
Laura yang keluar dari Tenda pun kembali dengan diantar oleh Viscount Ballanguisse namun sebelum Laura bisa menolak, Evans telah datang menemuinya.
“Laura!” panggil Evans dengan suara yang sedikit tinggi dengan ekspresi wajah yang cemburu dan tatapan mata yang menunjukkan tidak senang.
Evans yang sebenarnya cemburu melihat Laura dekat dengan beberapa pria lain bahkan menebarkan senyum seperti yang biasa dilakukan Laura untuknya pun membuat hati Evans panas.
Namun, Laura yang tidak pernah membayangkan Evans akan datang menemuinya atau pun cemburu padanya pun menjadi bingung.
Laura yang pernah terbujuk untuk memberikan uang miliknya kepada Evans di kehidupannya yang lalu pun langsung menatap curiga pada Evans.
“Hah! Apa yang dilakukannya disini? Apakah dia ingin mengambil hadiah uang yang telah aku menangkan? Hmmm, jangan harap aku akan memberikannya padamu!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang datar tanpa ekspresi.
Viscout Ballanguisse yang melihat Laura tidak nyaman berada dekat dengan Evans pun mulai mempertanyakan hubungan keduanya tapi keinginan tidak ingin ikut campur dalam urusan lain membuat Viscount Ballanguisse menutup matanya.
“Agh, Tuan Count sudah ada disini kalau begitu saya permisi Nyonya!” ucap Viscount Ballanguisse dengan sikap yang ramah dan senyum yang lembut.
“Terima kasih untuk bantuanny, Vicount!” ucap Laura sambil menundukkan kepalanya lalu tersenyum lembut ke arah Viscount Ballanguisse.
Evans yang sangat marah pun berjalan lebih dulu menuju ke Kereta Kuda dan tidak membantu Laura naik sama sekali.
Laura yang telah terbiasa dengan perlakuan Evans di dua kehidupannya tidak penah merasa itu hal yang aneh lagi.
Rika yang melihat Laura kesulitan menaiki kereta kuda dengan cepat membantunya seperti biasa lalu duduk di kursi depan bersama George dengan diikuti Kesatria dari belakang.
Laura yang memang tidak berniat bicara ataupun melihat wajah Evans memilih untuk menatap ke luar jendela melihat interaksi orang-orang.
Evans yang tidak tahan dengan senyum dan nada suara yang lembut yang dilakukan oleh Laura kepada Viscount Ballanguisse dan wajah dingin ditunjukkan Laura kepadanya pun membuat Evans menjadi sangat kesal.
“Apakah kau tidak bisa bersikap biasa saja dan tidak perlu tersenyum terlalu ramah seperti itu kepada orang-orang?” tanya Evans dengan nada suara yang tinggi dengan mata yang melotot sangat besar.
Laura yang mendengar nada suara protes dari Evans tentang sikapnya yang ramah kepada orang lain pun mengkerutkan alisnya.
“Apakah dia benar-benar ingin menjadikanku sebagai Seorang Penjahat dengan selalu bersikap dingin kepada orang lain?” tanya Laura dalam hati dengan ekpsresi wajah yang bingung.
“Apa maksud ucapanmu?” tanya Laura yang pura-pura tidak mengerti sambil memegang dahinya yang mulai terasa sakit karena obrolannya dengan Evans.
Evans yang melihat Laura merasa tidak nyaman bicara dengannya tapi bisa nyaman dan santai bicara dengan Pangeran Kedua Illion dan Vicount William Shapoor Balanguisse pun menjadi marah.
“Jangan berpura-pura tidak tau. Apakah kau tidak bisa bicara biasa saja dengan Pangeran Kedua dan juga Viscount Balanguisse?” tanya Evans dengan nada suara yang tinggi dengan ekspresi wajah yang marah.
Laura yang mendengar ucapan Evans pun merasa jika yang diucapkan oleh Evans sangatlah tidak masuk akal dan itu membuat sakit kepala yang diderita Laura semakin parah.
Di saat Laura merasa tidak tahan lagi tiba-tiba Kereta Kuda telah berhenti dan menandakan bahwa keduanya telah sampai di Kediaman Count Vansfold.
Laura yang tidak berniat menjawab pertanyaan Evans pun memilih turun dengan bantuan Rika tapi Evans yang tidak ingin ditinggalkan begitu saja tanpa jawaban pun menarik tubuh Laura.
Laura yang kehilangan keseimbangannya pun hampir terjatuh ke dalam pelukan Evans tapi Laura yang tidak sudi pun mendorong Evans menjauh hingga membuat Laura terdorong keluar dari dalam Kereta Kuda.
