
Ajudan Mies yang datang ke Kediaman Count Vansfold atas permintaan Laura dan Perintah dari Pangeran Mahkota Richard langsung tersenyum sinis saat mendengar perkataan Tatiana dan melihat sikapnya yang seolah telah menjadi Nyonya Kediaman Count Vansfold.
"Dimana Tuan Count? Aku ingin bertemu dengannya sekarang!" teriak Ajudan Mies dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang dingin yang tak peduli dengan keberadaan Tatiana.
Adrian Lopez dan Daniel yang juga ikut bersama Ajudan Mies ke Kediaman Count Vansfold tetap berdiri tegap dengan wajah yang datar seolah menunjukkan keberpihakkan keduanya.
George yang tau jika Evans pasti belum bangun pun mencoba untuk menenangkan Ajudan Mies meskipun sangat sulit.
"Maafkan saya tapi saat ini Tuan Count sedang kurang sehat. Harapan Tuan Ajudan untuk kembali. Saya akan segera mengirimkan surat jika Tuan Count telah membaik!" ucap George dengan sikap yang sangat sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Apakah Seorang Kepala Pelayan berani menentang perintah lain dari Rajanya sendiri sementara menerima perintah yang lain dengan lapang dada!" sindir Ajudan Mies dengan tatapan mata yang sinis ke arah Tatiana yang telah didekorasi seperti boneka hidup.
George yang menyadari maksud ucapan Ajudan Mies tidak bisa menghindar atau mengelak karena bukti telah terlihat di depan mata tapi George yang tak ingin kehilangan posisi dan nyawanya pun semakin merendah.
"Mohon Tuan Ajudan tidak salah paham. Saya sungguh tidak berani. Saya mengatakan yang sebenarnya bahwa Tuan Count sungguh kurang sehat sekarang!" ucap George dengan wajah yang dipertahankan setenang mungkin.
Tatiana yang tak terima diabaikan oleh Ajudan Mies dan juga yang lainnya terutama George yang merupakan Kepala Pelayan Kediaman Count pun menjadi sangat kesal.
"Apa maksudmu dengan perintah lain dari Yang Mulia Raja? Kenapa kau terus memaksa ingin bertemu dengan Tuan Count padahal Kepala Pelayan sudah mengatakan bahwa Tuan Count sedang kurang sehat? Apakah ini hanya alasan untuk Laura agar mau kembali ke Kediaman ini?" tanya Tatiana dengan suara yang lantang dengan kara-kata yang tiada henti diucapkan seolah sedang buru-buru.
Tepat saat Tatiana berteriak dan mengkonfrontasi Ajudan Mies dan yang lainnya, Pelayan yang ada di sekitar langsung bergerak cepat mengintip hingga akhirnya membuat Evans terganggu tidurnya.
"Aarrgghhh! Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi berisik sekali?" tanya Evans dengan suara yang rendah sambil duduk dengan satu tangan menahan tubuhnya dan tangan lain memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
Evans yang merasa sangat kesal karena suara berisik yang sangat keras itu pun menarik bel yang ada di dekat tempat tidurnya tapi tak ada satupun yang datang sehingga membuat Evans tak punya pilihan lain selain keluar dan mencari tau sendiri.
"Hah! Sungguh menyebalkan!" gumam Evans dengan ekspresi wajah yang kesal dengan masih memakai piama malam yang ditutupi dengan jaket tebal.
Sementara itu, Ajuda Mies yang tak terima saat Tatiana menyebut nama Laura dengan sangat mudah padahal dirinya adalah rakyat biasa pun murka.
Ajudan Mies yang tau jika dirinya tak bisa menghajar ataupun memukul wanita pun berjalan dan berdiri di depan Tatiana setelah melewati George.
"Tidak disangka ternyata selera Tuan Count sangat rendah seperti ini! Aku tau kau berasal dari kalangan Rakyat Biasa tapi kupikir kau telah mendapatkan pendidikan menjadi Bangsawan setelah menyebutkan dirimu sebagai Nyonya Muda Kediaman Count Vansfold! Namun kenyataannya hanyalah Seekor Bebek yang bertingkah seperti Seekor Angsa!" ucap Ajudan Mies dengan tatapan mata yang tajam degan aura membunuh yang kuat hingga membuat tubuh Tatiana bergetar ketakutan.
