
"Mau kemana kita?" tanya Sahin
"Kemana ya? Ke luar komplek ajalah pokonya mah, biasanya suka banyak jajanan kan?" jawab Maya
"Lu sebenernya niat joging apa cari jajanan?" tanya Dena
"Yaaaaa.. dua-duanya sih." jawab Maya terkekeh
"Ck" mereka berlima menggelengkan kepalanya
"Ya udah yuk, kita jalan aja dulu. Ntar kalo udah cape kita mampir ke kafe bunda Kay." ucap Ita
"Itu gue setuju, pake banget malahan." celetuk Kira
Mereka pun berpamitan pada keluarganya, dan mengatakan akan sarapan di kafe milik Kay.
.
.
"Seger ya ternyata, ga ada kendaraan lalu lalang." ucap Dena, ia menarik nafas dengan sangat dalam. Seolah tengah mengisi kekosongan oksigen, yang ada di paru-paru nya.
"he em, enak di pake main tarik tambang di mari." balas Kira
"Dih, main gobak sodor tau." ucap Dena
"Lah, lu anak kota tau permainan itu?" tanya Maya
"Yeehh... kota mah tempat nyari duta buat bonyok, kampung halaman mah tetap di hati. Di sana malah lebih enak sebenernya, selain udara yang masih bersih. Di sana juga kita ga banyak pegang ponsel, soalnya temen-temen di sana. Lebih seneng main barengan di lapang, banyak banget permainannya." jawab Dena
"Waahh.. asyik tuh." ucap Sahin, Dena mengangguk mengiyakan
"Kapan-kapan kita main ke kampung halamanmu Den" ajak Ita
"Boleh tuh hayu aja aku mah." sambung Kira
"Asyik tuh, ayo kalo kalian mau." jawab Dena
Mereka berbincang banyak hal, kadang juga menggoda Kira dan Maya. Tertawa dan juga berkeringat, karena berjalan berkeliling. Setelah lelah, kini mereka sudah tiba di kafe milik Kay.
.
.
Kafe Kay..
"Gila, lapar banget perutku." ucap Kira, seraya mengusap perutnya
"Ya makanya, kita makan sekarang. Lagian kalian aneh, kebiasaan kalo dapetin mainan baru ga mau berhenti." ucap Ita
"Ya habisnya, asyik kita naik pohon. Lain kali lagi yuk, Den" ajak Maya, seraya mengipasi wajahnya menggunakan tangannya.
"Ayo, 2 minggu lagi kayanya udah pada mateng deh buahnya." jawab Dena, yang langsung dapet pelototan dari Syahid dan Sahin
GLEK
"Udah, ga usah di tanggepin mereka mah. Kita aja yang main ntar, pasti jambunya manis nanti. Duh, jadi ngiler ngebayanginnya." ucap Kira seraya mengalihkan wajah Dena, menghadapa padanya. Dena mengangguk cepat
"Pasti manis, kita ngerujak sekalian" ajak Dena
"Ide gabus tuh" ucap Maya
"BAGUS" ucap Ita dan twin prince bersamaan
"Elah..." ucap Maya
"Pesen apa kalian?" tanya Syahid
"Apa aja yang penting bikin kenyang." jawab Maya dan Kira
Pelayan yang sednag menunggu mereka memesan pun, mengangguk dan berlalu pergi. Tak ada yang tak mengenal mereka, karena sejak mereka kecil, sering di bawa oleh Kay ke sana.
Saat sedang menunggu pesanan, Dena melihat ke arah pintu masuk.
Hatinya terasa mencelos, saat ia melihat pria yang di kenalnya masuk dengan bergandengan tangan dengan seorang gadis yang ia kenal juga.
'Emang ga ada yang bisa di percaya, ya udah sih Den, laki bukan cuma si Mftah doang.' ucap Dena dalam hati, Syahid dan Sahin yang mendengar nya, langsung menatap wajah Dena.
Bohong kalo Dena bisa setegar itu, melihat pria yang di sukainya jalan dengan orang yang ia anggap teman sedari kecil. Hatinya terasa sangat sakit saat ini, seperti ada yang tengah mencubitinya di sana. Ingin menangis? Tentu, bahkan kini air matanya pun ikut menetes. Namun, Dena langsung menghapus air matanya.
