
"Bagaimana kamu bisa tau nama putri bapak? Seingat bapak, bapak belum menyebutkan namanya." tanya bapak kang seblak
"Eh..." Ita terdiam, ia menatap kedua temannya. Lia dan Agatha mengangguk, mengiyakan ucapan bapak kang seblak.
"Ngomong-ngomong, kenalan dulu pak. Kasian dari tadi author ngetiknya bapak kang seblak, saya Agatha, ini Lia dan teman saya yang satu itu namanya Ita. Kita semua manggilnya teteh, karena teh Ita yang pemikirannya lebih dewasa daripada kami teman-temannya." ucap Agatha sedikit tertawa, bapak kang seblak pun ikut tertawa
"Oh, Ya Allah... Bapak lupa, panggil saja bapak dengan pak Mun. Karena nama bapak Munir" ucap pak Mun
"Jadi, bagaimana kamu bisa tau nama putri bapak, bukankah dari awal cerita kamu memang tidak mengetahui siapa putri bapak?" tanya pak Munir
"Sebenarnya...
"Sebaiknya bapak buatkan seblak baru buat kalian ya, yang ini sudah dingin." potong pak Mun
"Ga usah pak, nggak apa-apa kita makan yang ini aja. Sayang kalo harus bikin baru lagi, pake modal loh pak itu." tolak Lia secara halus
"Iya pak, ga terlalu dingin kok. Masih anget, kita ngobrolnya sambil makan ga apa-apa kan pak?" sambung Agatha
"Benar tidak apa-apa neng?" tanya pak Mun
"Nggak apa-apa pak, bapak duduk di sini aja." jawab Ita seraya menepuk bangku di sebelahnya.
Mereka mulai memakan seblaknya
"Sebelum saya menjawab pertanyaan bapak, apa saya boleh bertanya sesuatu terlebih dahulu pada bapak? Maaf bila pertanyaan ini, mungkin akan membuat bapak terkejut." Pak Mun terdiam sebentar, namun tak lama ia pun menganggukkan kepalanya.
"Apa.... Apa bapak percaya, dengan seseorang yang di berikan kelebihan untuk bisa melihat hal lain selain makhluk hidup? Sesuatu yang tidak bisa di lihat, oleh mata manusia pada umumnya?" tanya Ita dengan ragu, pak Mun terdiam mencerna pertanyaan Ita.
DEG
Terlihat dada pak Mun naik turun, ia tau kemana arah pembicaraan Ita. Pantas ia bilang, akan membuat dirinya terkejut. Tentu saja ia terkejut, terkejut bukan main. Hal yang tidak bisa di lihat oleh manusia biasa, adalah roh halus bukan? Pak Mun memegang dadanya, rasanya sangat nyeri. Ia tidak mau mengiyakan pemikirannya saat ini...
"Pak Mun" teriak mereka bertiga, serentak menaruh seblaknya di kursi dan mendekati pak Mun.
"Bapak baik-baik saja, kita ke rumah sakit." ucap Ita cemas, baru bertanya seperti ini saja. Sudah membuat pak Mun seperti ini, bagaimana bila ia mengatakan bila roh putrinya ada di sini?
"Tidak apa-apa, kalian tidak usah khawatir" jawab pak Mun, seraya mengatur nafasnya. Lia segera mengisi air ke gelas, dan segera di berikan pada pak Mun.
"Minum dulu pak" pinta Lia cemas, pak Mun menerima gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Pak Mun menatap dalam ke arah Ita, matanya mulai berkaca-kaca.
"Pak...
"Itu tidak benar kan? Jangan katakan, bila apa yang di pikirkan bapak benar." ucap pak Mun dengan suara bergetar, Lia dan Agatha pun paham dengan apa yang di maksud Ita. Ita menundukkan kepalanya, di belakangnya ada seorang gadis yang tidak bisa menahan air matanya.
Bapaknya pasti merasa sakit hati dengan apa yang akan dia dengar, pagi sampai malam mencari dirinya, ke kantor polisi namun di tolak karena belum 2x24 jam. Bahkan bapaknya sampai bersitegang dengan polisi, karena dengan entengnya polisi itu mengatakan bila mungkin putrinya pergi dengan kekasihnya.
Flashback
Di hari pertama pak Mun tidak mendapati keberadaan sang putri sulungnya, beliau pun pergi ke kantor polisi berniat melaporkan kehilangan.
"Begini pak, saya mau melaporkan anak hilang. Putri saya sejak semalam tidak kembali, saya takut terjadi sesuatu padanya pak." jawab pak Mun
"Berapa usia putri bapak?"
"20 tahun"
"Apa bapak sudah mencoba menghubungi ponsel milik putri bapak?" tanya petugas itu
"Sudah, bahkan berkali-kali. Namun ponselnya tidak aktif, saya takut bila putri saya menjadi korban kejahatan orang tidak bertanggung jawab." jawab pak Mun cemas, ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada sang putri. Apalagi di berita, banyak sekali kasus mengerikan yang korbannya para gadis.
"Sudah mencarinya ke rumah teman-teman putri bapak?"
"Sudah, putri saya tidak memiliki banyak teman. Karena ia termasuk anak pendiam dan tertutup pada orang lain, temannya hanya ada 3. 2 di kampus dan 1 di dekat rumah. Terakhir pamitnya akan mengerjakan tugas kelompok." jawab pak Mun, jujur... di sini saja kesabarannya sudah hampir habis. Tapi ia masih menahannya, mungkin ini adalah salah satu prosedur.
"Bisa saja, putri bapak mempunyai kekasih dan ia tidak pulang dan pergi dengan kekasihnya." ucap petugas itu dengan wajah yang agak nyeleneh, seolah mengatakan bahwa putrinya bukan perempuan baik-baik.
"Maksud anda bicara seperti itu apa?" tanya pak Mun dengan menahan emosinya, tangannya mengepal sempurna.
"Kita sama-sama tau pak, anak-anak gadis jaman sekarang mengambil jalan singkat demi mendapatkan apa yang ia mau. Apalagi bapak, hanya bekerja sebagai tukang seb..
BRAK
Ayah mana yang tidak akan merasakan sakit hati, mendengar putrinya di rendahkan seperti itu. Orang boleh merendahkan dirinya, tapi tidak dengan keluarganya. Tadi, dia bilang apa? Putrinya salah satu gadis yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan yang ia mau, siapa dia berani berpikiran seperti itu.
"Mulut dan otak anda benar-benar kotor ya, saya tidak percaya anda bisa menjadi salah satu aparat negara. Dengan pemikiran dan mulut seperti ini, saya ayahnya. Saya lebih tau putri saya, daripada siapapun. Anda siapa? Berani sekali membuat kesimpulan, yang belum tentu benar adanya. Bukankah itu bisa di bilang fitnah, apa pantas seorang aparat negara yang seharusnya mengayomi dan juga melindungi rakyat, mengatakan hal seperti itu?" ucap pak Mun yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, dengan posisi berdiri dan menunjuk polisi tersebut.
"Berani sekali anda berperilaku seperti ini pada aparat?" petugas itu oun ikut tersulut emosi
"BERANI, SAYA AKAN BERANI BILA SAYA MEMANG BENAR!!" jawab pak Mun dengan membentak
"Jangan anda pikir, karena anda berseragam. Saya takut mengutarakan kebenaran, apa pantas anda seperti ini? Coba anda pikir, apakah yang tadi anda ucapkan itu sudah benar?" lanjut pak Mun dengan dada yang naik turun. Kecewa sangat kecewa, marah? tentu saja
Anggota petugas yang lain, langsung menghampiri pak Mun yang sedang marah-marah.
"Mohon tenang pak" ucapnya, pak Mun langsung melirik petugas yang menenangkan dirinya dengan tatapan tajam
"Tenang? Anda bilang tenang pada saya? Bagaimana saya bisa tenang, saya sedang kehilangan putri saya dan rekan anda malah merendahkan putri saya? Bila anda ada di posisi saya, apa anda bisa tenang?" jawab pak Mun yang belum bisa mengendalikan amarahnya
...****************...
Nah loh....
...Happy Reading allππππ...
Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nyaπ₯°π₯°