Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Sudah kuduga



Ita berdiri agak berjarak ke belakang, ia melihat mereka dengan mulut yang terus membacakan ayat suci Al-qur'an.


'HENTIKAN S*ALAAN' teriak sosok itu, ia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Matanya langsung menyorot pada Ita, Syahid yang menyadarinya. Ia berjalan cepat mundur dan benar saja, saat ia sampai di depan Ita. Sosok itu mengangkat tangan dan menggerakkan meja, lalu ia arahkan pada Ita.


Dengan kekuatannya, Syahid menahan benda itu. Dan terbanting di depannya, mata Syahid langsung berubah. Cahaya di tubuhnya pun langsung menguar, kedua tangannya mengepal.


Syahid tak terima, tunangannya di jadikan target oleh sosok itu.


"SEKARANG" teriak Syahid


Kira, Maya, Sahin dan Syahid langsung mengeluarkan sebuah rantai dari telapak tangannya. Mereka mengarahkan rantai itu, ke kedua tangan dan kedua kaki Rahmat. Sosok itu marah, ia terus memberontak. Syahid yang sedang dalam keadaan marah, melangkahkan kakinya untuk mendekat.


'LEPASKAN AKU!!! AKU HARUS MENGHABISI ANAK INI DAN MEMBAWA JIWANYA PERGI'


Tatapan Syahid semakin tajam, sosok itu pun langsung terdiam. Entah kenapa, ia merasa sangat takut dengan tatapan itu.


"KAU HARUS MUSNAH" ucap Syahid dingin, ia mengangkat tangan kanannya. Dan menaruh tangan itu di kepala Rahmat, terlihat dengan sangat jelas. saat Syahid mengangkat tangannya. Di saat itu juga ada bayangan hitam yang ikut tertarik ke atas, mengikuti gerakan tangan Syahid.


'AAAAAAAAAAAaaaaaa......' sosok itu berteriak kesakitan, begitu semua bayangan terlepas. Syahid memejamkan mata dan sosok itu terbakar api berwarna biru ke emasan, sampai musnah tak berbekas.


BRUGH


Tubuh Rahmat pun terjatuh dan terkulai di atas lantai, bersamaan dengan semua barang yang ikut melayang. Maya, Kira dan Sahin ikut jatuh terduduk. Dengan nafas yang tidak beraturan, Axel dan Zef langsung mendekati tunangan mereka. Mereka memapah Kira dan Maya, untuk segera keluar kamar ini. Dengan perlahan mereka melangkahkan kakinya, karena banyak pecahan beling dan juga barang-barang berserakan di sana.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Syahid pada Ita, Ita mengangkat tangannya yang bergetar. Ia memegang pipi Syahid dan menatap dengan dalam.


"Seharusnya, aku yang bertanya. Kamu tidak apa-apakan bee?" tanya Ita dengan suara bergetar, Syahid tersenyum dan mengangguk. Pecahlah tangisan Ita, Syahid segera menarik Ita ke dalam pelukannya.


Ita sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat, kemarahan Syahid.


Reksa, Rio, Dika dan Bastian. Mereka mengangkat tubuh Rahmat dan hendak merebahkannya di ranjang, Xelo langsung membersihkan ranjang tersebut.


"Ini belum selesai" ucap Sahin, Syahid mengangguk


"Kita harus segera ke bangunan itu, kurasa kita juga membutuhkan seorang kiyai." sambung Syahid, sembari tangannya mengusap punggung Ita yang masih bergetar ketakutan.


"Apa kita panggil oma Yumi saja?" saran Kira


"Kita belajar menyelesaikan masalah ini sendiri, kurasa dengan bantuan seorang pemuka agama sudah cukup." jawab Syahid, Sahin dan kedua saudarinya mengangguk


"Kurasa Arumi tau, kita bisa meminta bantuannya." ucap Reksa


"Baiklah, kami akan membuat perisai untuk melindungi villa ini. Tentunya kita tidak bisa meninggalkan pria itu bukan, karena kurasa makhluk yang menginginkannya banyak." ucap Kira, di setujui para saudaranya


Reksa, Rio, Dika dan Bastian semakin kagum dan entahlah. Mereka benar-benar sudah tak bisa berucap apa-apa lagi, keturunan Zandra benar-benar tidak bisa di lawan. Mereka terlalu hebat....


