Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Ternyata, eh.. ternyata



"Jadi, apa tujuan tuan dan nyonya ke rumah ini? Bukankah saya sudah bilang, bila bukan saya yang telah menabrak putri kalian. Dan saya tidak akan pernah menikahi putri kalian, maaf itu bukan kewajiban saya." ucap Zefran to the point


"Enak saja, kamu mau lepas tanggung jawab. Anak saya sekarang cacat dan juga hilang ingatan, saya ga mau tau ya. KAMU HARUS MENIKAHI PUTRI SAYA" ucap sang ayah korban yang bernama Ijul, Sahin langsung tersenyum smirk dan menggelengkan kepalanya.


'Benar-benar tak habis fikri dan di luar nurul.' ucap Sahin dalam hati


"Tidak sopan kamu ya, orang tua lagi bicara. Malah senyam senyum, dimana tata krama kamu? Bagaimana orang tuamu mengajari kalian?" ucap ayah korban lagi


Sedangkan Asih, sang istri hanya diam. Karena sejak awal melihat Zefran juga, ia tak yakin bila Zefran adalah pelakunya. Namun, ia terlalu takut pada suaminya.


Syahid malah dengan sengaja tertawa, Ita dan yang lainnya bingung.


BRAK


Mereka semua terkejut, saat Ijul menggebrak meja di ruangan tersebut.


'Daddy, mejanya... hiks' gumam mommy pelan, Zergan sang daddy menggelengkan kepalanya mendengar gumaman sang istri. Saat daddy hendak angkat bicara, Zefran menahannya.


"Apa tuan tau arti dari istilah BURUK MUKA CERMIN DIBELAH?" tanya Syahid dengan senyuman mengejek pada Ijul dan juga Asih


"Saya beritahu artinya, SESEORANG YANG MENYALAHKAN KEADAANNYA YANG BURUK KEPADA ORANG LAIN, PADAHAL KESALAHANNYA SENDIRILAH YANG MENYEBABKAN KEADAANNYA. Kurang lebih, seperti inilah posisi tuan dan kak Zefran saat ini. Siapa yang membuat kesalahan, dan pada siapa melempar kesalahannya. Bukan begitu tuan?" Raut wajah Syahid langsung berubah


menjadi dingin, dan tatapannya pun berbeda dengan tadi.


GLEK


Ijul dan Asih langsung gugup dan ekspresinya pun berubah pias, aura Syahid dan Sahin bukan main-main. Bukan hanya dua orang itu yang merasakannya, namun semua orang yang ada di ruangan tersebut. Bahkan kedua orang tua Zefran, kagum sekaligus segan. Di usia mereka, bisa memiliki aura menekan sebesar ini.


"JANGAN PERNAH MEMPERTANYAKAN BAGAIMANA DIDIKAN KEDUA ORANG TUA KAMI? KARENA MEREKA TAK PERNAH MENGAJARI KAMI UNTUK MELEMPAR KESALAHAN PADA ORANG LAIN." lanjut Sahin yang sama dinginnya


"A apa maksud mu? Kami tak melempar kesalahan, dia memang pelaku yang sudah menabrak putri kami. Sudah untung tidak kami laporkan pada polisi, kami hanya memintanya untuk menikahi putriku." ucap Ijul yang masih kekeh dengan pendiriannya


"Enak saja, saya yang calon sitrinya. Tidak setuju, calon suami saya menikah dengan putri kalian. Ehh.." ucap Maya kelepasan, Maya langsung menundukkan kepalanya dan menepuk mulutnya pelan. Zefran melipat bibirnya, karena menahan tawa. Begitu juga dengan yang lainnya, ini sedang serius ini. May... May...


"Kalau begitu, lapor polisi saja." tantang Syahid, membuat Ijul gelagapan.


"I itu tidak perlu, cu cukup dia menikahi putri saya. Itu sudah cukup." jawab Ijul, Asih langsung menoleh menatap sang suami. Kenapa suaminya malah jadi gugup, seperti orang ketakutan?


Ijul semakin mati kutu, namun ia masih kekeh meminta Zefran untuk bertanggung jawab.


"Kalau begitu, saya yang akan melaporkan anda ke kantor polisi. Atas tuduhan tabrak lari dan juga pemerasan pada orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah ini, bagaimana?" ucap Sahin, ia mengangkat salah satu sudut bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan perutnya. Bukan ia tak sopan, ada kalanya ia harus berlaku baik ataupun tidak. Tergantung dengan siapa ia berhadapan, bila di depan pria ini. Ia harus berani, bila tidak ingin di tekan balik.


"Apa maksudmu? Kamu menuduh saya yang menabrak dan juga memeras? Punya bukti apa kamu, kamu ini hanya bocah ingusan. Jangan ikut campur masalah orang dewasa." ucap Ijul tak terima, Sahin memberi kode pada Syahid untuk mengeluarkan tab nya.


Syahid mengeluarkan alat persegi panjang tersebut, dari dalam tas milik Ita. Ia menyalakan tab tersebut, lalu masuk ke galery. Di sana ia mendapatkan beberapa vidio dan memutarnya dan ia taruh di atas meja.


Terpampang jelas di sana, mobil yang di menabrak gadis itu. Dari plat no, sampai data pemilik plat mobil tersebut. Ternyata mobil itu adalah mobil rental, dan mudah bagi Sahin ataupun Syahid untuk mendapatkan tempat rental dan siapa yang telah menyewa mobil tersebut. Yang lebih mengejutkannya lagi adalah SIAPA PELAKU TERSEBUT?


IJUL JUNAEDI, ayah dari korban. Lebih tepatnya adalah ayah tiri dari korban, dan alasannya melakukan hal itu adalah karena korban mengetahui perselingkuhan dirinya dengan janda yang tinggal di sebelah rumahnya. Ijul yang takut korban megadukan hal tersebut pada ibunya, membuat ia berpikiran untuk melakukan hal tersebut. Ditambah, ada hal lain yang ia tutupi.


Awalnya Ijul sempat panik, karena Naya tidak m*ti. Tetapi, ia kembali lega saat dokter mengatakan bila Naya hilang ingatan. Tapi kini, di depan matanya sudah ada bukti bahwa dialah tersangka tabrak lari sang putri tiri. Selain itu, ternyata dalam kamera yang terpasang pada mobil tersebut. Terekam jelas wajah Ijul, di saat ia mulai menggunakan masker dan topi, sampai ia melepas semuanya.


Asih yang melihatnya, terkejut bukan main. Ia tak menyangka bila pelaku dari semua ini adalah suaminya, suami yang sudah ia nikahi selama 2 tahun ini. Ia juga tak menyangka bila ternyata, suaminya sudah mengkhianati pernikahan ini dengan berselingkuh. Pantas saja, putrinya berkali-kali menolak saat dirinya meminta ijin. Asih mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar marah.


Asih mengambil vas bunga yang ada di meja dan hendak memukulkan benda itu pada Ijul, karena saking marah dan sakit hatinya. Namun peregerakan itu, langsung di tahan oleh Axel.


"Tahan bi, biarkan polisi yang mengurus semua ini. Jangan mengotori tangan bibi, hanya untuk pria sepertinya." ucap Axel, Ijul sudah mengkerut ketakutan saat tangan Asih yang memegang vas tepat di atas kepalanya.


Asih menggelengkan kepalanya tak terima


"Tapi karena dia, putriku kini berada di rumah sakit. Ia hilang ingatan dan juga cacat pada kakinya. Aku tidak terima, sebelum benar-benar menghabisinya dengan tanganku sendiri." ucap Asih dengan suara bergetar, bukan hanya marah karena sang putri yang kini masih di rumah sakit. Ia juga merasakan sakit hati, yang teramat dalam. Ternyata pria yang ia cintai dan juga ia bela, selingkuh dengan wanita yang bahkan tinggalnya pun tepat di seebalh rumahnya.


"Tapi bi, bila bibi melakukan ini. Bagaimana dengan putri bibi? Siapa yang akan merawatnya? Bagaimana perasaannya saat tahu sang ibu ada di balik jeruji, karena telah menghilangkan nyawa orang lain." ucap Ita


Asih terdiam, tubuhnya bergetar hebat. Dengan pelan, Dena mengambil vas bunga di tangan Asih.


Tak lama, pecahlah tangisan Asih, Sarah yang tadinya kesal pun berbalik menjadi iba. Ia berjalan menghampiri Asih, lalu menariknya ke dalam pelukan. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan, saat ini Asih hany membutuhkan pelampiasan. Sarah membiarkan Asih menangis dalam pelukannya dan air mata Asih membasahi baju milik Sarah.


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...