka kita akan beraksi, bawa perempuan itu pergi jauh dari Syahid dan teman-temannya. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan padanya, lebih bagus lagi bila kamu video kan. Agar Syahid merasa jijik dengan perempuan itu, karena sudah terjamah oleh pria lain." ucap Helena
"Benarkah? Aku senang mendengarnya, aku tak sabar untuk menidurinya." jawab Damian seraya tersenyum menjijikan, karena kini ia tengah membayangkan apa yang ingin ia lakukan. Pastinya sesuatu yang di benci oleh Syahid dan di sukai olehnya.
"Cih, penjahat kel*min" ucap Helena sembari mengangkat salah satu sudut bibirnya
"Tapi kamu menyukainya bukan, dan kamu sangat senang di saat aku bermain dengan milikmu." ucap Damian
"Tentu, kamu yang terbaik." jawab Helena, mereka pun tertawa. Seolah pembicaraan itu, merupakan hal yang sangat biasa untuk mereka.
Soraya dan Regatha yang hendak masuk, mengurungkan niatnya. Mereka berdua saling tatap, apa yang harus mereka lakukan? Jujur, mereka benar-benar ingin terlepas dari jeratan Helena. Tapi, mereka juga takut. Mereka berdua membalikan tubuh mereka dan melangkahkan kakinya untuk menjauhi ruangan itu, ruangan dimana tempat Helena dan Damian melakukan....
"Apa kita beritahukan hal ini pada pewaris tahta Syahid, bila kekasihnya sedang dalam bahaya?" tanya Soraya, kini mereka ada di toilet
"Tapi aku takut, bila nenek sihir itu akan melakukan hal yang merugikan kita. Aku takut, melihat kekecewaan di wajah kedua orangtuaku. Tapi, aku juga lelah seperti ini, Ya. Hiks..." jawab Regatha menangis
"Kita coba bahas masalah ini dengan Dania, siapa tau dia bisa memberikan kita solusi. Kita tidak bisa terus terjebak dalam lingkaran setan ini Re, kita harus menghentikan sikap semena-menanya Helena." ucap Soraya
Regatha menatap lama Soraya dan akhirnya ia pun mengangguk setuju, mereka lalu melangkahkan kakinya guna mencari Dania. Semoga nasib baik, berpihak pada mereka. Tanpa mereka sadari, ternyata Ajeng ada di salah satu toilet. Ia mengintip dan mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Sepertinya aku harus mengatakan ini pada teman-teman, rupanya mereka hanya korban dan iblis sebenarnya wanita yang mendorong Ita. MUNGKIN" Ajeng bisa mengatakan itu, karena ia melihat 2 wanita yang ada di belakang Helena.
...****************...
...Happy Reading all๐๐๐...
Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐ฅฐ๐ฅฐ