
"Iya tuan besar, saya... ah, mungkin semua orang di sini sudah tau. Bila Gayatri juga menawarkan dirinya untuk para tamu yang terlihat berduit, namun bukan di hotel ini. Ia akan mengajaknya ke hotel lain, untuk melancarkan aksinya. Jujur, kami sangat risih dengan kelakuan Raka, Renata dan juga Gayatri ini." jawab Romi
"Saya juga terkejut, saat mendengar tuan muda mengatakan bila Gayatri menggunakan susuk. Pantas saja, semudah itu ia bisa mendapatkan pelanggan. Padahal para pria yang ia targetkan, datang bersama istrinya dan juga maaf... menurut saya wajahnya juga tidak terlalu cantik." lanjut Romi, ia cukup bingung kenapa ia tidak terpengaruh oleh wanita itu?
Syahid melihat sesuatu yang melingkar di leher Romi, ia pun tersenyum.
"Kak Romi tidak terpengaruh, karena kakak di lindungi oleh benda yang melingkar di leher kakak." ucap Syahid, Refleks Romi memegang kalung yang di berikan oleh buyutnya tersebut.
'Eh, tunggu... bagaimana tuan muda bisa tau apa yang aku pikirkan?' tanya Romi dalam hati, saat ia ngeh dengan apa yang di ucapkan Syahid
"Karena kami bisa mendengar apa yang di pikiran kamu." ucap Afwa, tentu saja membuat Romi terkejut.
Mereka tertawa melihat ekspresi wajah Romi, yang membulatkan kedua bola matanya.
"Baiklah, kamu bisa tinggalkan kami. Kita akan kembali bertemu setelah Ashar nanti." ucap Rendra, Romi mengangguk dan menyerahkan beberapa map yang sempat di minta oleh Rendra.
Setelahnya, ia pun undur diri.
"Ternyata di hotel ini banyak yang harus di rombak ulang, si Raka sudah melakukan korupsi cukup besar." Ucap Afwa, seraya fokus pada lembaran kertas yang ia pegang.
"Ayah benar, bahkan Raka juga dengan tanpa hatinya memangkas gaji para pegawai. Dengan alasan, bila mereka terkena denda terlambat datang." jawab Syahid
"Kelakuannya benar-benar harus di perbaiki, entah masih bisa atau tidak. Sebaiknya, kita harus hati-hati mulai sekarang. Sepertinya ia akan membalas kita, karena sakit hati kita pecat secara tidak hormat dan tanpa pesangon sedikit pun." ucap Rendra
"Sudah sukur tidak kita perkarakan , uang pesangon yang ia terima juga tidak bisa menutupi uang yang sudah ia korupsi." jawab Sahin kesal
"Bila mendengar dari penjelasan Romi, kita bisa menyimpulkan. Bahwa ada kemungkinan mereka bertiga merupakan pengikut ilmu h*tam, dan ada kemungkinan mereka akan membalas kita menggunakan jalur itu." ucap Afwa
"Itu bisa saja terjadi yah, karena saat itu juga aku mendengar Gaytari yang ingin mengh*bisi mereka." jawab Syahid seraya menunjuk para gadis yang sedang terlelap, menggunakan dagunya.
"APA?!" teriak Rendra dan Afwa dengan nada tinggi, bahkan Rendra sampai menggebrak meja. Namun karena merasa lelah, keempat gadis itu tidak terusik sama sekali.
"Pelankan suara opa dan ayah" ucap Sahin
"Maaf, kami hanya terkejut tadi. Ingin menghabisi mereka? Enak saja, aku yang akan menghabisinya terlebih dahulu." ucap Afwa
tok tok
Terdengar ketukan pintu, Syahid pun berdiri dan melangkah mendekati pintu.
Ceklek
Saat melihat siapa yang datang, wajah Syahid langsung berubah dingin.
"Siapa yang memintamu datang?" tanya Syahid dengan suara dinginnya, bahkan tatapannya pun sangat meng intimidasi.
Glek
"Sa saya, hanya berinisiatif. Barangkalali, tuan muda dan tuan besar membutuhkan minuman untuk mendinginkan tubuh dan pikiran." jawab Gayatri dengan suara di buat lembut
Yoii... yang datang adalah Gayatri, Syahid mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Kami tidak membutuhkannya, lain kali jangan pernah mengirim apapun untuk kami." ucap Afwa yang kini ada di belakang Syahid
'Ya ampun, ternyata tuan besar juga tidak kalah tampan. Aku harus bisa mendapatkan salah satu dari mereka.' ucap Gayatri dalam hati.
Afwa yang mendengarnya pun, tubuhnya bergidik bukan main.
BRAK
Afwa langsung menutup pintu dengan membantingnya, Gayatri beringsut mundur selangkah karena terkejut.
"Sialan, aku tidak akan menyerah. Sebelum menjadi nyonya di keluarga Zandra." gumamnya pelan, ia mengepalkan kedua tangannya karena marah.
Ia kembali mendorong troli menuju pantry, dengan wajah masamnya.
"Wanita itu benar-benar mengerikan, segera hubungi Romi. Pecat dia sekarang juga!!" titah Afwa, ia merasakan hal yang sangat gelap mengelilingi Gayatri
Sudah di pastikan, mereka akan mengalami hal mistis di sini.
"Sepertinya kita harus waspada, mulai malam ini." ucap Rendra, Afwa, Syahid dan Sahin pun mengangguk
Saat mereka sedang serius membahas mengenai perombakan hotel, tiba-tiba terganggu karena Ita yang terlihat gelisah dalam tidurnya.
"Hah hah hah" Ita langsung melihat ke sekitar, setelah sadar Ita pun terlihat bernafas lega.
"Hanya mimpi" gumam Ita, seraya mengusap wajahnya pelan.
"Kamu kenapa nak?" tanya Rendra, yang kini tengah duduk di sisi Maya
"Opa... " Ita tersenyum
"Tidak apa-apa opa, Ita hanya mimpi buruk. Mungkin karena mendekati Ashar tertidur, jadi Ita bermimpi jelek." jawab Ita
Kira yang masih mengantuk, tak sengaja memegang lengan Ita.
DEG
Kira pun langsung membuka lebar kedua matanya, ia menatap Ita. Tentu saja, Ita heran dengan tatapan Kira.
"Kenapa?" tanya Ita
"Sepertinya orang yang teteh lihat dalam mimpi, adalah teman sekelas kita." jawab Kira dengan wajah cemas
"Maksudmu, mimpiku ini nyata?" tanya Ita tidak paham.
Belum Kira menjawab, terdengar suara ketukan pintu yang terdengar sangat rusuh. Lebih tepatnya adalah sebuah gedoran pintu yang cukup kencang, Kira, Maya dan Ita saling pandang.
Sahin langsung berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Sahin" panggil seseorang tersebut, yang ternyata adalah pak Sugeng
"Assalamu'alaikum pak, ada yang bisa di bantu?" tanya Sahin
"Astaghfirullah, Assalamu'alaikum nak... " ucap pak Sugeng lagi, saking paniknya ia melupakan salam.
"Wa'alaikumsalam, ada apa pak?" tanya Sahin lagi
"Begini..."
"Sahin, persilahkan masuk. Tidak baik bicara di depan pintu, sambil berdiri." potong Rendra
"Tuan besar" pak Sugeng sedikit menundukkan tubuhnya
"Mari, masuk pak. Maaf, bila cucu saya tidak sopan." ucap Rendra
"Ah, tidak apa-apa tuan besar." jawab pak Sugeng
Kini mereka tengah duduk di sofa, Dena sudah terbangun karena di bangunkan oleh Maya dan Kira. Ia kini tengah duduk malas, di sisi ranjang.
"Aku masih ngantuk" gerutu Dena
"Ck, sebentar lagi Ashar. Bangun!!" bentak Maya, namun pelan
"Iya iya, lihat mataku ini. Sudah terbuka dengan lebar bukan?" Dena membalasnya dengan memelototkan kedua matanya, menatap Maya. Sampai membuatnya ingin tertawa, tapi Maya menahannya.
Maya pun menoyor pelan kening Dena, agar wajah Dena yang terlalu dekat, menjauh dari wajahnya.
Sahin yang sejak tadi melihat tingkah Dena, hanya menahan senyumnya. Entahlah, kini di matanya. Semua kelakuan Dena, terlihat sangat menggemaskan.
'CIEEEE' Syahid benar-benar menahan tawanya
"****.... aku melupakan dia ternyata." gumam Sahin pelan, seraya menatap Syahid dengan kesal. Sedangkan Syahid terlihat menggigit bibir bawahnya, agar tak kelepasan tertawa.
Kalian ingatkan kemampuan twin prince sejak di dalam perut Alice? Mereka bisa menyembunyikan isi hati mereka dari yang lainnya. Sehingga apa yang sedang di debatkan Syahid dan Sahin, tak akan di ketahui oleh Rendra dan Afwa.
...****************...
......Happy Reading
allπππ
......