
"Sebuah batu delima, warna merahnya yang menarik. Membuat Raka sangat tertarik untuk membawanya pulang dan menyimpan benda tersebut di rumah, tanpa ia tau bila benda itu adalah awal bencana untuknya." jawab Kira, dia dan Maya baru saja bangun. Bahkan masih menggunakan piyama, rasanya malas bila harus mandi bila tidak sekolah.
Soalnya aku kaya gitu, kalo ga keluar rumah. Ya ngga mandi π€£π€£
"Apa? Batu delima? Pengikut sesat sekarang cukup bermodal ternyata, biasanya hanya menjatuhkan uang 50 sampe 100 ribu" ucap Maya
"Tau darimana lo, jangan-jangan lo pernah kaya gitu ya." celetuk Kira
PLAK
"Mulutmu Ra" gerutu Maya seraya memukul mulut Kira
"Maya sakit ih" ucap Kira mengusap bibirnya, Maya hanya memeletkan lidahnya dan berlari ke arah Yumi. Yumi hanya menggelengkan kepalanya, pusing kalo mereka berdua sudah seperti ini.
"Ya mulutmu kalo ngomong ngasal aja, buat apa aku pes*gihan? Hidup kita aja udah lebih dari kata cukup, ga akan habis tujuh turunan, delapan tanjakan." ucap Maya lagi
"Kakak kenapa pukul-pukul?" tanya Rama
"Soalnya, kakak itu yang minta. Kakak kan orang baik, jadi apa yang di minta pasti di kabulkan." jawab Maya
"Haish... mana ada orang minta di pukul" ucap Kira, ia mendudukkan tubuhnya di samping Sahin.
"Bubu, Lama nau ketemu unda." ucap Rama
"Nanti sama kakak, kakak juga mau nengok teman-teman kakak yang lainnya." ucap Sahin
"IKUT" ucap Maya dan Kira serentak
"Malas ahh... Kalian belum mandi" goda Sahin
"Ya udah kita mandi dulu, hayu May" Maya mengangguk dan bergegas masuk kamar mereka masing-masing
"Gitu mereka mah, harus di ajak keluar dulu. Baru mau pada mandi, heran anak perempuan ko males mandi." ucap Sahin terkikik
"Atiiiikkk..... Lama nau ketemu unda tama kakak Laka." girang Rama, Alice dan Yumi tersenyum.
"Dari pagi Ita pengen banget tanya, anak siapa sih ini? Comel banget." tanya Ita, seraya mengambil alih Rama ke pangkuannya
"Kakak tantik, kenali aku adikna kaka Laka." ucap Rama memperkenalkan dirinya
"Raka? Raka kelas sebelah Hin?" tanya Ita menoleh pada Sahin, Sahin mengangguk
"Semalam..." Sahin menceritakan kejadian yang terjadi semalam dan juga apa yang di ceritakan Dika mengenai Raka. Ita membulatkan kedua bola matanya, Syahid langsung memperlihatkan wajah kesal.
"Kenapa kamu tidak mengajakku?" tanya Syahid
"Kamu kan sedang menjaga teh Ita, karena itulah aku hanya berangkat dengan Maya, Kira dan yang lainnya. Kami tidak menyangka bila lawan kami akan sekuat itu, sosok yang benar-banr tangguh." jawab Sahin
"Karena itu Maya dan Kira memanggil oma dan juga bubu mu, hampir saja mereka bertiga akan menjadi bulan-bulanan antek-antek makhluk itu." sambung Yumi
"Awalnya kami hanya ingin mengantar Ica, dan sekalian melihat kondisi rumah Raka. Karena rumah Ica dan Raka, satu komplek. Tak di sangka, ternyata makhluk itu memulai aksinya." ucap Sahin lagi
"Maaf, karena harus menjagaku. Kamu tidak bisa membantu Sahin, Kira dan Maya." ucap Ita lirih
"Hei, biarkan Syahid menjagamu. Kan ada oma dan bubu, semua juga sudah terselesaikan dengan baik." ucap Alice
"Ayo, kami sudah siap" ucap Kira yang baru saja ikut bergabung, ia menggunakan baju santai. Begitu juga dengan Maya, mereka hanya menggunakan tunik kaos lengan pendek dan celana lagging
"Kalian mau kemana?" tanya Syahid
"Ke rumah sakit" jawab Kira dan Maya serempak
"Kami akan mengantarkan Rama dan sekalian menengok Lucky dan Bastian." lanjut Sahin
"Aku ikut" ucap Ita
"Baiklah, akau juga ikut" sambung Syahid
"Kalau begitu aku ambil tas dan ponsel dulu." ucap Ita, Syahid dan yang lainnya mengangguk
"Rama sudah siap?" tanya Kira
"Tudaaaaaaahhh, ayo kakak. Kita belankat tepelti tadi malam, tling tling tan bubu?" ujarnya senang, Alice tertawa.
"Tidak, kita akan naik mobil." jawab Sahin
"Tepelti itu, baiklah" ucap Rama tersenyum
"Ayo" ajak Ita
"Oma, bubu kami berangkat. Assalamu'alaikum" pamit mereka seraya mencium punggung tangan kedua wanita tersebut.
.
.
"Kemana mereka berlima Den?" tanya Xelo
"Hmm? Oh... mereka ijin, karena lelah." jawab Dena, sebenarnya dia juga lelah. Tapi tidak selelah kekasih dan yang lainnya.
Makanya ia memilih untuk masuk sekolah, alasan utama adalah ia ridak mau ikut ulangan susulan. Karena ulangan susulan itu, di ruang guru. Membayangkan nya saja sudah merinding, karena dulu ia pernah. Dan ia di tinggalkan sendiri di sana, para guru pergi mengajar.
"Ahhh... aku baru ingat, bagaimana semalam? Si Rio sama si Dika mana, mereka belum datang?" tanya Xelo
"Si Ica sama si Miko juga kemana?" tanya yang lainnya
"Telat kali" jawab Dena
"WOOYYY... ASSALAMU'ALAIKUM" teriak Dika yang baru saja datang, di susul Miko, Rio dan Ica di belakangnya.
"Wa'alaikum salam" jawab teman sekelasnya
"Seneng banget roman-romannya kalian liat gue" ucap Dika
"Kangen yaaaaaa" sambung Rio
"HUWEEEKK" teman sekelas serentak memuntahkan ucapan Rio
"Cih" Rio dan yang baru saja datang berjalan mendekati kursi mereka masing-masing.
Seluruh temannya langsung banguuhn dari duduknya, dan mengelilingi Dena dan yang lainnya.
"Kemarin gimana?" tanya Xelo
"Seru mas bro, wah anjiiirrr... pokonya itu adalah momen bersejarah yang ga akan pernah gue lupain." jawab Dika
"Bentul tuh, kita belum tentu bakalan liat yang kaya gitu lagi nanti." ucap Miko
"Keluarga Zandra keren semua, bener-bener nggak ada obat." lanjut Ica
Rio dan Dena hanya mengangguk saja
"Wahh, sayang sekali semalam aku nggak ikut." ucap teman yang lain
"Dan asal kalian tau, keluarga Zandra punya penjaga seluruh keluarganya berupa SINGA DAN HARIMAU PUTIH. Masya Allah, mereka gagah dan tampan. Aku sampai kebawa mimpi, ingin bertemu dengan mereka untuk kedua kalinya." ucap Rio
"Ohh, betul. Gila gila gila... dua sosok yang LUAR BIASA hebat, keren, pokonya..." sambung Miko, dengan merasa sulit bagaimana lagi menyampaikan kekagumannya.
"Iyakah? Ko gue ga liat? Gue cuma liat oma Yumi sama emaknya twin prince." tanya Ica, Miko, Dika dan Rik mengangkat kedua bahunya. Karena mereka memang tidak tau jawabannya.
"Den, lu liat?" tanya Ica lagi
"Iya, mereka Aa dan Dede. Dua pangeran yang menjelma menjadi Singa dan juga Harimau, lahir bersamaan dengan ayah dan kembar twin princess." jawab Dena mengangguk
"Rek teu edan kumaha, pamiarsa" celetuk Rio
"Kemarin si Raka kerasukan...." cerita itu pun mengalirlah, berbagai ekspresi di perlihatkan di wajah teman sekelas.
"Serius? Si Raka jadi cicak?" tanya Xelo, yang langsung kena geplakan dari banyaknya orang.
"Sakit woyy, mang salahnya dimana? Yang nemplok di dinding atau langit-langit rumah kan cicak." ucao Xelo mengusap punggungnya
"Kalo ngomong suka ngasal situ mah, spiderman yang bener." celetuk Dika, dia memang sempat ada pikiran seperti itu. Saat dirinya, melihat kondisi Raka kemarin malam.
"Sama ngaconya, ni laki dua." ucap Agatha
"Ya udah kalo gitu pulang sekolah kita ke rumah sakit" usul Ica
"Setuju, sekalian kita lihat kondisi Lucky dan Bastian." jawab Agatha, yang lain pun mengangguk setuju
.
.
...****************...
...Happy Reading allπππ
...