The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 66. Bantai



Laura yang pergi ke Jalanan Bottenheim bersama Rika ternyata membawa empat Kesatria yang sedang menyamar.


"Rika, apakah pakaian ini cukup untuk membuat semua orang tida menyadari akan identitasku, bukan?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang tidak percaya diri.


"Tentu saja, Yang Mulia. Tidak akan ada yang akan mengenali anda. Mereka hanya akan berpikir jika anda adalah Putri dari Keluarga Kaya dan bukan seorang Bangsawan!" ucap Rika dengan suara yang tegas dengan senyum yang lembut.


Laura yang mendengar perkataan Rika merasa sedikit lega tapi tiba-tiba sesuatu terjadi yang membuat Laura terkejut.


"Apa yang terjadi? Apakah kita mendapatkan serangan mendadak Rika?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bingung dengan nada suara yang terdengar penasaran.


"Sepertinya seperti itu Yang Mulia, lebih baik kita tetap di dalam dan biarkan saja keempat Kesatria itu yang mengatasi orang yang menghadang Yang Mulia!" ucap Rika yang dengan cepat meyakinkan Laura untuk tetap diam saja.


Laura yang tidak ingin diam saja pun memanggil Master Noel yang dipikir Laura sedang mengawasinya dari jauh.


"Ada apa? Kenapa Master Noel tidak menjawab panggilanku? Apakah telah terjadi sesuatu padanya?" tanya Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tidak percaya.


Laura yang tidak bisa mengandalkan bantuan dari Master Noel memustuskan untuk mengaktifkan kekuatan alamnya dan mencoba mendengarkan yang terjadi di luar.


Laura yang mendengar suara teriakan dari semua Kesatria yang terlihat tidak bisa bertahan pun membuka pintu dengan Rika yang tak tau darimana telah memegang sebuah belati.


"Belati? Darimana kau mendapatkan belati itu, Rika?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bingung dengan suara yang berbisik.


"Aku selalu memilikinya Yang Mulia. Aku menyimpannya di balik pakaianku dan akan aku gunakan di saat genting seperti ini!" ucap Rika dengan senyum percaya diri.


"A-apa?" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang tidak percaya dengan mata yang melotot tajam setelah mendengar jawaban Rika.


"Yang Mulia, jangan takut. Aku ada di sini. Aku bersumpah akan melindungi Yang Mulia bahkan jika harus mengorbankan nyawa saya!" ucap Rika dengan suara yang tegas dengan mata yang fokus ke depan.


Laura yang ingin mengatakan sesuatu pada Rika langsung menghentikan rencananya saat Laura menyadari bahwa semua Penjahat tersebut berhenti menyerang dan memfokuskan pandangannya pada Laura.


Laura yang merasakan firasat yang buruk dengan pikiran yang telah bercampur dengan kebingungan membuatnya menjadi sedikit gugup.


"Rika! Mundurlah! Mereka bukanlah penjahat biasa! Kau tidak akan bisa mengalahkan mereka semua dengan belati yang ada di tanganmu itu!' ucap Laura dengan suara yang tegas dengan tatapan mata yang waspada.


"Si-Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian menghalangi jalanku?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bingung dengan pandangan mata yang melihat ke semua Kesatria yang sudah tidak sadarkan diri.


"Sial! Bagaimana ini bisa terjadi? Darimana orang-orang ini? Kenapa mereka mengincarku? Siapa yang mengirimnya Evans, Putra Mahkota Lyod atau... Tatiana?" tanya Laura dalam hati dengan tangan yang terkepal erat.


Penjahat yang menyerang Laura ternyata adalah Guild yang telah dimanipulasi pikirannya oleh Tatiana dengan Sihir Hitam dan oleh karena itu semuanya bertindak seperti boneka yang tidak memiliki akal dan pikiran.


Laura yang tau jika Master Noel tidak bisa datang membantunya pun memutuskan menggunakan Penjahat yang menyerangnya sebagai target latihan sungguhan.


"Aku akan menggunakan ini sebagai taruhan. Jika aku berhasil menggunakan Kekuatan Anginku sebagai Serangan maka aku pasti akan bisa selamat jika tidak mungkin nyawaku akan dalam bahaya!" ucap Laura dalam hati dengan keringat yang mengalir sangat banyak di pipinya.


Laura yang telah membuat Rika menjauh pun mengaktifkan indra pendengarannya untuk mendengarkan apakah ada musuh atau bantuan yang datang dan mengaktifkan indra penglihatannya untuk menyerang Penjahat tersebut satu per satu.


“Apa ini? Ada sebuah kereta kuda yang bergerak dengan sangat cepat mengarah kemari. Siapa itu? apakah itu musuh atau lawan?” tanya Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.


Tepat di saat keenam Penjahat tersebut mulai bergerak menyerang secara bersamaan untuk menangkapnya, Laura dengan cepat mengkonsentrasikan kekuatan anginnya membentuk bola angin yang mengunci udara yang ada di sekitar kepala Para Penjahat.


“Rika! Periksa semua Kesatria itu! Apakah mereka semua masih hidup atau sudah mati?” ucap Laura dengan suara yang lantang yang membuat Rika yang terkejut dengan yang dilakukan Laura segera tersadar dan melakukan yang diperintahkan kepadanya dengan cepat.


“Aku harus bisa bertahan! Aku tidak boleh jatuh pingsan disini!” ucap Laura dalam hati dengan tekad yang kuat.


Rika yang telah selesai memeriksa keenam Kesatria yang terjatuh ke tanah pun bergegas pergi ke arah Laura.


“Yang Mulia! Semua Kesatria itu telah tiada. Tak ada satu pun di antara mereka yang masih hidup!” jawab Rika dengan suara yang tegas.


“Hah! Dasar lemah! Apakah ini Kesatria terkuat yang dimiliki oleh Count Vansfold di bawah ke Pelatihan dari Evans sendiri?” sindir Laura dengan tatapan mata yang menghina sambil menatap kesatria-kesatria yang telah terbaring di tanah.


Laura yang menyadari bahwa suara kereta yang menuju ke arahnya telah semakin dekat pun mengalihkan pandangannya kepada Rika.


“Rika! Apakah kau ingin bermain sesuatu hal yang menarik denganku?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum misterius.


Rika yang mendengar pertanyaan Laura pun menatap bingung dengan mata yang terbuka lebar tapi tetap melakukan yang diperintahkan Laura kepadanya.


Laura yang melihat keenam Penjahat yang menyerangnya telah memberontak dan benar-benar kesulitan bernafas dan akhirnya terjatuh dengan satu kaki yang menyentuh tanah membuat wajah Laura mengubah ekspresinya.


“Aku bukanlah orang yang baik hati yang akan memaafkan orang yang telah menyakitiku dan bahkan berniat membunuhku. Oleh karena itu, hanya satu di antara kalian yang akan selamat disini!” ucap Laura dengan senyum yang licik.


“Jika ada di antara kalian yang ingin memberitauku tentang orang yang telah memberi perintah kepada kalian maka aku berjanji akan melepaskan kalian dari siksaan ini!” ucap Laura dengan suara yang lantang.


“Aku hanya akan memberikan kesempatan ini kepada satu orang dan sisanya tentu saja akan tau nasib buruk yang akan diterimanya!” ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.


Tepat setelah Laura mengatakan itu, salah seorang dari keenam penjahat itu mengangkat tangannya.


Laura yang menyadari ada salah seorang yang bersedia membocorkan rahasia itu demi menyelamatkan nyawanya pun tersenyum lebar.


“Baiklah. Aku menghargai keberanianmu jadi aku akan melepaskanmu tapi untuk rekanmu yang lain. Selamat tinggal!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang berubah dingin dengan tatapan mata yang tajam.


Laura yang tidak ingin ada seorangpun yang ingat dan menjadi saksi mata akan kekuatan yang ingin disembunyikannya pun membuat lima dari enam orang penjahat karena kehabisan nafas.


Kelima Penjahat yang awalnya kesulitan bernafas pun akhirnya berlutut dan tanpa bisa mengeluarkan suara kelimanya pun terbaring tanpa nyawa dengan mata dan mulut yang terbuka lebar


Satu orang Penjahat yang tersisa pun akhirnya bisa bernafas kembali dengan bebas tapi saat melihat kelima rekannya mati dalam kondisi yang mengenaskan membuat Penjahat yang masih hidup mengubah wajahnya menjadi biru.


"Kau adalah orang yang tersisa! Jika kau tidak mengatakan yang sejujurnya yang aku tanyakan jika tidak maka aku akan membuatmu merasakan rasa sakit yang tak terhingga!" sindir Laura dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang dingin.


Laura yang ingin mengintrogasi satu-satunya penjahat yang bertahan pun melangkahkan kakinya maju ke depan dan membiarkan penjahat tersebut bernafas untuk sementara waktu.


"Sekarang katakan padaku! Siapa orang yang telah mengirimmu kemari untuk menyerangku?" tanya Laura dengan pandangan mata yang penasaran.


“A-aku tidak tau siapa orangnya da-dan ka-kami pun tidak pernah menanyakan identitas o-orang yang membayar kami ta-tapi wanita itu me-memiliki rambut berwarna perak dan mata be-berwarna merah muda!” ucap Penjahat tersebut dengan suara yang gagap dengan tubuh yang bergetar ketakutan.


Laura yang bisa mengenali orang yang dimaksud hanya dengan sedikit deskripsi itu pun terdiam dan mengangkat tangannya memberikan kode kepada Rika untuk melakukan tugas terakhirnya.


#Bersambung#


Siapakah orang yang dimaksud? Apa yang akan dilakukan Laura kepada orang yang mencoba mencelakainya? Tebak di kolom komentar ya...