Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Flashback Aisyah



"Uang kiriman dari ibumu itu, hanya cukup untuk anakku." Aisyah mengepalkan kedua tangannya, manusia-manusia serakah memang mereka ini.


"Sedangkan aku butuh uang buat bayar arisan dan juga beli barang-barang kebutuhanku, tambah lagi kami juga punya hutang pada juragan Jodi. Makanya kamu harus tau terimakasih dan membalas budi, karena kami sudah mau merawat mu." lanjut Susi


NYUUUTT


Sesak, sangat sesak dadanya. Ia di jadikan alat untuk membayar hutang-hutang mereka, yang uangnya saja ia tidak tau menau di pakai untuk apa.


'Apa salahku? Kenapa mereka setega ini? Dan pria yang mengaku sebagai bapak, tak ada rasa sayang sama sekali untukku.'


"Berterima kasih untuk apa, apa yang sudah kalian berikan padaku? Hanya tempat ini, gudang ini yang kalian berikan padaku untuk aku bisa tidur dan berteduh. Tidur bersama barang-barang rongsokan yang memenuhi rumah kalian, tidur beralaskan karpet tipis, bantal lusuh dan sehelai kain ini untuk selimut" Aisyah mengangkat sehelai kain untuk menutupi tubuhnya


"Makan? Makanan apa yang kalian berikan padaku? Makanan sisa dari kalian, itupun bila aku sudah menjadi babu kalian seharian. Tak peduli aku sakit atau tidak, kalian akan terus menyiksa ku dengan pekerjaan-pekerjaan s*alan itu. Aku harus berjalan kaki setiap hari ke sekolah, sedangkan putra kesayangan kalian. Kalian belikan motor dari uang yang ibuku kirimkan untukku. Jadi, BALAS BUDI MANA YANG HARUS AKU BAYAR, BR*NGSEK" Kemarahan Aisyah sudah sampai ke ubun-ubun, ia tak sadar bila sudah berteriak dan mengucapkan kata kasar.


PLAK


Kini bukan lagi ibu tirinya yang menampar dirinya, tetapi pria yang seharusnya melindungi dan menjadi garda terdepan di saat sang anak tersakiti. Saking kerasnya, telinga Aisyah terasa berdengung dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Ia tersenyum smirk, benci... itu yang ia rasakan. Aisyah memiringkan kepalanya dan menatap sinis ayah kandungnya, yang mana membuat ayah kandungnya itu semakin berang.


"BERANI KAMU MENATAP KU SEPERTI ITU HAH?! DASAR ANAK S*ALAN, ANAK TIDAK TAU DI UNTUNG!!!" teriak sang ayah


'Hahaha... siapa yang sialan dan tidak tau di untung sebenarnya di sini?'


Dodi yang sudah di kuasai amarah, ia mengangkat sebuah kursi yang ada di gudang tersebut dan memukulkan bangku itu pada Aisyah.


BUAGH


BUAGH


BUAGH


Sampai akhirnya, Aisyah pun menghembuskan nafas terakhirnya.


"Pak, kayanya ia sudah tidak bernafas. Bagaimana ini pak?" tanya Susi panik


Darah sudah keluar dari kepala, telinga dan hidung Aisyah, tubuh Aisyah sudah tak bergerak sama sekali. Dodi terlihat pucat dan ketakutan, matanya berkeliling mencari sesuatu di gudang tersebut.


"Ambil koper itu, kita masukan anak ini ke dalam sana." titah Dodi, Susi pun berjalan tergesa mengambil koper besar yang ada di sana. Tubuh Aisyah yang belum kaku, memudahkan mereka untuk memasukan tubuh tersebut ke dalam koper.


Tanpa mereka sadari, ada tatapan nanar dari sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka.


Tatapan dari arwah Aisyah, apa salah bila ia mengatakan menyesal terlahir di dunia ini?


FLASHBACK OFF


"Innalillahi waina Iillahi rojiun" ucap mereka berenam serentak


"Astaghfirullah ya Allah" Ita menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya


"Naudzubillahimindzalik, ada bapak kaya gitu?" celetuk Dena


'Tolong hubungi ibuku, minta ia agar cepat pulang. Makamkan tubuhku dengan semestinya, bantu ibuku agar bisa kembali ke Indonesia. Katakan padanya, berhentilah bekerja. Karena tujuannya untuk mencari uang telah tiada, kini tinggal ia menikmati sisa hidupnya saja. hiks' pinta Aisyah menangis


Para gadis menangis mendengar cerita Aisyah, kenapa ada seorang ayah sejahat itu? Sedangkan para pria saling tatap, nampaknya mereka tengah merencanakan sesuatu.


