
Laura yang merasa tidak nyaman berkumpul bersama Nyonya-Nyonya Bangsawan dan mempertahankan topeng senyum ramahnya pun meminta izin untuk mencari udara segar.
Laura yang berjalan bersama Rika pun tanpa sadar melihat sebuah Danau yang sangat luas dan sangat jernih di depan matanya.
“Yang Mulia! Lihatlah danau itu! Danau itu sangat indah dan juga tenang sekali!” ucap Rika dengan suara yang sedikit tinggi dengan tatapan mata yang kagum.
“Air yang tenang, jangan kau anggap tidak berbahaya. Sebaiknya kita pergi dari sini karena kita tidak bisa tau bahaya dapat datang kapan saja!” ucap Laura dengan tatapan mata yang waspada.
Laura yang berniat meninggalkan Danau tersebut tidak sengaja bertemu dengan Pangeran Kedua, Pangeran Illion.
“Salam kepada Yang Mulia Pangeran Kedua, Pangeran Illion Jean Hentallius.” Ucap Laura yang langsung dihentikan oleh Pangeran Illion.
“Nyonya tidak perlu bersikap terlalu sopan seperti itu bukankah hubungan kita bukanlah hubungan biasa?” ucap Pangeran Illion yang membuat Laura mengkerutkan alisnya karena merasa ucapan Pangeran Illion bisa membuat orang lain salah paham saat mendengarnya.
“Mohon Yang Mulia tidak mengatakan hal yang akan membuat orang lain beranggapan lain!” ucap Laura yang menundukkan kepala dengan etika kebangsawanan.
Pangeran Illion yang menyadari bahwa Laura tidak bisa diajak bercanda pun menghentikan sikapnya dan mengatakan tujuan kedatangannya.
“Aku mengerti. Maafkan saya, Nyonya Countess. Hal ini tidak akan terulang kembali!” ucap Pangeran Illion dengan satu tangan di dada sebagai tanda penyesalan.
“Aku tidak akan bermain-main lagi. Tujuan kedatanganku adalah untuk menyampaikan bahwa permintaan Nyonya telah dilaksanakan.” Ucap Pangeran Illion dengan senyum yang lebar dan misterius.
“Hanya Seorng Bangsawan yang memiliki Kekuatan, Kekuasaan dan Kekayaan yang bisa mengikuti Taruhan Pacuan Kuda ini dan tentunya dengan nilai yang sangat tinggi! Bagaimana? Apakah Nyonya puas dengan pengaturan ini?” tanya Pangeran Illion dengan ekspresi wajah yang percaya diri.
“Tentu saja. Oleh karena itu, aku ingin mempertaruhkan semua uangku yang ada di dalam sini pada kuda nomor dua!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius sambil menyerahkan kunci emas yang dimilikinya.
Rika yang melihat Laura melakukan itu pun menjadi sangat terkejut dan mencoba untuk menghentikannya karena Laura sangat tau jumlah uang yang ada di dalamnya tidaklah sedikit.
“Yang Mulia....” panggil Rika dengan suara yang sedikit tinggi dengan ekspresi wajah yang khawatir dengan nada suara yang terdengar sangat cemas.
“Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja!” ucap Laura dengan senyum percaya diri dengan nada suara yang menenangkan.
Pangeran Mahkota Illion yang mengetahui bahwa tidak semua Bangsawan bisa memiliki kunci emas di Bank Magical kecuali jumlah uang yang ada di dalamnya melebihi Aset Sebuah Keluarga Bangsawan Besar.
“Apakah Nyonya Countess yakin akan memperuhkan semuanya? Jika Nyonya kalah maka tidak akan ada pengembalian dana!” ucap Pangeran Illion yang mencoba memberikan peringatan kepada Laura.
Laura yang telah membuat keputusannya pun tidak pernah menarik kembali kata-katanya sehingga membuat Pangeran Illion sedikit terkejut.
Sementara itu, Evans yang telah selesai berbicara dengan beberapa Bangsawan pun berjalan dengan diikuti George dan Komanda Kesatria Kediaman Count Vansfold, Komandan Cassis tiba-tiba melihat Laura sedang bersama Pangeran Illion.
Evans yang tidak pernah melihat Laura tersenyum lagi dihadapannya semenjak insiden dirinya terjatuh ke Danau untuk mengancamnya pun menjadi kesal.
“Hah! Apakah sekarang dia sedang mengganti targetnya dengan Pangeran Kedua, Pangeran Illion?” sindir Evans dengan nada suara yang terdengar sangat kesal dengan mata yang menatap tajam ke arah Laura.
George dan Komandan Cassis yang melihat Evans yang menatap Laura dan Pangeran Illion dengan tatapan cemburu pun saling berpandangan.
