Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Hari Insiden



"Anak s*alan, beraninya mematikan panggilan dariku. Aku akan menghabisi keluarga Aldo secepatnya, dan akan aku ambil alih semua asetnya." ucap pria tersebut


****************


Sesuai rencana, Rendra, Afwa dan Afwi memerintahkan anak buahnya untuk ke rumah kediaman Brahmana.


Rencana mereka adalah, mereka akan memasang CCTV di setiap sudut rumah tersebut. Dan mereka juga sudah menyiapkan boneka yang di rancang sedemikian rupa, agar mirip dengan keluarga Brahmana. Dan mereka juga memasukan darah hewan pada plastik, lalu di masukan pada posisi yang bila saat di tembak akan membuat yakin si penembak bila korbannya benar-benar telah mati.


Anak buah Zandra datang, saat Kay dan Sri sudah kembali pulang. Beberapa anak buahnya di perintahkan untuk mem block jalan masuk dan keluar perumahan tersebut, sehingga orang yang sudah beberapa hari mengawasi rumah Brahmana tidak bisa masuk. Setelah tadi ia keluar, saat ada Yanto dan anak buahnya mendekati dia.


Saat pria suruhan itu bertanya alasan kenapa jalan masuk di blokir, anak buah Zandra yang menyamar jadi security mengatakan bila ada tamu kehormatan yang hendak melamar salah satu penghuni perum. Dan ia juga mengatakan bila acaranya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, pria itu menghembuskan nafas kasar. Namun ia tidak berniat untuk meninggalkan gerbang masuk perum tersebut, ia akan masuk saat acara sudah selesai.


Sedangkan di kediaman Brahmana, anak buha Zandra menaruh boneka di tepat-tempat tertentu. Tempat dimana Ita melihat kejadian tersebut, namun tentunya posisi boneka tersebut membelakangi pintu. Karena bila menurut cerita Ita juga, bila pelaku melakukan hal tersebut tanpa melihat.


Mereka juga tak lupa menaruh boneka Mario, yang akan menangis saat mendengar suara.


.


.


Rendra, Afwa, Afwi dan Aldo, kini mereka sedang ada di perusahaan Zandra. Aldo masih dalam keadaan shock, demi apapun ia tak percaya bila pamannya akan melakukan hal tersebut pada keluarganya. Pria yang ia anggap pengganti sang ayah, ternyata menyimpan dendam karena harta warisan sang ayah di serahkan pada Aldo. Dan karena dendam itu juga, pamannya berniat untuk menghabisi keluarganya. Agar Aldo terpuruk dan menjadi gila, sehingga pamannya itu dengan mudah merebut semua dari Aldo.


"Kamu baik-baik saja Al?" tanya Afwi, Aldo menggelengkan kepalanya dengan lemas


"Sama sekali tidak baik-baik saja." jawabnya lirih, tanpa terasa air matanya menetes. Namun, Aldo segera menghapusnya.


Ketiga pria Zandra mengirup nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan, mereka paham bagaimana kecewanya Aldo.


Aldo menatap layar yang ada di depannya, di mana layar tersebut memperlihatkan kondisi rumahnya di setiap sudut ruangan yang ada di rumahnya.


"Kapan semuanya akan terjadi?" tanya Aldo lemah


"Besok" jawab Afwa


Aldo menghembuskan nafas kasar, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa istri dan anak-anakku sudah aman?" tanya Aldo


"Tenang saja, mereka masih ada di kediaman kami. Dan akan di antar ke tempat yang aman, kamu tidak perlu khawatir mengenai hal tersebut." jawab Afwi


"Terima kasih, aku tidak tau harus berterima kasih seperti apalagi pada kalian semua. Padahal kita bertemu setahun yang lalu, dan tidak ada alasan yang harus menolong keluargaku sampai seperti ini. Kerjasama perusahaan kita pun baru saja terjalin, beberapa minggu yang lalu." ucap Aldo seraya menundukkan kepalanya


"Selama kami bisa membantu, kami akan lakukan. Jangan sungkan, selain membantumu. Kami juga ingin menyelamatkan mental salah satu anggota keluarga kami, dia yang di beri penglihatan ini. Saat pertama kali dia di beri firasat, kami yang tidak paham. Sehingga membuat orang-orang yang ada dalam penglihatannya, semua celaka. Termasuk kedua teman sekelasnya, salah satunya telah tiada." ucap Rendra menjelaskan, Aldo menengadahkan kepalanya dan menatap Rendra dengan tatapan penuh pertanyaan


"Kamu tentu tau bukan, insiden kebakaran rusun waktu lalu?" tanya Afwa, Aldo mengangguk


"Itu adalah kasus pertama, saat itu kami tidak mengerti. Sehingga membuat mentalnya down dan beberapa kali jatuh pingsan, dan masalahmu adalah kasus ketiga." lanjut Afwi, Aldo tercengang


"Bila keluargaku kasus ketiga, bagaimana dengan kasus kedua?" tanya Aldo penasaran


"Kasus kedua Alhamdulillah bisa di tangani dengan baik, mereka semua selamat." jawab Afwi, Aldo yang mendengarnya pun bernafas lega.


