Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Kenangan Masa Lalu



Peringatan!!! Mungkin kalian akan membutuhkan banyak tisu, karena di part ini aku juga mewek nulisnya.😭


......................


"Assalamu'alaikum bu" salam Ita, saat ini mereka telah tiba di depan ruang IGD


"Wa'alaikum salam, urusan kalian sudah selesai?" jawab bu Elisa, seraya bertanya. Ita dan yang lainnya mengangguk


"Bagaimana kondisi bu Dian?" tanya Toni cemas


"Tadi dokter sudah memeriksa beliau, dokter mengatakan bila bu Dian tidak apa-apa. Hanya saja, dia menolak untuk bangun. Dokter bilang, bu Dian merasa nyaman dalam tidurnya." jawab Elisa, Toni terhenyak. Ini semua gara-gara ibunya, apa yang harus ia lakukan?


"Tenanglah, kakakmu Aisyah tidak suka melihatmu seperti ini." ucap Maya, Toni pun tersadar dan menatap Maya. Ia pun mengangguk, namun hatinya masih merasa takut. Takut bila ibu dari kakaknya, tidak mau bangun lagi.


"Itu tidak akan terjadi, percayalah." ucap Kira tersenyum, Axel langsung menarik tangan Kira dan membawa Kira menjauh sedikit.


"Kenapa bang?" tanya Kira bingung


"Kamu tidak boleh tersenyum pada pria lain, yang." ucap Axel kesal, Kira memutar malas bola matanya.


"Cemburuan, abang kan tau kalo senyum itu sebagian dari ibadah. Sedekah yang paling murah meriah adalah senyuman" jawab Kira tersenyum manis pada Axel.


"Ck.. tapi abang tidak suka, bagaimana kalau dia menyukaimu?" keluh Axel


"Hahaha... suka adalah hal yang lumrah, kita tidak akan bisa melarang orang untuk menyukai kita bukan? Yang terpenting adalah, bila hati Kira hanya untuk abang seorang. Percayalah, bukan kah hubungan akan berjalan lancar baik bila kita saling percaya dan jujur." balas Kira, seraya mengusap pelan pipi Axel.


BLUSH


Axel langsung salah tingkah, ia tak percaya bila kekasihnya bisa melakukan ini padanya. Axel menarik tangan Kira yang ada di pipinya, lalu mencium punggung tangan Kira. Kira semakin merasa terharu di buatnya, beginikah rasanya di cintai.


"Apa-apaan mereka? Ck" protes Elisa kesal


"Makanya segera cari pasangan bu, jangan galak-galak. Masa kalah sama kita-kita." celetuk Dena


"Eh.. berani kamu sama ibu?" ucap Elisa dengan membulatkan kedua matanya, bukannya takut. Dena malah tertawa kecil, lucu rasanya melihat gurunya kesal.


"Ibu ini, mana berani bu." jawab Dena, Sahin menggelengkan kepalanya.


Tak lama pintu IGD terbuka, keluarlah dokter dan beberapa perawat dengan mendorong brankar yang di atasnya ada bu Dian yang masih memejamkan matannya. Terlihat sangat tenang dalam tidurnya, membuat double twin saling tatap karena melihat ekspresi Aisyah.


"Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan, sepertinya pasien merasa sangat nyaman berada di alam bawah sadarnya. Kami akan melakukan yang terbaik, untuk kesembuhan pasien." ucap dokter pada Syahid, Syahid mengangguk paham.


"Anak-anak, ibu pamit ya. Ibu harus kembali ke sekolah. Ada yang harus ibu lakukan." ijin Elisa pada anak muridnya


"Ah, iya bu. Terimakasih banyak karena sudah banyak membantu kami, maafkan sudah merepotkan ibu." ucap Sahin


"Tidak, ini hanya sebagian kecil pertolongan yang ibu berikan di bandingkan dengan apa yang sudah kalian lakukan. Kalau begitu ibu pamit, Assalamu'alaikum." jawab Elisa, ia pun segera keluar dari rumah sakit.


.


.


"Kita akan melakukannya dengan memasuki alam bawah sadar ibumu, ibumu hanya belum bisa menerima kepergianmu yang mendadak. Apalagi, caramu menghembuskan nafas terakhir dengan cara yang sangat tragis." jawab Syahid


"Ya, ibu mana yang tidak akan shock. Melihat anak semata wayangnya, harus tewas di tangan ayah kandungnya sendiri." lanjut Zef, Toni menundukkan kepalanya.


Ia selalu merasa bila dirinyalah yang bersalah dalam kasus ini, karena keberadaannya dan terlahir sebagai lelaki. Kakak tirinya, harus mati dengan alasan terlahir sebagai anak perempuan. Dan karena ibunya juga, yang selalu menghasut sang ayah tiri untuk membenci anak kandungnya.


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, ini semua bukan salahmu. Bukan maumu terlahir dari ibu sepertinya, kita takkan bisa menolak dari rahim siapa kita dilahirkan bukan. Yang penting sekarang adalah kabulkan permintaan terakhir kakakmu, untuk menjaga ibu Dian. Sayangi dia, seperti kamu menyayangi ibumu sendiri." ucap Maya, Toni menganggukkan kepalanya.


"Kita lakukan sekarang?" tanya Kira pada Aisyah


'Bisakah?' tanya Aisyah balik


"Kita akan mencobanya" jawab Ita, Aisyah mengangguk. Kira menarik tangan Aisyah dan menggenggamnya menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia taruh pada kepala bu Dian.


Kira menutup matanya, lambat laun terlihat ada cahaya violet yang keluar dari tubuhnya. Zef, Axel dan Toni terkesima melihat hal tersebut. Samar namun tetap terlihat, ada cahaya putih yang masuk ke dalam kepala bu Dian.


"I itu..." ucapan Toni terhenti saat Maya memberikan tatapan tajam padanya, ia langsung melipat bibirnya ke dalam.


Di alam bawah sadar


'Dimana ini? Aku seperti familiar dengan tempat ini?' gumamnya


"A apa ini, inikan rumah ibu di kampung?" ucapnya dengan suara bergetar, saat menyadari ada dimana sekarang dirinya. Kira hanya mengikuti Aisyah dari belakang, rasanya ia harus mempersiapkan hatinya.


Aisyah dan Kira samar-samar mendengar suara tawa dua orang, dari arah kamar ibunya. Dengan perlahan namun terasa berat, Aisyah melangkahkan kakinya untuk mendekat di ikuti Kira. Begitu sampai di sana, Aisyah tercekat. Aisyah melihat pemandangan yang sangat ingin ia rasakan selama ini, air matanya pun mengalir dengan derasnya. Kira hanya bisa diam, namun air matanya pun ikut luruh.


Ya.. kini mereka melihat pemandangan, dimana sang ibu tengah duduk di atas ranjang seraya memangku Aisyah saat bayi. Dan di belakang sang ibu, ada ayahnya yang sedang memeluk sang ibu dengan menaruh dagunya di bahu ibunya. Terdengar tawa dari keduanya, terlihat begitu bahagia.


"Terimakasih karena sudah melahirkan bayi cantik ini ke dunia, aku sangat mencintaimu." ibunya tersenyum bahagia, cantik... sangat cantik. Aisyah semakin terisak, ia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Aisyah memundurkan langkahnya ke belakang, ingin sekali ia menangis dengan sangat kencang.


Bayangan itu menghilang, kini berubah dimana Aisyah sudah mulai merangkak. Di sana ada ayah dan ibunya yang ada di depan dirinya, dengan merentangkan tangan ke depan dan berteriak agar dirinya yang balita segera menghampiri mereka. Dengan bersusah payah, akhirnya Aisyah kecil berhasil sampai ke tempat kedua orang tuanya.


Mereka bertiga tertawa bahagia, tanpa beban.


"Hiks..." Aisyah sesenggukan, ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Kira ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Aisyah, ia menengadahkan kepalanya.


Semua berubah menjadi Aisyah kecil yang tengah belajar berjalan, terlihat sekali bahwa sang ayah sangat menyayangi dirinya. Dengan sabar sang ayah, memapah Aisyah kecil untuk berjalan. Lalu, ayahnya melepas tangan tersebut dan berlari ke depan. Ia meminta Aisyah untuk melangkahkan kakinya, agar segera mendekat padanya. Saat melihat Aisyah kecil melangkah, mata sang ayah berbinar.


"Bu.. ibu, lihat ke sini bu. Putri kita, putri kecil kita melangkahkan kakinya." teriak sang ayah, Dian yang sedang di dapur pun bergegas keluar.


"Ya Allah.. Ayah, putri kita yah." ucap Dian penuh syukur, ia pun tertawa dan memeluk Aisyah kecil. Sang ayah pun memeluk mereka berdua, kembali terdengar tawa bahagia dari pasangan tersebut.


"HUwaaaaa.... aaaaa.... kenapa? kenapa aku tidak bisa merasakan hal itu saat ini? Kenapa ayah harus selingkuh dan memilih wanita itu yah?" pecahlah tangisan Aisyah


...****************...


... Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...