Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Kemarahan Aldo



"Endaaaa, kita main ke tempat Malio yuk" ajak Anin pada Sherina


"Hmm? Anin mau ke tempat Mario?" tanya Sherina memastikan, Anin mengangguk dengan semangat


"Anin suka main sama Malio enda, Lio lucu. Anin mau adik sepelti Malio" jawab Anin dengan polosnya


GLEK


"A adik?" tanya Sherina tergagap, Anin mengangguk


"Kapan Anin punya adik enda?" tanya Anin lagi


"A i itu... mmm... Anin kita bersiap yuk, katanya mau ketemu Mario." Sherina mengalihkan jawaban, Anin langsung melupakannya pertanyaannya. Ia bergegas masuk ke dalam kamarnya, untuk memilih baju yang akan dia pakai. Baru saja bisa bernafas lega, tiba-tiba...


"Kenapa bunda tidak jawab pertanyaan Anin, Aby juga ingin adik. Aby setuju dengan Anin, adik seperti Mario. Jangan seperti Anin, bisa pecah kepalaku mendengar ocehan para wanita di rumah ini bila bertambah lagi." ucap Aby dengan wajah polosnya


DEG


Sepertinya Sherina melupakan, bila di sisi lain ada Aby yang sedang anteng bermain dengan legonya.


"A aby, sejak kapan kamu di sini?" tanya Sherina, Aby mengerutkan dahinya.


"Kenapa bunda bertanya pertanyaan yang sudah tau jawabannya? Aby kan sejak tadi juga sudah ada di sini bersama bunda dan Anin, bunda melupakan putra bunda yang tampan ini?" tanya Aby mendrama, Sherina memutar malas kedua bola matanya.


Anaknya yang satu ini, memang ajaib bin menyebalkan. Anak yang paling narsis, di antara pria kembar Zandra


"Ya, saking tampannya. Bunda lupa bila ada pria tampan di samping bunda, apa kamu mau ikut?" tanya Sherina, Aby yang mendengar sang bunda memuji dirinya. Ia pun lupa bila tadi mereka membahas perihal adik, Aby mengangguk dan bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Huft... benar-benar kedua anakku memang sangat istimewa." gumam Sherina


"Loh, Sher... kamu di rumah? mana anak-anak?" tanya Yumi


"Oma.. iya oma, Anin dan Aby ada di kamar sedang berganti pakaian." jawab Sherina


"Memang kalian mau kemana? Bukankah Anin dan Aby tidak mau berangkat sekolah?" tanya Yumi lagi


"Anin mengajak ke tempat Salma oma, ingin bertemu dengan Mario katanya." jawab Sherina, Yumi mengangguk


"Baiklah, hati-hati di perjalanan. Kalau begitu oma, mau ke kantor opa dulu." Sherina mengangguk


"Hati-hati oma"


Keluarga Zandra memang tidak akan memaksakan si kembar 10 untuk sekolah, mereka akan membiarkan anak-anak menikmati hari-harinya di usia yang masih 5 tahun ini. Dimana anak di usia ini di sebut dengan GOLDEN AGE, usia dimana pertumbuhan dan perkembangan anak di tahun-tahun pertama berlangsung cepat.


Anak bukanlah manusia dewasa yang berbadan kecil, tetapi kebanyakan orang tua tanpa menyadari sering memperlakukan anak seperti layaknya orang dewasa yang harus serba mengerti. Sehingga tatkala berhubungan dan berkomunikasi dengan anak kadang orang tua selalu ingin memaksakan cara pandang dan cara berpikirnya harus dipahami oleh anak, padahal pemahaman anak sangatlah berbeda karena cara berpikirnya masih dalam tahap proses perkembangan.


Keluarga Zandra membiarkan anak-anaknya dalam MENGEKSPLORASI dirinya, tidak memaksakan apa keinginan para orang dewasa pada si kembar. Jika memang ingin sekolah ya silahkan, bila tidak ya jangan di paksa.


"Ayo enda" ajak Anin yang sudah siap dengan baju yang terlihat cantik, dan menggemaskan. Dengan menggunakan baju kaos putih berlengan panjang berwarna abu dan celana panjang coklat yang di lipat di bagian kakinya. Tak lupa dengan tas boneka birunya dan sepatu berwarna putih.



"Masya Allah... cantik sekali anak bunda." puji Sherina, padahal ia tak memilihkan baju tersebut. Namun ternyata, sang putri sangat pandai memadu padankan pakaian.


"Iya dong, kan anak enda dan yayah" ucap Anin tersenyum senang, karena mendapatkan pujian dari sang bunda.


"Kapan kita berangkat enda?" tanya Anin


"Kita tunggu abang Aby ya, abang juga mau ikut katanya." Anin mengangguk dan duduk dengan tenang


"Ayo bunda" ucap Aby yang juga sudah siap, terlihat sangat tampan memang. Dimana Aby memakai kaos putih yang di double dengan jaket hitam dan juga celana berwarna hitam, tak lupa ia mengalungkan earphone di lehernya. Sepatu, topi dan tasnya juga berwarna hitam.



