
Sumpah demi apapun, aku benar-benar takut saat ini. Suara itu semakin mendekat, bukan langkah namun seperti seretan.
SREK SREK SREK
Aku menoleh pada Yusuf, aku bisa melihat wajahnya yang benar-benar pucat karena takut. Aku pun menoleh ke sisi lain, dimana Angga berada. Namun, aku terkejut bukan main.
'Angga mana?' ucapku berbisik, Yusuf memajukan sedikit tubuhnya untuk melihat ke sisiku yang lain.
Ia pun terkejut, karena Angga hilang. Lalu ia menggelengkan kepalanya, kami berdua semakin ketakutan. Di dalam hati, aku terus mencoba membaca surat-surat pendek yang aku hapal. Aku menautkan kesepuluh jemariku, dan menempelkannya pada keningku.
Suara itu hilang, aku dan Yusuf merasa lega. Namun, kami berdua tetap merasa tak tenang karena Angga teman kami hilang.
'Mau sampai kapan kita di sini? Gue udah ga tahan, kita harus cari pertolongan buat nyari Angga. ' tanya Yusuf
'Gue ga tau Suf, badan gue rasanya lemes banget.' jawabku, Yusuf bergerak berdiri hendak mengintip ke jendela yang sudah tak ada kacanya. Aku langsung menahan tubuhnya, Yusuf menoleh dan aku menggelengkan kepalaku.
'Jangan Suf' ucapku, namun sepertinya Yusuf yang benar-benar ingin keluar dari tempat ini. Memberanikan diri untuk mengintip, ia mengangkat tubuhnya agar berdiri. Bukan hanya dia, aku juga ingin keluar secepatnya dari sini. Tanpa terasa air mataku menetes.
Demi Tuhan, aku menyesal.
Aku memiringkan kepalaku untuk melihat ke atas, ke jendela tanpa kaca tersebut. Namun tak berani untuk mengangkat tubuh agar berdiri
DEG
Di jendela itu.. ada wajah seorang wanita yang memakai topi perawat, semua bola matanya berwarna hitam. Di mulutnya mengeluarkan darah berwarna hitam, wajahnya sangat pucat.
DEG
Dia... dia melirik ke bawah, tepatnya padaku. Walau bola matanya hitam semua, tapi aku tau bila ia menggerakkan bola matanya. Lalu ia pun menyeringai dengan sangat mengerikan, yang membuat aku semakin heran dan juga ngeri adalah... kenapa, kenapa Yusuf tidak melihatnya?
Aku merasa mual, saking merasa takut dan juga jijik.
'Sepi, hayu Mat. Kita bisa mencoba lari, untuk keluar dari sini.' ajak Yusuf padaku, aku menggelengkan kepalaku cepat dengan mataku yang terus menatap sosok itu. Bagaimana bisa Yusuf tidak melihatnya, padahal wajah sosok itu saling berhadapan dengan Yusuf.
'Ya Tuhan' ucapku dalam hati
Sosok itu terlihat mengangkat kedua tangannya, di dia mengarahkan kedua tangannya pada Yusuf. Tubuhku seolah sulit untuk di gerakkan, mulutku pun terkunci. Aku ingin berteriak menyebut nama Yusuf, namun itu tidak bisa.
Yusuf menunduk dan menatapku bingung, karena mungkin melihat wajahku yang ketakutan.
'Hayu Mat, kita keluar dari sini. Minta pertolongan, buat nyari si Angga.' ucap Yusuf pelan
Tidak... tidak... sosok itu, kini kedua tangannya memegang kedua pundak Yusuf. Yusuf terkejut dengan membulatkan kedua bola matanya, ia baru bisa merasakan hal itu. Ia mengalihkan pandangannya secara perlahan untuk melihat ke depan, dan...
"HUWAAAAAAA" teriakan Yusuf berangsur hilang, bersamaan dengan sosok itu yang membawa pergi tubuh Yusuf.
Sampai aku melewati satu ruangan, yang mungkin itu adalah ruang bayi. Samar-samar aku mendengar suara nyanyian pengantar tidur di dalam, tiba-tiba kakiku pun terhenti dan menoleh ke sisi untuk melihat ada apa di dalam ruang tersebut.
DEG
Lagi-lagi aku melihat ada sosok menyeramkan di sana, seorang perempuan yang berpakaian suster tengah menggendong bayi. Tidak... itu bukan bayi, itu seperti sebuah kepala. Kepala orang dewasa, dan... dan sosok yang tengah menimangnya, sosok itu berbalik memunggungi ku. Aku terkejut, karena.. karena punggung sosok itu, BOLONG.
'Astaghfirullah' aku pun kembali menggerakkan paksa tubuhku, untuk berlari.
Sampai pada akhirnya, aku melihat pintu keluar. Aku terus melafalkan ayat-ayat suci dalam hatiku, aku terus berlari. Dan akhirnya, aku pun keluar dari rumah sakit itu. Hujan sudah berhenti, keadaan di luar sangat gelap. Aku berusaha melangkahkan kakiku, untuk keluar dari area rumah sakit. Sampai akhirnya, aku benar-benar bisa keluar dari sana.
Sepanjang jalan aku menangis meraung, kedua sahabatku masih terjebak di dalam sana. Aku harus minta tolong pada siapa, apa akan ada yang percaya dengan ceritaku?
FLASHBACK OFF
"Setelah keluar dari sana, aku hanya mengurung diriku di dalam kamar. Takut... aku sangat takut, aku benar-benar tidak berani membuka pintu kamarku sendiri. Selama itu, aku merasa terus di hantui oleh bayang-bayang kedua sahabatku. Aku tidak berani menutup mataku, gorden jendela pun aku tutup. Karena aku takut, 'MEREKA' akan muncul dari jendela." ucap Rahmat dengan terus gelisah, matanya seolah menelisik ke semua tempat. Ya, ia terlihat sangat ketakutan.
"Setiap kali aku menutup mata, mereka mendatangiku. Kedua sahabatku juga terus meminta tolong padaku, aku haru apa? Aku harus meminta tolong pada siapa? Kalian, apa kalian bisa membantuku? Selamatkan kedua sahabatku, aku yakin mereka masih hidup. Tolong... tolong aku, hiks" Rahmat menangis, ia memohon pada Syahid dan yang lainnya untuk membantu dirinya.
"Tenanglah, kami akan mencoba membantumu dan juga kedua sahabatmu. Lebih baik, sekarang kamu pulang ter...." Rahmat langsung menggelengkan kepalanya
"Tidak, aku takut. Mereka seperti terus mengikuti ku, aku tidak berani. Aku merasakan bila 'Mereka' ada di sekitarku." potong Rahmat secara berbisik dan matanya yang tidak berhenti melihat kanan kiri, benar-benar
ketakutan.
Syahid dan yang lainnya saling tatap, ini tidak bisa di biarkan. Jujur, Syahid memang merasakan ada aura lain. Namun ini aura lain, mungkin penghuni tempat ini. Karena biasanya, mereka bisa tau bila mereka sedang di bicarakan.
"Baiklah, kalau begitu kamu ikut kami kembali ke vila. Kita akan membicarakan dengan yang lainnya dan langkah apa yang akan kita ambil, kamu mau?" saran Axel pada akhirnya, ia tidak bisa melihat kondisi Rahmat saat ini. Bila orang lain yang menemukannya,pasti dia akan dikira orang tidak waras. Rahmat langsung mengangguk dengan cepat, setidaknya ia merasa berada di antara orang-orang yang tepat.
Tak lama teman-temannya yang lain selesai, dan berkumpul di di tempat Syahid berada. Kira sudah mengirimkan pesan di grup, dan mereka langsung menyudahi berburu kulinernya.
'Siapa dia?' bisik Dena, ia merasa heran dengan pria yang kini ada di antara teman-temannya. Terlihat berantakan dan juga menyeramkan. Menyeramkan, karena wajahnya yang pucat dan juga kantung mata hitam yang cukup besar.
"Dia... sebaiknya kita kembali, kami akan menceritakan semuanya di vila." jawab Ita
"Dia ikut?" tanya Soraya pelan, Kira dan Ita mengangguk
"Ayo"
...****************...
Maafkan telat... sengaja, biar malem up nyaπ€£
...Happy Reading allπππππ...