
Kini mereka sudah ada di tempat yang di maksud oleh Mei-Mei.
"Mana kak?" tanya Ita
Mei-Mei terlihat celingukan, dan ia menyipitkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas.
'Itu, tuh liat. Dari tadi dia di sana kaya orang ling lung, bolak balik ga jelas.' jawab Mei-Mei, seraya menunjuk ke arah seorang pria yang terlihat kebingungan.
"Oh, iya itu dia. Samperin yuk" ajak Kira
"Lu yakin, kalo itu bukan orang jahat? Gimana kalo cuma modus penculikan anak yang baru?" tanya Dena
"Jangan su udzon, kita kan juga banyakan loh ini." ucap Ita
"Lagian, siapa juga yang mau nyulik anak segede lu? Rugi yang nyuliknya, banyak makan. Untung kagak, ludes duit iya." celetuk Maya
"Pan gue cuma tanya, ngapa bawa-bawa gue yang kudu di culik?" protes Dena
"Tapi, kalian ngerasa merinding ga sih di mari? Ko bawaannya pengen nyate ya?" tanya Dena
"Emang kampret lu mah Den, tempat angker ko pengen nyate!!" ucap Maya
"Maksudnya 'NYARi TEMPAT' aman, sewotan ih Maya. Bukannya yang lagi PMS teh Ita?" jawab Dena
"Ya salaam, emang ga ada abisnya kosakata lu ya." celetuk Kira, namun ia pun tetap terkikik geli dengan istilah yang di ucapkan Dena. Sejak tadi Mei-Mei sudah menahan tawanya, mendengar perdebatan mereka.
"Mau sampe kapan debat di sini? Kalian belum Isa loh." tegur Ita
"Eh, i iya teh. Hayu samperin" ucap Dena, mereka pun melangkahkan kakinya, untuk mendekat pria itu.
"Assalamu'alaikum pak. Maaf, sejak tadi kami perhatikan. Bapak ko kaya orang ling lung ya pak, bapak lagi cari apa? Barangkali kami bisa bantu cari." tanya Ita dengan suara lembutnya
"Wa'alaikumsalam, a anu bapak bingung nak." jawabnya dengan suara bergetar, sangat terlihat bila pria itu kelelahan.
"Bingung kenapa pak?" tanya Maya
"Sebaiknya kita duduk terlebih dahulu, kasian bapaknya terlihat sangat kelelahan." Sahin dan Syahid pun membantu pria itu untuk duduk
Dena mengeluarkan botol mineral kecil di tasnya yang belum di buka, sudah jadi kebiasaan Dena selalu membawa air putih kemana-mana.
"Sebaiknya bapak minum dulu, bapak keliatannya cape banget." ucap Dena, seraya memberikan botol itu. Pria itu pen menerimanya dan meminumnya sampai habis.
"Terimakasih, kalian memang anak baik" ucap pria itu, mereka pun tersenyum
"Perkenalkan saya Ita, dan ini adik-adik saya." ucap Ita memperkenalkan yang lainnya, mereka pun menyebutkan namanya masing-masing.
"Syahid"
"Sahin'
"Maya"
"Kira"
"Dena"
"Saya Taufik, saya ini seorang pendatang baru. Baru tiba di kota ini 2 minggu yang lalu, sehingga saya belum hapal daerah sini." ucap pria itu memperkenalkan dirinya, seraya menjelaskan dirinya
"Lalu, apa yang sedang bapak lakukan di sini?" tanya Syahid
"Kemarin, tepatnya setelah Maghrib. Saya dan istri saya yang sedang hamil besar, berjalan lewat sini untuk pulang. Kami yang waktu itu, baru pulang dari...
FLASHBACK
Taufik dan Tita sang istri yang baru pulang dari rumah temannya yang ada di kota ini, berniat pulang melewati jalan yang berbeda dari biasanya.
Sebenarnya Taufik sudah menolak dan mengajak sang istri untuk pulang melewati jalan seperti biasanya saja. Selain tempatnya yang terlihat menyeramkan, ia juga takut tersesat. Apalagi ia belum pernah melewati jalan ini, namun Tita tetap kekeh ingin lewat jalan ini. Entah kenapa, Taufik memang merasa bila yang bersamanya seperti bukan istrinya.
Ini semua, berawal dari seorang nenek tua yang berpapasan dengan mereka saat di ujung jalan sebelum masuk ke sini. Nenek itu tiba-tiba mendekat dan memegang perut sang istri, Taufik yang tidak memiliki firasat buruk pada si nenek. Membiarkan hal tersebut, dan ikut menjawab pertanyaan si nenek.
"Ya ampun cu, istrinya sudah mau lahiran ya?" tanya si nenek seraya mengelus perut Tita, Tita tersenyum mengangguk.
"Iya nek, Alhamdulillah kalo tidak minggu ini, ya minggu depan." jawab Taufik
"Syukurlah, semoga lahirannya lancar ya cu." ucap sang nenek, namun ia lanjut seperti menggumamkan sesuatu.
Tak lama, Taufik mulai tak nyaman. Ia pun segera berpamitan untuk segera pulang.
Setelah itu, istrinya Tita seolah tak mendengarkan apa yang ia katakan. Tita yang biasanya, cukup sekali di beritahu menurut. Sekarang tidak, justru Taufik sempat terkejut karena Tita membentak dirinya.
"Ya sudah, ya sudah. Ayo kita lewat jalan yang kamu mau." ucap Taufik pada akhirnya
Mereka pun berjalan, tanpa ada percakapan sama sekali. Mendadak tempat ini, terasa sangat dingin dan lebih mencekam. Tak terdengar sedikit pun suara, perasaan Taufik semakin tak karuan.
Tiba-tiba, Tita istrinya memegang perutnya dan merintih kesakitan.
"A, perut neng sakit." ucap Tita , lambat laun tubuhnya merosot ke bawah karena saking tak kuatnya menahan rasa sakit.
Taufik juga menahan tubuh Tita, agar tidak terjerembab langsung ke tanah.
"Astaghfirullah, kayanya kamu mau melahirkan neng." ucap Taufik panik
"Shhsss... sakit a, ga kuat." ucap Tita lagi
Taufik pun melirik ke sana ke sini, hendak meminta pertolongan.
"TOLONG TOLONG" teriaknya, ia menundukkan kepalanya untuk menatap sang istri yang tengah kesakitan.
Saat ia kembali menengadahkan kepalanya, ia terkejut bukan main. Karena tempat yang sepi tadi, tiba-tiba ramai dan banyak penerangan.
"Ada apa pak?" tanya seseorang yang mendekatinya
"A anu, i itu istri saya hendak melahirkan" jawab Taufik tergagap karena terkejut
Terlihat bila orang yang hendak membantunya menyunggingkan senyum tipis, sangat tipis. Namun, lamunan Taufik terbuyar karena mendengar erangan kesakitan dari sang istri.
"Ya udah atuh pak, itu sebelah sana ada rumah sakit. Mendingan bapak bawa ke sana aja, biar istrinya segera di bantu persalinannya." ucap orang itu, Taufik pun mau tak mau mnegangguk. Walaupun ia ragu, namun tak ada pilihan lain.
Dengan di bantu oleh orang itu, membopong sang istri. Mereka pun kini sampai di depan IGD, yang ada di rumah sakit tersebut.
Sebenarnya, Taufik cukup terkejut dengan pria yang membantunya. Walau bagaimana pun, bila di pikir lagi. Untuk normalnya, orang pria dewasa yang sama-sama kurus. Tidak akan mungkin bisa menggotong tubuh wanita sedang hamil, apalagi dalam keadaan sakit sepreti ini. Beratnya pasti semakin bertambah, karena bobot tubuhnya benar-benar di lepaskan pada satu titik.
"Ya udah atuh ya a, saya pamit." ucapnya, membuyarkan lamunan Taufik
Taufik pun mengangguk cepat.
"Terimakasih" ucap Taufik, yang di jawab anggukan
Kondisi di rumah sakit ini, sama dengan rumah sakit pada umumnya. Sehingga Taufik pun, lambat laun menghilangkan kecurigaannya. Ia mengurus administrasi seperti biasa, ia juga menemani sang istri bersalin di ruangan bersalin.
Keanehan kembali terjadi, saat Taufik melantunkan adzan dan iqamah di telinga kanan dan kiri sang putra. Lampu di ruang itu, tiba-tiba berkedip dan sedikit terasa goncangan. Namun, semuanya terhenti saat ia selesai melantunkan dua seruan wajib tersebut.
Seorang dokter, dengan tatapan mata yang merah. Mendekati Taufik..
"Sebaiknya bapak segera pulang terlebih dahulu, untuk mengambil pakaian ganti ibu dan bayinya." titah dokter tersebut
...****************...
...Happy Reading allπππ
...