Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Amarah Axel yang Membludak



"BANG, BANG AXEL" teriak Sahin memanggil, namun Axel yang sudah di kuasai amarah. Ia tak mendengarkan panggilan tersebut, Axel terus berjalan ke arah mobil. Setelah masuk, ia langsung menyalakan mobil tersebut. Dan menjalankannya seperti orang kesetanan, ia tak peduli saat ia hampir saja menabrak roda sampah yang ada di dekat sana.


"SI*L" umpat Sahin, ia pun segera berlari ke arah security.


"Pak, apa bapak punya motor?" tanya Sahin terburu-buru


"Iya den?" bukannya menjawab, security itu malah balik bertanya.


"Aishh... " Sahin melihat ada seseorang yang baru saja masuk parkiran menggunakan motor, ia langsung berlari menghampiri orang tersebut.


"Maaf kak, ini darurat. Apa saya bisa meminjam motor kaka?" tanya Sahin


"I itu, tapi..." ucap orang tersebut bingung, tentu saja bingung. Baru sampe, sudah di todong.


Sahin mengeluarkan kartu nama di dompetnya, dan memberikan kartu tersebut.


"Tolong bantu saya kak, hubungi saja nomor yang ada di kartu ini. Nanti saya pasti akan mengembalikannya, atau saya membeli motor ini. Hubungi saja orang tuaku, ini darurat kak." ucap Sahin panjang lebar


Akhirnya orang itu pun memberikan motor tersebut, walau ragu. Tetapi, melihat kepanikan di wajah Sahin membuatnya yakin bila hal ini memang sangat darurat. Sahin langsung menaiki motor tersebut, tak lupa menggunakan helm. Sahin langsung menyalakan dan menjalankan motor tersebut dengan cepat, membuat pemilik motor dan security tersebut terkejut.


Setelah Sahin pergi, pemilik motor barulah membaca kartu nama yang di berikan Sahin. Saat melihat kartu nama berwarna hitam dan juga tulisan nama menggunakan tinta berwarna emas, ia membulatkan kedua matanya.


'ZANDRA? HAH?' pria itu menggosok kedua matanya, agar ia bisa jelas melihatnya.


"Benar, ini memang Zandra tulisannya. Ya Allah, mimpi apa aku semalam? Apa boleh aku menghubungi nomor ini?" gumamnya pelan, seraya menepuk-nepuk kartu tersebut pada telapak tangannya.


"Nanti sajalah, saat urusanku sudah selesai di rumah sakit ini." ia pun segera masuk ke dalam rumah sakit, untuk menemui seseorang yang membuatnya terlibat ke dalam sebuah masalah yang sebenarnya bukan urusannya.


Tinggalkan dia, mungkin hanya intermezzo atau...


Kini Sahin tengah mengejar mobil yang di kendarai oleh Axel, Sahin yang mengejar menggunakan motor. Sehingga memudahkannya untuk menyusul Axel, kini Sahin berada di belakang Axel yang berjarak 3 mobil. Sahin hampir saja berteriak, ia terhenyak saat melihat mobil yang di kendarai Axel hampir di tabrak oleh sebuah truk bermuatan pasir. Karena Axel yang menerobos lampu merah, mungkin hanya berjarak 30 cm. Sahin mau tak mau menghentikan motornya, karena lampu lalu lintas yang berwarna merah.


Banyak pengendara lain yang berteriak, saat melihat kejadian tersebut. Sahin kembali menjalankan motornya, saat lampu lalu lintas berubah hijau. Ia pun menarik gas, karena takut Axel gelap mata dan menghabisi pria yang sudah melecehkan adiknya.


CIIITTT


Terdengar suara decitan ban, karena Axel yang menginjak pedal rem sekaligus. Axel langsung keluar dari mobilnya, ia tak peduli dimana parkir. Axel melangkah dengan tergesa dan menggedor pintu rumah warna cat nya peach, yang di sebutkan oleh Kira. Rumah yang tidak memiliki gerbang, setelah beberapa kali menggedor. Pintu itu pun terbuka dan muncullah sosok seorang wanita paruh baya, yang tentunya Axel kenal.


"Rudi mana tan?" tanya balik Axel dengan menahan amarahnya, wanita yang ternyata ibu dari Rudi itu pun terkejut.


Saat Axel hendak kembali berbicara, ujung matanya melihat Rudi yang baru saja keluar dari kamar. Rudi yang melihat ada Axel di depan pintu rumahnya, wajahnya langsung berubah pias saat ia melihat ekspresi wajah Axel. Rudi pun berbalik dan kembali masuk. Axel yang melihat itu pun langsung saja masuk dan berlari menuju kamar tersebut, gerakan Axel yang tiba-tiba membuat ibu dari Rudi terkejut dan tersentak mundur.


Axel yang sudah gelap mata, tak peduli keadaan sekitar, untung ibu Rudi tidak sampai terjatuh ke lantai. Axel menendang pintu kamar Rudi sekaligus, Rudi yang ada di belakang pintu hendak mengunci pintu, langsung terjengkang dan jatuh. Tanpa babibu, Axel menerjang dan menghajar Rudi. Ibunya Rudi berteriak, saat melihat Axel seperti orang tengah kesetanan memukuli puteranya.


"AXEL, HENTIKAN!! APA YANG KAMU LAKUKAN? KENAPA KAMU MEMUKULI PUTRA TANTE?" teriak Romlah, namun ia tak berani mendekat karena takut kena pukul. Ia hanya berdiri di ambang pintu, dengan wajah panik.


Tak lama Sahin masuk, ia langsung berlari ke kamar yang kini terdengar terjadi keributan. Sahin yang melihat kondisi pria yang diyakini sebagai tersangka sudah tak bergerak, ia langsung mengeluarkan kekuatannya untuk menghentikan Axel. Karena ia sadar bila hanya mengandalkan kekuatannya, itu takkan berpengaruh. Malah yang ada, ia akan ikut babak belur.


Tentunya kalian tau, kekuatan orang yang sedang marah. Bisa berkali-kali lipat.


Axel yang tiba-tiba tangannya tak bisa di gerakkan, merasa bingung. Sampai ia sadar, ada siapa di kamar tersebut.


"Lepaskan aku, aku yakin kamu yang mengendalikan gerakan aku." ucap Axel dengan suara berat, dirinya masih di kuasai kemarahan.


"Hentikan kak, bila ia sampai kehilangan nyawanya. Maka kakak yang rugi, orang tua kaka akan semakin terpuruk. Kini mereka sangat membutuhkan kakak, bagaimana perasaan mereka saat melihat putrinya masih belum sadarkan diri dan putranya yang berurusan dengan hukum." ucap Sahin


Lambat laun, tangan Axel yang tadinya masih terkepal dan berada di atas wajah Rudi pun melemah. Axel menangis, rasanya sangat sakit mendengar cerita Kira. Bagaimana dengan psikis adiknya yang mengalami langsung, pel*cehan tersebut.


"AAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAA" Axel berteriak melepaskan rasa sakit hatinya, rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Axel memukuli dadanya, berharap rasa sesaknya akan menghilang.


Romlah yang ada di belakang, akhirnya jatuh terduduk. Ia merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi, yang ia tau hubungan antara Axel dan Rudi sangatlah baik. Mereka berdua adalah teman sejak kecil, lalu sekarang apa yang sedang terjadi.


Sahin menghembuskan nafasnya pelan, ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana amarahnya. Bila kejadian ini jatuh pada anggota keluarga lainnya, pada Maya ataupun Kira. Mungkin ia bisa saja langsung memb*nuh pelakunya, saat itu juga. Ia yang hanya mendengar dan melihat reaksi Kira saja, sudah sangat marah.


"KENAPA HARUS ADIKKU? KENAPA KAMU BISA MELAKUKAN HAL ITU PADA ADIKKU, RUDIII" teriak Axel, ia kini duduk lemas di samping tubuh Rudi sembari menangis.


Tak lama terdengar suara sirine ambulance, masuk beberapa orang dengan mendorong brankar. Mereka mengangkat Rudi dan membaringkannya di atas brankar tersebut, lalu membawanya keluar dan memasukannya ke dalam ambulance.


Sampai saat ini, Romlah masih belum tau apa permasalahannya. Namun, melihat kondisi Axel yang merasa putus asa. Sudah pasti putranya yang bersalah, ia pun ikut masuk ke dalam ambulance. Ia akan menanyakan hal ini nanti, Romlah menghubungi suaminya yang masih kerja agar segera menyusul ke rumah sakit.


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...