
"Karena bagaimanapun cara mati seseorang, ia akan masuk ke alam kubur lalu di datangi malaikat. Dan menjalani siksa kubur atau mendapatkan nikmat kubur sembari menunggu dibangkitkan setelah hari kiamat." lanjutnya lagi
'Lalu, bagaimana dengan aku yang masih tak terima dengan apa yang terjadi padaku? Bukan mauku menjadi tumbal mereka, aku masuk ke kediaman ini untuk mencari nafkah yang halal. Namun, ternyata mereka mendapatkan uang dari cara yang haram.' ucap nenek tersebut mulai lunak
"Ganjaran yang di terima, sudah mereka dapatkan dengan cara hanya Allah yang tau. Memang tidak mudah menghilangkan rasa amarah dan benci dari dalam hati kita, tapi cobalah untuk berdamai dengan diri sendiri nek." jawab Ar
Mereka bertiga pun melepaskan perisai yang menahan jiwa nenek tersebut, namun baru saja sosok itu mulai tenang. Mereka kembali di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita, yang mana sisi gelap dari nenek tersebut kembali bangkit. Ia langsung menatap tajam pada wanita tersebut, tubuhnya pun di kelilingi kabut hitam pekat. Bahkan lebih kuat dari saat akan melawan Al, Ar dan Za.
"Gawat, kita harus segera..."
BRUAK
PRANG
Tidak terlihat sebuah gerakan sama sekali, karena saking cepatnya. Kini roh nenek itu, ada di hadapan perempuan yang baru saja datang. Tangannya mencekik leher perempuan itu, dan di dorongnya dengan keras ke arah lemari kaca yang ada di belakang perempuan tersebut.
Kaca yang ada pada pintu lemari pecah, dan ada bercakan darah. Mungkin dari kepala atau punggung wanita itu, terluka sehingga mengeluarkan darah.
"AKKKHHH" perempuan itu berteriak tertahan, seraya memegang tangan nenek agar terlepas.
Saat Al dan Ar hendak menyerang dan melepaskan cengkraman tersebut, sayang sekali mereka terlambat.
KREK
Leher perempuan itu patah ke arah kiri dan ia pun menjulurkan lidahnya keluar dengan kedua mata yang hampir keluar.
BRUGH
Nenek itu melepaskan tubuh perempuan itu dan melayang mundur dengan membawa roh perempuan yang baru saja ia habisi itu, ia pun kembali mendekati Al, Ar dan Za.
'Aku tidak sebaik itu, melepaskan akar penyebab kematianku. Dendamku terbalaskan, biarkan aku menerima ganjaran ku. Aku akan tetap di rumah ini dengan dia, segera bawa kedua gadis itu dan pergi dari sini sekarang juga.' ucap roh nenek, ia pun menghilang meninggalkan mereka bertiga.
'Sadarlah, biarkan dia dengan pilihannya. Segera bawa kedua gadis itu dan keluar dari rumah ini.' ucap kuntilini yang sejak tadi memperhatikan mereka
Al, Ar dan Za pun tersadar, mereka segera masuk ke dalam kamar dimana kedua gadis itu tengah tak sadarkan diri. Saat mereka hendak keluar, mereka terkejut karena jasad dari perempuan yang di b*nuh oleh si nenek, sudah tak ada di tempatnya.
'Pergilah' sebuah suara terdengar, namun tak ada wujudnya.
Al, Ar dan Za pun segera keluar dari rumah tersebut. Di luar langsung di sambut oleh pak Sugeng dan Romi, mereka cukup terkejut dengan kondisi kedua gadis tersebut. Tak lupa di luar juga sudah ada 2 ambulance, Romi berinisiatif memanggil ambulance saat mereka bertiga masih ada di dalam rumah tersebut. Ambar dan Tesa pun di bawa masuk ke dalam ambulance, pak Sugeng ikut ke ambulance yang ada Ambar di dalamnya.
"Kita ke rumah sakit" titah Al, Romi mengangguk.
Kini Ar dan Za membawa motor masing-masing, mereka memilih untuk kembali ke hotel.
.
.
Sedangkan di kamar yang ada Ita, Yumi dan Alice baru selesai menyalurkan kekuatan dalamnya. Walau luka lebam dan juga luka sobeknya sudah berkurang, namun Ita tetap harus di larikan ke rumah sakit. Syahid sudah sadarkan diri, ia kini duduk di kursi yang ada di samping ranjang Ita .
Maya dan Kira sudah terlelap sejak tadi, karena lelah terlalu banyak menangis.
"Kita bawa sekarang saja" ucap Yumi, ia sangat tahu dan yakin bila cucunya sudah jatuh cinta pada Ita. Dari pancaran tatapan Syahid, sangat jelas kekhawatiran dan juga rasa sedih pada matanya.
"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Alice, seraya melihat Maya, Kira dan Dena
"Ada opa dan yang lain, ada Syahid juga." goda Yumi
Yumi memberi kode pada Alice, dan Alice pun paham lalu tersenyum.
"Abang, kamu menyukai Ita kan?" tanya Alice
"Ya" jawabnya tegas, tentu saja membuat ALice terkejut. Karena ia tak menyangka bila Syahid, akan menjawab se gamblang itu.
"Tak usah kaget, pria keturunan Zandra bukankah semuanya to the point." ucap Yumi tersenyum, Alice pun mengangguk.
"Biarkan ayahmu yang menggendong Ita, tubuhmu masih lemas bang." ucap Alice, walau tak rela. Syahid pun akhirnya mengangguk
"Kita akan bicarakan lagi masalah ini nanti, biarkan Ita sehat terlebih dahulu." ucap Yumi, Syahid masih menjawab dengan anggukkan kepalanya.
Masuklah Afwa, ia yang sudah di beritahu untuk membawa Ita ke mobil. Langsung mengangkat tubuh Ita dan membawanya keluar, sebelum melangkah ia berhenti.
"Tenang saja, ayah tidak mungkin tertarik dengan gadismu. Bunda mu sudah sangat sempurna untuk papa" Afwa keluar tanpa menoleh, Syahid langsung menunduk karena malu.
Maya, Kira dan Dena di temani oleh Alice, Sahin dan Afwi. Sedangkan Rendra dan Yumi, ikut Afwa dan Syahid ke rumah sakit.
Pukul 11 malam, Ar dan Za telah sampai di kamar.
"Loh, mana yang lainnya?" tanya Alice
"Mereka langsung ke rumah sakit bu, karena kondisi kedua gadis itu butuh pertolongan." jawab Za, yang langsung merebahkan tubuhnya di atas lantai. Lelah, itu yang kini ia rasakan. Ar hanya menggelengkan kepalanya melihat perilaku Za, ia juga merasakan hal yang sama. Tetapi, ia lebih memilih untuk segera pulang.
"Bu, aku pamit pulang ya. Aku merindukan kedua putriku." ucap Ar
"Ck, alasan. Bilang saja tidak bisa jauh dari Ani, pake alesan rindu Haidar dan Haidir." celetuk Za
"Tuh tau" jawab Ar terkekeh, Alice pun tersenyum
"Baiklah, kalian pulang saja. Tolong sampaikan pada ayah Abi, kalo bubu pulangnya mungkin besok. Karena harus menemani Maya dan Kira, sekalian menunggu kabar Ita." jawab Alice
"Apa tidak apa-apa bu?" tanya Za seraya mendudukkan tubuhnya, ALice mengangguk
"Tak apa, pulanglah. Di sini juga ada Sahin, yang menemani bubu." jawab ALice
Ar dan Za mengangguk, mereka pun menghilang pulang menggunakan teleport.
.
.
"Bagaimana kondisi kedua murid saya dok?" tanya pak Sugeng
"Kondisinya sangat lemah, mereka membutuhkan perawatan. Dan saya rasa, mereka mengalami sesuatu yang membuat mereka shock. Saya sarankan untuk segera memanggil ahlinya, untuk menyembuhkan rasa shock mereka." jawab sang dokter
Pak Sugeng mengangguk, Romi dan Al menemani pak Sugeng sampai kedua orang tua mereka datang. Tadi pak Sugeng sudah memerintahkan panitia Darmawisata untuk menghubungi kedua orang tua ke enam siswanya, agar di bawa pulang terlebih dahulu.
Awalnya ia juga dilema, antara harus menghentikan darmawisata dan memulangkan seluruh murid atau hanya memulangkan ke enam siswinya. Setelah mendapat masukan dari Al, ia pun mengangguk setuju.
Jangan karena kesalahan beberapa murid, mengorbankan kesenangan murid lainnya. Sedangkan mereka, tidak membuat ulah atau masalah.
...****************...
...Happy Reading allπππ...