
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Yumi, saat melihat Ita mengerjapkan matanya pelan. Yumi langsung menekan tombol emergency, yang ada di samping ranjang Ita.
"Oma" panggil Ita dengan suara pelan, saat ia bisa melihat jelas siapa yang ada di hadapannya kini. Ingin bangun, tapi tubuhnya terasa sangat remuk. Melihat Ita yang memejamkan matanya, seperti menahan sakit. Yumi berinisiatif untuk membantunya untuk duduk, kepala Ita masih terasa sedikit pusing.
"Apa yang kamu inginkan? Kita tunggu dokter dulu ya." ucap Yumi
"Memang Ita dimana oma?" tanyanya lagi, saat rasa pusing berangsur hilang.
"Kemarin kamu tak sadarkan diri, sekarang kamu ada di rumah sakit." jawab Yumi, Ita terdiam. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin, sampai ia tersentak kaget saat mengingatnya.
"Maya oma, Kira bagaimana. Lalu Dena, apa mereka baik-baik saja?" tanya Ita panik, Yumi tersenyum. Pantas saja cucunya jatuh cinta pada gadis ini dan cucu yang lainnya tak mau jauh darinya, dalam keadaannya yang seperti ini pun. Ia masih saja memikirkan kondisi, orang-orang yang ada disekitarnya.
"Alhamdulillah, mereka semua baik-baik saja. Mereka masih di hotel, oma melarang mereka ke sini." jawab Yumi, Ita pun bernafas lega
"Alhamdulillah, syukurlah oma." ucap Ita, tak lama dokter pun masuk.
"Selamat pagi menjelang siang nyonya, nona." sapa sang dokter, Ita dan Yumi menjawabnya dengan senyuman.
"Cantik sekali nona muda, seandainya saya masih muda. Sudah pasti saya akan mengejar-ngejar nona, untuk di jadikan ibu dari anak-anak saya." canda dokter yang usianya pun di atas Yumi
"Maaf dok, sayangnya cucuku sudah lebih dulu mencintainya." jawab Yumi bercanda , tapi serius. Nah loh, gimana tuh maksudnya😆
DEG
Ita yang mendengarnya, langsung blushing.
'Haish, oma ini bicara apa? Cucu yang mana?' gumam Ita dalam hati
"Hahahaha... tentu saja, mana mungkin wanita secantik nona muda tak ada yang punya." tawa dokter dan Yumi pun pecah, membuat Ita semakin salah tingkah.
"Baiklah, kita coba periksa punggungnya nona muda." dokter itu melakukan tugasnya setelah selesai bergurau
Saat Ita menegakkan tubuhnya, terasa ngilu di area tengah hingga punggung sampai ke atas tulang ekornya.
"Akh, ssshhh... nyeri dok." ucap Ita, tangannya tanpa sengaja meremat lengan Yumi. Yumi langsung menggenggam tangan Ita dan mencoba menyalurkan kembali tenaga dalamnya, ia merasa sangat bersalah karena demi melindungi cucunya. Ita mengalami hal ini, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Oma, oma kenapa? Maaf, Ita sudah menyakiti tangan oma." ucap Ita panik saat melihat raut wajah Yumi, Yumi menggelengkan kepalanya.
"Tidak sayang, justru oma yang minta maaf. Maafkan Maya, karena demi melindunginya, kamu jadi yang terluka. Punggung mu pasti sangat sakit.." jawab Yumi, air matanya pun luruh juga. Ita tersenyum dan mengangkat tangannya, ia pun menghapus air mata Yumi.
"Oma, Maya dan Kira adalah kesayangan Ita. Kalian semua kesayangan Ita, apapun akan Ita korbankan. Meski nyawa sekalipun, kalian adalah harta berharga bagi Ita. Oma jangan seperti ini, Ita merasa sedih melihat oma menangis." ucap Ita, Yumi pun tersenyum. Ia sangat tersentuh dengan jawaban yang Ita ucapkan, mengorbankan nyawa... tidak boleh itu sampai terjadi.
"Terimakasih sayang, oma juga menyayangimu nak." ucap Yumi, dokter yang selesai memeriksa Ita pun. Ikut merasakan haru dan hampir meneteskan air matanya, ia mengangkat kepalanya agar air matanya tidak turun, sedangkan suster yang ikut dengan dokter tersebut, sudah meneteskan air matanya.