.


.


Hari berdarah yang di khawatirkan pun telah tiba, Aldo berada di perusahaan Zandra sejak pagi tadi. Istri dan anaknya, tetap tenang di apartemen dengan di awasi 2 bodyguard. Mereka benar-benar di larang keluar sama sekali, bila mereka menginginkan sesuatu. Tinggal mengatakannya pada bodyguard, nanti mereka yang akan mencari.


"Tenanglah, semua akan terekam dengan jelas di sini." ucap Afwi, Aldo memang tegang. Karena sampai saat ini, ia masih berharap bila bukan pamannya dalang dari semua ini.


"Aku... aku hanya merasa sesak, berharap bukan dia. Naif memang, tapi... dia adalah orang yang selama ini ku jadikan panutan dan juga sandaran." ucap Aldo dengan suara bergetar


Ceklek


Terdengar suara pintu dari headset yang mereka pakai, Afwa dan yang lainnya langsung terdiam. Pintu rumah Aldo terbuka dengan perlahan, jantung Aldo berdetak kencang.


Begitu pintu itu terbuka dengan lebar, Aldo masih belum bisa mengenali seseorang tersebut. Karena wajahnya di tutupi oleh topeng. Tetapi bila dari postur tubuh, Aldo mengenalinya. Sesak... sangat sesak.


Pria itu langsung naik ke atas tangga, dengan membawa pistol semi-otomatis hitam 0,45 ACP.



Ketegangan terjadi di kantor Afwa, padahal mereka semua hanya menyaksikannya melalui layar kaca.


Kamar pertama terbuka, dari layar kaca lain mereka bisa melihat wajah si pelaku karena ia membuka topengnya. Wajah yang sangat di kenali oleh Aldo, sedang tersenyum menyeringai menatap boneka yang dia sangka Salma sedang duduk membelakanginya. Ia mengangkat tangan yang memegang pist*l dan...


DOR


Boneka itu pun langsung jatuh tersungkur, dengan darah yang merembes dari punggung dan juga dadanya. Demi apapun Rendra, Afwa, Afwi dan Aldo benar-benar tak menyangka ada orang yang dengan santainya menembak. Aldo menarik nafas, untuk mengisi paru-parunya dengan udara.


Dengan tanpa rasa bersalah, pria itu keluar dan melangkahkan kakinya kembali menuju kamar Meriam. Boneka yang di letakkan di kursi meja belajar, dengan posisi duduk seolah sedang belajar.


DOR


Tanpa ada beban sama sekali, pria itu kembali menarik pelatuk dan mengarahkan pistolnya pada boneka tersebut. Sesak, Aldo memegang dadanya. Ia tak menyangka pamannya akan berbuat hal tersebut, pada keluarganya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Afwa, Aldo mengangguk.


"Aku tidak apa-apa." jawab Aldo dengan matanya yang tetap fokus pada layar kaca.


Afwa mengangguk dan kembali fokus pada layar kaca


DOR


Boneka yang menyerupai Meriam di tembak dan tak lama pria itu kembali menarik pelakunya pada boneka Mario yang menangis, tanpa ada rasa kasihan atau bersalah sama sekali.


DOR


DEG DEG DEG


Memang bukan istri dan anaknya, namun ia tak bisa membayangkan bagaimana bila itu adalah mereka.


Pria itu tertawa terbahak-bahak, ia terlihat sangat bahagia.


"HAHAHAHAAHA... Aldo pasti akan gila, setelah melihat istri dan anaknya telah tewas dan aku bisa menguasai harta adikku dengan sangat mudah. HAHAHAHA." ucapnya bahagia


Tanpa sepengetahuan pria itu, ternyata di bawah sudah ada bodyguard Zandra. Rendra sengaja tidak melibatkan polisi, karena ia ingin tau bagaimana cara Aldo menyelesaikan masalah ini.


...****************...


......Happy Reading


allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž......