The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 84. Tikus Kecil



Laura yang berbicara dengan Adrian dan Daniel di Ruangannya tiba-tiba mendengar ketukan pintu dari luar.


"Yang Mulia! Yang Mulia! Yang Mulia!" panggil Seorang Pelayan dari luar pintu dengan suara yang datar.


"Masuklah!" ucap Laura dengan nada suara yang dingin dengan tatapan mata yang tajam karena tidak senang ada yang mengganggu pertemuannya.


Di saat Laura memberikan izin kepada Pelayan untuk masuk tiba-tiba beberapa orang datang dan membawa puluhan kotak hadiah yang berisikan barang-barang mewah untuk Laura.


Laura yang tak pernah merasa memesan ataupun meminta hadiah yang sangat banyak itu pun menjadi sangat bingung dan bertanya tentang identitas orang yang mengirim hadiah.


"Tunggu! Jangan pergi dulu. Aku ingin tau, siapa yang telah mengirim hadiah-hadiah ini?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penasaran.


Pelayan wanita yang meminta izin masuk dan memberikan izin kepada orang-orang untuk memasukkan hadiah-hadiah itu tiba-tiba terdiam setelah mendengar pertanyaan Laura.


Rika yang tidak memiliki kesabaran yang menjadi sangat kesal melihat Pelayan Wanita itu hanya diam dan tak mengatakan apapun bahkan terlihat ketakutan.


Rika yang menyadari bahwa Pelayan Wanita yang ada di depannya itu telah disogok oleh Evans untuk mengirimkan semua hadiah itu.


"Kau ingin mengatakan yang sejujurnya atau harus aku yang memaksamu berkata jujur?" tanya Rika dengan ekspresi wajah yang terlihat kejam.


Pelayan Wanita yang melihat Rika menjadi takut sehingga tubuhnya bergetar ketakutan sambil berlutut di lantai.


"Ya-Yang mengirimkan semua hadiah itu adalah Tu-Tuan Count Vansfold!" teriak Pelayan tersebut dengan suara yang gagap sambil berlutut di hadapan Laura.


"Mohon ampuni hamba Yang Mulia. Sa-saya sangat menyesal Yang Mulia!" ucap Pelayan tersebut berulang kali meminta ampun dengan ekspresi wajah yang ketakutan.


Laura yang sudah bisa menebaknya pun mengalihkan pandangannya kepada Rika dan memberikannya kode untuk menangani mata-mata Evans.


Rika yang dapat mengetahui itu tanpa mendengar langsung perintah Laura pun menarik paksa Pelayan wanita itu dan menamparnya di hadapan Pyrex, Kepala Pelayan di Kediaman itu.


"No-Nona Rika! A-ada apa ini?" tanya Pyrex dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan tatapan mata seolah menunggu jawaban tanpa melakukan apapun terhadap Pelayan Wanita itu.


"Wanita ini adalah mata-mata yang diselipkan oleh Count Vansfold di Kediaman ini!" jawab Rika dengan suara yang tegas dan ekspresi wajah yang dingin.


"Dia telah menjadi penghubung antara Count Vansfold dan Kediaman ini untuk mengirimkan puluhan Hadiah untuk membujuk Yang Mulia Tuan Putri untuk kembali ke Kediaman Count Vansfold dan melupakan perselingkuhannya!" jawab Rika dengan tatapan mata yang tajam.


Tepat setelah Rika mengatakan itu semua Pelayan Wanita yang menyadari kesalahannya berubah menjadi pucat dan berbanding terbalik dengan Pyrex yang telah sangat marah.


"Penjaga! Tarik Pelayan rendahan ini dari hadapanku dan berikan dia cambukan sepuluh kali lalu masukkan dia ke dalam Penjara Bawah Tanah!" ucap Pyrex dengan suara yang lantang.


"Nona Rika tidak perlu khawatir. Saya akan menemukan dan menangkap semua tikus penyusup di dalam Kediaman ini. Aku akan pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi!" ucap Pyrex dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang percaya diri.


Rika yang telah selesai dengan urusannya dengan Pyrex pun kembali ke tempat Laura berada saat suara ribut terdengar dari pintu gerbang.


"Buka pintunya! Kau hanya seorang Penjaga beraninya kau menolak membuka pintu gerbang ini!"


"Cepat buka pintunya, Tuanku ingin bertemu dengan Nonamu sekarang!"


Rika yang menyadari perkataan seorang pria yang berteriak di pintu gerbang dan dapat menebak orang yang ada di dalam kereta kuda dari Lambang Keluarga yang ada di atas kereta kuda.


Pyrex yang tak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya bergegas menemui Laura untuk bertanya tapi sebelum dirinya sampai pada Laura ternyata Rika sudah menunggunya datang.