"Dimana rumah ayahmu?" tanya Syahid


'Dia tinggal di...'


.


.


"Jadi, besok kita akan ke sana?" tanya Maya


"Mmm" jawab Syahid mengangguk


"Kenapa kamu tidak menyentuhnya?" tanya Sahin, Kira menggelengkan kepalanya


"Hanya mendengar ceritanya saja, aku sudah merasa sesak. Apalagi bila aku harus ikut melihatnya sendiri, aku takut tidak sanggup." jawab Kira, Ita mengangguk


"Ya sudah, kalian masuklah ke kamar masing-masing. Ini sudah jam 10 malam, besok kita masuk pagi." titah Ita


"Baik" jawab Syahid dan Sahin, kini mereka sudah tak bisa ikut tidur satu kamar lagi. Tentu kalian sudah tau alasannya bukan?


Syahid dan Sahin keluar kamar, entahlah... kenapa mereka sangat senang berdiskusi di kamar Ita.


"Aku mau tidur sama teteh" ucap Kira


"Ya sudah, ayo naik dan segera tutup mata kalian." titah Ita


"Ra...


"Adeeeek, tidur"


"Iya teh" Maya menarik langsung memeluk boneka kelinci milik Ita dan langsung menutup matanya, begitu juga dengan Kira. Ita tersenyum dan menatap mereka dengan tatapan lembut, Ita menarik selimut dan menyelimuti kedua adiknya. Tapi, mungkin akan menjadi kakak iparnya.


Entah apa yang sudah ia perbuat di masa lalunya, ia dan keluarganya bisa mendapatkan keberuntungan sebesar ini. Kakaknya menikah dengan kakak twin princess yaitu kak Za, ibu dan bibi nya di terima dengan baik. Dan kini, ia pun di cintai oleh Syahid.


Ya Allah, nikmat mana lagi yang ku dustakan.


Ita yang posisinya berada di antara Kira dan Maya, ikut merebahkan tubuhnya dan menutup mata dengan senyuman di bibirnya.


.


.


"Selamat pagi anak-anak"


"Paaagiii pak"


"Hari ini, kita kedatangan orang tua salah satu murid siswi. Dan ia mengadukan, bila putrinya sudah satu minggu ini tidak pulang. Barangkali di antara kalian ada yang mengenalnya dan juga melihatnya, kalian bisa mengatakannya pada bapak atau pak Sugeng." ucap pak Sunandar, sang wali kelas


Ricuhlah kelas tersebut, sedangkan Ita mengerutkan dahinya. Syahid, Sahin, Maya, Kira dan Dena saling tatap.


"Siapa pak? Anak kelas mana?" tanya Rio


"Emang bapak belum bilang ya?" balik tanya pak Sunandar


"Eaaaaa.... becanda ni bapaknya." ucap Diki


"Maaf maaf, bapak merasa sudah mengatakannya. Dia siswi kelas XII xxx, Aisyah Nurhalimah." jawab pak Sunandar


DEG


Ita dan yang lainnnya langsung membulatkan kedua matanya, Ita mengangkat tangannya.


"Iya, ada apa Ta?" tanya pak Sunandar


"Maaf pak, kalo saya boleh tau. Siapa yang datang kemari dan mengadukannya?" tanya Ita


"Mm.. yang datang tadi adalah ayahnya dan juga istrinya." jawab pak Sunandar


"Pak" kini yang mengangkat tangan adalah Sahin


"Ya?"


"Mmm.. apa kami boleh minta ijin untuk menemui pak Sugeng?" tanyanya


"Mmm... baiklah. Tunggu, maksud dari kami?"


"Kami" ucap double twin, Ita dan Dena bersamaan


"Hah? A apa tidak salah satu dari kalian saja?"


"Ya sudah nanti saja pak, saat jam istirahat. Maaf kami, lupa kalau kita masih ada dalam jam pelajaran." jawab Kira


"Baiklah, kita mulai pelajarannya. Buka halaman 23, kita akan mempelajari mengenai...." mereka pun memulai pelajarannya, sejak tadi Rio memperhatikan keenam temannya itu. Ia yakin, bila ini berhubungan dengan hal mistis.


.


.


"Bagaimana? Apa kalian mempunyai info?" tanya pak Sugeng


Kini ruangan kepala sekolah, bukan hanya ada pak Sugeng. Tetapi, di sana juga ada pak Sunandar dan Bu Elisa wali kelas Aisyah.


"Pak, kita langsung saja. Aisyah sebenarnya sudah tiada." jawab Syahid, pak Sugeng dan yang lainnya terkejut mendengar ucapan Syahid


"APA?!"


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...