The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 98. Keputusan Final



Keesokan paginya, Laura yang sedang sarapan pagi bersama Pangeran Mahkota Richard tiba-tiba Rika datang membawakan kabar yang telah ditunggu oleh Laura.


"Yang Mulia! Yang Mulia! Yang Mulia! Surat kabar yang anda tunggu sudah keluar!" teriak Rika dengan suara yang lantang dengan nafas yang terburu-buru.


"A-aagh! Ma-maafkan kelancangan hamba Yang Mulia Pangeran Mahkota! Hamba bersalah! Hamba pantas untuk dihukum!" ucap Rika yang menyadari kesalahannya sambil berlutut di lantai.


Laura yang khawatir Rika akan jatuh sakit karena berlutut di lantai yang dingin membuat Pangeran Mahkota yang melihat sikap dan ekspresi Laura merasa kasihan.


"Berdirilah! Aku tidak akan menghukummu asalkan kau memberikan berita yang berguna untuk menutupi kelalaianmu dalam Etika!" sindir Pangeran Mahkota Richard.


Rika yang datang dengan wajah yang ceria berubah menjadi serius dan penuh perhitungan dan menyerahkan surat kabar yang ada di tangannya kepada Pangeran Mahkota Richard dan Laura.


"Yang Mulia, berita yang telah Yang Mulia tunggu telah muncul di surat kabar dan saat ini seluruh rakyat dari Kerajaan Hentallius telah mengetahui kabar berita ini!" ucap Rika dengan wajah yang minim emosi.


Laura dan Pangeran Mahkota Richard yang membuka dan membaca isi surat kabar tersebut bahagia lalu memberikan perintah untuk semua Pelayan keluar termasuk Rika.


"Laura! Bagaimana menurutmu selanjutnya? Kita telah melakukan semuanya dengan baik!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan wajah yang serius sambil menutup surat kabar yang ada di tangannya.


"Bukankah memberikan hukuman untuk orang-orang jahat itu adalah hal utama yang harus kita lakukan, Kak!" ucap Laura dengan senyum yang lebar.


"Kau benar sekali. Jangan khawatir. Kakak akan membuat Putra Mahkota Kerajaan Hentallius mengemis di bawah kaki kita!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang percaya diri.


“Lalu untuk wanita murahan itu aku surahkan dia padamu!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang serius.


“Baiklah, Kak! Aku akan mengurusnya setelah urusanku dengan Penghianat satu itu selesai!” ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.


Pangeran Mahkota Richard yang mengetahui orang yang dimaksud Laura pun menganggukkan kepalanya dan memberikan kode kepada Ajudan Mies untuk mendekat.


“Apakah kau akan pergi ke Kediaman Count Vansfold?” tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Tidak! Aku akan mengirim Daniel dan Adrian ke sana! Aku sudah tidak ingin melihat dua pasangan memalukan itu!” sindir Laura dengan ekspresi wajah yang tidak nyaman.


“Baiklah. Kakak mengerti! “ ucap Pangeran Mahkota Richard sambil menghela nafas panjang dengan ekspresi wajah yang pasrah.


“Mies! Ikutlah bersama dua Administrator Laura ke Kediaman Count Vansfold dan paksa mereka untuk memberikan hak Laura jika tidak segera laporkan padaku maka aku akan langsung menanganinya!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang tegas dan ekspresi wajah yang serius.


“Ya, Yang Mulia. Percayakan saja padaku!” ucap Ajudan Mies dengan ekspresi wajah yang datar dengan sikap yang sopan serta nada suara yang terdengar sangat percaya diri.


Laura dan Pangeran Mahkota Richard yang telah menyelesaikan rutinitas pagi mereka pun menjalankan kegiatan mereka pada hari itu masing-masing.


Sementara itu, Laura yang telah memiliki janji untuk bertemu Adrian Lopez dan Daniel pun masuk ke dalam ruangan yang luas dan melihat keduanya yang telah sabar menunggu kedatangannya.


“Hidup Dewi Justitia yang memberikan berkatnya kepada Yang Mulia Putri! Semoga Yang Mulia selalu bahagia dan sehat!” ucap Adrian Lopez dan Daniel secara bersamaan sambil membungkukkan tubuhnya menggunakan Etika Kebangsawanan saat menyapa Laura.


“Bangunlah dan duduklah!” ucap Laura yang telah duduk terlebih dulu dengan senyum yang lembut dan ekspresi wajah yang penuh harap.


Laura yang tidak akan membiarkan Evans bahagia setelah semua yang dilakukannya padanya begitu pula dengan Tatiana pun memberikan instruksi khusus kepada keduanya.


“Aku ingin kalian berdua pergi ke Kediaman Count Vansfold di Ibukota dan meminta izin untuk bertemu!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


“Saat kalian bertemu dengan orangnya tetaplah bersikap sopan dan elegan dan jika kalian bingung maka ikuti saja arahan Ajuda Mies karena Ajuda Mies akan ikut dengan kalian.


