
Laura yang telah membalaskan dendamnya di masa lalu dan telah menghilangkan ancaman yang akan menjadi musuh Kekaisaran Glorious di masa depan pun merasa lega.
"Setelah kembali ke masa lalu, hidupku didedikasikan untuk membalas dendam dan sekarang semuanya telah selesai!" ucap Laura dalam hati sambil menikmati teh di Taman Bunga yang sangat indah.
"Sekarang aku bisa hidup untuk diriku sendiri!" ucap Laura lagi dengan senyum yang lebar sambil memegang cangkir yang ada di tangannya dengan erat.
Laura yang terdiam melihat suasana yang sangat tenang dan cuaca yang cerah pun memutuskan untuk berjalan-jalan.
"Rika! Siapkan kereta kuda! Kita akan pergi berbelanja!" ucap Laura dengan suara yang lantang dengan wajah yang gembira.
Tak butuh waktu lama, hanya dalam waktu setengah jam, Laura pun telah sampai di jalanan utama Ibukota.
Laura yang telah menjadi Nona Muda yang sangat kaya raya pun membahagiakan dirinya sendiri dengan pergi berbelanja.
"Ti-tidak, Yang Mulia! Saya tidak menginginkan apapun!" ucap Rika dengan wajah yang panik karena Laura memberikannya banyak sekali gaun yang indah dan mahal.
"Kau tidak menginginkan apapun tapi aku ingin memberikanmu apapun, Rika! Tolong! Tolong jangan tolak niat baikku!” ucap Laura dengan senyum yang lembut sambil menggenggam tangan Rika dengan erat.
“Yang Mulia...! Lakukan apapun yang Yang Mulia inginkan!” ucap Rika yang terharu dengan wajah yang ingin menangis.
Laura yang mendapatkan persetujuan Rika pun membeli semua yang indah untuk Rika tanpa berpikir dua kali.
Laura yang sangat percaya pada Rika pun ingin mengubah Rika yang di mata orang lain sebagai Pelayan Pribadinya menjadi tangan kanannya.
Laura yang merasa sangat lelah karena belanja tak hanya untuk dirinya sendiri pun pergi ke kafe terdekat sambil menunggu butik yang dimasukinya membungkus semua yang telah dibelinya.
Laura yang sangat menyukai makanan dan minuman yang manis pun tidak berpikir dua kali untuk membeli dessert yang ada di kafe tersebut.
“Hmmm, kue ini sangat enak dan lembut Yang Mulia! Aku tak akan penah bisa memakan ini jika tidak karena Yang Mulia!” ucap Rika dengan wajah yang bahagia dengan mulut yang dipenuhi dengan kue.
“Jika kau menyukainya maka jangan sungkan untuk menghabiskan semuanya!” ucap Laura dengan senyum yang lembut.
Di saat Laura dan Rika sedang memakan kuenya tiba-tiba terdengar suara beberapa Nona Muda yang berasal dari Keluarga Bangsawan bergosip.
“Hmmm, aku tidak menyangka jika dalam waktu dua tahun telah banyak sekali yang terjadi di Ibukota dan Keluarga Kerajaan!”
“Yang kau katakan itu benar sekali. Siapa yang sangat ternyata Putra Mahkota Lyod akan diturunkan posisinya lalu meninggal dibunuh oleh Perampok!”
“Hah, yang lebih mengejutkannya adalah Count Vansfold yang merupakan pendukung utama Putra Mahkota Lyod bahkan berselingkuh dengan Penyihir Hitam hingga menyebabkan seluruh Kerajaan panik!”
“Mantan Permaisuri pun merencanakan Pemberontakan dan bahkan meracuni Yang Mulia Raja sekarang! Hmmm, sungguh mengejutkan sekali!”
“Pangeran Kedua yang tak pernah terpikirkan akan mewarisi Tahta Kerajaan, sekarang menjadi Pangeran yang paling menjanjikan untuk posisi itu!”
“Saat ini Pangeran Kedua telah menjadi Pria yang memiliki potensi paling tinggi menjadi Suami Idaman Nona Muda dari seluruh Keluarga Bangsawan!”
“Hmmm, bahkan telah banyak sekali Nona Muda yang memesan Gaun Khusus untuk Perjamuan nanti yang akan diadakan di Istana Kerajaan!”
“Aku jadi penasaran siapa yang akan menjadi pendamping Pangeran Kedua nantinya!”
Laura yang diam-dima mendengarkan perbincangan Nona-Nona Bangsawan pun terdiam dan memikirkan pernyataan cinta dari Pangeran Kedua Illion padanya.
“Aku tidak ingin terluka lagi karena pria jadi aku ingin menjaga hatiku untuk diriku sendiri!” ucap Laura dengan wajah yang sedih sambil menggenggam gaunnya dengan sangat erat.
Rika yang juga mendengar perkataan Nona Bangsawan yang sedang bergosip tentang Pangeran Kedua Illion pun merasa sangat khawatir pada Laura yang cukup dekat dengan Pangeran Kedua Illion.
“Yang Mulia... Apakah kau...” ucap Rika yang ingin bertanya tentang kondisi Laura yang langsung dihentikan Laura.
“Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir. Hmm, aku merasa sangat lelah. Apakah kita bisa pulang sekarang?” tanya Laura dengan wajah yang canggung dengan senyum yang kaku.
“Agh, tentu Yang Mulia. Aku akan segera meminta Pelayan untuk membawakan beberapa kue untuk dibawa pulang.” Ucap Rika yang bergegas berdiri dan pergi menuju ke Pelayan terdekat.
Laura yang terpikirkan semua yang dikatakan oleh Nona Bangsawan pun menjadi orang pendiam tak banyak bicara selama perjalanan hingga membuat Rika cemas.
Rika yang menjadi sangat cemas saat Laura menolak untuk makan menu makan malamya dan hanya berdiam diri di dalam kamarnya pun memutuskan untuk bertanya.
“Yang Mulia, ini Rika. Apakah saya boleh masuk?” tanya Rika dengan nada suara yang pelan dengan etika kesopanan yang tinggi.
“Masuklah! Ada apa Rika?” tanya Laura yang sedang berdiri atas balkon kamarnya memandang langit malam dengan memakai syal yang tebal.
“Yang Mulia ada apa? Kenapa anda hanya diam saja seperti ini? Aku... Aku sangat khawatir padamu Yang Mulia!” ucap Rika dengan suara yang terburu-buru dengan wajah yang cemas.
Laura yang menyadari sikapnya telah membuat orang yang sangat peduli padanya menjadi lemas pun berbalik arah menatap Rika.
“Maaf! Maafkan aku yang telah membuatmu khawatir! Sungguh, aku baik-baik saja!” ucap Laura dengan senyum yang lembut dengan sedikit kilatan kesedihan di sorot mata Laura.
Rika yang menyadari bahwa Laura berbohong padanya untuk membuatnya tidak khawatir menjadi sangat sedih hingga tak bisa menahan air mata yang keluar terus menerus.
“Rika, ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini? Apakah kau terluka?” tanya Laura yang menjadi bingung dan panik.
“Bukan aku yang perlu dikhawatirkan tapi Yang Mulia. Apakah Yang Mulia tidak ingin aku bersama Yang Mulia lagi dan itulah sebabnya Yang Mulia tak ingin mengatakan apapun padaku!” ucap Rika dengan air mata yang tidak berhenti.
“Tidak! Aku hanya sedang bingung pada diriku sendiri dan ini tidak ada hubungannya denganmu! Percayalah padaku! Semuanya baik-baik saja! Jadi sekarang hapus air matamu!” ucap Laura yang menghapus air mata Rika dengan sapu tangan miliknya.
Rika yang sadar jika Laura tak akan mengatakan apapun meski apapun yang terjadi pun menyerah dan berdoa yang terbaik untuk Laura.
Laura yang melihat Rika telah tenang dan sendirian kembali di balkon kamarnya pun menatap bulan yang sangat besar dan indah di langit.
“Kerajaan ini tak sama dengan Kekaisaran Glorious yang menjunjung tinggi kesetiaan!” ucap Laura dengan wajah yang sedih.
“Di sini bahkan Rakyat biasa pun bisa memiliki Istri lebih dari satu bagaimana tidak dengan Seorang Raja yang pastinya akan memiliki Permaisuri, Ratu dan Puluhan Selir!” ucap Laura sambil menarik nafas yang panjang.
“Aku sakit dengan pria-pria seperti itu. Pria yang tak pernah bisa cukup dengan satu wanita!” ucap Laura dengan wajah yang marah mengingat perselingkuhan Evans di masa lalu.
Laura yang berpikir jika cinta yang dimiliki oleh Pangeran Kedua Illion hanyalah kata-kata saja pun memutuskan untuk menutup hatinya.
“Kau adalah Pria yang memiliki masa depan yang bagus. Kau adalah Calon Raja di Kerajaan ini. Kau tidak akan mungkin melepaskan posisi itu untuk bersama denganku di Kekaisaran Glorious!” ucap Laura sambil menarik nafas panjang lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.
#Bersambung#
Apakah Laura sungguh akan menutup hatinya selamanya? Atau akankah Pangeran Kedua Illion bisa membuat Laura membuka hatinya dan percaya pada cintanya? Tebak jawabannya di kolom komentar..