
Laura yang berpikir jika Pelayan dari Kediaman Wilayah akan datang esok hari tidak menyangka akan datang sangat cepat.
“Hmmm, sepertinya Madam Yetti membuat mereka semua datang lebih cepat dari jadwalnya!” ucap Laura yang berdiri di lantai dua melihat Pelayan-Pelayan yang satu per satu turun dari kereta kuda.
Laura yang melihat Tatiana yang turun dari kerete kuda dengan senyum yang ceria dengan ekspresi wajah yang bahagia pun tersenyum sinis.
“Aku tau bahwa kau pasti sangat tidak ingin jauh dari Evans oleh karena itulah aku memanggilmu kemari. Kau pasti sangat senang sekarang tapi kau tidak akan tau hal buruk apa yang akan terjadi nantinya!” ucap Riana dalam hati dengan ekspresi yang dingin dan tatapan mata yang membunuh.
Laura yang tidak ingin dipusingkan terlebih dahulu dengan masalah Tatiana pun bersantai di Taman Bunga yang indah.
Laura yang terus memasang telinganya saat sedang bersantai di Taman pun mengetahui bahwa Evans telah kembali dari Istana Kerajaan.
Di sisi lain, Tatiana yang berpikir jika dirinya dapat bertemu dengan Evans dan melihat wajahnya yang tampan dengan senyum yag lebar pun menjadi sangat terkejut saat melihat kondisi Evans terbaru.
“Apa yang terjadi pada Tuan Count? Apakah ini semua karena wanita j*lang itu?” sindir Tatiana dalam hati dengan ekpsresi wajah yang kesal sambil menggenggam tangannya yang erat saat melihat wajah Evans turun dari kereta kuda pertama kali.
Tatiana yang penasaran dengan yang terjadi pada Evans pun berniat mencari tau dengan hati-hati agar tidak ketahuan.
“Aku harus menemukan alasan Tuan Count menjadi seperti itu dan membantunya karena aku telah berhutang budi kepada Tuan Count jadi aku harus bisa membalasnya!” ucap Tatiana dengan suara yang rendah mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua yang dilakukannya demi kebaikan Evans.
Sementara itu, Evans yang kembali dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal bergegas pergi menuju Ruang Kerjanya.
“George! Ikuti aku!” teriak Evans dengan suara yang lantang dengan mata yang terbuka lebar dengan ekspresi wajah yang marah.
Laura yang menggunakan kekuatan mematai-matainya mendengarkan teriakan Evans pun tersenyum lebar dengan ekspresi wajah yang bahagia yang membuat Rika yang berdiri di sampingnya bertanya.
“Yang Mulia, apakah ada sesuatu yang membuatmu sangat senang?” tanya Rika dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang bingung.
“Evans telah kembali dan saat ini dia sedang marah-marah karena Putra Mahkota Lyod memarahinya dan itu semua disebabkan karena Kakak tidak mau menyetujui Permintaan tidak masuk akal dari Putra Mahkota Lyod!” ucap Laura dengan suara yang ceria.
“Hmmm, perasaanku sedang bagus saat ini. Aku tidak ingin terus berada di Kediaman ini dan bertemu dengan Evans yang sedang frustasi!” ucap Laura dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang sedih sedih.
Rika yang ingat akan perkataan Pelayan Baru pagi tadi kepadanya pun memberikan saran kepada Laura.
“Yang Mulia, bagaimana kalau kita ke Jalanan Bottenheim? Pelayan-pelayan baru itu mengatakan bahwa sore ini sedang ada Festival Musik Jalanan!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang ceria.
“Hmmm, itu ide yang bagus. Kalau begitu, kita harus pergi, Rika!” ucap Laura dengan senyum yang lebar.
Laura yang telah berganti pakaian menjadi lebih sederhana pun meminta George menyiapkan kereta kuda untuknya yang sederhana tanpa Lambang Count Vansfold karena tidak ingin identitasnya diketahui orang lain.
“Nyonya! Keselamatan anda adalah yang utama. Oleh karena itu izinkan ketiga Kesatria pergi bersamamu menikmati Festival!” ucap George dengan ekspresi wajah yang cemas.
Laura yang melihat tiga orang Kesatria yang berdiri di depannya dengan Seragam Kesatria Keluarga Count Vansfold membuat Laura menatap sinis ke arah George.
