The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 125. Mengambil Kredit



Permaisuri Ericka yang masih sangat mencintai Putranya memutuskan untuk mengunji Kediaman Duke Balmon untuk membicarakan masalah yang sangat penting.


"Selamat datang di Kediaman Duke Balmon, Yang Mulia Permaisuri!" ucap Duke Balmon yang berdiri di depan kereta kuda Permaisuri Ericka dengan kepala tertunduk dan sikap yang sopan.


"Apa yang kau katakan dan lakukan, Duke Balmon? Kau tak perlu melakukan ini semua. Meskipun statusmu sebagai Putra Mahkota telah diurunkan. Kau tetaplah Putra yang aku lahirkan! Panggil aku Ibu!" ucap Permaisuri Ericka dengan wajah yang tidak senang.


"Maafkan aku, Ibu!" ucap Duke Balmon dengan senyum liciknya yang sengaja membuat semua pelayan mendengar perkataan Permaisuri Ericka secara langsung denga tujuan menyebarkan berita tentang dirinya yang masih dianggak anak meski apapun yang telah dilakukannya dan penurunan statusnya hanyalah hukuman sementara yang bisa dicabut kapanpun.


Duke Balmon yang mengetahui tentang berita Penyihir Hitam yang dijadikan Countess oleh bawahannya yang bodoh membuat Duke Balmon memiliki rencana untuk kembali yang hebat.


Duke Balmon yang telah mempersiapkan semuanya dengan baik pun membawa Permaisuri Ericka ke Taman Bunga di kediamannya lalu mempersiapkan teh dan kue kesukaan Permaisuri Ericka.


"Ibu... Apakah aku sungguh Putra yang tak diharapkan Ayahanda lagi?" ucap Duke Balmon dengan wajah yang sedih dan nada suara yang membuat orang lain pilu.


"Apa maksud ucapanmu? Meskipun Ayahmu tak mengharapkanmu, kau masih memiliki Ibumu ini, anakku!" ucap Permaisuri Ericka dengan tatapan mata yang sedih.


"Apakah itu ada gunanya? Ayah tak akan pernah mengembalikan posisiku dan aku akan tetap dipandang rendah oleh Bangsawan lain bahkan Bangsawan yang berstatus rendah dariku pun ikut menertawakanku di balik topeng senyumannya!" ucap Duke Balmon yang menjelaskan situasinya saat ini.


"Anakku... Ibu mohon. Jangan seperti ini. Ibu akan sangat sedih melihatmu seperti ini. Katakan pada Ibumu ini, apa yang bisa Ibu lakukan untuk membantumu?" tanya Permaisuri Ericka dengan percaya diri.


Duke Balmon yang telah menunggu-nungu pertanyaan itu keluar dari mulut Permaisuri Ericka pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Ibu, aku dengar Ayah mendapatkan bantuan dari Putri Laura berupa Alat Pencari Penyihir Hitam. Ibu tolong katakan pada Ayah untuk memberikanku satu Alat itu." ucap Duke Balmon dengan ekspresi wajah yang serius.


"Aku ingin ikut berkontribusi menemukan Penyihir Hitam dan menjadi Pahlawan agar tak ada seorangpun lagi yang akan memandang rendah diriku!" ucap Duke Balmon dengan tangan terkepal erat.


"Jangan khawatir. Ibu akan bicara pada Ayahmu. Ibu akan pastika kau mendapatkan satu dari Alat itu dan Ibu akan bicara pada Kakekmu untuk memberikan Kesatria terbaiknya untukmu agar kau bisa menemukan Penyihir Hitam lebih dulu daripada orang lain!" ucap Pemaisuri Ericka dengan ekspresi wajah yang serius.


"Saat kau berhasil mendapatkan Penyihir Hitam, Ibu akan menjadikan kreditmu ini sebagai batu loncatan agar kau bisa kembali menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan lagi dan perlahan tapi pasti mengambil posisimu kembali!" ucap Permaisuri Ericka dengan tatapan mata yang tajam.