"Ap Apa kita akan membiarkan kak Rahmat tertidur di ranjang itu, bee?" tanya Ita melerai pelukannya, Syahid melirik Sahin


"Kita pindahkan ke kamar kita saja" ucap Rio


"Agatha dan Ica, biar pindah ke kamarku dan kamar twin princess. Jadi kamar atas kosong 1, untuk mu dan yang lain bee." sambung Ita, Syahid dan Sahin mengangguk setuju


Mereka pun keluar dari kamar tersebut, para pria saling bantu memindahkan tubuh Rahmat ke kamar tempat Rio dan twin prince.


.


.


"Tidak jauh dari rumah, memang ada ustad kak. Apa mau minta bantuan beliau?" jawab Ita seraya balik bertanya


"Boleh" jawab Syahid


"Sosok itu mengatakan bila kedua sahabat kak Rahmat sudah di ujung tanduk, itu artinya waktu kita tidak banyak. Arumi, apa bisa kamu mengantar kami sekarang juga, untuk menemui ustad tersebut?" tanya Sahin


"Bisa kak" jawab Arumi ragu


"Apa jam segini sepupumu masih suka main di luar?" tanya Sahin yang mendengar keraguan Arumi, Arumi cukup terkejut. Karena Sahin bisa tau, apa yang ada di dalam pikirannya.


"Saya kurang tau kak, tapi... di jam segini, Ambu bilang kalo Ria suka duduk di pos satpam bersama kang Asep." jawab Arumi


"Baiknya bagaimana?" tanya Rio


"Apa rumah pak ustad dekat pos satpam?" tanya Kira


"Sebelum pos satpam teh, cuma kalo kita ke rumah pak Ustad. Kalo semisal Ria beneran nongkrong di situ, pasti langsung keliatan." jawab Ria


"Kalo gitu, kita langsung ke sana pake van. Tidak usah semua, para wanita selain Kira dan Maya diam di villa. Kak Reksa, bang Axel dan kak Zef ikut kita. Sisanya di villa, jagain para wanita. Dan nanti yang turun menemui pak Ustad, cukup Arumi. Kita tidak perlu turun, tunggu saja di dalam van. Bukannya tidak sopan, aku hanya merasa bila Ria cukup mengganggu. Setelah pak Ustad setuju ikut kita, apa tidak apa-apa kalau kamu pulang dulu ke rumah?" saran Sahin, seraya bertanya pada Arumi di akhir kalimatnya.


"Setuju, Arumi tidak apa-apa langsung pulang kak. Arumi rasa, justru itu lebih baik." jawab Arumi


Syahid menatap Ita, wajahnya terlihat sangat cemas.


"Tidak apa-apakan kamu menunggu di Villa, semua akan baik-baik saja. Aku hanya tidak mau, fokusku terpecah nantinya. Aku hanya takut, bila nanti kamu yang akan di jadikan target seperti tadi." ucap Syahid menenangkan sang tunangan, ia menggenggam tangan Ita, yang sejak tadi mer*mas satu sama lain.


Ita menatap Syahid, lalu mengangguk. Benar apa yang di katakan Syahid, ia cukup mendo'akan semuanya kembali dengan selamat.


"Kalian tidak boleh keluar dari Villa ini, karena Villa ini telah di pasang perisai. Kalian akan terlindungi dari hal-hal mistis, bisa?" ucap Sahin, mereka yang di minta untuk tetap di villa mengangguk..


Setelah semua siap, kedelapan orang itu pun segera naik van. Hanya 1 mobil Van, semoga pak Ustad mau membantu.


.


.


"Ternyata benar, ada Ria di sana. Biar Arumi saja yang turun" ucap Arumi, saat ia melihat ada Ria di depan sana tengah duduk dengan seorang lelaki.


"Sungguh tidak pantas jam segini masih berada di luar, nanti kamu bilang sama abah." ucap Kira, Arumi mengangguk


"Aku ikut turun" ucap Maya, entah kenapa ia merasa begitu Arumi turun. Perempuan itu pasti akan langsung menghampiri Arumi


"Tutup pintu, kunci kalo perlu" ucap Maya lagi


"Aku juga ikut" ucap Kira


Dan kini, ketiga gadis itu sedang berjalan menuju rumah pak Ustad yang di maksud oleh Arumi. Seperti yang di perkirakan Maya, Ria yang melihat Arumi turun dari mobil bagus. Langsung berpamitan pada pria yang duduk dengannya, ia langsung melangkah menghampiri Arumi dan twin princess. Tanpa Ria tau, Asep berjalan mengikutinya dari belakang.


"Sudah kuduga" ucap Maya, seraya melirik pada Kira


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...