
Laura yang mendengar penolakan dari mulut Cavier de Travis dari luar ruang memutuskan untuk keluar dan menghadapi Cavier de Travis.
“Lalu kenapa kalau kau adalah Bangsawan? Aku tidak membutuhkan Bangsawan yang tidak kompeten menjadi Pegawaiku. Aku membutuhkan orang yang memiliki kemampuan untuk mengelola yang aku miliki!” jawab Laura dengan suara yang tegas.
“Jika kau tidak memenuhi semua persyaratan maka kau tidak akan mendapatkan kesempatan tersebut! Meskipun kau adalah Seorang Bangsawan dengan Surat Rekomendasi!” ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam.
Cavier de Travis yang merasa sangat dipermalukan bergerak cepat meninggalkan Kediaman Count Vansfold di Ibukota.
Setelah kepergian Cavier de Travis, Laura berbalik arah dan menatap Daniel dan Adrian Lopez yang telah secara sah menjadi Pegawainya.
“Kalian akan bekerja mulai besok pagi jadi silahkan kembali dan beristirahat. Aku akan menunggu kalian disini!” ucap Laura sambil menganggukkan kepala kepada Rika.
Rika yang mengerti maksud Laura pun mengantar keduanya keluar dari Kediaman Count Vansfold sambil menyerahkan masing-masing sekantong uang.
“Ini adalah uang sebagai hadiah karena kalian telah berhasil lolos seleksi dan Nyonya ingin kalian menggunakan uang ini untuk membeli pakaian yang rapi untuk bekerja esok hari!” ucap Rika dengan suara yang tegas.
Daniel yang mendapatkan uang dari Rika pun menjadi sangat terkejut dan tidak bisa mengatakan apapun lagi sehingga hanya terdiam di tempat beberapa saat.
Adrian yang memahami bahwa Laura ingin membuat Daniel sebagai orang yang royal kepada Laura pun mencoba membantu Laura dengan mencari tau tentang Daniel.
Di tempat lain, Laura yang terbaring di tempat tidurnya setelah menjalani semua kegiatannya hari itu berpikir jika dirinya tidak akan bisa tertidur ternyata kalah dengan kondisi tubuhnya yang sangat lelah.
Keesokan paginya, Laura yang akan turun ke lantai dua melihat Evans berjalan sangat buru-buru sehingga membuat Laura penasaran.
Laura yang berjalan menuju Ruang Makan bersama Rika yang berdiri di belakangnya pun mengaktifkan kemampuan memata-matainya.
Sementara itu, Evans yang berhenti di depan kereta kuda yang akan membawanya pergi pun memberikan peringatan kepada George.
“George, aku akan pergi ke Istana untuk mengikuti Rapat Kekaisaran. Aku akan meninggalkan semua yang ada di sini di dalam penjagaanmu. Ingat! Jangan biarkan hal yang terjadi kemarin terulang kembali! Aku tidak ingin Laura protes ataupun menceritakan hal buruk yang terjadi padanya pada Pangeran Mahkota Richard!” ucap Evans dengan nada suara yang tegas.
“Saya mengerti, Tuan. Saya akan mengingat semua peringatan anda!” ucap George dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.
Laura yang sedang menikmati makanannya itu pun tersenyum puas dan menghentikan makannya lalu kembali ke kamarnya.
“Ambilkan Kertas dan Tinta! Aku ingin mengirim surat untuk Kakakku!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas pada Rika.
Rika yang mengerti maksud Laura pun dengan cepat membawakan yang dibutuhkan Laura dan berdiri di samping Laura.
Laura yang telah selesai membuat surat pun memanggil Master Noel untuk mengirimkan surat tersebut kepada Pangeran Mahkota Richard.
“Kirim surat ini segera kepada Kakakku! Aku ingin dia mendapatkan surat ini sebelum Rapat dimulai!” pesan Laura dengan ekspresi wajah yang serius.
Di sisi lain, Pangeran Mahkota Richard yang masih ada di dalam ruangannya ternyata sedang membaca laporan hasil penyelidikan dari Ajudan Mies.
“Sialan! Beraninya wanita itu bermain api di belakangku!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang kesal sambil berdiri dan melempar kertas laporan yang ada di tangannya.
“Wanita itu bersikap manja dan mengatakan cinta di depanku tapi sebenarnya berkirim surat dan hadiah dengan pria lain. Aku sungguh dibodohi dengan mulut manis dan sikap imutnya!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan tawa yang sangat keras yang terlihat sangat menyedihkan.
