
Laura yang memutuskan pergi pun mengunjungi Nona Tiffany di TokonKue Sweety sambil menenangkan perasaannya yang kacau dengan makanan manis.
"Tiffany, kue yang kau buat sangat lezat! Aku sangat menyukainya." ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia.
"Aku merasa sepertinya ini adalah keputusan yang tepat untuk datang kemari di saat perasaan sedang buruk!" ucap Laura dengan perasaan yang telah membaik.
"Saya ikut senang mendengarnya, Yang Mulia! Saya sudah merasa kasihan kepada Nona Rika yang sangat khawatir kepada Yang Mulia!" ucap Nona Tiffany dengan senyum yang lega dengan ekspresi wajah yang bahagia.
Laura yang mendengar perkataan Nona Tiffany pun menyadari perasaan Rika yang pasti akan merasa sangat cemas karena dirinya tidak mengatakan apapun.
"Rika! Maafkan aku!" ucap Laura dengan nada suara yang terdengar menyesal dengan ekspresi wajah yang canggung.
"Yang Mulia tidak perlu meminta maaf. Saya sudah merasa sangat bahagia setelah melihat Yang Mulia telah kembali ceria!" jawab Rika yang tersenyum kembali dengan wajah yang lega.
Laura yang menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lama di luar pun memutuskan kembali ke Kediaman Count Vansfold dan dengan kecepatan tinggi memasuki kamarnya dan menolak siapapun yang ingin datang menemuinya.
Keesokan paginya, Pangeran Mahkota Richard yang secara tiba-tiba mendapatkan kode dari Laura pun berjalan dengan percaya diri ke Ruang Rapat dengan kepala terangkat ke atas.
"Kita sudah melakukan perundingan ini beberapa kali dan perundingan ini telah terjadi berminggu-minggu hingga tak akhirnya tak menemukan jalan keluarnya. Oleh karena itu, Kekaisarn Glorious memutuskan untuk tidak melanjutkan kerjasama ini." ucap Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang tegas.
Putra Mahkota Lyod yang mendengarkan keputusan dari Pangeran Mahkota Richard pun tidak terima dan berniat melakukan protes tapi sebelum itu terjadi Pangeran Mahkota Richard telah meninggalkan Ruang Rapat.
Putra Mahkota Lyod yang tak bisa melampiaskan amarahnya kepada orang-orang dari Kekaisaran Glorious pun berbalik arah menatap Evans yang telah mengubah wajahnya menjadi pucat.
"Apa kau pikir perkataanku hanyalah sebuah lelucon? Apakah kau pikir aku tidak akan melakukan semua yang aku katakan?" teriak Putra Mahkota Lyod dengan suara yang keras dengan mata yang terbuka lebar setelah memukul wajah Evans dengan sangat keras.
Putra Mahkota Lyod yang tidak ingin berlama-lama dengan Evans pun melepaskan kerah baju Evans lalu berdiri dengan tegap.
"Mulai sekarang aku akan melepaskan posisimu sebagai salah satu dari ketiga Komandan Kesatria Suci! Kau bukanlah siapapun sekarang tanpa kekuatan!" teriak Putra Mahkota Lyod dengan suara yang lantang dengan tatapan mata yang merendahkan dengan ekspresi wajah yang dingin.
Putra Mahkota Lyod yang melihat wajah menderita Evans pun pergi meninggalkan Ruangan Rapat dengan diikuti Anggota Bangsawan yang lain hingga menyisahkan Evans sendirian di Ruangan itu.
"Aaarrgggghhhh!" teriak Evans dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tatapan mata yang tajam dengan niat membunuh yang kuat.
Evans yang meyakini bahwa semua kesalahan ada pada Laura yang telah menjadi wanita pembangkang pun berjalan dengan tatapan mata yang tajam kembali ke Kediaman Count Vansfold di Ibukota.
Laura yang sedang duduk bersantai di sore hari di ruangannya sambil meminum teh hangat dengan sepiring kue kering di atas meja sambil membaca buku menjadi terkejut saat melihat kedatangan Evans.
"Keluar!" ucap Evans dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam.
Rika yang merasakan ancaman dari perkataan dan sikap Evans tidak ingin bergerak dari tempat tersebut.
"Keluarlah Rika! Jangan khawatir. Tak akan terjadi apapun!" ucap Laura dengan senyum yang lembut dengan ekspresi wajah yang mencoba meyakinkan Rika bahwa semua akan baik-baik saja.
Rika yang mendapatkan perintah dari Rika tak punya pilihan lain lalu meninggalkan ruangan tersebut lalu menutup pintu dan menyisahkan Laura dan Evans berdua saja.
"Yang seharusnya terjadi akan terjadi. Aku harus menghadapinya!" ucap Laura dalam hati dengan tekad yang kuat dengan mempertahankan postur elegannya.
Evans yang melihat Laura masih terlihat tenang dengan sikap yang elegan membuat Evans menjadi semakin marah.
"Kenapa kau marah padaku? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tidak bisa membujuk Pangeran Mahkota Richard karena diriku telah melakukan pertentangan besar dengan memaksa untuk menikah denganmu?" sindir Laura dengan tatapan mata yang tajam.
"Melihat kemarahanmu ini sepertinya Perundingan Perjanjian Kerjasama itu telah gagal. Hmmm, jika itu gagal bukankah itu kesalahan kalian yang tidak bisa meyakinkannya bahwa kalian semua layak untuk bisa mengulurkan kerjasama ini?" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang cuek dengan tatapan mata merendahkan.
"Kau sungguh wanita yang angkuh. Kau melakukan apapun yang ingin kau lakukan hanya karena kau punya kekuasaan. Ingatlah ini! Kau bukanlah Seorang Putri lagi!" ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam sambil bergerak cepat mengangkat dagu Laura ke atas.
Laura yang tau jika dirinya harus bisa memprovokasi Evans hingga benar-benar marah untuk melanjutkan rencananya memutuskan untuk mengambil resiko besar.
"Kau tau jika aku bukanlah Seorang Putri lagi sekarang dan hanyalah Seorang Countess di Kerajaan Hentallius tapi kau masih memaksaku membuju Pangeran Mahkota Richard. Apakah otakmu telah bergeser?" sindir Laura yang masih terduduk di tempatnya semula sambil menyingkirkan jari-jari Evans pada dagunya degan kipas yang terlipat.
"Kau yang gagal pada misimu dan kembali dengan sangat cepat menemuiku hanya untuk melampiaskan amarahmu. Apakah kau pikir aku hanyalah boneka yang tak punya hati?" tanya Laura yang telah berdiri dan berjalan menuju ke arah Evans.
Laura yang merasakan kekecewaan, kemarahan, dan kesedihan karena telah menyadari kenyataan pun mengucapkan semua itu di hadapan Evans.
"Aku yang telah mengorbankan semuanya demi bisa bersatu denganmu!"
"Aku yang telah mengabaikan Keluarga yang sangat mencintaiku demi bisa menikah denganmu!"
"Aku yang meninggalkan tanah airku demi bisa bersama denganmu!"
"Aku yang telah melakukan semua hal dan menuruti semua perkataanmu selama ini dengan harapan kau akan mencintaiku kembali dan menatapku dengan tatapan cinta tak pernah mendapatkan kasih sayangmu!"
"Kau bahkan meninggalkanku di malam pengantin kita!"
"Kau yang selalu mengabaikan aku selama ini tanpa pernah peduli padaku!"
"Kau yang tak pernah menganggap keberadaanku ataupun mengakuiku sebagai Istrimu ingin aku menjaga kehormatanmu, posisimu, dan kekuasaanmu!"
"Bukankah hal itu sangat lucu, Evans?"
Laura yang telah mengatakan semua yang dikatakannya tanpa henti dengan suara yang keras pun mengangkat kepalanya setelah menyadari bahwa Evans tidak merespon apapun perkataannya.
"Kau menginginkan cintaku, kasih sayangku dan perhatianku setelah pernikahan yang kau paksakan ini! Apa kau sudah tidak waras?" teriak Evans dengan suara yang lantang sambil memecahkan vas bunga yang ada di atas meja ke lantai.
"Aku tidak akan pernah memberikan hatiku kepada wanita sepertimu! Menjaga dan melindungi statusku, posisiku dan kekuasaanku adalah tugasmu yang telah membuatku terikat dalam Pernikahan yang sangat menyesakkan ini!" ucap Evans dengan penekanan di setiap katanya sambil mencengkram wajah Laura dengan satu tangannya dengan tatapan mata penuh kebencian.
Evans yang merasa sangat muak dan tak tahan berada lama-lama bersama Laura pun melepaskan Laura dengan mendorongnya ke belakang hingga akhirnya Laura terduduk di lantai dengan air mata yang mengalir lalu pergi tanpa melihat ke belakang.
Laura yang telah menerima kenyataan pada Kehidupan Pertamanya bahwa Evans tidak akan pernah mencintainya merasa hatinya teriris sangat tipis saat mendengar semuanya secara langsung dari mulut Evans.
Rika yang setia menunggu di luar ruangan bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut tepat setelah Evans keluar dan memeluk Laura yang terduduk dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Yang Mulia!" teriak Rika dengan suara yang keras dengan ekspresi wajah yang cemas dengan tatapan mata yang khawatir.
#Bersambung#