The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 78. Meninggalkan Kediaman Count



Laura yang pergi meninggalkan Kediaman Count Vansfold bersama Pangeran Mahkota Richard menatap Evans yang langsung berubah pucat setelah pengumuman bahwa dirinya meminta cerai.


"Hmmm, ini baru permulaannya Evans. Aku akan membuatmu hancur bersama wanitamu itu!" ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam di dalam pelukan Pangeran Mahkota Richard.


Pangeran Mahkota Richard yang tau jika semua yang terjadi adalah rencana Laura tetap merasa sangat cemas dan khawatir kepada Laura sehingga Pangeran Mahkota Richard bergerak cepat memerintahkan Kesatria dan Penyihir untuk segera pergi meninggal Kediaman tersebut.


“Tinggalkan tempat ini!” teriak Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang lantang tanpa menoleh ke belakang sambil merangkul pinggang Laura.


Evans yang tidak bisa membiarkan Laura pergi meninggalkan Kediamannya begitu saja setelah masalah muncul di antara keduanya pun dengan cepat memberikan perintah kepada Kesatria Keluarga Count Vansfold.


“Laura! Kau tidak bisa pergi dari sini! Kau adalah Countess Vansfold dan kau harus tetap ada di sini!” ucap Evans dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang panik.


“Tutup gerbang! Jangan biarkan Laura keluar dari Kediaman ini!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang frustasi.


Laura yang terkejut dengan respon dari Evans yang tidak ingin melepaskan dirinya membuat Laura menjadi khawatir.


Pangeran Mahkota Richard yang tidak merasa takut sama sekali dengan ancaman dari Evans pun menoleh ke arah Ajudan Mies.


“Yang Mulia tidak perlu khawatir, semuanya telah siap!” ucap Ajudan Mies dengan ekspresi wajah yang percaya diri dengan senyum yang kecil.


Ajudan Mies yang memimpin jalan dengan cepat memberikan perintah kepada Kesatria dan Penyihir dari Kekaisaran Glorious untuk membuka jalan untuk Laura meninggalkan Kediaman Count Vansfold.


Satu per satu, Kesatria yang dimiliki Evans tumbang dan jatuh ke tanah hanya dengan satu pukulan dari Kesatria Kekaisaran Glorious dan gerbang yang tertutup rapat ternyata dapat dengan dibuka oleh Penyihir Kekaisaran Glorious tanpa menghancurkannya hingga akhirnya membuat Laura dan Pangeran Mahkota Richard dapat meninggalkan Kediaman itu tanpa halangan yang berarti.


Laura yang telah berada di dalam kereta kuda bersama Pangeran Mahkota Richard pun akhirnya bisa merasa lega tapi perasaan canggung muncul di antara dirinya dan Pangeran Mahkota Richard.


“Kakak! Apakah ada sesuatu di wajahku?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang penasaran.


“Tidak! Tidak ada! Kau terlihat cantik seperti biasanya kecuali matamu yang bengkak itu!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan tatapan mata yang khawatir.


“Agh! Ini... Hehehe... Aku harus menangis di ruangan itu jika tidak maka tidak akan ada yang merasa pilu dengan kondisiku!” ucap Laura dengan senyum yang kaku dengan ekspresi wajah yang canggung.


“Kakak tidak mempermasalahkan hal itu. Kakak hanya... khawatir padamu. Apakah kau... baik-baik saja?” tanya Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang terputus-putus.


Laura yang mendengar pertanyaan Pangeran Mahkota Richard merasakan kehangatan di dalam hatinya dan perasaan bahagia itu pun tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


“Aku baik-baik saja, Kak! Sungguh! Aku... Aku sekarang merasa sangat lega karena akhirnya bisa lepas dari hubungan yang negatif ini meskipun belum sepenuhnya lepas tapi ini adalah awalnya, bukan?” tanya Laura dengan senyum yang menenangkan dengan ekspresi wajah yang bahagia.


“Benar! Ini adalah awal yang baik dan jangan khawatir. Kau tidak sendiri. Kakak dan semua orang ada di sisimu jadi jangan menyerah!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang serius sambil menggenggam tangan Laura memberikan kekuatan kepada Laura untuk tetap berjuang hingga akhir.


“Ehm! Pasti, Kak!” ucap Laura sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan dengan senyum yang lebar.


Sementara itu, Evans yang ikut menyusul Laura setelah mengganti pakaiannya menjadi sangat marah saat melihat Laura berhasil keluar dan tak ada seorangpun yang bisa mencegahnya pergi.


“Aaarrgghhh! Dasar bodoh! Bagaimana bisa kalian tidak bisa menahan seorang wanita untuk tidak pergi dari Kediaman ini?” teriak Evans dengan suara yang lantang dengan mata yang terbuka lebar dengan ekspresi wajah yang marah.


Di tempat yang berbeda, George yang menyadari bahwa Evans sangat marah saat ini dengan cepat membubarkan Pelayan dan mendisiplinkan semuanya.


Evans yang menyadari bahwa Tatiana yang menjadi sumber masalahnya masih berada di dalam kamarnya itu menjadi semakin kesal.


“George!” teriak Evans dengan suara yang lantang dengan penekanan di setiap katanya dengan mata yang terbuka lebar menahan amarahnya.


“Kenapa wanita rendahan ini masih ada di sini? Kurung dia di dalam Ruang Bawah Tanah! Beraninya dia menaiki ranjangku!” ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang dingin.


Tatiana yang tidak pernah melihat sisi gelap dari Evans apalagi mendengar Evans berteriak kepadanya menjadi sangat takut hingga membuat tubuhnya tanpa sadar bergetar ketakutan.


Tatiana yang terkejut karena perubahan sikap Evans secara drastis tidak bisa berpikir jernih sehingga dapat dengan mudah ditarik oleh Kesatria menuju Ruang Bawah Tanah.


Evans yang tidak bisa diam saja menunggu Laura memasukkan berkas perceraian ke Pengadilan Kerajaan dengan cepat memanggil George ke ruang kerja.


“Apa anda memanggil saya, Tuan?” tanya George dengan kepala tertunduk dengan sikap yang sopan.


“Cari tau keberadaan Laura. Lakukan apapun yang bisa kau lakukan dan aku ingin informasi itu segera!” ucap Evans dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.


“Baik, Tuan. Saya akan segera kembali!” ucap George yang berbalik arah dan pergi meninggalkan ruangan kerja Evans.


Evans yang berada di ruang kerjanya sendirian pun memikirkan ulang semua yang terjadi padanya semalam.


“Sial! Bagaimana bisa aku salah mengenali orang? Lalu kenapa juga Laura datang ke kamarku pagi-pagi sekali?” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang marah sambil menghempaskan semua berkas yang ada di meja kerjanya ke lantai.


Sementara itu, Laura yang telah bergerak dengan kecepatan yang tinggi akhirnya berhenti di sebuah tempat dengan bangunan yang sangat mewah dan megah di tengah Ibukota.


“Laura! Kau akan tinggal di sini sementara waktu dan jangan khawatirkan masalah perceraianmu! Kakak yang akan mengurus semuanya!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan tekad yang kuat sambil mengelus kepala Laura dengan lembut.


“Terima kasih, Kak!” ucap Laura dengan sangat patuh serta senyum yang lebar dengan wajah yang bahagia.


“Jaga Kediaman ini dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam! Tak seorangpun tanpa seizinku!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan sangat tegas kepada semua Kesatria Kekaisaran Glorious dan juga Penyihir yang dibawanya.


Laura yang hampir melupakan sesuatu hal yang sangat penting untuk menghancurkan Evans bergegas memanggil Master Noel tepat setelah dirinya sampai di Kediaman yang disiapkan oleh Pangeran Mahkota Richard untuknya tinggal sementara waktu.


“Katakan perintahmu, Yang Mulia!” ucap Master Noel dengan satu tangan di dada dengan kepala tertunduk ke bawah.


“Kirimkan pesanku ini kepada Pangeran Ketiaga Edward di Kantor Surat Kabar Highlight! Katakan padanya untuk melakukan seperti yang tertulis di sana!” ucap Laura dengan senyum yang lebar.


“Baik, Yang Mulia!” ucap Master Noel yang dalam sekejap mata menghilang dari pandangan Laura.


Laura yang akhirnya bisa merasa lega pun terbaring di tempat tidur dan tanpa sadar terlelap dalam tidurnya tanpa menyadari kekacauan yang telah dibuatnya.


#Bersambung#


Masalah dan kekacauan apa yang disebabkan oleh tindakan Laura? Apa yang akan dilakukan Pangeran Mahkota Richard? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..