
"Lu, ngapa malah mepet-mepet gue? Ntar orang-orang malah mikir kita hombring, sori gue masih normal ya. Walau akhir-akhir ini gue hampir gila karena di ganggu sosok tak kasat mata, ga bikin pikiran gue sampe belok." ucap Raka risih
PLETAK
"Lu kalo ngebac*ot, jangan asal jeplak aja lo. Masa iya gue juga belok, emang gue cowok apaan?" ucap Dika tak terima, ia pun kembali menggeser kan duduknya agar berjarak.
"Ya lu malah makin mepet ma gue." jawab Raka
"Namanya juga orang takut Malih, masa iya takut gue musti joget-joget tengah lapangan. Situ sehat?" balas Dika
"Cuma joget-joget mah kurang, gimana kalo sekalian pargoy." ucap Raka seraya menaikkan salah satu alisnya
"Efek kurang tidur, emang nyeremin ya. Makin ngaco"
"Terus, apa yang terjadi?" tanya Dika masuk kembali ke dalam pembicaraan awal
"Lu bisa nganggap gue gila beneran Dik, gue liat tante gue yang baru aja bangun dan keluar dari kamar. "
DEG
"Se serius lo?" tanya Dika
"Tiga rius malah gue mah Dik, mau nggak gila gimana gue....
'Loh tan, tante ko bisa keluar dari kamar?' tanya Raka heran, bercampur takut
'Kamu ini nanya apa sih Ka, ya jelas tante keluar dari kamar. Orang tante baru bangun, ini baru mau ambil wudhu' jawab tantenya heran
DEG
'H hah? tante baru bangun?' Raka bergegas bangun dari duduknya dan segera berlari ke dapur, sehingga membuat sang tante terkejut karena gerakan Raka yang serampangan.
'RAKA' teriaknya tanpa sadar
DEG DEG DEG
Kondisi dapur rapih, tak ada bekas memasak mi. Padahal jelas-jelas ia melihat tantenya mengambil panci, mengisinya dengan air, lalu menyalakan kompor.
'Kamu ini kenapa sih, bikin tante kaget aja.' omel sang tante
'Tan, tadi tadi.. tante di sini masakin Raka mi,' jawab Raka dengan tergagap dan juga gemetar
'Ck, mimpi kali kamu. Tante baru bangun loh ini, lagian mana? Nggak ada bekas masak mi di sini.' jawab sang tante
Rasa lapar yang di rasakan Raka, hilang seketika. Yang kini ia rasakan, hanyalah rasa takut yang teramat sangat. Tapi, ia juga tidak bisa menceritakannya pada keluarganya. Mereka pasti tidak akan percaya, Raka hanya memendam ketakutan ini seorang diri.
"Gue takut Dik, kayanya dimana pun gue berada. Gangguan itu selalu ada" ucap Raka, seraya matanya menelisik ke segala arah.
"Lu ga nyobain ke kiyai gitu atau ustad?" tanya Dika
"Gue ga tau harus kemana Dik? Gue ga punya kenalan, apa lu tau?" tanya Raka balik, Dika menggelengkan kepalanya
"Sama, gue juga ga punya bro." jawab Dika, mereka berdua menghembuskan nafasnya
FLASHBACK OFF
"Anjirrr... merinding gue cok" ucap Rio
"Sama, gue juga" sambung Miko dan Xelo dan di angguki yang lainnya
"Kamu tau rumah Raka dimana?" tanya Sahin
"Gue tau, kalo Raka yang lu maksud Raka kelas xxx." jawab Ica
"Benarkah?" Ica menganggukkan kepalanya
"Iya emang Raka yang itu, bahlul" ucap Dika, Ica menatap kesal pada Dika.
"Rumahnya ga jauh dari rumah gue, sekitar 2 rumah lebih dulu kalo ke rumah gue mah. Karena kalo mau ke rumah gue, pasti lewatin rumahnya. Dan.. sebenarnya... udah beberapa hari ini, gue juga ngerasa ada yang ga beres tiap kali gue lewat rumahnya si Raka, guys." lanjut Ica, wajahnya pun berubah takut
"Kenapa?" tanya Kira
"Sekarang jam berapa?" tanya Sahin, melihat pergelangan tangannya
"Sudah mau maghrib, sekarang kita shalat aja terlebih dahulu. Dan nanti, gue yang bakal nganter lu."jawab Rio
"Kita ikut" ucap Sahin
"Gue rasa, ada yang ga beres sama si Raka Raka itu. " sambung Kira
"Wahh, gue ikut dong kalo gitu." ucap Dika
"Yang lain gimana?" tanya Dena
Yang lain menggeleng, karena mereka sudah ada acara masing-masing dan ada pula yang memang jam malamnya tidak boleh lebih dari jam 7.
"Kalo gue ga ada acara, gue pasti ikut." ucap Xelo berdecak
"Sama, abang gue dateng dari Inggris. Keluarga adain acara makan-makan di rumah." ucap Agatha dengan wajah kesalnya, pasti bakal ada pertunjukan nanti.
"Ya udah sih, lain kali kan bisa. Lagian kita bukan mau demo kan ke sana? Pake ikut semua" ucap Maya
"Penasaran May" ucap Xelo, yang di angguki temannya yang lain.
.
.
Setelah shalat Maghrib, teman yang lainnya berpamitan pulang. Sedangkan Dika, Miko, Rio dan Ica akan ikut Sahin, Dena, Maya dan Kira. Mereka akan ke rumah Raka bersama-sama, antara takut dan juga penasaran yang di rasakan oleh Dika, Miko, Rio dan juga Ica.
"Kalian yakin hanya berangkat bertujuh?" tanya Yumi
"Iya oma, semoga kami bisa menyelesaikan ini bertiga. Sahin juga sekalian akan mengantarkan Dena pulang." jawab Sahin
"Kalua kami membutuhkan bantuan, kami pasti akan memanggil kalian." lanjut Kira
"Baiklah, berhati-hatilah. Bila menurut cerita kalian, ini pasti ada hubungannya dengan ilmu hitam. Dan temanmu pasti telah menjadi targetnya, coba tanyakan padanya. Apakah sebelum teror yang selalu mengganggunya, ia menemukan atau memungut sesuatu?" ucap Yumi dan memberikan pesan pada mereka.
"Siap oma, kalau begitu kami semua pamit. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam" jawab Yumi
.
.
Mereka menggunakan 2 mobil, Sahin dan Dika yang mengendarai mobil mereka masing-masing. Lumayan cukup jauh, karena mereka memang harus melewati area kuburan bila dari arah rumah Zandra.
"Seriusan ini, rumah lu lewatin beginian Ca?" tanya Miko merinding
"Kalo lewat jalan belakang mah, ya nggak." jawab Ica
Sekitar 200 meteran lagi, kita sampe." lanjutnya
"Op, kita berhenti di sini aja. Itu tuh rumahnya si Raka dan 2 rumah ke sana lagi itu rumah orang tua gue." ucap Ica lagi, kini mereka berhenti tepat di sebrang rumahnya Raka.
"Mana kamar si Raka?" tanya Dika
"Itu tuh, yang di atas itu. Lampunya juga masih nyala kok, terus i...."
DEG
Ucapan Ica terhenti, begitu juga dengan yang lain langsung terdiam mematung. Jelas... sangat jelas, apa yang di ucapakan oleh Ica memang benar. Di kamar Raka, ada bayangan perempuan.
"I itu... itu yang gue lihat kemarin, guys" ucap Ica dengan suara tercekat
GLEK
...****************...
...Happy Reading allπππ...