'Beruntung banget cewe ini, pasti hatinya sangat baik. Sehingga keluarga Zandra bisa sesayang ini padanya, kalo aku kayanya ga mungkin bisa di lirik. Hati gue masih suka julid sama orang, mulut juga masih suka gibah. Ck ck ck... mimpi mu terlalu tinggi Esmeralda. ' gumam si perawat menggelengkan kepalanya pelan, menyayangkan sifatnya sendiri.
Syahid dan Rendra yang baru saja kembali dari kantin, menahan tawanya di depan pintu. Karena mendengar celotehan hati suster tersebut, ada-ada saja memang.
tok tok
"Assalamu'alaikum" salam mereka berdua, semua orang langsung beralih tatapannya pada 2 pria tampan yang berbeda usia tersebut.
"Wa'alaikumsalam"
"Jadi bagaimana dok?" tanya Yumi
"Nona muda sudah bisa pulang siang ini, mungkin beberapa hari ini akan terasa linu pada bagian punggungnya. Tapi semua baik-baik saja, itu hanya efek dari sebuah benturan keras. Justru saya kagum dengan nona muda, luka dan memarnya bisa hilang hanya dalam waktu singkat." jawab sang dokter, tentu saja Yumi tidak akan mengatakan alasan mengapa bisa seperti itu.
"Nona muda hanya butuh istirahat dan saya akan memberikan resep obat untuk rasa nyerinya. Berupa salep dan juga obat yang harus di minumnya." lanjut sang dokter
Yumi dan Rendra tersenyum dan mengangguk lagi.
"Terima Kasih dok." ucap Rendra, dokter itu pun mengangguk dan pamit undur diri.
"Bagaimana perasaan teteh sekarang?" tanya Syahid yang kini sudah berdiri di lain ranjang Ita, Ita pun menoleh dan...
DEG
Tiba-tiba ia kembali mengingat, dengan apa yang di ucapkan oleh oma Yumi. Yumi dan Rendra mundur alon-alon, mereka memilih duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Alhamdulillah dek, teteh sudah lebih baik." jawab Ita tersenyum, mencoba biasa saja. Padahal jantungnya sudah ngajak lari maraton, berlomba-lomba untuk keluar dari dadanya. Ck...
Syahid menghembuskan nafasnya pelan, ia juga mencoba mengontrol laju detak jantungnya. Rendra dan Yumi, pura-pura tidak melihat dan mendengarkan mereka berdua.
"Teh... ck, Ita" panggil Syahid yang mengubah panggilannya, Ita yang sejak tadi menunduk pun langsung menengadah menatap Syahid.
"Maaf, tapi aku sudah tidak bisa lagi menyimpan perasaan ini terlalu lama. Perasaan ini ada sejak awal aku melihatmu, tepatnya saat peristiwa di Pelabuhan Ratu. Aku kira itu hanyalah perasaan kagum saja, tetapi rasa itu semakin hari semakin membuatku sesak. Di hadapan oma dan opa, aku ingin mengutarakan rasa sesak yang selama ini memenuhi rongga hatiku. Ita, aku mencintaimu." ucap Syahid to the point
DEG
Dalam beberapa detik, Ita terdiam. Pikirannya tetiba terasa kosong, jantungnya seakan berhenti saat itu.
HENING
"EHEM" Yumi pun berdehem, menghidupkan kembali keheningan tersebut dan juga menyadarkan Ita. Ita merasa bingung, dengan apa yang baru saja ia dengar dan apa yang harus ia jawab.
"Para pria keturunan Zandra, memang tidak bisa menunda hal seperti ini." ucap Yumi
"Karena kami tidak ingin, bila gadis incaran kami di tikung orang." jawab Rendra, Yumi mencebikkan mulutnya.
Ita menatap Yumi dan Rendra, mereka hanya mengangguk dan tersenyum.
"Tapi, bukankah kita sekarang saudara?" tanya Ita
"Tidak sedarah" jawab Syahid
"Tapi, usia kita. Aku lebih tua darimu"
"Tidak masalah"
"Aku, aku tidak tau apa yang aku rasakan." ucap Ita, Yumi pun bangun dari duduknya dan menghampiri Ita dan Syahid.
"Apa yang sekarang kamu rasakan?" tanya Yumi, Ita mengalihkan tatapannya pada Yumi.
Ita memegang dadanya, terasa berdebar begitu cepat. Tapi ia juga merasa nyaman dan bahagia, di waktu bersamaan.
...****************...
Anjaaaayyyyy.... Gercep woyyy🤣🤣
...Happy Reading all💞💞...