
Keesokan paginya, Laura yang mendapatkan info dari Rika bahwa Evans meminta sarapan pagi bersama pun merasa sangat malas.
“Yang Mulia, Tuan Count meminta untuk sarapan pagi bersama di Ruang Makan pagi ini!” ucap Rika dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar.
“Hah! Sarapan pagi dengan Evans. Aku pasti akan memuntahkan kembali makanan yang masuk ke dalam mulutku jika melihat wajahnya sekarang!” ucap Laura dalam hati dengan ekpsresi wajah yang tidak senang.
Laura yang mengingat kejadian semalam saat dirinya kembali dari makan malam bersama Evans dan mencoba mengetahui yang dilakukan Evans pun membuat Laura kehilangan selera makannya.
“Tuan Count! Anda tidak boleh marah seperti ini. Anda harus tenang jika tidak anda akan mendapatkan masalah nantinya!” ucap George dengan nada suara yang keras dengan ekspresi wajah yang sangat khawatir.
“Tenang! Bagaimana aku bisa tenang? Dia ingin aku meminta dan mengemis padanya! Tidak! Aku tidak akan pernah melakukan itu!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tatapan mata yang penuh amarah.
“Tuan Count, melakukan itu semua bukan berarti anda kalah. Anda hanya mengalah demi menang. Jika Nyonya masih marah dengan anda dan anda tidak bisa mendapatkan persetujuan bahwa Nyonya akan menolong anda maka Yang Mulia Putra Mahkota Lyod pasti akan menghukum anda sangat berat!” ucap George yang mencoba mengingatkan Evans akan hal yang lebih penting daripada harga dirinya.
“Kau benar! Aku tidak bisa membuat Putra Mahkota Lyod marah. Aku tidak ingin kehilangan semua yang aku miliki saat ini!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang lebih tenang dengan tatapan mata yang tajam dan dingin.
“Besok pagi, siapkan menu sarapan kesukaannya dan juga siapkan hadiah yang mungkin disukai olehnya. Kali ini aku harus bisa membuat wanita itu jatuh cinta lagi padaku dan tidak akan bisa menolak apapun yang aku katakan padanya!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang penuh ambisi.
“Serahkan semuanya padaku, Tuan!” ucap George dengan ekspresi wajah yang dan nada suara yang datar dengan sikap yang sangat sopan lalu pergi meninggalkan Evans sendirian.
Laura yang tidak ingin bertemu dengan Evans sementara waktu pun memutuskan untuk menolak permintaan tersebut.
“Aku sedang tidak ingin menemuinya. Rika, beritau George jika aku tidak sehat dan aku akan sarapan di kamarku saja!” ucap Laura dengan nada suara yang datar dengan ekspresi wajah yang datar.
“Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan segera menyampaikannya dan mempersiapkan sarapan untuk Yang Mulia!” ucap Rika dengan senyum yang lebar.
“Terima kasih, Rika!” ucap Laura dengan senyum yang lembut dan ekspresi wajah yang bersahabat.
Sementara itu, Evans yang telah duduk di meja makan sendirian menunggu Laura datang tidak menyangka jika Laura menolak permintaannya dengan alasan sakit.
Evans yang tidak percaya pun pergi menemui Laura di Kamarnya dengan George mengikutinya dari belakang.
Evans yang tidak mengetuk pintu terlebih dan langsung masuk ke dalam kamar Laura begitu saja langsung mendapatkan sindiran pedas dari Laura.
“Apakah Tuan Count telah melupakan Etika Kebangsawanan setelah pergi beberapa hari ke Ibukota hingga lupa mengetuk pintu terlebih dahulu?” sindir Laura dengan kata-kata yang pedas dengan tatapan mata yang tajam ke arah Evans yang berdiri di depannya.
Evans yang sebenarnya ingin marah dan berpikir jika Laura berbohong langsung mengubah pendapatnya saat melihat wajah Laura yang sangat pucat lalu saat mendengar kata-kata sindiran dari Laura pun merasa sedikit malu.
