Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Dena... Dena...



"Apa yang bisa kita bantu, untuk Ajeng?" tanya Maya, seraya menatap Ajeng yang kini terlelap di atas ranjang Ita.


Setelah merasa lelah menangis, meluapkan segala emosi yang ia rasakan. Akhirnya, Ajeng terlelap dalam dekapan Ita. Walau belum merasa lega, namun ia merasa sesaknya berkurang.


"Ini masalah keluarga, aku tidak bisa memberi saran. Namun, kita tidak boleh meninggalkan Ajeng. Aku hanya takut, bila ia sudah merasa benar-benar menyerah. Ia akan melakukan hal di luar kesadarannya, kita harus selalu mensupport dan menjadi kekuatannya." jawab Ita


"Teteh benar, tidak mungkin kan kita menyuruh kedua orang tuanya bercerai atau sebaliknya. Tapi, tanpa mereka sadari. Dengan dalih demi anak atau karena anak, mereka mempertahankan hubungan. Justru malah melukai batin sang anak, secara tidak langsung mereka memberikan trauma pada sang anak dan menjatuhkan mentalnya." ucap Dena dengan menatap sendu ke arah Ajeng yang tengah terlelap


"Mengerikan, kenapa mereka tidak mendengarkan suara hati Ajeng walau hanya sebentar saja. Dengarkan apa yang menjadi pendapatnya, dengarkan apa yang di mau Ajeng. Aku merasakan sakitnya Ajeng, ia tak berharap kedua orang tuanya untuk kembali bersama. Namun, yang ia inginkan mereka hidup damai. Walau dengan keluarga mereka masing-masing, apalagi tadi aku melihat sekilas bayangan. Bila ternyata, baik ayah atau pun ibunya. Mereka sudah memiliki anak dari pasangan mereka masing-masing." ucap Kira


"Astaghfirullah, jahat sekali mereka. Aku tidak bisa membayangkan, sehancur apa perasaan Ajeng saat ini." ucap Ita yang meneteskan air matanya


Dena terdiam, tanpa mereka ketahui. Dena merekam luapan hati Ajeng, ia berniat untuk menemui kedua orang tua Ajeng. Ini tak bisa di biarkan terus menerus, mental Ajeng bisa rusak. Dena akan membicarakan hal ini dengan orang tuanya Ajeng, tapi kapan? Sedangkan 3 hari lagi mereka akan berangkat ke Bandung, dan akan di sana selama 2 minggu. Lusakah? Atau besok sepulang dari jalan-jalan? Semakin cepat, semakin baik. Tapi, bila sekarang-sekarang. Ia takut merusak mood Ajeng saat liburan nanti, Dena memutuskan akan memberitahukan semuanya sepulang dari liburan.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Maya


"Hah? Tidak ada, aku hanya merasa beruntung saat ini. Walau aku tidak memiliki ibu, tapi aku mempunyai ayah yang mencintaiku." jawab Dena, dan di angguki yang lainnya.


Mereka berempat menatap Ajeng yang terlihat nyaman dengan tidurnya, walau sesekali terdengar isakan dan gumam-gumaman kecil. Tak lama, mereka pun melihat Ajeng meneteskan air matanya. Ita merasa tidak sanggup melihatnya, ia kembali meneteskan air matanya.


.


.


Waktu pun berlalu, kini di kediaman Zandra sudah berkumpul para gadis yang ingin menginap di sana. Walau ada 2 yang sudah tidak gadis, tapi lupakan saja.


Acara dadakan yang tidak di rencanakan, kini tengah berlangsung di taman belakang. Kini mereka tengah mengadakan acara bakar-bakaran, Yumi dan Nala yang paling exited. Belum lagi dengan keriwehan si kembar sepuluh, meski sudah malam. Tapi mereka semua, malah semakin semangat bermain di sana.


"Dagingnya sudah matang, apa lu ga mau nyicipin?" tanya Dena pada Ajeng, Ajeng menatap curiga pada Dena.


"Kenapa?" tanya Dena, seraya menyodorkan piring kecil yang berisi daging pada Ajeng.


"Lu selalu mencurigakan Den." jawab Ajeng


"Waaahhh... fitnah anda nona, apa yang mencurigakan dari gue?" tanya Dena tidak terima


"Gue liat lu, tadi masuk ke selokan di pojokan sana. Itu bukan daging katak kan?" pertanyaan Ajeng, malah membuat orang-orang yang mendengarnya kembali tertawa.


FLASHBACK


Pasalnya Ajeng tidak tau kejadiannya seperti apa, namun yang benar adalah Dena terjatuh bukan sengaja masuk ke selokan. Gara-gara ia ingin mencoba hoverboard milik Haidar, melihat Haidar yang sangat santai menggunakannya.