"Jangan buka pintu gerbangnya! Jangan biarkan orang itu masuk jika kau masih sayang nyawamu!" ancam Rika dengan tatapan mata yang tajam.


"Aku akan melaporkan masalah ini dan sebelumnya kepada Yang Mulia. Kau bisa menunggu jawaban selanjutnya sebentar lagi!" ucap Rika yang menjawab rasa penasaran Pyrex dengan sangat jelas.


"Nona Rika, Yang Mulia telah menunggu kedatangan anda!" ucap Adrian Lopez dengan senyum yang lembut lalu pergi meninggalkan Kediaman tersebut.


Laura yang telah menunggu Rika datang untuk mencari tau yang telah terjadi dan orang yang membuat keributan di luar pun menjadi sangat bersemangat.


"Yang Mulia, hadiah ini dikirimkan oleh Tuan Count dan saat ini ternyata Tuan Count telah ada di depan pintu gerbang Kediaman ini tapi tak bisa masuk karena semua Kesatria dan Penjaga menahannya untuk tetap berada di luar!" jawab Rika dengan singkat, jelas dan padat.


"Hmmm, benarkah? Kalau begitu buka pintu gerbangnya dan biarkan dia masuk menemuiku!" ucap Laura dengan senyum yang licik.


Rika yang tau arti dari senyuman di wajah Laura tanpa ada argumen langsung setuju untuk mempersilahkan Evans masuk.


Sementara itu, Evans yang telah kesal karena tidak dipersilahkan masuk sejak awal dan telah menunggu setengah jam di dalam kereta kuda akhirnya kehilangan sabarannya.


Evans yang kesal pun keluar dan berniat mendobrak pintu pagar jika Penjaga di Kediaman itu tetap tidak mempersilahkannya masuk.


Namun sebelum Evans sampai di depan Penjaga, seorang Pelayan yang berasal dari dalam Kediaman muncul dan membisikkan sesuatu.


"Apa yang mereka lakukan? Kenapa Pelayan itu bicaranya berbisik-bisik?" tanya Evans pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang bingung.


Tak lama setelah itu, Pelayan tersebut berlari dan masuk kembali ke dalam Kediaman dan Kesatria yang berjaga dengan cepat membuka gerbang.


Evans yang menyadari bahwa Pelayan tersebut dikirim Laura untuknya membukakan pintu gerbang agar kereta kuda miliknya bisa masuk pun mulai merasa sombong.


"Hah! Sepertinya Laura telah menerima hadiah itu dan akhirnya terharu. Hmmm, aku sudah yakin Laura masih memilikiku di dalam hatinya." ucap Evans dalam hati dengan ekspresi wajah yang percaya diri.


Di saat bersamaan, Laura yang melihat kereta kuda milik Evans telah memasuki Kediaman dari Jendela kamarnya yang tertutup pun tersenyum sinis.


"Rika! Apakah kau mendapatkan pesan dari mata-mata kita di Kediaman Evans? Apa yang menyebabkan Evans memutuskan kemari?" tanya Laura dengan nada suara yang terdengar sinis.


"Tentu saja, Yang Mulia. Ini adalah surat yang dikirim mata-mata kita dengan menggunakan burung pengantar pesan!" ucap Rika sambil menyerahkan selembar kertas kepada Laura.


Laura yang mengambil surat tersebut pun membacanya secara perlahan lalu membakar surat tersebut hingga tak bersisa di perapian yang ada di dalam kamarnya.


"Rika! Bersiaplah! Sepertinya kita harus berkujung ke Kediaman Count Vansfold sebelum perceraian ini benar-benar terjadi!" ucap Rika dengan senyum yang lebar.


Rika yang mengerti apa yang ingin dilakukan Laura pun segera berbalik arah dan mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.


"Daniel! Kau akan ikut denganku ke Kediaman Count Vansfold dan bawalah surat-surat itu bersamamu! Kita harus membuat sebuah pukulan telak yang mematikan!" gumam Laura dengan senyum yang lebar.


"Baik, Yang Mulia! Jangan khawatir. Saya akan melakukan persis seperti yang anda katakan!" ucap Daniel dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius.


Setelah pekerjaannya dengan Rika dan Daniel selesai, Laura pun memanggil Master Noel datang karena ingin memberinya tugas lain.


"Master Noel!" panggil Laura dengan suara yang lembut dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum liciknya.


"Saya menghadap, Yang Mulia. Sebukan perintahmu!" ucap Master Noel yang muncul dengan kepala tertunduk sesaat lalu tatapan mata yang tajam.


"Ikut denganku ke Kediaman Count Vansfold karena kau harus membuat kekacauan yang besar di sana!" ucap Laura dengan senyum jahatnya.


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan Laura di Kediaman Evans? Apa yang sebenarnya direncanakan Laura? Tebak jawabannya di kolom komentar ya.