The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 76. Penggrebekan



Laura yang telah bangun lebih awal segera berdandan dengan cantik dengan bantuan Rika yang ternyata telah siap.


"Apakah sudah selesai? Bagaimana penampilanku?" tanya Laura dengan senyum yang lebar.


"Yang Mulia akan selalu cantik dengan apapun yang dipakai!" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang jujur.


"Benarkah? Hmmm, aku senang mendengarnya." ucap Laura dengan senyum yang lebar.


“Lalu bagaimana sarapan pagi yang ringan yang aku minta kau siapkan?” tanya Laura dengan ekpsresi wajah yang penasaran.


“Jangan khawatir, Yang Mulia. Semuanya telah saya urus!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang percaya diri dengan tatapan mata yang tajam.


Tak lama setelah itu seorang pelayan mengetuk pintu dan Rika yang telah menunggu dengan cepat bergerak membuka pintu dan memperlihatkan kepada Laura sarapan pagi yang telah dipersiapkannya.


"Bagus! Sekarang saatnya menunggu Master Noel kembali dan memberikan kabar baik untuk kita!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.


Laura yang menunggu Master Noel sambil menatap Taman Bunga yang sangat indah yang dapat dilihatnya dari balkon kamarnya menyadari bahwa Master Noel telah kembali.


“Ini adalah hari terakhir aku ada di sini dan sangat disayangkan jika aku harus meniggalkan Taman Bunga yang indah itu!” gumam Laura dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang menyesal.


"Yang Mulia, saya telah kembali!” ucap Master Noel dengan suara yang rendah dan dengan sikap yang sopan dengan kepala tertunduk ke bawah.


“Yang Mulia, Pangeran Mahkota Richard telah meninggalkan Istana Kekaisaran dan akan segera sampai di Kediaman ini dalam tiga puluh menit!" ucap Master Noel dengan ekspresi wajah yang serius.


"Hmmm, benarkah? Kalau begitu kita harus segera memulai penggrebekannya! Rika, ayo kita cari George dan ajak dia untuk melihat perbuatan Tuannya!" ucap Laura dengan senyum yang jahat.


“Agh! Aku punya satu tugas terakhir hari ini. Aku ingin kau membantuku membesarkan suaraku saat aku berteriak nanti. Biarkan semua orang mendengarnya dengan sangat jelas!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang polos.


“Baik, Yang Mulia. Saya akan melakukannya dengan sangat baik!” ucap Master Noel dengan ekspresi wajah yang serius.


Master Noel yang tidak menyukai Evans sejak awal menjadi sangat bersemangat saat rencana Laura yang ingin menghancurkan Evans dimulai.


Laura yang berjalan menyusuri lorong pun melihat Pelayan sudah mulai bergerak melakukan tugasnya setiap pagi dan membuat Kediaman Count Vansfold menjadi semakin hidup dengan banyaknya orang di dalamnya.


Laura yang melihat George sedang berada di lantai satu sambil memberikan instruksi kepada Pelayan memberikan kode kepada Rika untuk bergerak.


“Rika! Panggil George kemari! Aku ingin melakukan bagianku sekarang!” ucap Laura dengan senyum yang lembut yang langsung dibalas dengan anggukan patuh dari Rika.


George yang menyadari bahwa suasana dan situasi di Kediaman Count Vansfold telah menjadi sangat menegangkan dengan cepat pergi menemui Laura karena tak ingin membuat Laura marah disebabkan terlalu lama menunggunya.


"Nyonya! Apakah anda memanggil saya? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya George dengan ekspresi wajah yang datar dengan sikap yang sopan.


“Tu-Tuan belum sarapan, Nyonya. Sepertinya Tuan juga belum bangun! Saya akan ke kamarnya dan membangunkan Tuan kalau begitu!” ucap George dengan ekspresi wajah yang bahagia setelah mendengar penjelasan Laura sebelumnya.


“Tunggu George! Aku akan ikut bersamamu. Aku ingin meminta maaf secara langsung kepadanya sambil membawakan ini sebagai Permintaan Maafku!” ucap Laura sambil menunjukkan sup ringan dan juga beberapa roti yang mudah dicerna.


George yang tidak bisa mencegah Laura yang ingin meminta maaf kepada Evans pun menyerah dan membiarkan Laura melakukan yang diinginkannya.


“Baiklah kalau begitu, silahkan ikuti saya, Nyonya. Saya akan mengantar anda menemui, Tuan!” ucap George dengan sikap yang sopan dengan kepala tertunduk ke bawah.


Laura yang mengetahui bahwa Evans dan Tatiana masih belum tersadar setelah menghabiskan malam yang panjang karena telah mengaktifkan Kekuatan Anginnya sejak awal menjadi semakin bersemangat.


Laura yang akhirnya sampai di depan pintu kamar Evans sangat ingin membuka pintu kamar itu secara langsung tapi George yang tak ingin melupakan etikanya berniat mengetuk pintu dengan cepat dihentikan Luara.


“George! Bagaimana kalau kau langsung buka saja pintu itu? Aku ingin membuat kejutan kepada Evans!” ucap Laura dengan suara yang rendah karena tak ingin membangunkan Evans dan Tatiana yang masih tertidur lelap.


“Agh, aku lupa memberitaumu George. Kakakku akan segera sampai di Kediaman ini jadi kita harus segera membangunkan Evans dan memberitaukan rencanaku kepadanya!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang polos.


George yang tidak percaya bahwa Pangeran Mahkota Richard akan segera sampai pun tak punya pilihan lain lalu membuka pintu kamar Evans sangat lebar.


Laura yang masuk ke dalam lebih dulu tidak melihat apapun karena ruangan itu sangatlah gelap dengan tirai yang masih menutup rapat.


Rika yang mengerti tugasnya pun dengan cepat berjalan menuju tirai dan membukanya dengan sangat lebar hingga cahaya matahari pagi perlahan memasuki kamar. Kamar Evans yang awalnya gelap berubah menjadi sangat terang.


Laura yang melihat Kamar Evans sangat berantakan dengan serpihan pakaian yang berserakan dan juga kursi yang sudah berpindah posisi.


“Hmmm, berantakan sekali! Sepertinya mereka berdua benar-benar menikmati malam itu dengan sangat baik!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang dibuat terkejut.


Laura yang berjalan menuju ranjang Evans pun membuka penutup yang menutupi setiap sisi tempat tidur itu secara perlahan.


Laura yang melihat Evans yang tidak memakai pakaian dengan seorang wanita yang juga tak berbusana sambil berpelukan dengan cepat memulai aktingnya.


“Aaaarrgghhhh! Aaarrgghhh! Aaarrgghh!” teriak Laura dengan suara yang sangat keras hingga terdengar ke seluruh tempat di Kediaman itu dengan bantuan Master Noel.


“Yang Mulia! Tenanglah!” teriak Rika yang telah selesai mengikat semua helaian kain yang menutupi seluruh tempat tidur dengan suara yang keras sambil bergerak dengan cepat memeluk Laura yang sedang histeris.


#Bersambung#


Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apa yang akan dilakukan Laura saat melihat Evans dan Tatiana tidur bersama? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..