Terlihat sorot matanya yang begitu terluka, ia tak menyangka bila sahabat sedari kecil yang mendukungnya mengejar Miftah. Tetapi, menusuknya dari belakang. Dena tidak sadar, bila ia tengah di perhatikan oleh twin prince
.
B*NGKE emang...
"You oke?" tanya Ita, saat tak sengaja melihat Dena mengangkat tangan dan menghapus air matanya.
Dena menatap Ita dan tersenyum, Ita bisa melihat bila Dena memaksakan senyumnya.
"Aku baik teh." jawabnya, membuat Maya dan Kira ikut mengalihkan tatapan mereka.
"Lu nangis? Kenapa?" tanya Kira, saat ia menyadari basah di ujung matanya
"Nggak ko, tadi kelilipan doang." jawab Dena, ia mengambil tisu yang ada di atas meja dan mengusap air matanya.
"Cowok ga cuma satu Den, lu punya kita yang mau temanan ma lu. Cewe kaya gitu mah jauhin aja, orang kaya gitu yang namanya munafik." celetuk Sahin, membuat Dena mengangkat kepalanya dan menatap Sahin bingung.
Bagaimana ia bisa tau?
Ita, Maya dan Kira, langsung menatap Sahin secara bersamaan. Sahin menunjuk ke arah Miftah dan gadisnya, menggunakan dagu.
Dengan serempak, mereka ikut mengalihkan pandangan mereka ke arah Sahin tunjuk.
"Waahhh... crush lu Den, udah ada gandengan ternyata njirr." celetuk Maya, saat ia melihat Miftah yang menyelipkan rambut ke belakang telingan si gadis
"Uuunnncchhh.... Romantis banget, kalah cepet lu Den." ucap Kira
Dena menundukkan kembali kepalanya.
"Kenapa Den? Kamu kenal ma cewenya?" tanya Ita
"Tempat dia curhat, orang yang di anggap sahabat." bukan Dena yang jawab, melainkan Syahid
"Anjaaayyy.. salah tempat lu Den, tipe cewe kaya gitu mah. Ga suka liat orang bahagia, pasti bakalan cari cara buat ngejatuhin lo dari belakang. Ya kaya gitu contohnya, nikung lu dari belakang. Padahal udah tau, kalo lu suka ma tuh cowo. Ishhh... makanya males gue punya temen, banyak yang muka dua." ucap Maya
"Ya udah sih Den, cowo kan ga cuma satu." ucap Kira
"Iya, kata lu duda juga boleh. Ngapain pake di tangisin segala?" celetuk Sahin, Dena yang menunduk pun memelotot kan kedua bola matanya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Sahin.
"Ko.. lu... ishhh" ucap Dena yang bingung mau bicara apa lagi, wajahnya sudah memerah karena malu.
"BUAHAHAHAHA... " tawa Maya dan Kira pun pecah
"Bener-bener lu ya Den, kaya yang bujang udah habis aja. Malah mau nyari bangkot tua." ucap Maya tanpa filter
"Yeee.. Ga semua duda, bangkot ya. Banyak tau, duda yang masih gagah ma ganteng. Bujang memang banyak, tapi yang ganteng kebanyakan udah pada belok. Ya ga SA HIN.." ucap Dena, seraya menatap tajam Sahin
"What, lu bilang gue belok gitu? Wahh.. mulut lu emang minta gue cabein." ucap Sahin tak terima
"Cabein aja sini, emang gue berani ma lu apa? Takut gue mah..." jawab Dena
Pecah kembalilah tawa mereka, di meja itu pun kembali berisik. Bahkan Syahid yang tak pernah tertawa, ikut tertawa melihat perdebatan Sahin dan Dena.
Tanpa sadar, para pengunjung banyak yang memperhatikan meja mereka. Termasuk Miftah dan gadisnya, gadis itu pun membulatkan kedua matanya. Ia terkejut melihat Dena ada di sana, semakin terkejut lagi dengan siapa Dena berkumpul.
Gadis itu mengepalkan kedua tangannya, ia tak suka bila ada yang lebih bahagia darinya. Bisa di liaht di sana, tawa Dena yang sangat lepas.
Miftah yang awalnya, suka curi pandang pada Ita. Kini justru ia terpesona, melihat Dena yang tertawa.
'Cantik' gumamnya dalam hati
...****************...
...Happy Reading allπππ...