
"Sampai dimana, pintu yang sejak tadi gagangnya di pegang oleh Ambar. Tiba-tiba terbuka dengan sendirinya dan.. dan entah ada apa di dalam sana. Namun, ada bayangan hitam yang memiliki mata merah memelototkan kedua bola matanya pada kami. Lalu, ia menarik paksa Ambar dan Tesa yang sedang memegangi tangan Ambar pun ikut terseret masuk. hiks hiks... " sambung Lara
________________________
Sedangkan satu orang di antara mereka, sedang menangis karena rasa takut dan juga rasa bersalah.
"Innalillahi wa innalillahi rojiun, kenapa kalian sembrono? Akhirnya teman kalian kan yang menjadi korban, sudah tau salah. Kenapa kalian bukan menolak dan menghalangi Ambar untuk datang dan masuk ke rumah itu. Kalau sudah begini, apa yang akan kalian lakukan. Hah?!" Ucap pak Sugeng marah
Double twin, Ita dan Dena juga menyayangkan apa yang mereka lakukan. Namun, Dena mengerti dengan apa yang mereka rasakan. Rasa PENASARAN, ya karena rasa itu yang pernah membawanya tersesat di alam lain.
"Sudah dari awal bapak bilang, kalian harus bisa menjaga tingkah pola kalian disini. Lain daerah, lain pula tata kramanya. Pasti memiliki peraturannya masing-masing dan kita harus bisa menghormati perbedaan tersebut." lanjut pak Sugeng
Keempat anak itu hanya diam menunduk dan terus terisak, mereka menyesal.
"Lalu apa yang akan kita lakukan nak?" tanya pak Sugeng menghembuskan nafasnya pelan, lalu menatap Syahid dan yang lainnya.
Syahid menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebentar lagi Maghrib. Bila menurut opa dan ayahnya, mereka juga pasti akan bertarung melawan Gayatri bersama d*kunnya.
"Kita akan bicarakan hal ini dengan opa dan ayah pak, kami tak bisa mengambil keputusan sendiri. Sedangkan di sini, ada opa dan ayah." jawab Syahid, pak Sugeng mengangguk paham.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit undur diri. Kami akan kembali mengabari bapak, setelah kami membicarakan hal ini pada opa dan ayah." ucap Sahin
Mereka berenam pun keluar dari kamar keempat gadis tadi.
"Rasa penasaran, memang bisa membawa mu ke dalam lubang celaka." ucap Dena
"Ya, dan kamu adalah salah satu contoh anak dableg itu." celetuk Sahin, yang langsung membangkitkan kekesalan Dena.
"Hah... sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Membuang-buang waktu dan tenaga saja, ck." ucap Dena, ia pun melamgkah lebih dulu meninggalkan Maya dan yang lain.
Melihat tingkah Dena, yang tidak seperti biasanya. Membuat Maya dan yang lain keheranan, termasuk Sahin. Ia merasa, bila sudah mengatakan hal yang menyinggung Dena dan membuatnya marah.
"Hayo loooo... Sahin, kamu sudah membuat Dena bad mood. Hayu ah, susulin" ucap Kira
Tentu saja hal tersebut, membuat Sahin semakin tak enak. Sedangkan Syahid yang melihat Sahin bingung, hanya tersenyum menahan tawanya.
"Sudahlah, ayo. Mungkin Dena sedang mendekati masanya." ucap Syahid menenangkan Sahin
"Mendekati masa?" tanya Sahin bingung
"Iya, masa periodenya." jawab Syahid
"Kamu banyak taub mengenai wanita ya bang." ucap Sahin
"Tentu saja, Maya dan Kira juga akan dalam mood buruk bila sedang masa periodenya." balas Syahi terkekeh
.
.
"Jadi, bagaimana menurut ayah?" tanya Syahid
Setelah shalat Isa, mereka kembali berkumpul di kamar sang Opa dan ayah. Kecuali keempat gadis, mereka memilih untuk tetap di kamar. Apalagi, ternyata apa yang di ucapkan Syahid benar adanya. Dena kini sedang menahan rasa kram di perutnya, karena datang bulan. Maya mendekatkan telapak tangannya pada Dena, menyalurkan kekuatannya agar bisa meredakan rasa sakit di perut Dena.
"Sepertinya malam ini kita tidak akan bisa tidur dengan tenang" jawab Rendra
Baru saja mereka membahas, bagaimana ke depannya. Tiba-tiba seperti ada yang melempari kaca pintu balkon dengan sangat lencang, sekelebat ada cahaya lewat.
Afwa bangun dari duduknya dan membuka gorden, ia pun melihat ke depan dengan tatapan marahnya.
"Banaspati" ucap Rendra dengan mengeratkan kedua tangannya.
Afwa mengangkat tangan kanannya dan menengadahkan telapak tangannya ke atas, ia membuka jendela pintu balkon. Afwa memusatkan keuatannya di telapak tangan dan keluar cahaya berwarna biru keemasan, ia lalu melemparkan bola cahaya itu ke arah banaspati tersebut.
DUAR
Banaspati itu hancur dan mengeluarkan bunyi yang cukup kencang. dan nyaring.
Tak lama, keluarlah makhluk-makhluk astral, yang bisa di pastikan merupakan peliharaan d*kun yang bekerjasama dengan Gayatri.
"Kalian siap?" tanya Afwa, Syahid dan Sahin mengangguk pasti
Mereka bertiga pun berdiri berjajar di balkon, dengan kekuatan mereka. Mereka turun dari lantai 28 tersebut. Rendra yang tidak memiliki kemampuan itu, hanya menghela nafas dan menghembuskannya dengan kesal.
"Apa mereka melupakan aku?" tanya Rendra pada dirinya sendiri
Mau menyusul menggunakan lift, malas. Sehingga ia hanya diam di kamar dan menutup pintu balkon, ia percaya bila anak dan cucunya bisa melawan mereka.
.
"Keluarlah" titah Afwa dengann suara berat dan dinginnya
Ia tau bila dalang dari makhluk-makhluk ini, berada dekat dengannya.
"HAHAHAHA, rupanya kalian bukan orang-orang biasa. Pantas saja Gayatri menginginkan kalian, untuk menjadi miliknya. Karena susuk yang ia pakai, tidak mempengaruhi kalian sama sekali." ucap d*kun yang di panggil mbah Musi
"Cih, sekuat apa kamu berani melawan kami?" tanya Sahin
"Tak usah banyak bicara, B*NUH MEREKA" teriak mbah Musi pada peliharaannya
Makhluk itu pun serentak menyerang Afwa, Syahid dan Sahin. Dengan posisi saling membelakangi, mereka bertiga melawan makhluk-makhluk tersebut.
Serangan demi serangan di lakukan oleh para makhluk tersebut, dan dengan mudah juga Syahid dan Sahin melawan mereka.
"Ayah menyerahkan mereka pada kalian, apa kalian sanggup?" ucap Afwa, seray bertanya. Syahid dan Sahin pun mengangguk, Afwa langsung pergi menyerang mbah Musi.
"Lawan aku, apa kamu berani?" tantang Afwa, dengan tatapan mata tajam
"Cih, jangan sok hebat kamu anak muda. Pengalaman hidupku, sudah banyak. Lawanku pun bukan sembarang lawan, apalagi hanya melawan kamu anak ingusan." jawab mbah Musi, Afwa mengangkat salah satu sudut bibirnya.
'Besar juga nyalinya' ucap mbah Musi dalam hati
Mbah Musi memasang kuda-kuda, ia pun melakukan pergerakan pada tangannya dan komat-kamit membaca mantra.
Melihat hal tersebut, Afwa pun bersiap untuk melawannya. Ia memusatkan kekuatannya pada kedua telapak tangannya, ia mengepalkan kedua tangannya. Dan... baik Afwa, maupun mbah Musi. Mereka menyerang dan memajukan kedua telapak tangannya.
BUGH
Dua kekuatan berbeda, saling menekan. Tak lama mereka menghentakkan kedua telapak tangannya dan tubuh mereka mundur beberapa langkah ke belakang.
Terlihat mbah Musi yang ngos-ngosan, karena ternyata kekuatan Afwa yang sangat besar. Menekan hingga ke daging, syaraf dan tulangnya. Ia merasakan linu dan juga sakit secara bersamaan di sekujur tubuhnya, sedangkan Afwa masih terlihat tenang dan santai.
'Ternyata aku tidak bisa menyepelekan kekuatan nya, pantas saja Gayatri tidak bisa mempengaruhi mereka bertiga.' gumam mbah Musi, Afwa yang mendengar ucapan pria tua di hadapannya tersenyum smirk.
Lain di Afwa, lain juga di Syahid dan Sahin. Mereka baku hantam dengan makhluk-makhluk ghaib tersebut, yang membuat mereka bersemangat adalah mereka berdua tidak perlu merasa takut melukai. Mereka dengan semangat 45, menghabisi makhluk-makhluk tersebut.