“Apa kau tidak mengerti ucapanku, George? Aku ingin menyamar menjadi rakyat biasa saat di Jalanan Bottenheim. Aku tidak ingin identitas Bangsawanku diketahui Rakyat disana! Jika aku membawa tiga Kesatria yang berpakaian lengkat seperti ini, apakah menurutmu identitas yang aku sembunyikan tidak akan terbongkar?” ucap Laura dengan tatapan mata yang dingin.
“Nyonya, jika seragam kami masalahnya maka kami akan berganti pakaian dan berbaur menjadi Rakyat Biasa seperti yang anda inginkan!” ucap Kesatria John yang telah pergi bersama Laura sebagai Pengawal beberapa kali.
“Baiklah. Kalian boleh ikut asalkan kalian mengganti pakaian dan menjaga jarak aman denganku. Aku tidak ingin terganggu dengan keberadaan kalian saat menikmati Festival ini!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.
“Baik, Nyonya!” ucap ketiga Kesatria secara bersamaan sambil menundukkan kepalanya dengan sopan di hadapan Laura.
Laura yang tidak peduli pun memasuki kereta kuda bersama Rika dan pergi menuju Jalan Bottenheim dengan ekspresi wajah yang bahagia.
Di sisi lain, Tatiana yang melihat Evans sedang bersedih di balik pintu Ruang Kerjanya dengan menghancurkan beberapa barang membuat Tatiana sedih.
“Tuan Count! Jika saja aku punya kesempatan untuk berada di sisimu dan memberikanmu ketenangan di saat dirimu sedang sedih seperti ini tapi sayang status kita yang sangat berbeda membuat semua itu mustahil!” ucap Tatiana dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedih.
“Tidak! Aku tidak bisa menyerah begitu saja. Aku memiliki wajah yang cantik. Aku yakin bisa menarik perhatian Tuan Count dan menjadi Wanitanya tapi untuk itu aku harus membuat Tuan Count semakin membenci Laura!” ucap Tatiana dalam hati dengan keyakinan penuh.
Laura yang masih belum bisa melepaskan kekesalannya saat dirinya tidak bisa mengikuti Taruhan Pacuan Kuda memutuskan untuk menggunakan sesuatu yang selama ini disembunyikannya dari orang lain.
Tatiana yang merupakan Keturunan dari Penyihir Hitam dapat dengan mudah menggunakan Sihir Hitam saat dirinya sudah dewasa tapi Tatiana yang tidak ingin orang lain tau tentang rahasianya pun memutuskan untuk menyimpan rahasia itu rapat-rapat.
Namun keinginan yang kuat membuat Tatiana ingin bersama dengan Evans membuat Tatiana membuat keputusan besar.
Tatiana yang berniat keluar dari Kediaman Count Vansfold tanpa ada yang merasa curiga padanya pun memutuskan untuk membuat sandiwara yang besar.
Tatiana yang ingin menggunakan alasan sakit agar bisa menyelinap keluar pun memutuskan meminta bantuan temannya.
“Tatiana, ada apa? Kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya seorang Pelayan Wanita Muda dengan ekspresi wajah yang cemas.
“Sepertinya aku mengalami masalah dengan mabuk perjalanan. Kepalaku terasa sangat pusing dan perutku pun mual sekali. Bisakah kau membantuku untuk meminta izin kepada Tuan George dan menggantikanku hari ini?” ucap Tatiana dengan ekspresi wajah yang sedih sambil mengeluarkan sejumlah uang sebagai imbalan.
“Jangan khawatir. serahkan saja semuanya padaku!” ucap Pelayan Wanita itu dengan penuh semangat dan dengan cepat menyimpan uang yang diberikan Tatiana kepadanya.
Tatiana yang telah berhasil mendapatkan keinginannya pun meletakkan bantal guling di tengah-tengah tempat tidur lalu meletakkan selimut besar untuk menutupi bantal guling tersebut.
Tatiana yang telah memakai jubah hitam yang panjang hingga menutupi kepalanya pun bergerak pergi menyelinap keluar menuju Jalan Bottenheim.
Tatiana yang tidak ingin keduluan Laura pun pergi ke sebuah Guild lalu menggunakan Sihir Hitamnya untuk memanipulasi pikiran orang-orang untuk mencegah Laura sampai di Jalan Bottenheim.
”Dengan begini Laura pasti akan mendapatkan masalah selama perjalanan dan sekarang aku tinggal sentuhan terakhir!" ucap Tatiana dengan senyum yang lebar saat melihat lambang Keluarga Baron Vernon tak jauh dari Guild.
#Bersambung#
Apa yang direncanakan Tatiana? Apakah Tatiana akan berhasil membuat Laura dalam masalah? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya..