
Orang Tua Lia yang ada di depan pintu kamarnya, yang letaknya ada di sebelah kamar Lia ikut terkejut. Walau di kepalanya bertanya-tanya siapa Kira dan yang lain?
Kira mencoba membuka pintu, namun sayang pintu itu ternyata terkunci.
"DOBRAK PINTUNYA!!" titah Syahid, meski bingung namun Axel dan Rio tetap melakukan yang dipinta oleh Syahid.
'Sebenarnya siapa anak-anak ini? Kenapa aku mau saja menuruti apa yang di katakan nya?' ucap Axel dalam hati, Syahid menunduk dan menahan tawanya. Padahal keadaan tengah genting, tapi tetap saja ada yang membuatnya terhibur.
BRAK
Percobaan pertama gagal
BRAK
Yang kedua juga gagal, Kira semakin panik saat melihat arwah Lia yang semakin samar. Sahin pun ikut membantu mendobraknya, dan...
"CEPAAATT" teriak Kira panik
BRUAAKK
"Astaghfirullah" ucap mereka serempak
"LIA" teriak mereka semua
Axel dan Chris langsung berlari, mencoba menahan tubuh Lia agar tidak terus berg*ntung. Ya, ternyata Lia kembali mencoba meng*khiri hidupnya dengan mengg*ntung diri menggunakan kain seprai. Dira dan Ami, langsung merasa lemas pada tubuhnya. Tubuh Dira yang langsung di tahan oleh Rio, sedangkan tubuh Ami tertahan oleh Ita dan Dena. Begitu juga dengan Kira, tubuhnya langsung terasa lemas. Ia berpegangan pada Maya, agar tidak sampai jatuh. Maya langsung menarik Kira ke dalam pelukannya, ia juga sama terkejutnya. Namun demi sang adik, ia harus bisa lebih kuat.
Syahid dan Sahin mencoba membantu Chris dan Axel membuka kain yang mel*lit di leher Lia, mereka naik ke atas kursi yang mungkin dijadikan pijakan oleh Lia. Setelah tubuh Lia di turunkan, Sahin mengecek nadinya. Masih terasa, namun lemah.
"Cepat bawa ke rumah sakit" titah Sahin, Axel langsung keluar hendak mengeluarkan mobil. Di susul Chris yang langsung mengangkat tubuh Lia, segera ia bawa keluar.
"Ayo kita susul, kamu... ikut dengan kami." ucap Kira pada arwah Lia, Lia menatap Kira dan mengangguk. Tubuh Kira, masih merasakan lemas karena shock. Sehingga ia belum mau memegang Lia, semoga Lia masih bisa di selamatkan.
Rio yang masih sadar, ia juga shock dengan kondisi Lia. Karena baru kali ini, ia melihat seseorang yang berniat meng*khiri hidupnya. Tambah lagi orang itu, adalah teman sekelasnya sendiri. Namun ia juga cukup terkejut dengan apa yang Kira lakukan, kenapa Kira melihat dan berbicara pada udara?
.
"Tante mau di rumah apa ikut nyusul ke rumah sakit?" tanya Ita, kini mereka tengah di ruang tamu. Di ruangan itu ada Ita, Dena, Dira, tante Ami, dan Rio. Sedangkan Syahid, Sahin, Kira dan Maya menyusul ke rumah sakit. Tante Ami dan Dira baru saja siuman, sehingga Ita dan yang lain memilih untuk menunggu mereka berdua sadarkan diri. Tak lupa bibi memberikan air hangat untuk tante Ami dan Dira.
"Kita ke rumah sakit nak." jawab tante Ami lemas, tubuhnya masih terasa bergetar.
"Yo, lu bawa mobil kagak?" tanya Dena, Rio mengangguk
"Kalo gitu, tolong antar kami ke rumah sakit ya paketu." ucap Ita
"OK, kalo begitu aku ke sekolah dulu untuk mengambil mobil." Rio segera bangun dari duduknya dan keluar dari rumah Lia, untuk ke sekolah.
"Ayo tan, kita tunggu di depan." ajak Ita, ia membantu Ami untuk bangun dan memapahnya ke luar. Dira di bantu oleh Dena, mereka menunggu Rio di teras.
.
.
Semua sedang duduk menunggu di depan IGD, terpampang sangat jelas raut wajah frustasi pada Chris dan Axel. Lia yang melihatnya benar-benar merasa bersalah, ia terisak di samping sang ayah.
Kira berjalan mendekati Lia, di papah Sahin. Axel yang merasa ada yang mendekat, menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah Kira. Ia mengira, bila gadis ini menghampiri dirinya. Memang benar, Kira kini berdiri tak jauh darinya. Namun, pandangan Kira tidak pada dirinya. Axel menatap wajah Kira dari samping, cantik.
GLEK
Axel langsung menundukkan kepalanya, di bingung dengan dirinya sendiri. Padahal usianya lebih tua dari dua remaja yang kini ada bersamanya, tapi kenapa ia merasa segan sekali pada mereka.
Yups... padahal usia Axel kini sudah menginjak 21 tahun, ia juga sedang kuliah. Dan kini sudah semester 5, tapi kalah oleh remaja seangkatan dengan adiknya. Aneh,entah kenapa keempat remaja yang sedang ada dengannya. Seperti mempunyai aura yang berbeda...
"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Kira, tatapannya tetap lurus ke depan. Membuat Chris dan Axel kembali menegakkan kepalanya, pada siapa sebenarnya gadis ini berbicara.
Mereka berdua menatap ke arah depan Kira, tapi kooosong. ๐คฃ
(Jadi inget iklan yang kepala ibu-ibu ada di dalem magic com.)
'Maaf' jawab Lia, jatuhlah air mata yang sejak tadi ia tahan.
'Maafkan aku, aku tidak tau bila apa yang aku lakukan membuat anggota keluargaku khawatir. Aku tidak menyangka, bila apa yang aku lakukan menyakiti orang-orang yang menyayangiku. Aku khilaf, yang ada di kepalaku hanya ingin segera menghilang dari muka bumi ini. Agar aku tak mempermalukan kedua orang tuaku dan juga abangku. ' lanjutnya lagi dengan tangisan keras, namun hanya mereka berempat yang bisa mendengarnya.
Kira menghembuskan nafasnya pelan, ia mengulurkan tangannya dan memegang pergelangan tangan Lia. Lagi-lagi Chris dan Axel di buat bingung, dengan apa yang sedang di lakukan Kira.
SYUUUTT
Kira kini membuka matanya, ia menatap ke sekeliling.
'Dimana?' tanyanya, Kira merasa bingung dengan tempat ini. Rasanya ia pernah melewati tempat ini, tapi kapan? Kira pun mencoba berjalan ke arah depan, ia seperti melihat Lia di depan sana. Iya benar, itu memang Lia. Lia tengah berjalan santai, sembari mendengarkan musik dari earphone nya.
'Jalanan sangat sepi, memang ini jam berapa? Lia juga masih pake seragam, itu artinya baru pulang sekolah.' gumam Kira, di jalan itu benar-benar sepi. Tak ada satu orang pun yang lewat atau berkumpul, Kira terkejut saat tiba-tiba ada yang membekap dan menyeret Lia.
Kira pun langsung berlari mengikuti kemana pria itu membawa Lia, Lia terus memberontak dan mencoba berteriak. Namun, suaranya tertahan karena bekapan pria tersebut.
"MMMM... MMMM... MMM" Lia terus berusaha berteriak, air matanya luruh. Ia benar-benar sangat ketakutan, ia terus mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria tersebut.
Sekarang mereka sudah ada di sebuah.....
'Ini seperti rumah yang aku lewati, saat akan ke rumah Lia.' Kira menelisik ke segala arah
'Iya benar, ini kan rumah peach itu.' Kira segera menyusul Lia yang di paksa masuk ke sebuah kamar.
BRUGH
DEG
DEG
Lia di lempar ke atas ranjang, pria itu menyeringai dan berjalan perlahan mendekati Lia. Seolah ia, menikmati wajah ketakutan Lia. Sedangkan Lia membulatkan kedua bola matanya, ia terkejut dengan siapa kini ia berhadapan.
"LEPAS!! KENAPA KAMU TEGA LAKUIN INI SAMA AKU?" tanya Lia berteriak, tubuhnya bergetar. Sumpah demi apapun, ia merasa sangat takut saat ini. Air matanya terus mengalir, Lia memundurkan tubuhnya dia atas ranjang. Sampai akhirnya, punggung Lia menabrak tembok yang ada di belakang dirinya. Tembok yang menempel dengan salah satu sisi ranjang tersebut.
"TOLOOOOONG... TOLOOOONG!!!" teriak Lia, sedangkan pria itu malah tertawa senang.
"Dengar kamar ini kedap suara, aku sudah merencanakan lama hal ini. Mau kamu berteriak sampai suara kamu habis pun, tak ada orang yang akan datang menolong mu. Hahahaha...."
...****************...
...Happy Reading all๐๐...