The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 134. Perangkap



Permaisuri Ericka yang tidak percaya jika Putranya meninggal karena dibunuh oleh Hewan Buas dan juga Perampok Hutan pun memulai penyelidikan mandiri.


Permaisuri Ericka yang meminta Keluarganya melakukan itu pun akhirnya mendapatkan sebuah informasi yang mengejutkan.


"Suara berisik apa itu? Cepat cari tau sumbernya!" perintah Permaisuri Ericka yang mendengar ada suara kecil yang mengetuk jendela kamarnya.


"Yang Mulia, ada seekor merpati putih kecil mengetuk jendela kamar anda!" teriak seorang pelayan dengan wajah yang polos.


"Merpati?" tanya Permaisuri Ericka yang bingung lalu berjalan ke jendela dan melihat sebuah kertas kecil yang diikat di kaki merpati tersebut.


"Bawa merpati putih itu padaku dan semuanya keluar!" ucap Permaisuri Ericka yang merubah wajahnya menjadi serius dengan tatapan mata yang tajam.


"Ini adalah lambang keluarga Kerajaan! Apakah orang yang membunuh Putraku merupakan Keluarga Kerajaan? Siapa?" tanya Permaisuri Ericka yang bingung lalu membakar kertas itu di perapian.


Permaisuri Ericka yang melihat sebuah ilusi gambar Raja Jonathan IV pada kertas yang dibakar langsung mundur beberapa langkah dan menjadi sangat terkejut.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Yang Mulia tidak mungkin melakukan itu!" ucap Permaisuri Ericka dengan nada suara dan mimik wajah tak percaya dengan yang dilihatnya.


Tak lama setelah pesan itu diterima, seorang Pelayan mengetuk pintu kamar Permaisuri Ericka dan menyampaikan pesan bahwa Kepala Keluarga Duke Sevantei meminta bertemu.


"Ayah! Persilahkan dia masuk!" perintah Permaisuri Ericka dengan ekspresi wajah yang berubah serius dan nada suara yang tegas.


"Salam kepada Permaisuri! Semoga Yang Mulia Bahagia dan selalu sehat!" ucap Duke Sevantei dengan sikap yang sopan sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Ayah! Apa yang kau lakukan? Kau bisa tidak melakukan itu karena bagaimanapun aku tetaplah Putrimu!" ucap Permaisuri Ericka dengan ekspresi wajah yang sedih yang langsung dipeluk oleh Duke Sevantei.


Semua Pelayan yang menyadari tempatnya pun pergi meninggalkan tempat tersebut dan membiarkan Permaisuri Ericka bersama Duke Sevantei.


"Itu adalah informasi yang Ayah dapatkan dari Guild Bulan Merah yang menjadi Informan terbaik di Kerajaan ini!" ucap Duke Sevantei dengan wajah yang serius setelah menenangkan Permaisuri Ericka dari kesedihannya.


"Jadi Pembunuh dari Putraku merupakan Anggita Keluarga Kerajaan Hentallius?" tanya Permaisuri Ericka dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Benar! Jika informasi ini tidak salah maka Pembunuhnya adalah Yang Mulia Raja itu sendiri!" ucap Duke Sevantei dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Tidak mungkin! Lyod adalah Putranya sendiri! Bagaimana mungkin Yang Mulia melakukan itu pada Putranya sendiri, darah dan dagingnya sendiri?" tanya Permaisuri Ericka dengan wajah yang terkejut.


"Itu mungkin saja terjadi karena Yang Mulia Raja pun membunuh saudara-saudaranya untuk bisa naik ke posisi ini!" ucap Duke Sevantei dengan wajah yang menyesal.


"Duke Balmon melakukan kesalahan yang sangat fatal di masa lalu hingga hampir menyebabkan Perang antara Kerajaan Hentallius dan Kekaisaran Glorious!" ucap Duke Sevantei dengan nada suara yang datar.


"Yang Mulia Raja menurunkan statusnya karena masih mengasihani Duke Balmon yang merupakan Putra Kandungnya tapi kejahatan Duke Balmon tak bisa ditutup hanya dengan menutup mata!" ucap Duke Sevantei sambil menarik nafas panjang.


"Yang Mulia Raja harus melakukan sesuatu untuk membuat Duke Balmon membayar kejahatannya tapi tidak membuatnya kehilangan harga diri sebagai Keluarga Kerajaan!" ucap Duke Sevantei dengan wajah yang kecewa.


Permaisuri ericka yang terkejut dan tak percaya dengan informasi yang diterimanya pun terdiam di tempatnya dengan perasaan yang bergejolak di hati dan pikirannya.


Sementara itu, Pangeran Kedua Illion yang sedang duduk di ruang kerjanya di Istana miliknya pun sedang mendengarkan laporan dari Viscount Ballaguisse.


"Yang Mulia, informasi yang anda ingin serahkan telah diberikan kepada Yang Mulia Permaisuri Ericka. Saat ini beliau pasti sedang sangat terguncang!" ucap Viscount Ballaguisse dengan senyum yang lebar.


"Bagus! Sekarang adalah saatnya bagi Permaisuri Kerajaan ini yang menerima hukuman dari perbuatannya, wil!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang licik.


Ibu Pangeran Kedua adalah Selir kesayangan Raja yang yang berasal dari Keluarga Bangsawan Viscount Ballaguisse tapi kecemburuan Permaisuri yang tak ingin cinta dari Raja terbagi pun menyusun rencana untuk melenyapkan Ibu dari Pangeran Kedua Illion.


Pangeran Kedua Illion yang mengetahui itu sejak lama sudah sangat ingin membalaskan dendamnya sehingga saat jalan untuk balas dendam ada di depan matanya membuat Pangeran Kedua Illion tak ingin melepaskan kesempatan emas tersebut.


"Aku ingin Permaisuri Ericka membunuh suami yang sangat dicintainya dengan tangannya sendiri! Aku ingin dia menghancurkan orang yang sangat diinginkannya dengan tangannya sendiri!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan suara yang tegas.


"Ayah yang pilih kasih dan Ayah yang tak bisa melindungi Putranya yang lain tak pantas menjadi Ayah!" ucap Pangeran Kedua Illion yang mengingat masa kecilnya yang sangat berat setelah kematian Ibunya dan tanpa dukungan dari Ayahnya yang seorang Raja.


"Tak ada yang bisa diberikannya selain Tahtanya tapi sepertinya hal itu akan sulit sekali terjadi karena dirinya masih memikirkan Mantan Putra Mahkota yang telah tiada maka aku akan membantunya membuat keputusan dengan cepat!" ucap Pangeran Kedua illion dengan tatapan mata yang tajam.


Viscount Ballaguisse yang mendapatkan perintah khusus pun berjalan mundur dan melakukan seperti yang dikatakan oleh Pangeran Kedua Illion.


Di saat yang sama, Laura yang mendapatkan kabar bahwa hukuman dari Evans dan Tatiana telah ditetapkan meminta bantuan Pangeran Kedua untuk untuk bisa memasuki Penjara Istana agar bisa bicara dengan Evans dan Tatiana.


"Terima kasih untuk bantuannya Yang Mulia!" ucap Laura dengan sopan sambil menundukkan kepalanya lalu menjadi terkejut karena Pangeran Kedua Illion berjarak terlalu dekat dengannya.


"Kenapa kau terus menyebut Yang Mulai terus? Bukankah status kita sama sekarang? Tolong panggil aku Illion!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lembut yang terlihat sangat tampan di mata Laura.


"Ya-Yang... Hmmm, I-illion! Illion!" ucap Laura yang mengalihkan pandangannya karena tak tahan dengan ketampanan Pangeran Kedua Illion dengan wajah yang memerah karena malu.


"Ini lebih baik. Ayo kita masuk! Aku akan mengantarmu ke dalam!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan sangat sopan lalu mengulurkan tangan ingin memandu Laura.


Laura yang menerima uluran tangan itu menjadi terkejut karena Pangeran Kedua Ilion mencium punggung tangannya dengan wajahnya yang tampan.


Laura yang berjalan berdampingan dengan Pangeran Kedua Illion pun merasa jantungnya berdetak sangat cepat dan wajahnya pun menjadi semakin merah.


"Kita sudah sampai. Count Vansfold dan wanita j*lang itu di Penjara di dalam. Aku akan menunggu disini. Berteriaklah jika terjadi sesuatu! Aku akan segera datang menolongmu!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan wajah yang cemas sambil menggenggam


"Te-terima kasih! Aku akan menemui mereka dulu!" ucap Laura yang buru-buru meninggalkan Pangeran Kedua Illion karena merasa tidak nyaman.


Laura yang berjalan menyusuri lorong Penjara pun mencium bau yang sangat tidak sedap sehingga membuat Laura harus membersihkan udara yang ada di sekitarnya.


"Hah! Ini lebih baik! Jika tidak mungkin aku akan merasakan sesak nafas karena bau yang sangat busuk ini!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang lega.


Laura yang meneruskan perjalanannya pun melihat Evans yang sedang terduduk bersandar di dinding di samping Sel Penjaranya.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah kau menyukai tempat ini, Evans?" tanya Laura yang berjalan dengan sangat anggun dengan senyum yang lembut.


Evans yang melihat Laura yang menjadi penyesalannya itu menjadi sangat senang dan secara tak terduga sebuah harapan kecil muncul di hati kecil Evans.


"Laura! Laura! Apakah kau Laura? Aku sudah kau pasti akan datang untuk menemuiku!" ucap Evans dengan wajah yang sangat antusias.


"Benar! Ini aku, Laura Raynor Glorious! Putri Kekaisaran Glorious!" ucap Laura dengan penuh percaya diri dengan senyum yang lebar.


Evans yang mendengar perkataan Laura pun menjadi goyah tapi sedikit harapan di hatinya membuat Evans menyangkal kenyataan.


"Kau tidak akan percaya dengan ucapan orang-orang tentangku, bukan? Aku sungguh tak tau jika wanita j*lang itu adalah Penyihir Hitam! Aku sungguh tidak tau apapun!" ucap Evans dengan suara yang lantang dengan tatapan mata yang menunjukkan kesungguhan.


"Aku percaya padamu. Kau sungguh tak tau apapun dan kau memang tidak bersalah dalam hal ini karena semuanya adalah rencanaku! Akulah yang membuat semua ini terjadi!" ucap Laura dengan senyum yang licik.


"Aku tau jika wanita itu adalah Penyihir Hitam dan aku pun yang membuat wanita itu menunjukkan identitas aslinya lalu membuatmu berada di sini!" ucap Laura lagi yang membuat Evana menjadi sangat terkejut.


"Tidak! Itu tidak mungkin! Kau tak mungkin melakukan itu padaku! Kau sangat mencintaiku! Kau tak akan melakukan itu!" ucap Evans dengan wajah yang terguncang.


#Bersambung#


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Permaisuri Ericka masuk ke dalam perangkap Pangeran Kedua Illion? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..