"Sejak Yang Mulia Raja Jonathan Carl Hentallius IV mengambulkan permintaan cerai Countess Vansfold terdahulu karena perselingkuhan Count Vansfold, Countess Vansfold terdahulu telah mengambil gelar yang dimilikinya sebelum menikah yaitu Yang Mulia Putri Kekaisaran Laura Raynor Glorious!" ucap Ajudan Mies dengan suara yang lantang dengan penuh percaya diri.
"Jika kau yang hanya Seorang Gundik dengan status Rakyat Biasa berani hanya menyebut namanya maka apakah kau bisa mengambil tanggungjawab atas penghinaan untuk Keluarga Kekaisaran Glorious dan menarik Kediaman Count Vansfold dalam masalah ini mengingat beberapa saat yang lalu kau memperkenalkan diri sebagai Nyonya Muda Kediaman Count Vansfold?" tanya Ajuda Mies dengan senyum licik di sudut bibirnya.
Di saat yang hampir bersamaan, Evans yang keluar menuju sumber suara yang menyebabkan keributan pun bertemu dengan Ajudan Gillian yang berlari menuju ke arah yang sama.
"Beraninya kau membuat kekacauan yang sangat besar seperti ini!" teriak Evans dengan suara yang lantang dengan wajah yang marah.
"Tuan Ajudan! Tolong jangan kau pikirkan semua perkataan wanita ini! Saya tidak pernah menganggapnya ataupun memperlakukannya seperti Nyonya Muda Kediaman Count Vansfold!" ucap Evans dengan nada suara yang tegas.
"Semua yang dilakukan dan diucapkannya tidak ada urusannya dengan Kediaman ini!" ucap Evans dengan ekspresi wajah yang serius.
Tatiana yang telah berharap jika Evans akan membelanya karena Titah Raja yang mengatakan bahwa mereka akan menikah dalam waktu dekat pun hancur.
"Tu-Tuan Count!" panggil Tatiana dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang terkejut dan tatapan mata yang tak percaya.
Evans yang masih melihat Tatiana masih berada di tempat itu pun menjadi sangat marah lalu memberikan perintah tegas kepada George.
"Aku akan membahas tentang kesalahanmu ini nanti tapi sekarang aku ingin kau bawa wanita rendahan ini kembali ke kamarnya! Jangan biarkan dia keluar hingga perintahku selanjutnya! Letakkan Kesatria di depan kamarnya karena aku tak ingin dia kabur dan membuat masalah lagi!" ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam dan dingin ke arah Tatiana yang menunduk ke bawah.
George yang tak ingin melihat Evans semakin marah pun menggenggam tangan Tatiana dengan sangat keras lalu membawanya kembali ke kamarnya.
Meskipun Tatiana merasakan sakit akan genggaman tangan George. Tatiana yang terguncang hanya terdiam mengikuti George dari belakang.
"Nona! Mohon segera berdiri dan ikuti saya kembali ke kamarmu sebelum Tuan Count semakin marah!" ucap George yang berpura-pura mengulurkan tangan membantu.
Evans yang melihat Tatiana telah menghilang dari pandangan matanya pun mengalihkan pandangannya kepada Ajudan Gillian.
"Tuan Ajudan! Anda datang tanpa membuat janji terlebih dahulu. Bukankah itu hal yang sangat tidak sopan?" sindir Evans dengan tatapan mata yang tajam.
"Kami memang datang tanpa janji terlebih dahulu tapi bukankah Tuan Count sudah tau tujuan kedatangan kami kemari?" jawab Ajudan Mies yang mengarah pada Titah dari Raja Jonathan IV yang seketika membuat kepala Evans berdenyut sakit.
"Baiklah. Jika seperti itu silahkan ikuti Ajudan saya. Saya akan segera menemui kalian untuk membicarakan hal itu!" ucap Evans dengan sikap yang gagah.
"Gillian! Antarkan mereka ke ruang tunggu dan layani mereka hingga aku kembali!" ucap Evans dengan nada suara yang tegas lalu berjalan pergi menuju kamarnya.
Evans yang telah kembali ke kamarnya pun segera bersiap-siap dengan dibantu oleh George yang telah selesai dengan Tatiana.
"Aku tau jika kau melepaskannya karena Titah dari Yang Mulia Raja tapi kau harus mendidiknya menjadi lebih baik!" ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam lalu keluar dari kamar menuju ke Ruang Tunggu.
#Bersambung#
Bagaimana akhir dari perbincangan Evans dan Ajudan Mies serta yang lainnya? Apakah Ajudan Mies dan yang lain berhasil mendapatkan semua yang harus dimiliki Laura? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..