The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 89. Istana yang Terabaikan



Laura yang dalam perjalanan menuju kereta kuda yang disiapkan Pangeran Mahkota Richard untuknya tidak menyangka akan bertemu dengan Putra Mahkota Lyod.


"Agh! Nyonya Countess senang bisa bertemu denganmu hari ini! Sungguh pertemuan yang tidak disengaja!" ucap Putra Mhakota Lyod yang berjalan menuju ke arah Laura dari arah yang berlawanan.


"Pertemuan yang tidak disengaja? Huh! Jangan membuatku ingin muntah! Beraninya dia mengatakan kebohongan yang sudah sangat jelas!" ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Sungguh kebetulan yang sangat tak terduga!" ucap Laura dengan senyum yang lembut dengan tatapan mata yang menghina.


Putra Mahkota Lyod yang menyadari bahwa Laura telah mengetahui bahwa dirinya telah dengan sengaja menunggunya keluar dari Istana setelah selesai bicara dengan Raja Jonathan IV tetap berpura-pura polos.


"Ini adalah hari yang indah. Apakah Nyonya Countess ingin berjalan-jalan di Taman Kerajaan? Saya bersedia mengawal anda." ucap Putra Mahkota Lyod dengan senyum yang lembut.


"Hmmm, sebuah kehormatan bagi saya bisa dikawal oleh Putra Mahkota sendiri sekaligus calon Raja masa depan Kerajaan Hentallius!" jawab Laura dengan senyum yang lebar dengan tatapan mata yang sinis.


Putra Mahkota yang tidak peduli maksud ucapan Laura yang menghinanya dengan perkataan bahwa dirinya hanyalah Calon Raja dan bukan Raja sebenarnya.


Putra Mahkota Lyod yang mengulurkan tangannya pun disambut dengan senyum manis tapi beracun dari Laura.


"Nyonya Countess adalah Seorang Putri sebelum menikah. Bukankah hal biasa jika seorang Raja memiliki banyak Istri bahkan Selir?" tanya Putra Mahkota Lyod yang mengarah kepada Evans yang menjadikan Tatiana sebagai Selirnya.


"Tentu saja itu hal yang biasa jika orang tersebut terlahir dari garis keturunan Raja yang sebenarnya!" jawab Laura dengan ekspresi wajah yang datar.


"Dan bukan berasal dari garis keturunan tidak murni yang serakah akan tahta dan kekuasaan!" jawab Laura sambil tersenyum lembut pada Putra Mahkota Lyod yangmana Laura mengingatkan Putra Mahkota Lyod tentang status dan latar belakang Evans sebenarnya.


"Lagipula Ayahku yang merupakan Kaisar dari Kekaisaran Terkuat di Daratan ini tetap setia kepada Ibuku, Permisurinya, hingga saat ini! Bagaimana mungkin seorang pria yang terlahir dari darah yang tak murni berani memiliki Istri lebih dari satu bahkan menginginkan seorang Selir!" sindir Laura dengan tatapan merendahkan.


Putra Mahkota Lyod yang tak bisa mengatakan apapun lagi setelah Laura menyebutkan tentang Ayahnya, Kaisar Frederic, pun terdiam karena tak ingin menjadikan hal ini sebagai masalah diplomatik yang besar.


Laura yang malas melayani Putra Mahkota Lyod pun memutuskan untuk mencari alasan untuk bisa melarikan diri dari pembicaraan yang menyebalkan.


"Yang Mulia, Taman ini sangat indah tapi sayang saya tak punya banyak waktu untuk mengaguminya karena masih banyak hal yang harus diselesaikan." ucap Laura dengan suara yang lembut sambil menatap sedih ke bunga-bunga yang ada di sekelilingnya.


"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, Yang Mulia." ucap Laura sambil menundukkan kepalanya dengan sikap yang sopan dan senyum lembut.


Laura yang pergi meninggalkan Putra Mahkota Lyod pun pergi mencari jalan kembali menuju kereta kudanya tapi setelah beberapa lama mencari Laura tak menemukan jalan.


"Hah! Dimana ini? Kenapa aku bisa sampai disini?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang mencari jalan ke segala arah.


Laura yang berjalan lurus masuk ke dalam melihat sebuah Istana yang tak terawat dan menjadi penasaran lalu saat Laura ingin mendekat tiba-tiba seekor kucing muncul dan mengagetkan Laura yang sedang berjalan.


Laura yang akan terjatuh ternyata ditolong oleh Pangeran Kedua Illion yang sedang berada di dekat Istana yang tak terawat itu.


“Yang Mulia Putri, apa kau baik-baik saja? Agh! Maaf! Aku seharusya memanggilmu Countess. Maafkan atas kelancanganku!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang khawatir dan cemas di saat bersamaan lalu berubah menjadi canggung.


“A-aku baik-baik saja. Terima kasih untuk pertolongan Pangeran! Hmmm, itu bukan masalah Yang Mulia lagipula saat ini saya sedang proses cerai jadi status itu tidak berarti lagi bagiku!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


“Terima kasih, Yang Mulia!” ucap Laura dengan sikap yang ramah dan sopan dengan senyum yang lembut.


Pangeran Kedua Illion yang ingin dekat dengan Laura sangat tidak senang mendengar Laura terus memanggilnya dengan statusnya dan bersikap sangat sopan seolah memberikan jarak antara keduanya.


“Yang Mulia Putri, kita telah menjalin kerjasama cukup lama dan kita pun telah menjadi parner bisnis sekarang. Bisakah anda memanggilku dengan Illion saja tanpa ada Yang Mulia ataupun Pangeran?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang penuh harap.


“Baiklah. Illion!” panggil Laura dengan senyum yang lembut saat melihat Pangeran Kedua Illion bersikap seperti anak anjing yang sangat ingin namanya dipanggil.


“Aku harap Ya-Yang... Illion untuk tidak memanggilku dengan Nyonya Countess ataupun Yang Mulia Putri. Tolong panggil aku dengan Laura!” ucap Laura dengan senyum yang lembut.


“Tentu saja! Laura!” ucap Pangeran Kedua dengan senyum yang lebar dan ekspresi wajah yang bahagia yang membuat wajah Laura tiba-tiba memerah karena malu melihat Pangeran Kedua Illion terlihat sangat tampan.


Pangeran Kedua Illion yang penasaran dengan alasan Laura bisa ada di Istana tempat tinggalnya itu pun bertanya.


“Maafkan atas kelancanganku tapi apa yang kau lakukan di sini, Laura? Ini bukanlah tempat yang cocok untukmu!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Agh! Aku sedang mencari jalan keluar dari Istana tapi di jalan aku bertemu dengan Putra Mahkota dan dia menawariku untuk melihat Taman Bunga yang indah tapi sayang saat aku keluar dari Taman Bunga itu. Aku justru tak menemukan arah pulang dan sampai di sini!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang sedih.


“Kalau begitu aku bisa mengantarmu kembali ke Taman Bunga atau Istana tempatmu berkunjung tadi!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lembut.


Laura yang mendengarnya pun menjadi sangat senang dan menerima bantuan yang ditawarkan kepadanya dengan senang hati.


Laura yang penasaran dengan Kastil Istana yang terlihat tua dan tidak terawat itu pun memutuskan bertanya pada Pangeran Kedua Illion.


“Illion, bolehkah aku bertanya?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang menunjukkan rasa ingin tau yang tinggi.


“Silahkan. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan percaya diri karena Pangeran Kedua Illion yakin dirinya bisa menjawab semuanya karena merupakan Ketua dari Guild Informasi paling hebat di Kerajaan Hentallius.


“Istana siapa yang aku datangi tadi? Lalu kenapa hanya Istana itu yang tak terawat sementara tempat lain di sekitarnya terlihat sangat bersih dan rapi?” tanya Laura yang sangat penasaran.


Pangeran Kedua Illion yang tau jika Laura penasaran pun memutuskan untuk memberitau semuanya terutama saat dirinya telah berjanji akan menjawab apapun pertanyaan yang diajukan kepadanya.


“Istana itu adalah Istana tempat tinggalku dan Pangeran Ketiga Edward dan Istana tersebut sengaja dibiarkan menjadi seperti itu untuk menghilangkan pandangan Putra Mahkota Lyod kepadaku dan Edward!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang tajam.


“Namun hal itu ternyata tidak ada gunanya karena kami berdua telah masuk menjadi targetnya sejak pertama kali kami dilahirkan ke dunia ini!” ucap Pangeran Kedua Illion lagi dengan ekspresi wajah yang dingin.


Laura yang menyadari maksud perkataan Pangeran Kedua Illion pun menatap lurus ke depan sambil mengingat semua kejahatan dan konspirasi yang dibuat oleh Putra Mahkota Lyod untuk menghancurkan Kekaisarannya.


#Bersambung#


Bagaimana kelanjutannya? Apakah Laura bisa kembali ke Kediamannya dengan bantuan Pangeran Kedua Illion? Apa lagi yang akan dibicarakan keduanya selama perjalanan? Tebak di kolom komentar ya..