“Ehem! Apakah memasuki kamar Istri sendiri harus melakukan hal seperti itu? Sungguh Etika yang konyol!” ucap Evans yang mencoba mencari alasan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal tapi alasan tersebut membuat Laura semakin menatap sinis ke arah Evans.
“Agh! Ehem! Aku datang kemari karena aku dengar kau tidak bisa datang karena sedang sakit. Oleh karena itulah aku kemari untuk melihatnya!” ucap Evans dengan nada suara yang terdengar sedikit khawatir dengan ekspresi wajah yang cemas.
Elliora yang pernah dipanggil untuk memeriksa Laura sebelumnya ternyata dipanggil kembali untuk memeriksa Laura di hadapan Evans.
"Salam kepada Count dan Counterss Vansfold. Saya Elliora, Dokter yang akan memeriksa kondisi Nyonya Countess." ucap Elliora dengan ekspresi wajah yang datar dengan sikap yang sangat sopan.
Laura yang melihat Elliora datang kembali untuk memeriksa kondisinya pun tersenyum dengan sangat lembut dan memasang ekspresi wajah yang bersahabat.
"Senang melihatmu lagi, Elli! Mohon bantuannya, ya." ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia dan nada suara yang lembut.
"Ini adalah tugas saya untuk memeriksa kondisi Nyonya. Mohon maaf jika Nyonya merasa tidak nyaman." ucap Elliora dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar.
Elliora yang sudah mengetahui tugasnya dari pemeriksaannya yang terakhir pun mengatakan hal yang sama kepada Evans dan Evans yang tidak bisa mengatakan apapun lagi setelah mendengar dari ahlinya langsung pun meminta George untuk memberikan upah kepada Elliora.
Evans yang tidak punya hal lain yang ingin dilakukan pun meninggalkan kamar Laura begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Rika yang langsung muncul setelah kepergian Evans pun membereskan makanan yang ada di atas meja lalu mempersiapkan teh hangat serta beberapa kue kering yang lezat.
"Rika? Apakah kau ingat Pelayan Baru yang dibawa oleh Evans ke Kediaman!" ucap Laura dengan ekspresi wajah dan nada suara yang dingin.
"Aku ingin kau mengawasinya dengan sangat baik. Laporkan semua pergerakannya yang mencurigakan kepadaku!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapa itu mata yang tajam.
"Serahkan saja semuanya pada saya, Yang Mulia. Saya akan melakukan semua seperti perkataan Yang Mulia!" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang percaya diri dan nada suara yang tegas.
Tak berapa lama, Laura yang telah memiliki janji bertemu dengan seseorang pun membuat George datang membawakan orang tersebut menemui Laura.
"Selamat siang Nyonya Countess. Senang bisa bertemu dengan anda semoga anda sehat dan bahagia selalu!" ucap Nyonya Bouverganie dengan ekspresi wajah yang bahagia dan senyum yang lebar.
"Senang bertemu dengan anda juga Nyonya. Bisa kau tunjukkan Rancangan Gaun terbaikmu untuk Musim ini?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bersahabat.
"Tentu saja, Nyonya. Ini semua adalah rencangan yang telah saya buat berdasarkan karakteristik Nyonya!" ucap Nyonya Bouverganie yang merupakan Desainer Gaun Mahal dan Mewah.
"Kalau begitu aku ambil semuanya. Lalu jangan lupa dengan perhiasan dan sepatunya!" ucap Laura dengan sangat mudah dengan senyum yang lebar.
"Aku akan menghabiskan uangmu untuk Pakaian dan Perhiasanku. Aku ingin menjadikan ini sebagai Simpanan Deposito masa depan milikku!" ucap Laura dalam hati dengan senyum bahagia di wajahnya.
#Bersambung#
Hmmm, apakah Laura membeli Gaun dan Pakaian yang sangat banyak hanya untuk Simpanan Deposito saja atau untuk hal lain? Tebak di kolom komentar ya..