Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Part 79



"I ibu menangis" ucap Toni, membuat semua orang beralih menatap Dian. Lambat laun, mata Dian pun terbuka. Toni meneteskan air matanya, lega.. rasanya benar-benar lega.


"Toni" kata pertama yang Dian sebutkan


DEG


Toni langsung menatap Kira, Kira mengangguk.


"Hampiri lah" titah Kira


Dengan ragu dan juga gugup, Toni melangkahkan kakinya mendekati Dian. Kini mata Dian sudah terbuka lebar, ia tersenyum saat melihat Toni mendekat.


"Terimakasih, karena sudah menjaga putri ibu selama ini. Ini bukan salahmu, tinggallah dengan ibu. Kita akan saling menjaga dan menguatkan, seperti yang di minta oleh Aisyah. Kamu mau kan jadi anak ibu dan tinggal bersama ibu?" ucap Dian, pecahlah tangisan Toni.


Dian menggerakkan tangannya dengan pelan, lalu menggenggam tangan Toni.


"To Toni mau bu, terima kasih terimakasih. Karena mau menerima Toni bu, terimakasih." suasana begitu mengharu biru, Ita, Dena, Kira dan Maya ikut menangis.


Syahid mengajak yang lain untuk keluar dari ruangan tersebut, memberikan mereka ruang dan waktu. Dokter yang hendak masuk pun , di urungkan. Ia memilih untuk kembali ke ruangannya dan akan memeriksa Dian setelah satu jam ke depan.


.


.


"Ceritakan, apa yang kamu lihat di sana? Kenapa saat kamu membuka mata, langsung tersenyum sumringah?" tanya Maya, seraya menyipitkan matanya menatap Kira.


"Pengen tau aja apa tau banget?" tanya Kira balik


"Ishh... KIRA" teriak Maya gemas


"Sayang, suaranya." tegur Zef, karena kini mereka tengah duduk di dalam kantin rumah sakit.


"Habisnya gemes aku yang, KIRA CERITA SEKARANG JUGA!!" ucap Maya dengan penuh penekanan


"Iya iya, jangan suka marah-marah kamu May. Nanti cepet tua, kak Zef pergi ninggalin kamu." ucap Kira


"Emang iya?" tanya Maya pada Zef, Zef tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Kaka sudah berjanji untuk selalu ada di sampingmu, mencintaimu sampai mati." jawab Zef


"Ciiieeee... bucin banget. Tadi, waktu aku ikut ke alam bawah sadar ibu Dian. Di sana aku bertemu dengan seseorang yang aku idolakan, seseorang yang sedari lama ingin aku temui." ucap Kira berbinar, ada pancaran rindu di matanya.


"Siapa?" tanya mereka serempak, Kira menarik dan menghembuskan nafasnya pelan


"Nenek buyut Yamamoto" jawab Kira, tiba-tiba ia meneteskan air matanya. Axel langsung bergerak, menghapus air mata yang menetes membasahi pipi Kira. Entah kenapa, Kira merasa sangat rindu dengan nenek buyutnya itu.


"Benarkah? Kamu tidak berbohong kan Ra?" tanya Maya iri


"Ck, apa aku terlihat berbohong?" tanya Kira kesal


"Huft, aku juga ingin bertemu dengan beliau. Bagaimana bisa? Apa saja yang sudah kamu bicarakan dengannya?" tanya Maya


"Saat itu, nenek Yamamoto sedang duduk menemani ibu Dian. Beliau bilang, banyak roh jahat yang ingin membawanya pergi. Di sana aku berbicara banyak hal dengannya, nenek Yamamoto menyampaikan salam untuk semua anggota keluarga Zandra." jawab Kira


"Padahal aku belum lama ini bertemu dan berbicara lama dengannya, tapi entah kenapa aku merasa sangat merindukannya. Kamu tau May, nenek Yamamoto sangat sangat cantik. Wajahnya, benar-benar mirip dengan oma Yumi. Hanya saja, wajah nenek Yamamoto kontras dengan negaranya. Luar biasa pokonya" lanjut Kira menggebu, membuat Maya memanyunkan bibirnya.


Selama ini mereka hanya mendengar cerita sosobo Yamamoto, dari sang oma. Wanita yang terlahir dengan takdir sebagai Miko, wanita hebat yang sangat di sukai banyak orang. Wanita yang menjadi titik awal, yang menjadikan mereka memiliki kemapuan supranatural.


"Sudahlah dek, bila memang sudah waktunya. Kamu pasti akan bertemu dengan nenek Yamamoto, karena setiap pertemuan merupakan takdir." ucap Ita, menenangkan Maya.


"Teteh benar, kamu beruntung di pertemukan dengan nenek Yamamoto." jawab Maya


.


.


Dokter baru saja selesai memeriksa Dian, dan semua baik-baik saja. Toni menghembuskan nafasnya lega, ia sangat takut bila Dian tidak kembali bangun.


"Terimakasih nak" ucap Dian


"Kenapa ibu ber terima kasih?" tanya Toni, Dian tersenyum


"Ibu... bertemu dengan kakakmu, ia menemui ibu saat tertidur. Ia meminta ibu untuk menerimamu menjadi putra ibu, apa kamu mau?" tanya Dian lagi, Toni terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Apa ibu tidak keberatan, hidup dengan anak dari wanita yang ibu benci?" tanya Toni, Dian kembali tersenyum


"Yang salah di sini adalah ibumu, bukan kamu. Ibu sungguh bersyukur, Aisyah mendapatkan adik tiri yang sangat menyayanginya. Terimakasih karena sudah mau menjaga putri ibu, dan kamu juga yang merawat putri ibu saat ia tengah sakit. Kakakmu menitipkan pesan, berhentilah merasa bersalah. Ini semua sudah takdirnya, untuk meninggal di tangan ayah kandungnya sendiri." jawab Dian, ia menggenggam tangan Toni dan menepuk-nepuk punggung tangan Toni.


"Kita akan mengabulkan keinginan terakhirnya, yaitu hidup bersama sebagai ibu dan anak. Apa kamu mau? Kita akan kembali ke kampung halam ibu, kamu tidak keberatan?" Toni menggelengkan kepalanya


"Toni akan ikut, kemana pun ibu membawa Toni. Toni juga sudah berjanji pada kak Aisyah, bila Toni akan menjaga dan melindungi ibu." Dian tersenyum mendengarnya.


Ini adalah bab baru kehidupannya, walau tidak mudah melepaskan kepergian sang putri tersayang. Namun, hidup tetap berjalan bukan?


.


.


"Ngelamunin apaan nih?" tanya Yumi, yang melihat Kira berada di taman bunga yang di buat khusus untuk mengenang Maria.


"Eh, oma. Bikin kaget aja." jawab Kira


"Oma, kenapa arwah sosobo Yamamoto masih berkeliaran? Apa ia tidak tenang?" tanya Kira


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Yumi, Kira tersenyum. Kira menggenggam tangan Yumi dan menutup matanya, Yumi yang melihat hal itu pun ikut menutup mata.


Setelah beberapa menit, tak terasa Yumi meneteskan air matanya dalam keadaan mata tertutup. Yumi membuka matanya dan tersenyum menatap Kira.


"Kapan kalian bertemu?" tanya Yumi dengan suara


bergetar


"Kemarin sore, saat itu. Kira membantu bu Dian untuk kembali bangun, dan mempertemukan mereka di alam bawah sadar bu Dian." jawab Kira


"Oma merindukannya?" tanya Kira, ia mengangkat tangan kanannya dan menghapus air mata yang membasahi pipi Yumi.


"Sangat, oma sangat merindukan oma buyutmu. Beruntungnya kamu bisa bertemu dengan beliau, kamu pasti sangat bahagia bukan?" Kira menatap sang oma, lalu mengangguk semangat.


"Sosobo Yamamoto, sangat cantik. Suaranya sangat lembut, genggamannya terasa masih hangat sampai saat ini. Kira ingin bertemu dengannya lagi, apa sosobo mau menemui Kira kembali?" jawab Kira, seraya bertanya balik.


"Mungkin saja, bila oma buyut merindukan kalian. Beliau pasti akan hadir dalam mimpi salah satu dari kalian, sepertinya oma akan segera ke Jepang. Selain menengok obu kalian di sana, oma juga akan mengunjungi makan sosobo Yamamoto." jawab Yumi


"Kira juga pengen ikut, seandainya tidak sedang persiapan untuk Ujian. Kira pasti akan ikut oma kesana" ucap Kira memanyunkan bibirnya


"Yakin mau ikut? Emang bisa jauh-jauh dari yayangmu?" tanya Yumi menggoda Kira


"Ishhh... oma, ya nggak lah." jawab Kira tertawa, mereka pun membicarakan banyak hal di sana.


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...