“Aku berpikir jika Martha adalah wanita yang polos dan suci tapi ternyata dia tidak segan untuk bercinta dengan pria lain di saat Pesta Penyambutanku!” sindir Pangeran Mahkota Richard dengan tawa kecil dan tatapan merendahkan.
“Aku tidak akan diam saja. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghancurkan Martha dan Keluarga lalu membuat Putra Mahkota s**lan itu turun dari Tahtanya seperti yang diinginkan Laura!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan tekad yang kuat.
Tepat setelah Pangeran Mahkota Richard telah selesai menjernihkan pikirannya, Ajudan Mies datang dengan surat dari Laura.
“Yang Mulia, apakah aku boleh masuk? Ada pesan darurat dari Yang Mulia Putri!” ucap Ajudan Mies yang ingin menyegerakan izin masuknya.
“Masuklah!” ucap Pangeran Mahkota Richard yang berdiri di depan meja yang kosong karena semua berkas jatuh ke lantai.
Ajuda Mies yang melihat kekacauan yang ada sudah bisa menduga setelah dirinya menyerahkan Laporan tentang Nona Martha.
Pangeran Mahkota Richard yang melihat pesan yang ditulis Laura pun tertawa dengan sangat keras dan mengubah ekspresinya menjadi ceria kembali.
“Bersiaplah. Kita akan ke Ruang Rapat sekarang. Kita harus membuat sebuah pukulan telak agar Ipar Kesayanganku itu mendapatkan sedikit masalah!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan senyum yang licik.
Pangeran Mahkota Richard yang mengetahui bahwa Laura ingin Pangeran Mahkota Richard membuat negosiasi dengan Putra Mahkota Lyod menjadi panjang dan tidak menemukan titik temu itu pun berniat melakukannya dengan senang hati.
“Apa kau bisa menyebut ini sebagai negosiasi, Putra Mahkota Lyod? Apakah kau tidak bisa membuat sebuah Perjanjian yang adil, Putra Mahkota Lyod? Ini bukanlah negosiasi jika memberikan keuntungan terbesar kepada Kerajaan Hentallius!” sindir Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang terdengar sinis dengan kata-kata yang kasar.
“Aku tidak akan menerima isi perjanjian seperti ini. Aku ingin Sebuah Perjanjian yang adil dan bisa menguntungkan Kerajaan Hentallius dan Kekaisaran Glorious!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang tegas lalu pergi meninggalkan ruangan.
Putra Mahkota Lyod yang gagal dalam perundingan pertama itu pun menjadi sangat marah terutama saat Pangeran Mahkota Richard menghinanya.
“Aaarrggghhhh! Aku tidak bisa menerima penghinaan ini!” teriak Putra Mahkota Lyod yang melemparkan semua dokumen kertas yang ada di atas meja.
Putra Mahkota Lyod yang sangat marah pun melampiaskan kemarahannya kepada Evans yang duduk di sampingnya.
“Evans! Apakah menurutmu ancamanku itu hanya sebuah kata-kata?” tanya Putra Mahkota Lyod dengan tatapan mata yang dingin.
Evans yang menyadari bahwa Putra Mahkota Lyod akan menyalahkan dirinya karena tidak bisa membuat Pangeran Mahkota Richard menyetujui Perjanjian itu dengan mudah pun dengan cepat meminta maaf.
“Ti-Tidak, Yang Mulia. Saya tidak pernah beranggapan seperti itu. Mohon Yang Mulia tenang terlebih dahulu. Saya yakin cepat atau lambat Pangeran Mahkota Richard pasti akan menyetujui isi perjanjian yang kita berikan!” ucap Evans yang mencoba memberikan ketenangan kepada Putra Mahkota Lyod yang emosi.
“Jangan bermain-main denganku, Evans. Jika dalam Perundingan Kedua nanti kau tidak bisa membuat Nyonya Countess Vansfold membujuk Pangeran Mahkota Richard maka bersiaplah karena posisimu akan menjadi milik orang lain!” ancam Putra Mahkota Lyod dengan nada suara yang tegas.
Putra Mahkota Lyod yang tidak ingin melihat wajah Evans lebih lama lagi pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Evans yang terlihat sedang frustasi.
#Bersambung#
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tebak di kolom komentar ya...