“Ehem! Tuan, jika anda penasaran dengan yang diucapkan oleh Nyonya bukankah sebaiknya Tuan datang kesana dan bicara dengan Nyonya?” ucap Komandan Cassis dengan suara deheman yang nyaring dengan ekspresi wajah yang malu-malu.
Evans yang mendengar saran yang tidak masuk akal menurutnya pun menjadi kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
Evans yang pergi ke tempat perjamuan pun mengambil Segelas Sampanye dari Pelayan dan menghabiskannya dalam satu kali tegukan.
George yang merasa sedikit khawatir Evans akan mabuk dan membuat ulah pun mengajak Evans pergi menjauh tapi justru di dorong oleh Evans dengan sangat kuat ke belakang.
Evans yang terus memikirkan Laura yang sedang berbicara dengan Pangeran Illion pun memutuskan untuk kembali ke Danau dan menemui keduanya.
“Maaf membuatmu menunggu lama dan aku berjanji tidak akan ada pertemuan lagi setelah ini!” ucap Evans dengan kata-kata yang sangat manis dengan senyum yang lembut sambil merangkul pinggang Laura.
Laura yang terkejut dengan perubahan sikap Evans yang terlalu mendadak pun mengkerutkan alisnya sebagai tanda tak mengerti dan tetap bersikap seperti biasa.
“Maafkan ketidaksopanan kami, Yang Mulia Pangeran Kedua. Kami mohon pamit karena ada urusan yang penting!” ucap Evans dengan senyum yang lembut lalu menggandeng tangan Laura dan menjauh dari Danau tersebut.
Laura yang melihat Pangeran Illion menganggukkan kepalanya sebagai tanda perizinannya pun mengikuti Evans berjalan membawanya.
“Apa yang terjadi? Apakah kepalanya terbentur ataukah dia mabuk? Kenapa sikapnya berbeda sekali?” tanya Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang datar dengan pandangan mata lurus ke depan.
Evans yang merasa jika keduanya telah cukup jauh dari orang-orang pun mengusir semua orang dan menyisahkan dirinya dan Laura.
Laura yang tidak merasa takut ataupun terancam dengan Evans setelah menguasai Kekuatan Alam dengan mengendalikan Angin.
“Ada apa? Kenapa Tuan Count membawaku kemari?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang santai sambil melihat ke sekitar yang sangat sepi.
“Hentikan sandiwaramu Laura! Apakah kau akan terus marah seperti ini padaku?”tanya Evans yang berteriak dengan nada suara sangat keras.
“Baiklah! Maaf! Aku akan minta maaf karena tidak membawamu ke Ibukota tapi apakah kau tidak berpikir jika sikapmu ini seperti anak kecil!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang kesal yang kemudian mengibaskan rambutnya ke belakang dengan sebelah tangannya.
“Anak kecil? Aku?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang sedikit kesal dengan nada suara yang meninggi dengan alis yang mengkerut.
“Tentu saja dirimu. Kalau bukan kau lalu siapa lagi. Kau marah padaku berhari-hari, tidak mau makan malam denganku ataupun berbicara denganku! Jika sikapmu tidak seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak mendapatkan yang diinginkannya lalu apa?” tanya Evans dengan suara yang tinggi.
Laura yang mendengar ucapan Evans pun tidak bisa berkata-kata lagi karena menurutnya semua ucapan Evans sangat tidak masuk akal.
“Apakah dia pikir jika dirinya adalah orang yang sangat hebat sehingga bisa memperlakukan orang yang mencintainya begitu rendah?” sindir Laura dalam hati dengan tawa kecil dengan ekspresi wajah yang seolah menertawakan kebodohannya di masa lalu.
“Bagaimana aku bisa mencintai pria pecundang dan tidak kompeten ini? Sungguh menyebalkan sekali!” ucap Laura lagi dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal.
Laura yang tidak bisa menahan kekesalannya pada Evans pun melangkah beberapa langkah ke depan dan menatap mata Evans dengan tajam.
“Jika aku anak kecil lalu bagaimana dengan sikapmu sekarang? Kau marah-marah karena melihatku bicara dengan Pangeran Illion! Apakah kau tidak sadar sikapmu sekarang lebih dari seorang anak kecil yang marah-marah karena takut kehilangan miliknya?” sindir Laura dengan ekspresi wajah yang merendahkan dengan tatapan mata yang merendahkan.
Laura yang tidak ingin melayani ketidakwarasan Evans pun berbalik arah dan pergi meninggalkan Evans yang sedang termenung dengan mata yang terbuka lebar.
#Bersambung#
Wow, Evans mendapatkan karmanya di kehidupan kedua ini karena telah mengabaikan cinta tulus dari Laura. Apa yang akan terjadi pada hubungan Evans dan Laura? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...