Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Akhir si Psikopat



"Kenapa bisa saling berhubungan seperti ini? Pelakunya adalah suami dari tantenya Raka?" tanya Ica, Salma hanya memalingkan wajah nya ke arah lain


Jangankan mereka, ia pun sangat terkejut. Bagaimana bisa calon mantan suaminya, bisa melakukan hal sejahat itu? Ia kira hanya dia yang mendapatkan perlakuan kasar dari pria itu, tapi ini... orang-orang yang tidak ia kenal, orang-orang yang tidak ada hubungannya pun ia habisi. Satu Rusun?


Benar-benar Sakit Jiwa....


Bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan pria psikopat seperti ini dulu? Kenapa dulu, ia bisa jatuh cinta pada pria seperti itu? Kepalanya serasa mau pecah, kelainan itu tidak akan menurun bukan pada calon anaknya?


.


.


10 menit sebelum double twin datang...


"Bagaimana bisa kamu masuk?" tanya Adam terkejut, saat melihat calon mantan suami adiknya ada di dalam sedang duduk santai di sofa. Mendengar pertanyaan Adam, pria itu malah tersenyum.


"Tentu saja.... lewat jendela. Pintunya kan terkunci, benar-benar pertanyaan bodoh." jawab pria itu


"Apa yang kamu inginkan, bukankah sebentar lagi sidang putusan perceraian kalian? Salma tidak ada di sini, dia sudah tidak ingin kembali hidup bersama dengan pria kasar sepertimu." ucap Adam, Safa memepetkan tubuhnya pada Adam dan menggenggam erat tangan sang suami.


"Nah, itu dia alasan aku datang kemari." ucap pria itu, sembari bangun dari duduknya


"Gara-gara kamu, dia tidak mau rujuk bersamaku. Gara-gara kamu, dia tidak mau kembali hidup bersamaku. Semuanya adalah gara-gara kamu, dan kedatanganku kesini adalah aku... ingin... menghabisi mu." ucap pria itu, seraya mengeluarkan pisau dari balik punggung.


PLOP


Saat pria itu hendak menusukkan pisau itu pada Adam, double twin tiba di belakang Adam dan Safa. Hal tersebut, tentu saja mengejutkan pria itu.


"Si siapa kalian?" tanya pria itu


"Siapa kami bukan urusanmu, yang pasti kami akan menghentikan kejahatanmu dan juga menyeret mu ke kantor polisi." ucap Sahin


Adam dan Safa pun berbalik, untuk melihat siapa yang datang. Mereka berdua membulatkan kedua matanya, bagaimana mereka tiba-tiba ada di belakangnya.


"Kalian, bagaimana bisa..."


"Aku tidak peduli siapa kalian, aku tetap harus membunuh pria ini" teriak pria itu, sembari mengangkat tangan yang memegang pisau.


Namun gerakan tersebut berhenti, saat Sahin mengangkat tangannya. Dengan susah payah pria itu menggerakkan tangannya, tetapi tetap saja tidak berhasil.


"Kenapa tanganku tidak bisa di gerakkan?" tanya nya bingung


"A aaaarrgghht" teriak pria itu, saat Sahin kembali menggerakkan tangan pria itu dari jauh. Telapak tangan pria itu bergerak melipat ke belakang, pisau yang ia pegang pun terlepas dan jatuh ke lantai.


Safa dan Adam yang terkejut, kembali berbalik menghadap calon mantan adik iparnya tersebut. Mereka terkejut, karena pria itu sedang menahan sakit dan bersusah payah menahan tangannya agar tidak sampai patah. Namun, usahanya sia-sia sampai terdengar suara patah dan juga teriakan bersamaan.


KREK


"AAAARRRRRGGGGHHHTTT" teriak pria itu, dengan wajahnya yang memerah karena menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Bagaimana rasa sakit itu?" tanya Kira, ia melangkahkan kakinya mendekati pria itu.


"Itu belum seberapa, di bandingkan rasa sakit korban dari rusun yang kamu bakar." ucap Kira dengan suara dingin


DEG


Adam dan Safa, lagi-lagi di buat terkejut mendengar ucapan Kira.


Pria itu kini tengah duduk bersimpuh dengan memegang pergelangan tangan kanannya yang sakit, Kira kini sedang berdiri di depannya.


BUGH


Tubuh pria itu pun terpelanting ke arah kiri, namun nampaknya Kira masih belum puas dengan apa yang dia lakukan.


"KIRA" teriak Syahid, saat ia melihat Kira sudah berada di dekat tubuh pria itu yang kini sudah terkapar. Kira memang berhenti, namun hanya sebentar.


"Syahid ingat, kamu hanya mengatakan padaku. JANGAN KOTORI TANGANKU UNTUK PRIA INI, tapi kamu tidak mengatakan bila kakiku juga tidak boleh bukan. Jadi, AKU BOLEH MELAKUKAN INI" Kira mengatakan setiap kata dengan penuh tekanan, dan kembali mengangkat kaki kanannya. Lalu....


KREK


Kira menginjak pergelangan kaki pria itu, sampai terdengar suara retakan di sana.


"AAAAARRRRGGGGHHHTTT" kembali pria itu berteriak kesakitan


"Ampun.... ampuni aku, ini sakit." ucap pria itu lirih, terdengar ada getaran kesakitan di setiap katanya.


"Apa saat kamu membakar rusun itu, kamu berhenti saat mendengar teriakan minta tolong dari para penghuninya? Dan... apa kamu berhenti menusuk kedua teman kami, saat mereka berdua memintamu untuk berhenti menusuk mereka? Jawabannya adalah TIDAK" tanya Kira dengan menatap tak peduli pada pria itu


"Ada apa dengan Kira, kenapa dia bisa semarah ini?" tanya Maya ngeri


"Dia mendengar cerita, bagaimana kesakitannya korban kebakaran itu. Dan sepertinya, ia juga melihat sekelebat bayangan saat menyentuh tangan Ita. Karena korban, banyak anak-anak, lansia dan juga bayi." jawab Syahid, rasanya ia menyesal membawa KIra. Ia lupa se emosi apa saudari kembarnya itu, saat mendengar cerita Ita.


'Tenaga kita tidak di butuhkan, pria itu sudah habis di kaki Kira.' ucap Sahin dalam hati, Syahid langsung menatap nya. Sahin mengalihkan tatapannya, agar tidak melihat Syahid.


"Kira, hentikan. Ia sudah tidak bisa bergerak lagi, tangan dan kakinya sudah kamu buat cacat." ucap Syahid


"Sebenarnya aku belum puas menyiksamu, hanya saja keluargaku tidak mengajarkan kami untuk menghabisi manusia. Walau sebenarnya aku tidak tau, kamu ini manusia atau bukan." Kira membalikan tubuhnya dan kembali melangkah mendekati kakak dan adiknya.


Adam dan Safa masih terdiam, karena mereka masih dalam mode terkejut tingkat dewa. Mereka kira hal semalam adalah hal yang mengejutkan, namun ternyata hari ini mereka melihat hal yang lebih mengejutkan. Walau sebenarnya, untuk Adam ini tidak terlalu karena yang semalam saja ia sudah melihat kemunculan 2 hewan besar.


"Apa yang terjadi?" tanya Yanto yang baru saja tiba, bersama anak buahnya.


Syahid dan yang lainnya, serentak berbalik.


"PAMAN" ucap mereka berempat


"Sepertinya paman datang terlambat." ucap Yanto, saat melihat kondisi yang ia tebak adalah pelaku dari pembakaran rusun beberapa waktu lalu.


Maya dan Sahin menganggukkan kepala mereka, Kira menolehkan kepalanya tak peduli. Syahid hanya menghembuskan nafasnya kasar, karena ia tidak tau apa yang mau di ucapkannya.


"Bawa dia" titah Yanto pada anak buahnya, agar membawa tersangka.


"Paman akan membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu, untuk mengobati luka di tubuhnya. Ck ck... benar-benar babak belur." ucapnya saat pria itu melawati dirinya.


"Siapa yang sudah membuatnya seperti itu?" tanya Yanto, tanpa menjawab. Syahid, Sahin dan Maya menatap Kira. Sedangkan yang di tatapnya, hanya memasang wajah tanpa dosa. Yanto mengangguk paham


Kedua orang tua Raka, di minta ikut ke kantor polisi. Guna memberikan keterangan, bila pria yang babak belur itu. Sudah berniat melakukan kejahatan pada mereka, tentu saja mereka berdua mengiyakannya dengan senang hati.


...****************...


............Happy


Reading


all


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž............