The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 83. Madam Rollesh



Di saat Pangeran Mahkota Richard pergi mempersiapkan rencana selanjutnya tiba-tiba Rika datang dengan sebuah amplop.


"Yang Mulia, ada undangan khusus datang untuk anda." ucap Rika dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar.


Laura yang penasaran pun melihat Segel yang ada pada Surat tersebut dan tersenyum licik lalu membuka dan membaca isinya secara seksama.


"Hmmm, ternyata undangannya datang lebih cepat dari yang aku duga!" ucap Laura dengan senyum lebar dan licik.


"Tapi sayang sepertinya Yang Mulia Raja ingin bertemu denganku secara pribadi tanpa diketahui oleh Permaisuri dan Putra Mahkota!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang sangat disayangkan.


"Itu bukanlah masalah besar asalkan aku bisa bernegosiasi dan mengatakan keinginanku!" ucap Laura dengan senyum yang licik.


"Rika, persiapkan semuanya. Kita akan ke Istana Kerajaan besok pagi!" ucap Laura dengan senyum yang lebar dengan tatapan mata yang tajam.


"Tentu saja, Yang Mulia!" ucap Rika yang menundukkan kepalanya dengan dengan wajah dan nada suara yang datar.


Sementara itu, Evans yang telah sampai di Kediamannya menjadi sangat terkejut saat melihat wanita yang menjadi sumber masalahnya berdiri dengan pakaian yang berbeda di hadapannya.


"George! Apa maksud semua ini? Bukankah aku sudah pernah bilang untuk memasukkan wanita ini ke dalam Penjara Bawah Tanah?" tanya Evans dengan ekspresi wajah yang marah dengan tatapan mata yang tajam.


Di saat Geoge ingin menyampaikan sesuatu Seorang Wanita Tua dengan pakaian yang mewah muncul dari sisi sebelah kanan.


"Aku yang mengeluarkannya dari Penjara Bawah Tanah! Apa kau punya masalah dengan itu, Evans?" tanya Wanita Tua itu yang ternyata Ibu Evans, Madam Rollesh, dengan sikap yang angkuh.


Evans yang mendengar suara dari wanita yang sangat dikenalnya itu pun segera berbalik sambil menarik nafas panjang.


"Ibu! Kau tidak boleh melakukan ini! Wanita ini tidak boleh ada di sini. Bagaimana jika Laura kembali dan melihat ini? Dia pasti akan sangat marah dan tak ingin kembali!" teriak Evans dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat lelah.


"Kenapa kau memikirkan Istrimu itu sekarang? Bukankah kau tidak menyukainya karena itu kau tidur dengan wanita lain?" tanya Madam Rollesh dengan ekspresi wajah yang bingung.


Evans yang melihat semua Pelayan di Kediaman itu telah mulai berkumpul pun menatap Evans dengan tajam.


"Aku tidak ingin melihat Pelayan ini! Jangan biarkan dia muncul di hadapanku! Letakkan dia di kamar barat lantai dua!" perintah Evans dengan suara yang lantang.


"Pastikan kau akan melakukan tugas yang aku perintahkan atau aku akan menggantimu dengan Kepala Pelayan yang baru!" ancam Evans dengan ekspresi wajah yang serius.


"Baik, Tuan Count!" ucap George dengan suara yang tegas dan sedikit nail dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam ke arah Madam Rollesh.


Tepat setelah perintah diberikan, George yang tak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena seorang wanita yang menghabiskan satu malam bersama Evans dengan tidak sengaja.


"Nona Tatiana! Silahkan ikuti saya ke Ruangan anda yang baru atau anda ingin kembali ke tempat semula?" tanya George dengan kata-kata yang kasar dengan sikap yang arogan.


Tatiana yang tak punya kekuasaan apapun di Kediaman itu dan berhasil keluar dari Penjara Bawah Tanah yang sangat buruk itu sudah merupakan hal yang baik sehingga Tatiana tak punya pilihan lain selain pasrah menerima perlakuan Evans dan George padanya.


"Aku akan menurut dan mengalah sampai perceraian antara Laura dan Evans terjadi dan setelah semua itu maka semua orang harus menuruti perkataanku karena aku adalah Nyonya Baru mereka!" ucap Tatiana dalam hati dengan senyum kecil dengan tatapan mata yang licik.


Sementara itu, Evans yang melihat semua Pelayan masih berkumpul pun memberikan perintah pengbubaran.


"Kenapa semuanya berkumpul disini? Pergi dan kerjakan tugas kalian!" ucap Evans dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang marah.


Semua Pelayan yang merasa ketakutan dengan aura dan sikap dingin Evans pun bergerak menghilang tanpa jejak.


Evans yang melihat tak ada orang lain lagi di tempat itu selain dirinya dan Ibunya pun mengalihkan pandangannya ke Madam Rollesh.


"Baiklah. Tunjukkan jalannya!" ucap Madam Rollesh dengan kepala terangkat ke atas dengan sikap yang angkuh yang tak ingin di pandangan rendah oleh Pelayan.


Evans yang tak punya pilihan lain selain memberitau Madam Rollesh tentang masalah yang sedang dihadapinya itu pun membawa Madam Rollesh ke ruang kerjanya.


Namun Madam Rollesh yang tak tau apapun hanya berpikir jika semua yang dilakukannya adalah kebenaran dan tak ada kesalahan sama sekali sehingga membuat Madam Rollesh masih bersikap angkuh.


"Kapan Ibu sampai di Ibukota?" tanya Evans dengan tatapan mata yang tajam dengan nada suara yang dingin.


"Tentu saja Ibu sampai saat kau tidak ada di Kediaman ini. Ibu sudah membaca berita tentang dirimu yang meniduri Seorang Pelayan di Surat Kabar tapi apa masalahnya itu." ucap Madam Rollesh dengan ekspresi wajah yang tidak peduli.


Bukankah Seorang Bangsawan sudah biasa melakukan itu? Kenapa Istrimu itu bersikap sangat berlebihan dengan pergi meninggalkan Kediaman ini dan membuat semuanya menjadi lebih besar?" tanya Madam Rollesh dengan sikap yang santai lalu berbalik menatap Evans yang telah mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat dingin.


Madam Rollesh yang menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan dengan mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dikatakannya itu menjadi takut.


"Ibu! Apakah Ibu lupakan siapa kita sebenarnya saat aku belum bertunangan dan menikah dengan Laura?" sindir Evans dengan tatapan mata yang tajam dengan ekspresi wajah yang marah.


"Jika Ibu lupa maka aku akan mengingatkan Ibu dan menjelaskan masalah sebenarnya dari berita yang beredar itu!" ucap Evans yang kemudian berjalan berdiri di belakang Madam Rollesh yang sedang duduk santai di sofa.


"Ibu jangan lupa kalau aku hanyalah Putra tidak sah dari Viscount Timothy yang selalu mendapatkan ancaman pembunuhan dari Viscountess Timothy dan Putranya yang tak ingin Gelar Bangsawan itu jatuh ke tanganku karena aku adalah Putra Seorang Pelayan yang telah menggoda suaminya hingga berhasil naik ke atas ranjang suaminya!" ucap Evans di balik telinga Madam Rollesh dengan ekspresi wajah yang serius.


"Jika saat itu aku tidak menerima pertunangan dan pernikahan dengan Laura yang Seorang Putri dari Kekaisaran Glorious maka saat ini Ibu mungkin tidak akan bisa melihatku lagi!" ucap Evans yang telah berdiri tegap sambil memegang pundak Madam Rollesh.


"Jika Ibu pikir tak akan ada masalah yang serius jika aku berpisah dengan Laura maka Ibu salah. Aku akan katakan ini satu kali jadi ingatlah ini baik-baik, Ibu!" ucap Evans yang kemudian mengambil tempat duduk di tempatnya yang seharusnya.


"Jika aku dan Laura bercerai maka tak hanya Ibu tak akan bisa memakai pakaian mewah dan hidup bergelimang harta tapi aku juga bisa kehilanga Gelar, Status, dak Kekuasaanku! Ingatlah Ibu, meskipun Laura adalah Countess Vansfold, dia tetaplah Seorang Putri dari Kekaisaran Glorious!" ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam.


Madam Rollesh yang akhirnya menyadari sikapnya yang kekanak-kanakan itu pun menjadi sangat malu.


"Jadi Ibu, aku akan serahkan wanita rendahan itu padamu. Apakah kau bisa menanganinya dengan baik?" tanya Evans dengan senyum yang lembut dan ekspresi wajah yang bersahabat tapi cukup membuat Madam Rollesh ketakutan.


"Ja-Jangan khawatir Pu-Putraku. Ibu pasti akan mengurusnya dengan sangat baik!" ucap Madam Rollesh dengan suara yang gagap dengan senyum yang canggung.


"Bagus sekali. Kalau begitu aku harus pergi karena aku harus menjemput Istriku pulang!" ucap Evans dengan senyum yang lebar lalu meninggalkan Madam Rollesh.


Evans yang keluar dari ruang kerjanya pun memanggil George yang telah menyelesaikan pekerjaannya dengan Tatiana.


"Apakah kau telah menemukan keberadaan Laura?" tanya Evans dengan nada suara yang tajam dengan ekspresi wajah yang serius.


"Ya, Yang Mulia. Saat ini Nyonya tinggal di Kediaman yang ada di Jalan Utama Ibukota, Tuan Count!" jawab George dengan ekspresi wajah yang serius.


"Jalanan Utama? Hmmm, tak diherankan karena dia adalah Putri dari Kekaisaran terkuat di Benua ini. Pangeran Mahkota Richard pasti akan memberikan yang terbaik untuk Adik tersayangnya itu!" ucap Evans dengan nada suara yang terdengar sarkastik.


"Apa kau telah menyiapkan semuanya untuk membuju seorang wanita yang sedang marah?" tanya Evans dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Jangan khawatirkan itu, Tuan. Semua hadiah itu telah dikirim ke Nyonya!" ucap George dengan ekspresi wajah yang percaya diri.


"Bagus sekali! Kita pergi sekarang! Ayo kita jemput Nyonyamu kembali!" ucap Evans dengan senyum yang lebar dan semangat yang membara.


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan Madam Rollesh kepada Tatiana? Apakah Evans dapat membukuk Laura untuk kembali ke Kediamannya?" tebak di kolom komentar ya..