"Terima kasih, Ibu. Kau adalah Ibu terbaik di seluruh Daratan ini!" puji Duke Balmon dengan wajah yang bahagia karena telah mencapai tujuannya.


Sementara itu, Laura yang langsung memasuki Istana Kerajaan setelah Laura sampai di Ibukota pun menghadap Raja Jonathan IV dengan sangat anggun.


"Saya menghadap matahari Kerajaan hentallius. Semoga Yang Mulia sehat selalu!" ucap Laura dengan sikap yang sopan.


"Kau tak perlu bersikap terlalu sopan seperti itu. kemarilah dan duduklah disini!" ucap Raja Jonathan IV dengan wajah yang bahagia dan senyum yang ceria.


Raja Jonatha IV yang sangat terburu-buru karena masalah Penyihit Hitam yang berkeliaran bebas di Kerajaannya pun mengatakan tujuannya dengan jelas.


"Putri Laura, apakah kau membawa Alat Pendeteksi Penyihir Hitam seperti yang kau katakan sebelumnya?" tanya Raja Jonathan IV dengan terburu-buru.


"Tentu saja aku membawanya, Yang Mulia. Ini adalah alat yang anda inginkan!" ucap Laura yang memberikan kode kepada Master Noel yang memasuki Istana bersamanya menunjukkan Alat Pendetekai Penyihir Hitam kepada Raja Jonathan IV.


"Bagus! Bagus! Bagus sekali!" Dengan alat ini maka pencarian Penyihir Hitam itu akan berjalan dengan lancar!" ucap Raja Jonathan IV dengan wajah yang bahagia dan tawa yang lebar.


"Hmmm, tapi Yang Mulia, saya harap anda menepati janji anda dengan memberikan hukuman yang sangat berat untuk semua orang yang terlibat dalam kasus ini!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.


"Jangan khawatir. Aku adalah Raja Kerajaan ini dan aku pasti akan menepati janjiku." ucap Raja Jonathan IV dengan rasa percaya diri yang tinggi.


Laura yang tau jika hal itu akan terjadi jika Tatiana tertangkap pun menyerahkan Alat tersebut kepada Ajudan herold lalu pamit kembali ke Kediamannya yang diberikan oleh Pangeran Mahkota Richard.


Namun sebelum Laura menaiki kereta kudanya, Laura melihat sebuah burung merpati muncul di hadapannya dengan sebuah kertas catatan kecil di kakinya.


Laura yang penasaran pun bergegas masuk ke kereta kuda lalu mengambil kertas tersebut dan memberikan burung merpati kepada Rika.


Laura yang ingin tau isi dari pesan itu pun membacanya dan menjadi sangat kesal saat membaca isi dari surat tersebut.


"Duke Balmon! Mantan Putra Mahkota! Kau sungguh manusia yang tidak tau malu!" ucap Laura dengan suara yang keras lalu memukul kursi yang ada di sampingnya.


"Yang Mulia! Tangan anda!" teriak Rika dengan nada suara yang terdengar sangat terkejut dengan ekspresi wajah khawatir dan cemas tapi diabaikan oleh Laura.


"Kau telah melakukan hal yang memalukan dan berniat menghancurkan Kekaisaranku lalu sekarang kau ingin mengambil posisimu yang telah aku turunkan! Jangan harap aku akan diam saja!" ucap Laura dalam hati dengan tangannya yang langsung diolesi salep oleh Rika karena khawatir tangan Laura akan bengkak nantinya


"Sepertinya menurunkan posisimu sebagai Putra Mahkota Kerajaan ini belum membuatmu menyadari kesalahanmu maka hanya kematian yang menyakitkan yang akan membuatmu sadar!" ucap Laura dalam hatinya dengan tatapan mata yang tajam.


"Pergi ke Guild Bulan Merah sekarang!" ucap Laura dengan suara yang keras kepada kusir yang membawa kereta kudanya.


#Bersambung#


Apa rencana Laura untuk menghilangkan nyawa Duke Balmon? Apa yang dilakukan Laura di Guild Bulan Merah? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...