Membuat Dena penasaran ingin mencoba, padahal Maya sudah melarangnya. Namun, emang Dena yang dableg. Akhirnya Dena mencoba, ternyata tidak semudah kelihatannya. Baru saja ia naiki benda tersebut, benda itu melaju dan Dena tidak bisa menjaga keseimbangan. Sehingga hoverboard nya mengantarkan Dena lurus ke depan, teriakannya mengundang pandangan orang-orang yang ada di taman belakang. Daaannn...


GRUSAK


BRUGH


Dena pun jatuh ke dalam selokan, tanpa terelakan lagi. Malang tak bisa ditolak, Maya pun tak keburu mengejar ataupun menahannya.


"Huwaaaaaaaa.... " Tangisan Dena pecah, orang-orang yang menyaksikannya menahan tawa. Mereka berusaha keras, agar tawa mereka tidak sampe pecah. Maya dan Kira segera berlari ke arah Dena, mereka menolong Dena dengan wajah yang sudah memerah karena menahan tawa.


FLASHBACK OFF


Wajah Dena sudah sangat masam, karena mendengar tawa mereka yang melihat kejadian tersebut. Sehingga membuat bingung Ajeng, Dan para gadis yang baru datang kebingungan.


"Ck... Ketawa teroooss!!! Yang, kalo mau ketawa, ketawa aja. Jangan suka di tahan-tahan, takutnya malah meledak dari bawah." Ucap Dena kesal, Sahin segera menggelengkan kepalanya.


"Sudah sudah, ayo kita makan hasil bakarannya." Tegur Yumi, ia sebenarnya ingin tertawa. Tapi, ia masih bisa menahannya karena kasihan melihat wajah malu calon cucu mantunya.


Malam itu, benar-benar menyenangkan. Bahkan, Ajeng pun bisa tersenyum dan tertawa melihat kelucuan kembar sepuluh.


.


.


Hari berganti, kini para gadis merealisasikan rencananya yang akan berbelanja ke mall. Berniat membeli keperluan yang mereka butuhkan, untuk keberangkatan mereka ke Bandung lusa.


"Sebenarnya apa yang akan kita beli?" Tanya Maya, karena keluarganya tipe tidak membawa apa-apa dan akan membeli semua keperluan di kota tujuan. Begitu juga dengan Kira dan Ita, mereka berdua ikut bingung.


"Memang kalian ga perlu baju atau perlengkapan mandi atau apapun gitu?" Tanya Soraya, mereka bertiga serentak geleng kepala.


"Mereka, termasuk aku sih sekarang. Jadi kita, selalu membeli apa yang kita butuhkan nanti bila kita sudah sampai ke tujuan. Paling yang di bawa cuma pakaian casual dan ATM, ahhh... Jangan lupakan, ponsel." Jawab Dena


"Beda ya kalo sultin, ya udah gue mau beli baju sama perlengkapan mandi aja selama di sana. Bandung dinginkan ya, beli baju lengan panjang kalo gitu." Ucap Ajeng, dan di angguki yang lainnya.


"Kalo gitu, kita beli jajanan aja ya. Buat nanti malem ngemil, nanti kita ketemu di food court sana." Ucap Kira, semua setuju dan berpencar.


Twin princess, Ita dan Dena memilih ke supermarket, untuk membeli makanan ringan.


Setelah 3 jam, mereka kembali berkumpul di tempat yang di sepakati.


"Bis ini nonton ya" Ajak Dena seraya mengunyah makanan yang di pesannya.


"Boleh" Jawab Dania


"Tunangan kalian, ga pada nyusulin?" Tanya Agatha


"Bang Axel lagi sibuk sama skripsinya kan?" Ucap Lia bertanya dan di angguki Kira


"Tapi bilangnya mau ikut ke Bandung, skripsinya udah tinggal penyelesaian. Karena udah ga ada revisi lagi" Jawab Kira


"Kak Zef, nanti jemput kali kita udah selesai." Maya


"Twin prince masih di kantor, bilangnya mau jemput sih." Ita, di angguki Dena.


"Terus anak cowok lainnya gimana?" tanya Regatha


"Mereka mah udah deal ikut semua, tapi lagi ada perlu masing-masing kabarnya." jawab Agatha


Mereka pun berbincang seru, mengenai rencana akan kemana dan apa saja yang akan mereka lakukan selama di Bandung.


Seperti biasa, tatapan para pengunjung akan teralih pada sekumpulan 3C (Ciwi-ciwi Cantik) πŸ₯°πŸ₯°


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...