“Aaarrgghhhh!” teriak Laura dengan sangat keras dengan mata yang tertutup karena tak ingin merasakan rasa sakit saat terjatuh.
“Yang Mulia.....” teriak Rika dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar.
“Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?” tanya Master Noel dengan ekspresi wajah yang datar sambil menurunkan Laura dari dalam pelukannya.
“A-aku ba-baik-baik saja. Terima kasih!” ucap Laura dengan nada suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan tatapan mata yang kosong.
Master Noel yang mendapatkan komfirmasi bahwa Laura dalam keadaan yang baik pun segera menghilang dalam bayangan tanpa jejak.
Semua orang yang melihat kejadian itu pun menjadi sangat terkejut dengan kehadiran seseorang yang menolong Laura saat terjatuh secara tiba-tiba.
Evans yang langsung keluar dari Kereta Kuda pun menghampiri Laura dan mencoba bertanya tentang keadaan Laura tapi Laura yang tidak ingin melihat Evans pun meminta Rika untuk membawanya ke dalam sehingga membuat Evans terdiam di tempat.
Laura yang merasa jika tubuhnya masih belum pulih dengan keterkejutan itu pun langsung terbaring di tempat tidur.
“Hah! Apakah dia ingin membunuhku? Apakah dia sangat tidak sabar mengambil nyawaku?” tanya Laura dengan suara yang rendah dengan ******* nafas yang panjang dengan satu lengan menutup matanya.
Rika yang khawatir dengan keadaan Laura pun memberikan Laura Teh yang dapat menenangkannya.
“Yang Mulia, ini adalah teh cammomile dan teh ini sangat bagus untuk menghilangkan stres dan juga perasaan lelah. Silahkan diminum, Yang Mulia!” ucap Rika dengan senyum yang lembut dengan ekspresi wajah yang menenangkan.
Laura yang tidak ingin mengkhawatirkan orang-orang yang peduli padanya pun bangun dan meminum teh yang diseduh Rika untuknya.
“Terima kasih! Aku ingin sendiri!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang sangat lelah dengan senyum yang lembut sambil menyerahkan kembali secangkir teh tersebut kepada Rika.
Laura yang terbaring sendirian di dalam kamarnya pun mengambil kunci emas yang disimpannya lalu melihat jumlah uang yang dimenangkannya dalam Taruhan.
Laura yang tidak menyangka jika jumlah uang yang didapatkannya sangat banyak pun menjadi sangat terkejut dan senang di saat bersamaan.
“I-ini... Apakah ini benar jumlah uang yang aku miliki saat ini?” gumam Laura dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar.
“Jumlah uang yang aku dapatkan ini sejumlah pengeluaran Kediaman Seorang Grand Duke selama tiga tahun!” ucap Laura dengan nada suara yang sedikit tinggi dan langsung terduduk di tempatnya.
Laura yang mengingat pernyataan Evans saat dirinya ketahuan berselingkuh dengan Tatiana pun menyadari asal Gelar Bangsawan yang diucapkan Evans.
“Jika dengan jumlah yang sangat banyak aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini. Lalu bagaimana dengan Tatiana yang hanya mempertaruhkan beberapa puluh ribu emas!” gumam Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedang berpikir.
“Jika seperti itu maka wajar saja, Tatiana yang seorang Rakyat Biasa bisa menjadi Seorang Bangsawan kecil karena dia memiliki uang untuk membeli Gelar tersebut!” ucap Laura dengan senyum kecil dengan tatapan mata yang tajam.
“Karena sekarang kau tidak memiliki uang untuk menjadi Bangsawan maka kau tidak akan punya pilihan lain selain meminta Evans yang membelikanmu Gelar tersebut!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin.
Laura yang merasa sangat lelah pun meminta Rika untuk menyiapkan air hangat untuknya berendam. Laura yang merasa jika sakit kepala dan lelahnya sedikit berkurang serta tubuhnya menjadi lebih rileks pun mencoba menggunakan Kekuatan Anginnya.
Laura yang mencoba mencaritau rencana Evans selanjutnya dan maksud tujuan pertanyaan dan permintaan Evans yang tidak masuk di akal Laura.
Namun saat Laura menguping, Laura menemukan sebuah kenyataan yang mengejutkan tentang tubuhnya di masa ini sebelum dirinya kembali ke masa lalu.
“Apa?” teriak Laura dengan suara yang sangat keras dengan ekspresi wajah yang terkejut dan langsung menarik kembali Kekuatan Anginnya.
#Bersambung#
Apa yang sebenarnya didengar oleh Laura? Kenyataan apa yang didapatkan oleh Laura tentang tubuhnya? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...