"Ya Allah, MasyaAllah... tampan sekali kamu sayang." puji Sherina


"Aby kan sudah bilang, kalau Aby ini memang tampan. Semua orang tau itu bunda" jawab Aby seraya memasukkan salah satu tangannya ke saku celana, Sherina menghembuskan nafas panjang. Menyebalkan, tapi apa yang di ucapkan putranya memang benar adanya.


"Ya sudah, ayo kita berangkat." Anin turun dari sofa dan menerima uluran tangan sang bunda, sedangkan Aby sudah berjalan lebih dulu.


"Mmm... nanti bunda tanyakan dulu pada opa, Mario dan keluarganya sudah boleh keluar apa belum, ok?" Anin tersenyum dan mengangguk


Mereka pun naik mobil yang sudah di siapkan, begitu juga dengan supirnya.


"Ayo paman, kita ke apartemen xxx ya."


"Baik neng Sherina"


Perjalanan di sisi dengan celotehan Anin, yang tidak ada habisnya. Terkadang Aby menggodanya, dan Anin selalu berteriak karena tidak terima. Sherina hanya bisa menghela nafas, kapan kedua anak ini akan akur. Tapi sepertinya, bila tidak seperti ini. Ia akan merasa kesepian bukan, dan pasti ia akan merindukan hal ini kelak.


.


.


Sedangkan di markas Hashimoto, Januar sedang terikat tergantung dengan kedua tangannya terentang. Dimana tangan kanan dan kirinya, terikat di masing-masing tiang kanan dan kirinya.


Rendra, Afwa, Afwi dan Aldo yang baru saja tiba. Menanyakan dimana keberadaan pria sakit jiwa tersebut, A langsung mengantarkan mereka ke salah satu ruangan yang terdengar suara rintihan kesakitan di dalamnya. Ya bagaimana tidak kesakitan, karena punggung tangan yang terkena tembakan anak buah A. Di biarkan begitu saja, tanpa ada niat untuk mengobatinya.


"Siang paman, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Aldo dengan suara penuh ejekan, ia menatap jijik pada sang paman.


"Kau... se.. jak ka... pan.. tau...


"Tau apa yang akan kamu lakukan pada keluargaku? Tau apa niatmu? Tau bagaimana cara mu menghabisi istri dan anakku? Begitu?" potong Aldo dengan dada yang naik turun, ia masih menahan emosinya.


"Aku tau semua paman, karena bertemu dengan orang-orang baik. Kau tau paman, selama ini aku menganggapmu sebagai pengganti ayahku. Aku menyayangimu, seperti aku menyayangi ayahku. Tapi, apa yang aku terima? Paman telah mematahkan dan menghancurkan hatiku, aku benar-benar tidak percaya bila paman memiliki pikiran sepicik ini. Bagaimana bisa paman? Hanya karena harta? Bukankah paman juga sudah mendapatkan bagian paman sendiri? Lalu, kenapa paman menjualnya? Dan malah berniat merebut milik anak-anakku, kenapa paman bisa sejahat ini padaku? hiks..." Aldo menangis, merasakan patah di hatinya.


"Tapi, rasa sayangku kini telah padam."


BUGH


"Demi apapun, aku ingin sekali memb*nuhmu"


BUGH


"Kau benar-benar menjijikan paman"


BUGH BUGH


"Bagaimana bisa, kamu mempunyai pikiran ingin meniduri istriku"


BUGH


"Dan bagaiman bisa, kamu mengangkat dan menarik pelatuk senjata itu dengan santainya"


BUGH BUGH


"Ke arah istri dan anak-anakku"


BUGH


"KAU BENAR-BENAR B*JINGAN, AKU SANGAT MEMBENCIMU PAMAN" teriak Aldo pukulan terakhir yang ia layangkan dari bawah rahang sang paman


BUGH


Januar pun tak sadarkan diri, tubuh dan wajahnya sudah benar-benar babak belur. Bagaimana Januar bisa tetap sadarkan diri, bila pukulan dan tendangan yang di layangkan Aldo benar-benar keras. Bahu Aldo terlihat naik turun, Rendra, Afwa dan Afwi membiarkan Aldo meluapkan amarahnya. Tak ada niat sama sekali, untuk menghentikan Aldo.


"Seandainya memb*nuh di halalkan, sudah ku pastikan kamu mati di tanganku." ucap Aldo geram


Rendra memerintahkan A dan anak buahnya, membawa Januar ke ruangan lain untuk di obati. Yang pasti ruangan yang sama dengan ICU rumah sakit, mereka tidak ada niat untuk membebaskan Januar. Mereka akan mengirimkan Januar ke tempat lain, saat ia sadar nanti.


...****************...


......Happy Reading


all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž......


...kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ...