Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Pertemuan Terakhir dengan Toni



"Mereka sudah di bawa ke kantor polisi, dan mereka juga kena pasal berlapis. Antara hukuman mati dan hukuman seumur hidup, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Syahid pada Aisyah, Aisyah yang menatap kosong ke depan pun menoleh. Air matanya kembali lolos, sakit rasanya melihat sang ibu menangis seperti tadi. Aisyah pun berbalik, ia melihat Toni yang masih meneteskan air matanya namun tatapannya kosong.


'Seandainya bisa, aku ingin sekali bisa bertemu dengan ibu dan juga Toni. Aku ingin mengatakan sesuatu, mereka pasti merasa bersalah atas kematianku. Aku tak mau, bila mereka terus meratapi kepergianku dengan rasa sesal yang mendalam.' jawab Aisyah, Syahid dan yang lainnya pun ikut berbalik dan melihat Toni.


Pak Sugeng, pak Sunandar dan bu Elisa berpencar untuk ke kantor polisi dan juga rumah sakit. Syahid dan yang lain akan segera menyusul ke rumah sakit, setelah urusan di sini selesai.


"Mau bertemu satu per satu atau langsung dengan keduanya?" tanya Kira, Aisyah menolehkan kepalanya menatap Kira bingung.


"Kami akan membantumu menemui mereka, jadi apa kamu akan menemui adik tirimu terlebih dahulu?" lanjut Maya tersenyum, Aisyah terkejut.


'Bi bisakah? A apa aku bisa berbicara dengan mereka? Aku bisa mengatakan apa yang aku inginkan pada mereka?' tanya Aisyah seraya menatap ke semua orang, mereka mengangguk.


Aisyah menutup mulutnya tak percaya, ia kembali menangis. Jadi ia bisa berbicara dengan ibu dan adik tirinya, untuk terakhir kalinya.


'Siapa kalian sebenarnya?' tanya Aisyah


"Kami hanya makhluk ciptaan Allah, yang di berikan kelebihan untuk membantu arwah seperti mu." jawab Sahin


'Hiks.. terimakasih terimakasih, aku kira aku takkan pernah bertemu dengan mereka lagi untuk terakhir kalinya. Aku aku ingin berbicara dengan Toni terlebih dahulu, aku ingin menitipkan ibu padanya.' ucap Aisyah meminta


"Baiklah, ayo" Kira berjalan terlebih dahulu mendekati Toni, ia menepuk pelan bahu Toni. Toni terkejut dan tersadar, ia menengadahkan kepalanya menatap Kira dan yang lainnya. Mata Toni terlihat bengkak, dan dirinya juga masih terlihat sesenggukan.


"Ada yang ingin bicara denganmu" ucap Kira, Toni mengerutkan dahinya.


"Kakakmu ada di sini, ia ingin berbicara denganmu untuk terakhir kalinya." lanjut Sahin


DEG


"A apa? Kak Aisyah ada di sini? Maksud kalian..."


"Ya, arwah Aisyah ada di sini." jawab Maya


"Dimana dia, aku aku ingin meminta maaf padanya. Meminta maaf karena tidak bisa menjaga dan melindunginya, gara-gara aku terlalu takut. Sehingga, membuat kak Aisyah harus pergi untuk selamanya. hiks" ucap Toni, membuat Aisyah semakin bersalah.


.


.


"Bisa kita mulai?" tanya Kira, Toni menganggukkan kepalanya semangat. Mereka duduk lesehan di bawah, seperti biasa. Aisyah yang sudah duduk di hadapan Toni, merasa senang. Sedangkan Toni, ia merasa gugup dan juga bahagia.


Kira menutup matanya, ia memegang tangan Toni. Axel yang belum lama ini datang, merasa cemburu melihatnya. Zefran menahan senyumnya, baru kali ini ia melihat. Sedangkan dirinya sudah beberapa kali melihat Maya melakukan hal yang sama.


"Bukalah matamu." titah Kira seraya melepaskan genggamannya dari tangan Toni, perlahan Toni membuka matanya.


Tesss


Aisyah tersenyum, ia menahan air matanya.


'Kamu menangis?' tanya Aisyah dengan suara bergetar, Toni menggelengkan kepalanya dan menghapus air mata di pipinya.


"Tidak, kenapa aku harus menangis" jawab Toni dengan suara serak, Aisyah mengembangkan senyumannya yang menular pada Toni. Aisyah menengadahkan kepalanya ke atas, untuk menahan laju air matanya.


Kira dan yang lainnya mundur, memberikan ruang pada mereka berdua.


'Menangislah' ucap Aisyah dengan bibirnya yang selalu mengulas senyuman


"Jangan katakan itu, tak susah sama sekali. Walaupun memang benar susah, senyuman yang selalu kakak berikan padaku sudah menggantikannya. Di sini, yang seharusnya meminta maaf adalah aku kak. Maaf kan aku, karena aku tidak tau bila kakak sempat di jual oleh mereka. Maafkan aku, karena kau tidak tau bila mereka juga mengh*bisi nyawamu. Seandainya aku tau, aku lebih memilih aku lah yang pergi. Maafkan aku kak, maaf" ucap Toni menangis dan menundukkan kepalanya, Aisyah menggelengkan kepalanya.


Aisyah mengangkat tangannya dan mengusap sayang kepala Toni, Toni tergugu dan semakin mengeraskan tangisannya.


'Menangislah, tapi hanya cukup hari ini saja kamu menangis. Tidak untuk esok hari, aku tidak mengijinkannya. Maafkan aku, tapi hanya kamu bisa aku percaya' ucap Aisyah


Aisyah membiarkan Toni meluapkan tangisannya di sana, ia pun ikut meneteskan air matanya.


"Huft... aku tak menyangka, akan ada kejadian seperti ini." ucap Axel


"Hmm... kamu benar, seorang ayah yang tega menghab*isi nyawa anak kandungnya sendiri. Hanya demi kesenangannya sendiri, apa ayah Aisyah dan ibu Toni tidak melihat bila kedua anaknya saling mengasihi? Kenapa mereka tidak bisa menerima Aisyah dengan baik, sedangkan adik tirinya saja bisa menerima Aisyah." ucap Zefran


"Pemikiran Dodi yang kolot dan hati kotor Susi yang takut bila anaknya tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari Dodi." jawab Ita


"Aku tidak mengerti dengan cara berpikir mereka, sempit sekali hati dan pikirannya." ucap Dena, mereka semua menghela nafas kompak.


.


Setelah hampir 15 menit menangis, Toni pun menyudahinya.


'Toni, apakah aku boleh meminta tolong padamu?' tanya Aisyah, Toni mengangguk


"Katakan, apa yang kakak inginkan." ucap Toni


'Apakah... apakah kakak bisa meminta tolong padamu, untuk menjaga ibu? Jadilah putranya, lindungilah dia.' pinta Aisyah, Toni menatap Aisyah


"Tapi kak, apa.. apa ibu mau menerimaku? Sedangkan aku adalah putra dari wanita yang sudah merebut suami darinya, dan aku juga adalah anak dari wanita yang sudah menghilangkan nyawa kakak?" tanya Toni menunduk, ia takut menerima penolakan dari ibu wanita yang ia sayangi ini.


Aisyah tersenyum dan memegang salah satu pundak Toni.


'Ibu bukanlah wanita berhati picik dan juga sempit, ia akan menerimamu. Percayalah padaku, apakah aku bisa menitipkan ibu padamu?' jawab Aisyah dan kembali bertanya, Toni menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.


"Ya, tentu saja aku mau kak. Aku akan menjaga ibu dan juga menemaninya, agar ia tak merasa sendiri." jawab Toni


'Terimakasih, aku ucapkan terimakasih atas semua yang sudah kamu lakukan untukku selama ini. Toni, aku menyayangimu. Ikhlaskan aku dan tetaplah tersenyum.' ucap Aisyah, ia menoleh pada Kira dan yang lain.


Kira yang paham pun mengangguk dan berjalan mendekatinya


'Jaga ibu dan dirimu baik-baik, kakak kini sudah bisa tenang meninggalkan mu dan juga ibu.' ucap Aisyah, Kira kembali menggenggam tangan Toni dan sosok Aisyah pun tak terlihat lagi olehnya.


"Sudah?" tanya Maya, Aisyah mengangguk


'Aku hanya tinggal menemui ibu, terimakasih.' jawab Aisyah


"Kami akan ke rumah sakit, untuk menemani ibunya Aisyah. Apa kamu mau ikut?" tanya Sahin


"Ya, aku ikut" jawab Toni, ia pun segera bersiap dan akan ikut yang lain untuk ke rumah sakit.


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...