
Evans yang telah selesai melakukan transaksi dengan Viscount Ballaguisse di Guild Bulan Merah secara tiba-tiba kedatangan Komandan Cassis.
"Tuan Count gawat! Kediaman Count Vansfold hangus terbakar. Banyak sekali Kesatria dan Pelayan yang meninggal karena terbakar dan lebih dari lima puluh orang terluka dalam kejadian itu!" ucap Komandan Cassis dengan suara yang terburu-buru dengan ekspresi wajah yang cemas.
"Apa? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kita kembali sekarang!" ucap Evans dengan suara yang tegas dan wajah yang serius sambil memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk kembali.
Viscount Ballaguisse yang mendapatkan kabar dari Carl setelah mencuri dengar dari percakapan Evans dan Komandannya itu pun tersenyum bahagia.
"Hmmm, ini pasti adalah pekerjaan Yang Mulia Putri. Yang Mulia Putri sungguh sangat tau cara membuat orang hancur sehancur-hancurnya!" ucap Viscount Ballaguisse dengan senyum yang licik.
"Kirim pesanku pada Pangeran Kedua Illion! Aku rasa Pangeran Illion pasti akan senang mendengar berita ini!" ucap Vaiscount Ballaguisse setelah menulis surat untuk Pangeran Kedua Illion.
Di saat bersamaan, Baron Vernon yang ikut terkejut saat mendengar kabar yang sangat mengejutkan dari Ajudannya itu segera membuat perintah khusus.
"Apa kau yakin Kediaman Count Vansfold terbakar? Bagaimana dengan Tatiana dan Pewarisku? Apakah mereka berdua selamat? Apakah mereka mendapatkan luka?" tanya Baron Vernon dengan wajah yang penasaran dan tatapan mata yang khawatir.
"Maafkan saya, Tuan. Saya terbatas akan informasi tersebut!" ucap Ajudan Paul dengan ekspresi wajah yang sedih dan menyesal.
"Bodoh! Tidak berguna!" ucap Baron Vernon dengan ekspresi wajah yang kesal sambil melemparkan beberapa berkas ke wajah Ajudan Paul.
"Perintahkan Kesatria Kediaman ini untuk bersiap. Kita harus ke Kediaman Count Vansfold. Aku harus mengetahui kondisi Tatiana dan Pewarisku!" ucap Baron Vernon dengan suara yang tegas.
Baron Vernon yang khawatir akan keselamatan Pewaris yang telah ditunggunya selama ini bergegas pergi ke Kediaman Count Vansfold yang telah hangus terbakar dengan membayar menggunakan Portal Sihir Teleportasi.
Sementara itu, Pangeran Kedua Illion yang sedang duduk bersantai sambil minum teh bersama Pangeran Ketiga Edward secara mendadak kedatangan Carl.
"Ada apa? Apakah ada hal penting yang terjadi?" tanya Pangeran Kedua Illion yang dengan suara yang tegas dan ekspresi wajah yang serius.
Carl yang hanya mendapatkan pesan untuk memberitau informasi ini hanya kepada Pangeran Kedua Illion dengan cepat membisikkan informasi itu kepada Pangaeran Illion tanpa melihat ke arah Pangeran Edward.
"Apa yang kau katakan itu benar?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.
"Ya, Yang Mulia. Saya mendengar perbincangan itu saat Komandan Cassis memberikan laporan kepada Tuan Count!" ucap Carl dengan ekspresi wajah yang serius.
"Saya juga telah mengintip ke Kediaman Count Vansfold yang terbakar dan saya mendengar Pelayan yang selamat berkata bahwa Countess yang membakar Kediaman itu dengan Api berwarna Hitam!" ucap carl dengan percaya diri.
"Aku mengerti. Kalau begitu kirimkan surat wilayah yang dijual oleh Tuan Count kepada Laura. Aku ingin dia mendapatkan semua yang harusnya dimilikinya!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang tegas.
"Baik. Yang Mulia!" ucap Carl dengan patuh sambil menundukkan kdpalanya dan dalam hitungan detik telah menghilang dari hadapan Pangeran kedua Illion.
Pangeran Ketiga Edward yang menyadari arti dari tatapan Pangeran Kedua Illion padanya segera memanggil Ajudan Frans yang sedang menunggu di luar ruangan Pangeran Kedua Illion.
"Apa yang bisa saya bantu, Yang Mulia?" ucap Ajudan Frans yang muncul di hadapan Pangeran Ketiga Esward sambil menundukkan kepalanya.
"Kak, katakan saja perintahmu. Frans akan melakukannya dengan sangat baik!" ucap Pangeran Ketiga Edward dengan senyum yang lembut.
"Kalau begitu, aku ingin kau menyebarkan berita tentang Kediaman Count Vansfold yang terbakar dan pelakunya adalah Countess Vansfold yang baru yang merupakan Keturunan Penyihir Hitam!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang tegas.
"Baik, Yang Mulia!" ucap Ajudan Frans dengan kepala tertunduk lalu berjalan mundur dan menghilang dari hadapak Pangeran Kedua Illion dan Pangeran Ketiga Edward.
"Pe-Penyihir hitam? Apa kau serius Kak?" tanya Pangeran Ketiga edward dengan wajah yang terkejut dan mata yang terbuka sangat lebar.
"Tentu saja. Hanya Penyihir Hitam yang bisa mengeluarkan Api Hitam!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan percaya diri.
"Aku harus pergi sekarang. Kakak serahkan masalah ini di Istana padamu!" ucap Pangeran Kedua Illion yang dengan cepat memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
"Tu-tunggu! Kakak, kau mau kemana?" tanya Pangeran Ketiga Edward dengan ekspresi wajah yang penasaran tapi ditinggal begitu saja oleh Pangeran Kedua Illion tanpa jawaban.
"Hah! Kakak pasti ingin bertemu dengan Putri Laura dan mencari perhatiannya terutama pada masalah ini! Hmmm, biarkanlah. Lagipula aku menyukai Putri Laura untuk menjadi Kakak Iparku!" ucap Pangeran ketiga Edward sambil tersenyum bahagia.
Ajudan Frans yang melakukan perintah yang diberikan padanya dengan sangat cepat sehingga dalam hitungan setengah jam seluruh orang yang tinggal di Ibukota sudah mendengar kabar yang sangat mengejutkan itu.
Raja Jonathan IV yang tak tau apapun langsung menjadi sangat terkejut dan marah saat Ajudannya Harold menyampailkan pesan mengenai tuntutan Rakyatnya yang berdemo di depan Istana Kerajaan.
"Yang Mulia gawat! Rakyat yang ada di Ibukota saat ini sedang berdemo di depan Istana Kerajaan!" ucap Ajudan Harold sambil berlari ke hadapan Raja Jonathan IV dengan nada nafas yang tak beraturan.
"Apa yang terjadi? Kenapa Rakyat Kerajaan ini datang dan melakukan kerusuhan di depan Istana?" tanya Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang marah.
"Ada berita bahwa Kediaman Count Vansfold hangus terkabar dan orang yang melakukan itu adalah Countess Vansfold yang dikabarkan keturunan Penyihir Hitam!" ucap Ajudan Harold dengan ekspresi wajah yang serius.
"Penyihir Hitam? Ternyata pembersihan itu tidak sepenuhnya bersih." ucap Raja Jonathan yang mulai tenang dengan ekspresi wajah yang seolah sedang berpikir.
"Aku ingin kau selidiki masalah ini. Dapatkan bukti nyatanya. Aku ingin jawabannya dalam waktu setengah hari!" ucap Raja Jonathan dengan nada suara yang tegas.
"Baik, Yang Mulia!" ucap Ajudan Harold sambil menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara itu, Rika yang lagi dan lagi mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan bergegas menemui Laura dengan nafas yang tidak beraturan.
"Yang Mulia, saat ini seluruh Rakyat Kerajaan Hentallius sudah mengetahui bahwa Kediaman Count Vansfold terbakar oleh Api Hitam yang dibuat oleh Countess Vansfold yang merupakan keturunan Penyihir Hitam!" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang serius dengan nada suara yang penuh antusias.
"Benarkah? Sepertinya aku mendapatkan bantuan dari Illion lagi kali ini dan sepertinya aku harus mengundangnya makan malam bersama sebagai ucapan terima kasih!" ucap Laura dengan wajah yang bahagia.
Di saat Laura sedang mengatakan yang ada di dalam pikirannya secara tiba-tiba seorang pria dengan jubah hitam muncul di belakang Laura.
Rika yang terkejut dengan kehadiran seseorang yang tidak diundang bergegas berdiri di depan Laura menghalangi semua bahaya yang datang.
"Siapa kau? Beraninya kau masuk ke Kediaman ini! Apa kau tidak tau siapa yang kau lawan?" teriak Rika dengan ekspresi wajah yang marah dan sikap yang waspada tapi hanya dibalas dengan senyum kecil di wajah pria berjubah hitam itu.
#Bersambung#
Siapakah orang yang berjubah hitam tersebut? Apa tujuan kedatangan orang itu menemui Laura? Tebak jawabannya di Bab selanjutnya ya..