Di saat bersamaan, Pangeran Mahkota Richard yang berniat melakukan pertemuan Raja Jonathan IV untuk membahas kesalahan yang dilakukan Putra Mahkota Lyod pun pergi ke Istana bersama Master Samuel yang merupakan Penyihir Pribadinya dan beberapa Kesatria Kekaisaran Glorious.


“Yang Mulia Pangeran Mahkota Richard Rich Glorious memasuki ruangan!” ucap Pengawal yang berdiri di depan pintu mengumumkan kedatangan Pangeran Mahkota Richard.


Pangeran Mahkota Richard yang melihat pintu ruangan itu telah terbuka sangat lebar pun masuk ke dalam ruangan dan menjadi sangat terkejut saat melihat dua orang yang sangat tak ingin ditemuinya berdiri di hadapannya.


“Untuk apa Putra Mahkota Lyod dan Martha di sini? Apa rencana Raja bodoh ini sebenarnya?” tanya Pangeran Mahkota Richard dalam hati dengan tatapan mata yang curiga.


“Duduklah Yang Mulia Pangeran Mahkota!” ucap Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang bersahabat dan senyum yang ramah.


“Terima kasih Yang Mulia. Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Kenapa kedua orang ini ada di sini sekarang?” tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang dingin.


Putra Mahkota Lyod yang mendengar nada suara tak bahagia dari Pangeran Mahkota Richard hanya bisa menahan diri untuk tidak membuat masalah menjadi lebih buruk sementara Nona Martha yang tak punya pilihan lain pun menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang sedih.


Nona Martha yang tak ingin kembali ke Kekaisaran Glorious begitu saja setelah Pertunangannya dengan Pangeran Mahkota Richard dibatalkan karena skandal yang dilakukannya di Kerajaan tetangga pun berlutut di lantai.


“Ri-Richard... A-Aku...” ucap Nona Martha dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang sangat sedih dan air mata yang mengalir tiada hentinya.


“Dimana tata krama dan etikamu Nona Hanneton? Jangan lupakan statusmu!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang tinggi dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam.


Nona Martha yang terkejut dengan sikap dingin yang ditunjukkan Pangeran Mahkota Richard kepadanya pun tak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa menangis dalam diam dalam posisi berlutut.


Pangeran Mahkota Richard yang datang ke Istana Kerajaan untuk bertemu dengan Raja Jonathan IV mengenai skandal yang terjadi semalam menjadi sangat kesal saat semuanya tak sesuai yang diinginkannya.


“Yang Mulia Raja Jonathan Carls Hentallius IV! Apakah menurutmu jika Putramu dan wanita rendahan ini berlutut dan memohon ampun padaku akan menghilangkan amarahku maka kau sangat salah? Amarah ini tak akan hilang hanya seperti ini!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang terdengar kasar dengan tangan terlipat di dadanya.


“Aku tidak akan berbasa-basi lagi! Siang ini aku akan kembali ke Kekaisaran Glorious dengan menggunakan Teleportasi Khusus dan aku ingin dengar jawabanmu untuk skandal yang dilakukan Putra tersayangmu ini, Yang Mulia!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang serius.


“Jika jawabanmu tidak memberikanku kepuasan maka akan ada Konflik External dan Internal antar dua Kerajaan!” ancam Pangeran Mahkota Richard dengan tatapan mata yang tajam.


Putra Mahkota Lyod yang mendengar nada suara yang sangat tegas dan lantang dari Pangeran Mahkota Richard pun mengalihkan pandangannya kepada Raja Jonathan IV.


Putra Mahkota Lyod yang berharap bahwa Raja Jonathan IV akan berpihak padanya apapun yang terjadi merasa kehilangan harapan setelah satu kalimat tegas yang diucapkan Raja Jonathan IV di hadapan semua orang.


“Aku akan menurunkan posisi Putra Mahkota Lyod dan menghilangkan Hak Warisnya pada Tahta Kerajaan selamanya dengan memberikannya posisi Bangsawan biasa!” ucap Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang serius.


Putra Mahkota Lyod yang mendengar statusnya turun drastis menjadi sangat tidak terima dan dengan lantang melakukan protes tapi tak ada yang berhasil.


“Ti-Tidak! Ya-Yang Mulia! Aku mohon tolong pertimbangkan kembali keputusan anda!” ucap Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut dengan tatapan mata tidak percaya sambil berlutut di lantai di hadapan Raja Jonathan IV.


“Keputusanku sudah bulat dan tak akan bisa diganggu lagi meski apapun yang akan kau lakukan!” ucap Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang serius.


Nona Martha yang ikut terkejut dengan keputusan yang dibuat Raja Jonathan IV untuk Putra yang sangat disayanginya itu merasakan ketakutan yang sangat dalam pada dirinya sendiri sambil menatap Pangeran Mahkota Richard dengan Aura yang sangat seram dan kejam.


#Bersambung#


Apakah Raja Jonathan IV akan benar-benar menurunkan posisi Putra Mahkota Lyod? Lalu bagaimana nasib Nona Martha selanjutnya? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya ya...


*Note* Maafkan Author yg lama update tapi akan diusahan setiap hari update mulai hari ini.. Terima kasih dukungannya y..